
“Sssttt, Aku sungguh kecewa denganmu Shine, kamu memberikan harapan yang begitu besar
bertahun tahun, begitu juga orangtuaku, mereka sangat gembira anaknya akan menikah
dengan gadis cantik yang baik, dan sekarang apa, kamu mematahkan hati semua orang, bukan aku saja, tega! sungguh tega! kamu Shine” tuduh Ben.
Shine berdiam tanpa menjawab, hanya mendengarkan luapan emosi Ben. Kedua orang tua Ben, begitu juga dengan papa Drake dan Danira. Seakan mereka sudah tahu respon yang ditunjukkan oleh Ben.
“Aku sudah banyak bersabar, kubayangkan akan hidup bersamamu hingga tua nanti, tapi
apa balasanmu, aku tidak mau menikah dengan wanita yang di hatinya ada pria lain, kita batalkan saja pernikahan ini” ucap Ben marah.
“Nak jangan terburu-buru mengambil keputusan, ini bisa dibicarakan dengan baik” sahut Ibun.
“Kalian semua sudah tahu? Dan Ibun membelanya? yang jelas-jelas dia menjalin hubungan dengan pria lain,” respon Ben yang merasa dihianati.
“Ben, anakku, kamu harus bisa menahan emosi, persoalan tidak akan selesai jika dengan
emosi, harus menggunakan kepala dingin, memang benar Ibun sudah tahu, kalau Shine tidak benar-benar mencintaimu, tapi yang kulihat dia tidak ingin mengecewakanmu, Ibun ataupun Ayah, Shine berusaha menjelaskannya, tapi kita terlanjur bahagia, dia urungkan niatnya untuk menolak lamaranmu kala itu” jelas Ibun dengan sabar menerima keadaan bahwa Ben akhirnya tahu semuanya.
“Kenapa Bun?, tidak memberitahukan padaku, sekarang dia sudah jelas menghianati kepercayaan Ibun, menjadi menantu yang menjalin hubungan dengan pria lain, Ibun tidak kecewa meengetahuinya?” tekan Ben pada Ibunnya.
“Ibun kira dengan terus melanjutkan pernikahan kalian, tidak akan terjadi permasalahan seperti ini, dan cinta Shine padamu juga akan tumbuh setelah pernikahan, karena Ibun percaya padanya, dia masih mementingkan perasaan orang lain ketimbang perasaannya sendiri, dia menahan untuk tetap melanjutkan pernikahan, jika menjalin hubungan denga pria lain, pasti di tengah jalan dia memutuskan untuk menghentikan pernikahan denganmu, buktinya dia bisa menerima penundaan pernikahan, dan sebaliknya kamu yang ingin membatalkannya” ungkap Ibun membela Shine.
“Bun, buka mata Ibun, dia telah berselingkuh dariku, dan Ibun masih membelanya juga, laki-laki mana yang masih mau menikahi perempuan yang sudah dimiliki pria lain?” tegas Ben kecewa dengan Ibunnya.
Ibun tidak percaya pada Ben yang menyebutkan Shine berselingkuh darinya.
“Shine, benarkah perkataan Ben barusan?” tanya Ibun pelan-pelan, menegaskan.
Sejak tadi Ibun berpikir Ben hanya mencari alasan agar bisa membatalkan pernikahan, karena kecewa pernikahannya harus ditunda. Ibun tidak berpikir Shine benar menjalin hubungan dengan pria lain.
“Maafkan aku Bun, perasaan Shine pada Ben hanya sebatas teman, dan kini ada seorang pria
yang benar-benar membuat Shine jatuh cinta, dan dia juga telah menyatakan cintanya pada Shine” jawab Shine dengan sejalas-jelasnya.
“Sejak kapan?” tanya Ibun menunjukkan rasa kecewanya pada Shine.
“Kemarin, Ben menjadi seperti ini juga karena Shine, dia berkelahi dengan pria yang aku
cintai, perasaan itu jelas terlihat sebelum pernikahan ini, sebelumnya aku yakin dengan pilihanku untuk menikah dengan Ben, tapi setelah kutahan dengan sekuat tenaga, perasaan itu justru semakin ingin muncul ke permukaan” jelas Shine.
Selama mendengar penjelasan Shine, Ibun teringat permasalahan yang sama persis dengan dirinya waktu lampau.
__ADS_1
“Sekarang Ibun tahu kebenarannya kan, aku tidak mau melanjutkan pernikahan ini lagi,
batalkan saja!” tegas Ben memotong penjelasan Shine.
“Nak, aku mendukungmu, kita batalkan saja pernikahan ini, mungkin Shine bukan jodohmu, dan aku yakin kamu pasti akan dipertemukan dengan wanita yang lebih baik” sahut Ibun.
Ibun sangat mengerti perasaan Shine, karena dulu dia pernah mengalaminya sendiri, terpaksa menjalin hubungan dengan pria yang tidak ia cintai, karena sebuah hutang budi pada laki-laki yang selalu menolong keluarganya dalam kesusahan. Bertahun-tahun mengarungi rumah tangga tanpa cinta. Hingga akhirnya perpisahan adalah jalan terakhir. Ibun dipertemukan lagi dengan cinta pertamanya yaitu pak Atma, dia bahagia hingga memiliki Ben. Ibun tidak ingin hal sama terjadi pada anak satu-satunya, harus mengalami perpisahan jika Shine tetap tidak memiliki cinta terhadap Ben. ApalaginShine sudah saling mencintai dengan pria lain.
“Bun maafkan Shine, tidak seharusnya aku mengecewakan kalian, dan membalas kebaikan
kalian dengan penghianatan, aku sangat berterimakasih mau mengerti Shine, beribu maaf tidak akan cukup untuk menebus kesalahan Shine” ucap Shine sambil menundukkan kepala.
“Shine, jika pria itu juga mencintaimu, kejarlah dia, dapatkan di genggamanmu,” pesan Ibun yang mendukung Shine untuk mengejar cinta nya.
“Ben, kamu berhak untuk mengadili aku dan membatalkan pernikahan, aku akan terima
semuanya, aku sangat menyesal tidak dari awal mengatakannya padamu yang sebenarnya,
hanya maaf yang bisa kuucapkan, dan terimakasih atas keputusan mu untuk melepasku” pesan Shine pada Ben.
“Sekarang pergilah, sudah tidak ada lagi perlu dijelaskan, sebelum aku berubah pikiran”
pekik Ben, memalingkan wajahnya.
akibatnya.
Bukan papa Drake yang menyelesaikan perkara, Shine sendiri yang menuntaskannya, papa
Drake hanya omongan belaka, tidak bertindak sama sekali.
"Shine kita kemana?" Tanya papa drake
“Ikut saja Pa” sahut Danira.
“Kenapa kesini, pulang sajalah yuk” minta papa Drake yang takut melihat Big Team berbadan
besar dan kekar berjaga di depan ruang inap Sand.
Shine dipersilahkan masuk sedangkan papa Drake dan Danira dicegat oleh Big One.
“Kalian tunggu di luar saja!” ucap Big One dengan nada kakunya.
“Sand bagaimana kabarmu? Sand! Sand! Sand!” panggil Shine mencari Sand yang tidak ada
__ADS_1
di ranjangnya.
“Aku di sini,” jawab Sand merangkul Shine dari belakang.
“Apaan sih, lepaskan” ronta Shine yang masih canggung.
“Kita kan udah resmi berpacaran, masak rangkul aja nggak boleh” jawab Sand.
“Kamu kan masih sakit, lebih baik kamu istirahat, dan segera pulihkan kesehatanmu”
minta Shine memapah Sand kembali ke ranjang.
“Obatnya kok belum diminum?” tanya Shine yang melihat makanan yang belum di sentuh
berdampingan dengan obat yang masih utuh.
Sand menarik Shine agar duduk di ranjang berdampingan dengan dirinya.
“Aku sengaja menunggumu, aku mau kamu yang suapi, AAA!” ucap Sand membuka mulutunya.
“Ih manja banget, tangan kamu tidak papa masak harus di suapi segala” sahut Shine
sengaja bercanda dengan Sand.
“Aduh! Aduh!” teriak Sand berpura-pura meronta kesakitan.
“Mana yang sakit? Mana? Kupanggilkan dokter ya?” kata Shine panik.
Sand menunjuk dadanya. Shine meraba dada Sand, hingga menempelkan telinganya.
“Inilah obatku yang sebenarnya, aku tidak butuh obat-obat kimia” ucap Sand mendekap Shine di dadanya.
“Berarti aku bisa menyembuhkanmu? Coba aku cek,” Shine menyentuh luka yang ada di tubuh
Sand.
“Sakit Shine, hentikan!” minta Sand.
“Katanya akulah obatmu dan dapat menyembuhkanmu, mana buktinya, masih sakit kan saat kupegang tadi” ujar Shine.
“Bukan luka itu, tapi luka di hatiku” Sand mendekap Shine lagi.
“Sand, terimakasih karena kamu sudah membuat keputusan untuk memilihku, dan maafkan aku yang tidak sesegera mungkin mengungkapkan isi hatiku yang sebenarnya padamu” tandas Shine.
__ADS_1