
“Aku akan kembali ke kantor, jika butuh bantuanku langsung telpon saja” ucap Sand setelah mengantarkan Shine ke kamar.
Saat Shine merapikan barang-barangnya, pipi mulusnya di kecup oleh Sand tanpa sepengetahuan dan ijin darinya. Seketika memerah karena malu tapi mau melakukannya lagi tanpa ada batasan.
“Dasar, bisa aja di waktu begini” cakap Shine sambil mengibaskan tangannya karena merasa panas mendadak setelah kepergian Sand.
Semua barangnya telah selesai di rapikan, bertepatan dengan waktu yang tepat untuk mengajak oma Hara untuk menikmati secangkir the seperti kebiasaannya dengan duduk di teras sambil menikmati kicauan burung dan hangatnya sinar mentari pagi.
Shine pergi ke dapur, ia meracik teh lengkap dengan kudapan manis di atas nampan tak lupa dengan dua set cangkir kosong dan gula batu.
Tidak ada masalah setelah teh selesai diracik, tiba saat ia ke teras untuk menunggu oma Hara datang seperti kebiasaannya.
Sudah lewat waktunya nge-teh hingga teh nya dingin, Shine bersabar menunggu oma Hara. Hampir masuk waktu makan siang, Shine masih menunggunya, tapi oma Hara tak juga datang.
Selama itu juga oma Hara mengawasi Shine dari dalam kamarnya, dengan sengaja ia menguji kesabarannya. Karena rasa kecewa itu belum hilang seluruhnya.
Karena Oma tak juga datang, Shine meminum teh yang sudah dingin dan memakan camilannya, “Ehm, enak gini, sayang banget kalo gak dihabisin” kata Shine tidak merasa kesal atau marah pada oma
Hara yang ia tunggu tapi tidak datang, justru ia menikmatinya.
Air liur oma Hara hampir menetes karena eskpresi kenikmatan cemilan manis dan teh yang disantap Shine.
“Fran! Ambilkan teh dan camilanku seperti biasanya” perintah oma Hara yang berubah pikiran untuk tetap menikmati waktu nge-teh nya yang sudah lewat.
Saat Shine di dapur, ia melihat pak Fran sudah membawa secangkir teh dan cemilan sama persis dengan yang dibuat Shine tadi.
“Untuk oma ya pak Fran?” tanya Shine merasa senang jika oma yang meminta.
Pak Fran hanya tersenyum tidak menanggapi pertanyaan Shine berlalu pergi begitu saja.
“Pak Fran tunggu, aku hanya ingin menawarkan diri mengantarnya untuk oma, apakah boleh?” tanya Shine dengan sopan.
“Nyonya memintaku untuk mengambilkan teh nya …” jawab pak Fran yang belum selesai.
“Baiklah, mungkin lain waktu aku bisa mengantarnya untuk oma, dengan begitu oma tidak marah lagi padaku” kata Shine menundukkan kepala merasa agak sedih.
__ADS_1
“Tapi, nyonya tidak bilang harus saya yang mengantarnya sendiri” sambung pak Fran memberikan nampannya.
Ekspresi Shine berubah menjadi gembira, “Terimakasih pak Fran, ehm … huh” ucap Shine menarik napas dan mengeluarkannya bersiap menemui oma Hara.
“Semangat nona, saya mendukung anda, pasti tidak akan lama nyonya marah” kata pak Fran menyemangati Shine.
Dengan langkah pasti, beserta semangatnya yang membara, ia menuju kamar oma Hara.
Tok Tok Tok
Wajah tersenyum berseri, mengetuk dengan pelan, berharap oma Hara mau menerimanya.
Tidak ada sahutan, kamarnya sangat sepi tidak terdengar siapapun di dalam. Shine mengetuknya lagi dengan lebih keras.
“Bawa masuk!” teriakan oma Hara dari dalam kamar.
Shine memegang gagang pintu mendorongnya dan masuk ke kamar oma Hara.
“Langsung bawa masuk tanpa harus permisi, apakah kamu sudah pikun Fran?” ucap oma Hara tanpa melihat kedatangan Shine.
Pandangan oma Hara membeku seketika saat melihat Shine lah yang membawa teh nya.
Oma Hara hanya berdehem agar Shine meletakkan tehnya di meja, dan tidak memperhatikan lagi, malah sibuk dengan majalahnya.
“Maafkan Shine oma, seperti pencuri yang tidak memiliki hati membawa lari harta yang paling berharga bagi oma, apapun akan Shine lakukan agar oma Hara tidak marah lagi, jika perlu akan aku kembalikan harta itu secepatnya” kata Shine lalu
pergi.
Di luar kamar oma Hara, Shine berharap perkataanya tadi bisa sedikit menyentuh hatinya. Sebenarnya oma Hara tidak tega pada cucu kesayangannya, dan mau merestui hubungannya dengan Shine yang sudah ia kenal, pasti mampu mendampingi dan mencintai Sand, tapi ia ingin menguji cinta mereka, sejauh mana kekompakan dan kesabaran sebagai pasangan ketika ada ujian yang menerpa.
Apakah Sand dan Shine benar-benar saling mencintai dan bisa hidup bersama ketika oma Hara tidak lagi ada bersama mereka karena usianya sudah sepuh.
Sand menyempatkan makan siang di rumah bersama Shine dan oma Hara, semua pekerjaannya di bebankan pada Reyhan, selama proses mencari restu.
“Sudah semua yang harus di tanda tangani, aku pulang sekarang, proses cutiku untuk satu bulan kedepan, jika ada hal penting langsung saja ke rumah” kata Sand yang terburu-buru meninggalkan kantornya.
__ADS_1
“Satu bulan? Katamu hanya satu minggu, kamu harus memberiku seorang asisten, lebih baik kalau itu wanita, karena aku tidak bisa mengkoodinir sendiri, Sand kamu dengar kan?” teriak Reyhan yang kelabakan dengan berkas-berkasnya dan tidak
memperhatikan Sand meninggalkan kantor.
Reyhan sangat sibuk karena Sand, “Jika kamu tidak mencarikanku asisten, aku akan mencarinya sendiri, lihat saja, pasti lebih baik darimu” guman Reyhan yang merasa kesal karena Sand sebagai atasan yang seenaknya sendiri mengambil cuti tanpa memikirkannya.
*****
Saat hendak menyiapkan makan siang, ternyata semua sajian sudah tertata rapi di meja makan. Semua pelayan pergi ketika Shine datang ke meja makan, kecuali pak Fran.
“Nona, silahkan duduk, saya akan panggilkan nyonya agar mau makan siang bersama” kata pak Fran.
“Jika oma bertanya apakah aku ada ikut makan siang bersama, katakan saja tidak, agar oma mau ke meja makan” minta Shine pada pak Fran.
“Baik nona” jawab pak Fran.
Dipikir Shine, oma Hara tidak mengetahui jika dia sudah ada di meja makan.
Saat memantau CCTV, oma Hara dikejutkan oleh pak Fran yang mengetuk pintu.
“Nyonya sudah waktunya makan siang, semuanya sudah siap” ucap pak Fran di dekat pintu.
“Aku tidak mau makan siang, bereskan semuanya, makan saja dengan pelayan lain jika sudah terlanjur disiapkan” perintah oma Hara tanpa bertanya keberadaan Shine.
“Baik nyonya” jawab pak Fran lalu pergi ke meja makan untuk memberi tahu Shine dan pelayan yang lain.
Shine menunggu pak Fran kembali, ia dikejutkan oleh Sand yang hendak menciumnya dari belakang, “Hampir kena, kenapa menghindar, tidak ada siapapun di sini, tidak usah malu” kata Sand yang kecewa karena kecupannya tidak sampai di pipi Shine.
“Waktunya tidak tepat saja, jika restu sudah kita kantongi sepuasnya kamu menciumku silahkan saja” jawab Shine pandangannya fokus pada jalan ke kamar oma Hara menanti kedatangannya.
“Promise?” tanya Sand mengacungkan kelingkingnya.
“Pak Fran kenapa sendirian? Mana oma?” tanya Shine pada pak Fran yang datang seorang diri, dan ia tidak menghiraukan Sand.
“Ada apa sebenarnya pak Fran? Sampai dia tidak mengahiraukan aku padahal tepat di sampingnya?” tanya Sand pada pak Fran dengan ekspresi sedikit sebal.
__ADS_1