AKU AKAN MENYEMBUHKANMU

AKU AKAN MENYEMBUHKANMU
PART 50


__ADS_3

Dua tahun telah berlalu, Shine berhasil mendapatkan gelar magisternya di Amerika.


Selama dua tahun juga, Sand masih menolak perjodohan dari oma Hara. Dia tidak mau membuka hatinya yang terlanjur beku, begitu juga sikapnya yang sedingin kutub utara.


Trauma akan cinta, itulah penyebabnya, dia tidak tertarik dengan wanita lagi, dia hanya mementingkan pekerjaan.


Kembalinya Shine dari Amerika adalah awal pertemuannya dengan Sand. Mereka ditakdirkan untuk bertemu di bandara.


Kepulangan Shine, disambut baik oleh keluarganya dan juga Ben, dia tidak menyerah sampai mendapatkan jawaban yang pasti dari Shine.


Ben menulis, Wanita yang ku lamar, di kertas yang lebar, dan memeganngya di atas kepala saat menjemput Shine di bandara.


Shine tidak bisa menghubungi papanya atau pak Kodir untuk menjemputnya, saat dia keluar terlihat Ben dengan tulisannya. Shine berjalan cepat menghampiri Ben yang sudah menunggunya di pintu keluar.


“Ben, ternyata kamu yang menjemputku? Padahal aku tidak memberitahumu biar surprise, tapi malah aku yang terkejut” kata Shine sedikit berteriak karena ramai.


Ben membawakan troli koper Shine ke mobil yang telah diparkir tidak jauh dari pintu keluar.


“Masuklah dulu ke mobil, aku akan memasukkan koper ini” kata Ben sambil mengangkat koper Shine.


“Aku haus, aku mau beli minuman, gak papa kan aku tinggal sebentar?” tanya Shine.


“Oke, pergilah, aku akan menunggumu di mobil setelah semuanya selesai” jawab Ben masih dengan koper Shine.


Shine membeli minuman di café bandara, tidak sengaja melihat Sand yang mengantri di depannya.


“Mas, bolehkah saya pesan duluan? Saya sangat haus!” kata Shine meminta ijin.


Sand yang ada di depan Shine tidak merespon perkataan Shine.


“Mas, mas” Shine mencolek lengan Sand, agar mau didahulukan memesan.


“Kenapa sih, wanita selalu mengganngu hidupku” kata Sand dalam hati dan masih tidak merespon perkataan Shine.


“Kayaknya budeg ni orang” kata Shine bersuara lirih sambil mencari uang pecahan di dompetnya.


“Aku dengar yang kamu bilang barusan, dan aku tidak budeg!” ucap Sand menoleh kebelakang.


Sand dan Shine saling bertatapan, mereka diam sejenak, terkejut melihat satu sama lain.


“Bapak di belakang, silahkan mau pesan apa?” tanya pelayan memecah keheningan diantara mereka.


“Tuan muda!” panggil Shine senang karena bisa bertemu dengan Sand lagi tapi, sekaligus sedih, karena teringat dia sudah menikah dengan Rara.


Sand lebih menanggapi pelayan café daripada sapaan dari Shine. Seolah-olah tidak mengenali Shine. Pertemuan mereka pasti dengan masalah.


Ben yang sudah selesai memasukkan koper ke dalam bagasi, menunggu Shine yang tak kunjung kembali dari membeli minum, dia memutuskan untuk mencarinya.


Rasa malu Shine karena tidak direspon oleh Sand, terselamatkan oleh Ben yang memanggilnya.

__ADS_1


“Shine!” panggil Ben dari pintu masuk café.


“Huh, untung kamu datang Ben” kata Shine keceplosan.


“Memangnya ada apa?, apakah ada yang menyakitimu, mana orangnya?” tanya Ben khawatir.


Belum sempat Shine, menjawab pertanyaan Ben, Sand dengan minuman di tangannya, bilang “Aku”, berjalan mendekati Shine.


“Ternyata kamu orangnya!” kata Ben memukul wajah Sand dengan sangat keras.


Sand membalasnya, keributan terjadi membuat para pengunjung café mendekat dan melihat tontonan gratis.


“Ben apa yang kamu lakukan? Kalian jangan pukul lagi!, berhenti!” kata Shine melerai Sand dan Ben yang berkelahi.


Kata Shine tak indahkan oleh Ben dan Sand yang terlanjur meluapkan emosi.


“AAAAAAA!!!!” teriak Shine sangat kencang.


Teriakan Shine menghentikan perkelahian mereka.


“Sudah cukup, seperti anak kecil, kalian duduk di sini! aku akan mecarikan obat” kata Shine menyuruh Ben dan Sand duduk di meja yang sama.


“Apa yang kau lakukan pada Shine tadi?” tanya Ben pada Sand masih dengan emosi.


Ternyata dia pacarnya kata Sand dalam hati, membersihkan bajunya dan menyentuh lukanya.


Padahal mereka berdua sama-sama babak belur, tapi Ben masih mengancam Sand.


Reihan datang setelah dari toilet, melihat Sand terluka karena berkelahi.


“Sand, apa yang terjadi padamu?” tanya Reihan pada Sand.


“Pasti anda yang melakukannya, saya akan segera panggil pengacara untuk mengurus ini semua” ucap Reihan emosi kalau bosnya telah dilukai oleh seseorang.


Tepat saat Reihan selesai bicara , Shine datang mebawa antiseptic.


“Dua orang yang terluka, kamu temannya? Ini obati lukanya” ucap Shine pada Reihan memberikan kotak obat.


Shine memilih mengobati Ben, dan menyerahkan Sand pada Reihan. Seketika Sand berdiri dan pergi begitu saja tanpa berkata apapun meninggalkan Shine dan Ben.


Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi, aku yang menyuruhnya pergi, dan apakah dia sudah melupakan perlakuanku padanya yang telah mengusirnya? Dalam hati Sand.


Reihan mengikuti Sand pergi.


“Sand apakah tidak perlu kerumah sakit, sepertinya lukamu cukup parah?” tanya Reihan.


“Hei urusan kita belum selesai! Aduh!” teriak Ben yang sedang diobati Shine.


“Sudahlah Ben, aku tidak diapa-apakan olehnya kok, kamu yang salah paham” ucap Shine membenarkan.

__ADS_1


Setelah kegaduhan itu, Shine mengajak Ben untuk segera pulang. Selama perjalanan mereka hanya saling diam. Tanpa berkata apapun, Shine langsung membuka bagasi dan menurunkan kopernya.


“Shine aku bantu ya?” minat Ben baik-baik.


“Tidak usah, kamu terluka, mending cepat pulang aja, sebelum papa dan Danira melihatmu seperti itu” kata Shine sedikit marah.


“Maafkan sikapku tadi, bukannya aku mau membuat keributan, aku hanya ingin melindungimu” ucap Ben membela diri.


“Tapi aku tidak suka sikapmu yang gegabah, langsung memukul orang tanpa tahu sebabnya, yang kamu pukul tadi adalah…” perkataan Shine terputus oleh papa Drake yang mengetahui Shine sudah datang.


“Shine, kamu sudah sampai, papa sudah menunggumu dari tadi” ucap papa Drake memeluk Shine.


Shine memeluk balik papa Drake, melepas rindu setelah 2 tahun lamanya tidak berjumpa secara langsung. Ben ikut senang melihat kebahagiaan mereka, sambil menahan sakit.


“Ben kenapa dengan luka itu? Apakah tadi kalian kecelakaan?” tanya papa Drake khawatir.


“Tidak om, bukan kita, hanya saya saja, tapi tidak parah kok, dan tadi sudah diobati” jawab Ben.


“Mommy Danira mana pa? kok tidak terlihat?” tanya Shine mengalihkan perhatian papa Drake.


“Aku akan tunjukkan sesuatu pada mu, ayo cepat, cepat, cepat” kata papa Drake bersemangat mendorong badan Shine berjalan cepat.


Terlihat Danira duduk di sofa ruang tamu, perut ke bawah dia tutup dengan selimut, sengaja memberikan surprise pada Shine.


“Taraaa!” ucap Danira membuka selimut yang meutupi bagian perutnya ke bawah.


“Aku akan punya adik?” tanya Shine terkejut bahagia.


“Iya, sudah 8 bulan, sini Shine usap perut mommy, perkenalan dengan adikmu!” ucap Danira bersemangat.


Shine mengelus perut Danira, dia merasakan tendangan dari adiknya yang super kuat.


“Aku merasakan tendangannya, adikku laki-laki?” tanya Shine memastikan.


Danira mengangguk dengan senyuman di wajahnya.


“Ben kamu kenapa babak belur gitu?” tanya Danira yang melihat Ben menyusul masuk.


“Tidak apa-apa kak, biasalah urusan laki-laki, koper Shine sudah aku turunkan semua, aku mau pamit dulu” kata Ben tanpa dilihat oleh Shine.


“Shine antar Ben kedepan dulu!” minta Danira.


“Sebentar ya adikku yang kuat, tangguh dan perkasa” ucap Shine di perut Danira.


“Hati-hati di jalan, dan terimakasih sudah menjemputku dari bandara” kata Shine singkat.


“Aku terima, kalau kamu masih marah sama aku, tapi saat kamu sudah tidak marah lagi, bolehkah aku mengajakmu makan malam?” tanya Ben memulai pendekatan lagi.


“Nanti aku pikirkan” jawab Shine tanpa ekspresi.

__ADS_1


__ADS_2