AKU AKAN MENYEMBUHKANMU

AKU AKAN MENYEMBUHKANMU
PART 81


__ADS_3

“Iya tante, masakannya sangat enak, maaf tadi saya tidak sempat membawa apapun untuk om dan tante, soalnya Ben langung ke rumah, jadi saya belum mempersiapkan apa-apa” kata Shine meminta maaf.


“Kamu saja yang datang sudah membuat kami senang, tidak usah mempersiapkan apapun untuk kami, ya kan Yah” ibunya Ben mengkode ayah Ben.


“Iya, gimana pernikahan kalian, rencananya mau dilaksanakan kapan?” tanya ayahnya Ben yang tidak bisa berbasa-basi.


“Huk, uhuuk” Shine hingga tersedak mendengar pertanyaan ayahnya Ben.


“Yah, kamu kok langsung tanya begitu, itu urusan mereka, kita sebagai orang tua hanya memberikan restu dan mendukungnya” jelas ibunya Ben yang terlihat jelas menginginkan pernikahan Ben dan Shine agar segera terlaksana.


“Maaf sebelumnya om dan tante, bukannya aku menolak lamaran Ben, tapi aku merasa belum siap untuk menikah” kata Shine yang menimbulkan salah paham.


“Kita akan sabar menunggu ya kan Yah, itu bisa di matangkan sambil mempersiapkan pernikahan, bukan begitu Yah?” tanya ibunya Ben sudah salah paham.


“Kalian tinggal pilih tanggalnya, kita pasti akan membantu persiapannya” ungkap ayah Ben mendukung perkataan istrinya.


“Terimakasih Shine, kamu sudah menerima lamaranku” ucap Ben langsung memeluk Shine yang ada didekatnya.


*****


“Mom!, Mom” panggil Shine sambil mewek setelah diantar Ben.


“Ada apa Shine, gimana kesan mereka?” tanya Danira sangat penasaran begitu juga papa Drake yang ada di sampingnya.


“Mom, kamu harus bertanggung jawab, perkataanmu tadi malam sungguh terjadi, orang tuanya Ben salah paham, mereka mengira kalau aku menerima lamaran Ben, padahal aku tidak berniat seperti itu, pokoknya kamu harus bertanggung jawab” Shine menyalahkan Danira.


Shine masih mewek naik ke kamarnya dengan menghentak-hentakkan kakinya selama berjalan.


“Kenapa dia mom?” tanya papa Drake yang tidak paham.


Danira mengangkat kedua bahunya, sambil membalikkan telapak tangannya.


“Masa bodoh” ucap Shine sebelum terlelap.


*****


Ting ting tig klinting tung ting


“Hm, siapa sih malam-malam begini, mengganggu saja, halo siapa ya ?” ucap Shine


mengangangkat telepon.


“Temui aku di hotel Pearl besok pagi, jangan sampai tela…” jawab Sand.


Tanpaberkata apa-apa langsung mematikan telepon.


Tut tut tut


“Beraninya mematikan telepon dariku, awas saja, kalau besok tidak sampai sini” ucap Sand emosi karena teleponnya ditutup oleh Shine.

__ADS_1


*****


Shine bersiap ke kantor dengan santainya, dia lupa pesan dari Sand saat malam tadi.


“Semuanya sudah terlupakan” sindir Danira yang menyiapkan sarapan.


“Mommy tadi bilang sesuatu?” tanya Shine yang tidak memperhatikan ucapan Danira.


“Ndak, ndak, habiskan sarapanmu” jawab Danira.


Hari ini Shine nampak segar tanpa beban apapun, dengan perasaan gembira, berangkat menuju kantor.


Sesampainya di kantor, terlihat sepi sampai siang, “Kenapa tidak ada orang yang datang ke kantor hari ini?” dalam hati bertanya-tanya.


“Ibu ada kerjaan tambahan ya? Rajin sekali pagi-pagi sudah sampai” kata OB yang sedang bersih-bersih.


“Tidak, saya kerja seperti biasanya,” jawab Shine.


“Ibu sangat hebat, pantas menjadi tauladan karyawan di sini, hingga hari minggu tetap bekerja” ujar OB yang memang tidak tahu.


“Minggu? Hari ini hari minggu?” tanya Shine memastikan.


Tiba-tiba ingatan kemarin muncul semuanya, makan bersama keluarga Ben, dan pesan dari Sand yang mengganggu tidurnya.


Shine memejamkan matanya untuk mengingat pesan dari Sand, ia berusaha sangat keras.


“Hotel Pearl, dia menyuruhku menyusulnya?” tanya Shine pada diri sendiri.


Shine tidak menghiraukan pesan dari Sand, dia memilih untuk menyelesaikan salah paham yang terjadi kemarin.


Sand yang menunggu kehadiran Shine, semakin menjadi jengkel, karena ia tak kunjung datang.


“Rei hubungi dia sekarang!” perintah Sand pada Reihan.


Tugas ke luar kota selama tiga hari, hanya alasan yang dibuat Sand untuk menghindari dan juga merancang serangan untuk Sarah. Ia menjelaskan semuanya pada Reihan, kalau Sarah lah yang harus mengakhiri pernikahan.


Sand dan Reihan berencana memanggil Shine untuk meyakinkan bahwa Sand pasti akan menikahi Sarah, dan membuatnya cemburu agar ia mengungkapkan isi hati yang sebenarnya. Sand ingin memastikan perasaan Shine terhadapnya, apakah ia juga mencintainya seperti Sand mencintai Shine.


Tapi sampai matahari di atas kelapa ia tak kunjung datang.


“Tidak diangkat sama sekali” ucap Reihan.


“Kita cari dia!” ajak Sand pada Reihan.


Sand mencari Shine ke rumahnya, tapi ungkap Danira kalau ia pergi sejak pagi dan tidak tahu pergi kemana. Kemudian ia menghubungi Sarah, menanyakan apakah Shine bersamanya.


“Kamu dimana?” tanya Sand melalui telepon.


“Sayang, kamu sudah kangen aku ya, aku juga kangen banget sama kamu, kapan kamu pulang?” ucap Sarah di depan teman-temannya.

__ADS_1


Menutup HP, “Sebentar ya guys aku terima telepon dulu, dari cami” kata Sarah berpura-pura romantis di depan teman- temannya.


“Di café” jawab Sarah sambil memainkan kukunya.


“Shine bersamamu?” tanya Sand tegas.


“Mmmm, kasih tahu nggak ya ….” Ucap Sarah mempermainkan Sand lewat telepon.


“Bilang apa yang kamu mau” tanya Sand yang tahu kalau Sarah tidak cuma-cuma memberikan informasi.


“Berikan salam pada teman-temanku, yang paling mesra” minta Sarah.


Sarah kembali ke perkumpulan teman- temannya.


“Cami ku mau bicara” kata Sarah mengaktifkan loudspeaker.


“Teman-teman Sarah, tolong jaga dia, sampai aku pulang, mohon bantuannya” ucap Sand dengan sangat terpaksa.


“Bye bye sayang, love you”


“Love you too” sahut Sand.


“Hebat kamu Sar, punya calon suami yang kaya raya, dan punya pacar tampan dan modis, pengen deh kayak lo” ungkap salah satu teman Sarah.


“Iya dong, siapa dulu, Sarah!” kata Sarah sombong.


Sarah mengirimkan pesan pada Sand, “Dia tidak bersamaku, terimakasih ucapan mesranya, love love love”


“Dia sengaja mempermainkan aku” kata Sand kesal.


“Mungkin dia lagi nge-date sama laki-laki lain” candaan Reihan yang sembarang nyeplos.


“Kamu benar, pasti dengan dia” ucap Sand yang langsung berpikir kalau Shine pasti bersama Ben.


Berkali-kali Sand menghubungi Ben, tapi tidak satupun paggilan Sand yang ia terima.


“Ben, tidak kamu angkat teleponmu?” tanya Shine yang mendengar HP Ben sedari tadi berbunyi.


“Tidak, sepertinya ini panggilan nyasar, boleh aku mengambil fotomu?” tanya Ben.


“Jangan aku saja, ayo foto bersama” ajak Shine.


Shine dan Ben berselfie, lalu hasil fotonya sengaja di posting dengan caption, ‘Day one, in café Mamita’


Ben bermaksud agar Sand menyaksikan kalau Shine telah menentukan pilihan.


“Rei, berangkat sekarang!” ajak Sand terburu-buru.


Sand langsung menuju café yang di maksud Ben dalam postingannya. Ia melihat Shine

__ADS_1


berduaan dengan Ben.


“Ben aku ingin membicarakan sesuatu, itu tentang kemarin, kumohon jangan salah paham, ini semua sudah aku pikirkan degan baik dan matang, aku tidak bisa melanjutkan …” ucapan Shine terhenti karena kedatangan Sand.


__ADS_2