
Shine pulang ke rumah pak Londo, dia merasa bahagia karena rencanya berhasil.
“Laning…!”, teriak Shine mencari Laning di dapur.
“Ada apa Star mencariku ?”, tanya Laning yang melihat ekspresi Shine berbunga-bunga.
“Tadi rencana kita berhasil, aku sarapan dengan tuan muda di pinggir danau, walaupun masih bersikap dingin dan hampir marah, aku sangat senang rencanaku berhasil…”, Shine menceritakan kesan saat sarapan bersama tuan muda sambil tersenyum bahagia.
“Untuk selanjutnya kita harus ngapain ?”, tanya Laning serius.
“Untuk besok, aku mau ajak tuan muda jalan-jalan di pinggir danau”, jawab Shine.
“Di danau lagi ?”, tanya Laning.
“Memangnya kenapa ?, disana pemandangannya bagus, udaranya segar, di tambah semilir angin jadi temapt sempurna untuk jalan-jalan bukan ?”, penjelasan Shine pada Laning.
“Bukannya tidak setuju dengan pendapatmu, tapi kenapa tidak kamu ajak ke tempat yang lain, di sini kan banyak tempat wisata “, saran dari Laning untuk Shine.
“Kamu benar juga ya Laning, memangnya wisata apa yang ada disini ?”, tanya Shine.
“Di dekat sini ada kebun bunga, ada pemandian air panas juga, trus yang paling aku suka ada kebun strawberry, sekarang pasti sudah merah semua, satu lagi ada tempat camping”, penjelasan Laning pada Shine.
“Boleh juga, tinggal atur strategi saja biar tuan muda bisa diajak kesana”, ucap Shine mendukung ide Laning.
*****
Saat Sand sampai di villa, Big Team sudah bisa keluar dari dapur.
“Kalian sudah bisa keluar ?”, tanya Sand pada Big Team.
“Kami mendobraknya tuan muda, maafkan kami tidak bisa berbuat apa-apa untuk tuan muda tadi”, kata Big Two yang masih bersandiwara.
“Tuan muda baik-baik saja kan ?, tidak diapa-apakan oleh tikus itu kan ?”, tanya Big One.
“Tidak”, jawab Sand singkat berjalan ke kamarnya.
“Setelah bersama tikus itu, tuan muda menjadi sedikit berubah, kalian merasakannya juga tak ?”, tanya Big Two pada Big Three, Big Four dan Big Five.
“Tak, aku bukan tipe orang yang perasa”, jawab Big Four bercanda.
“Lihat bos diam saja, pasti dia sudah lapar”, canda Big Two pada Big Three, Big Four dan Big Five.
“Hahahah…”, tawa Big Two, Big Three, Big Four dan Big Five.
Big One selalu mendengarkan candaan anggotanya tapi tidak pernah berkomentar dan masih saja memikirkan tuan mudanya.
Di kamarnya, Sand terngiang-ngiang momen sarapan di pinggir danau, dia merasakan damai datang lagi di pikirannya setelah sekian lama, sejak dia merasakan tekanan yang mengakibatkan depresi.
Ingatan yang indah muncul secara tiba-tiba, ada bayangan seorang wanita tersenyum bahagia di hadapannya. Dia bertanya-tanya siapa wanita yang mampir di ingatannya itu. Ingatan itu membuat dadanya terasa sakit.
__ADS_1
“Pergi…pergi…pergi”, Sand berteriak sambil memegangi dadanya dan meneteskan air mata.
Hanya Big One yang mendengar tuan muda Sand berteriak, dia langsung lari menghampirinya. Anggota Big Team lainnya tidak dengar karena sedang bercanda bersama.
“Tuan muda…!, tuan muda…!, brak…brak…brak”, Big One memukul pintu kamar tuan muda Sand.
Sand yang menahan sakitnya tidak merespon panggilan Big One.
“Saya akan tetap masuk !”, ucap Big One yang kawatir.
Big One masuk ke kamar tuan muda Sand, melihatnya meringkuk menahan sakit sambil meneteskan air mata di dekat balkon.
“Tuan muda anda kenapa ?”, tanya Big One.
“Tidak apa-apa, bantu aku berbaring di ranjang”, minta Sand pada Big One.
“Saya carikan dokter ya tuan muda ?”, tanya Big One.
“Tidak usah, ambilkan aku minum !”, kata tuan muda Sand.
Big One mengambilkan air minum untuk tuan muda Sand di dapur.
“Bos ada apa bos ?”, tanya Big Four.
“Kamu cepat panggilkan si tikus kecil kemari !”, ucap Big One terburu-buru ke kamar tuan muda Sand lagi.
“Siapa yang menggebrak pintu sekeras itu ?”, Laning berjalan membukakan pintu.
“Di mana tikus kecil ?”, tanya Big Four terburu-buru.
“Dia ada di dalam sedang mandi, ada apa mencarinya ?”, tanya Laning.
“Big One menyuruhnya, sekarang juga pergi ke villa !”, jawab Big Four.
“Nanti saya sampaikan”, ucap Laning.
“Tidak bisa nanti, harus sekarang, saya akan menunggunya, suruh dia cepat”, minta Big Four.
Laning mendatangi Shine yang sedang mandi di kamar mandi.
“Star !, Big Four mencarimu, kamu disuruh ke villa sekarang juga, dia ada diluar menunggumu !”, teriak Laning pada Shine di kamar mandi.
“Ada apa ?, apa terjadi sesuatu pada tuan muda ?”, tanya Shine berteriak.
“Aku tidak tahu, sebaiknya kamu cepat-cepat pergi ke villa !”, teriak Laning.
Ada apa ya sebenarnya, saat aku melihatnya tadi pagi dia terlihat baik-baik saja, batin Shine.
Di villa, Big One menemani tuan muda Sand yang sedang berbaring di ranjang. Shine dan Big Four masih dalam perjalanan ke villa.
__ADS_1
“Dimana bos ?”, tanya Big Four pada Big Two.
“Dia bersama tuan muda di kamar”, jawab Big Two.
“Ayo cepat ke kamar !”, ajak Shine berlari ke kamar tuan muda.
Shine melihat tuan muda Sand berbaring di ranjang ditemani Big One.
“Ada apa dengan tuan muda ?”, tanya Shine pada Big One.
“Tuan muda tadi memegang dadanya kesakitan”, jawab Big One.
Shine mendekati tuan muda, menanyakan apa yang dia rasakan saat ini.
“Tuan muda, bolehkah saya memeriksa anda ?”, tanya Shine pada tuan muda Sand.
Tuan muda hanya meringis menahan sakit di dadanya.
Shine mengecek denyut nadi di tangan tuan muda, tiba-tiba, dia menarik ke pelukannya.
“Tuan muda apa yang sedang anda lakukan ?”, Shine meronta napasnya sesak karena pelukan Sand yang erat.
Big One dan anggota Big Team lainnya meninggalkan Shine dan tuan muda Sand berdua di kamar. Pelukan Sand pada Shine tidak lepas hingga dia tertidur. Shine merasa kasihan dan dadanya ikutan terasa sesak. Dia menemani tuan muda Sand sampai pagi.
Sinar matahari mulai masuk ke dalam kamar lewat pintu balkon yang terbuka.
“Kamu kenapa bisa di sini ?”, tanya Sand pada Shine yang tertidur sambil duduk.
“Tuan muda anda sudah bangun ya, bagaimana kondisi anda ?, sudah enakan ?”, tanya Shine yang mengantuk.
Sand teringat apa yang telah ia alami semalam tadi.
“Sebaiknya kamu keluar sekarang, dan ambilkan aku sarapan”, minta tuan muda Sand.
Sand merasa canggung akibat pelukannya kepada Shine. Shine berjalan lambat dengan mata setengah terbuka.
“Iya…iya, tuan muda, sebentar aku buatkan sarapan untuk anda”, jawab Shine lemas.
Shine keluar kamar melihat semua anggota Big Team terjaga dengan sikap sempurna.
“Kalian…, mau ngusir aku lagi ya, kita kan sudah berdamai masa nggak ingat ?”, tanya Shine yang terkejut melihat Big Team berbaris rapi dihadapannya.
“Eh, tikus, gimana keadaan tuan muda ?”, tanya Big Three.
“Hei jangan panggil tikus lagi lah, mungkin nanti kita panggil dia nona, ckckck”, canda Big Two.
“Kalian tidak tidur semalaman ?, tuan muda sudah baik-baik saja, dia memintaku membuatkan sarapan, kalian tenang saja, khususnya kamu One, aku melihatmu kemarin sangat cemas”, ucap Shine pada Big One.
Mereka sudah mulai akrab satu sama lain.
__ADS_1