
Danira melihat keluar, “Sand! ternyata kamu, ayo masuk, papa ini gimana ada tamu spesial kok gak di suruh masuk” ucap Danira mengajak Sand masuk ke dalam rumah.
Papa Drake langsung memakai kacamatanya, dan melihat Sand,” Maaf ya nak mantu, kalo nggak pake kacamata wajah tampanmu jadi gak kelihatan” jelas papa Drake.
“Ada apa malam-malam kesini? Apakah ada hal yang sangat penting?” tanya papa Drake.
“Aku akan panggilkan Shine, sebaiknya papa ikut mommy” ajak Danira pada papa Drake.
“Ada apa mom, aku kok gak tahu apa-apa begini” tanya papa Drake sambil ditarik Danira.
“Udah, nanti aku ceritain, ini masalah mereka, kita tidak boleh ikut campur” jawab Danira terus menarik papa Drake.
“Shine! Shine! ada Sand di bawah, cepat temui dia” teriak Danira di depan pintu kamar Shine.
“Dia menyusulku kerumah, mungkinkah pemikiran kita sama?” tanya Shine dalam hati.
Dia menuruni tangga dengan pelan, terlihat Sand duduk di sofa, menundukkan kepalanya.
“Sand?” sapa Shine yang sudah berdiri di dekat Sand.
“Shine” sapa balik Sand sambil menatap matanya.
Mereka hanya saling menatap, namun seakan berbicara dari hati ke hati. Akhirnya hanya tawa yang keluar dari mereka.
“Mau teh? Atau kopi?” tanya Shine karena sudah larut malam.
“Duduklah, aku hanya menginginkan kita untuk bicara,” jawab Sand.
Shine duduk tepat di sampingnya, “Apa lagi yang mau dibicarakan, bukankah sudah jelas hanya masalah kecil …” ucapan Shine dihentikan oleh Sand.
“Sssttt, aku juga sudah menyadarinya, itu hanya sebagian masalah kecil, bukankah kita pernah menghadapi yang lebih besar dan rumit dari tadi, maafkan aku” minta Sand dengan pelan.
Dengan beraninya Shine membalas permintaan maaf Sand, dengan mendaratkan sebuah kecupan di bibirnya.
Sand membalas kecupan Shine dengan mesra penuh dengan hasrat.
__ADS_1
Papa Drake dan Danira yang sengaja hendak menguping, menghentikan kemesraan mereka.
Papa Drake merasakan hatinya remuk untuk pertama kali melihat putrinya direbut oleh seorang lelaki.
“Hentikan!” teriak papa Drake berlari mendekati Sand dan Shine yang masih berciuman.
Papa Drake menarik Shine dan menghentikan kecupan mesra mereka.
“Kenapa pa? kita sudah dewasa dan sebentar lagi menikah, masa tidak boleh” rengek Shine.
“Usap bibirmu, kamu juga Sand, lanjutkan jika kalian sudah resmi menikah, aku tidak akan membiarkan kalian berduaan sebelum janji suci diucapkan, lebih baik kamu pulang, dan kamu Shine sana pergi tidur” omel papa Drake untuk pertama kali sebagai ayah yang bijaksana.
“Tapi ini sudah malam, tidak bolehkah Sand menginap di sini, kamu mau kan menginap di sini Sand?” tanya Shine yang masih menginginkan bersama dengan Sand.
“Tidak bisa! Kamu pulag sekarang, apa perlu aku antar sampai rumahmu?” tanya Papa Drake yang terlihat marah.
“Sand, kita bertemu besok lagi ya, mimpikan aku nanti malam” pesan Shine pada Sand yang diantarkan papa Drake ke luar.
Di depan pintu rumah, “Papa, oma mau kita bertemu untuk membicarakan pernikahan…” minta Sand terhenti.
“Jadi saya harus memanggil dengan?” tanya Sand dengan lebih sopan karena perubahan sikap papa Drake padanya.
“Mister, minggu ini kemrilah bersama nyonya Hara untuk melamar Shine dan menentukan tanggal pernikahannya” ucap papa Drake langsung menutup pintu.
Sand hanya bisa menerima perlakuan papa Drake yang berubah padanya, ia juga bisa mengerti perasaannya ketika hendak melepaskan putrinya kepada lelaki yang akan bertanggung jawab pada kehidupan selanjutnya.
Setelah kepulangan Sand tengah malam, Shine mencari tahu kenapa sikap papa Drake berubah drastis kepada Sand yang sebelumnya melebihi sayang pada Shine.
Shine mencari papa Drake dan begitu juga dengannya, “Papa, Shine mau bicara” minta Shine.
“Papa juga, kita bicara di sini” kata papa Drake di ruang tamu.
Mereka berbicara empat mata tanpa ditemani Danira.
“Kenapa sikap papa berubah pada Sand? apakah dia melakukan kesalahan?” tanya Shine dengan serius.
__ADS_1
“Justru papa yang bertanya padamu, kenapa kamu melakukan itu sebelum kalian menikah dan itu tepat di depan mataku” kata papa Drake mempersalahkan norma yang tidak pantas yang dilakukan di rumah saat ada orang tua.
“Sebelum ini papa tidak pernah mempermasalahkannya, malah papa mengistimewakan Sand ketimbang aku, biarlah Shine bahagia bersama lelaki yang kucintai, aku memohon pada papa” ungkap Shine yang tahu jika papa Drake tidak merelakan Shine untuk
menikah.
“Aku tidak mempermasalahkannya, Cuma itu sebelum kalian menikah, tahanlah sedikit sampai kalian mengucapkan janji pernikahan, itu saja yang papa minta” minta papa Drake.
Shine dan papa Drake mulai berdebat, di sisi Shine ia mengira kalau papa Drake menghalang-halangi cintanya pada Sand. dan di sisi papa Drake ia menjadi sedikit tidak rela melepas Shine untuk menikah dengan Sand, ia merasa kehilangan malaikat kecil yang ia timang waktu bayi.
“Papa tahukan aku sangat merindukan kasih sayang seorah ayah semenjak mama meninggal, kemana saja papa waktu itu? Sekarang aku sudah menerima cinta dan kasih sayang seorang lelaki yang seperti sosok ayah untukku, tapi … papa mulai menghalangi dan mencoba untuk menahanku” ungkap Shine kelepasan akan rasa sakit yang ia tahan selama ini.
“Papa tidak menghalangi ataupun menahanmu, papa merestui kalian untuk menikah tapi, papa merasakan separuh jiwa akan pergi jauh” jelas papa Drake.
“Separuh jiwa papa? Bukankah separuh jiwa papa adalah karir papa, papa tidak pernah lagi menyayangi Shine seperti saat mama masih ada, papa hanya sebutan saja di mulut, dan tidak pantas menjadi figur seorang ayah untuk putrinya selama melalui tahap kehidupan, dari anak-anak menuju remaja hingga sekarang dewasa, kemana saja papa selama ini?” tangis Shine pecah.
“Shine! kenapa kamu bilang seperti itu? Kamu tidak menghormati lagi papamu ini? Hanya karena seorang laki-laki yang kamu cintai beberapa bulan saja?” bentak papa Drake pada Shine yang dinilainya tidak sopan.
“Ternyata papa selama ini kehilangan kesadaran, dulu papa begitu memujinya, kenapa sekarang meyalahkannya, aku benci papa” ucap Shine bernada lirih lalu meninggalkan papanya begitu saja.
Papa Drake tidak bisa menjawab perkataan Shine yang bilang membencinya, dia merenungkan kesalahan yang telah ia perbuat selama ini hingga malaikat kecil yang baru lahir berwarna merah ia timang dan ia beri nama menyebutkan kebencian pertama kali dari mulutnya.
Papa Drake sekarang telah sadar betapa berharganya Shine dalam hidupnya.
“Shine kamu kenapa menangis?” tanya Danira yang melihat Shine lewat di depannya.
Danira tidak mendapatkan jawaban, karena Shine langsung masuk ke kamarnya. Danira mencari tahu yang terjadi pada papa Drake.
“Pa? ada apa dengan kalian? Kalian bertengkar?” tanya Danira.
“Besok aku ceritakan, sekarang sudah malam, kita istirahat saja” ajak papa Drake.
Malam terlalui dengan perdebatan hingga menimbulkan keheningan di dalam rumah, walaupun diantara mereka tidak ada yang bisa tertidur. Pagi hari yang cerah, namun suasana di rumah sangat mendung, tidak ada pembicaraan diantara Shine dan
papa Drake saat sarapan di meja makan.
__ADS_1