AKU AKAN MENYEMBUHKANMU

AKU AKAN MENYEMBUHKANMU
PART 57


__ADS_3

“Iya sus” ucap papa Drake antusias.


Papa Drake menemani Danira di ruang operasi, Shine di susul mbok Janem dan pak Kodir, menunggu di ruang tunggu.


“Oek, oek, oek” suara tangisan bayi keluar dengan sehat dan sempurna.


“Selamat, ya pak, bayi laki-laki yang sehat dan sempurna” ucap dokter yang mengoperasi Danira.


“Mas, anak kita sudah lahir” ucap Danira pelan, dengan selang di hidungnya, meneteskan air mata.


Papa Drake mengecup kening Danira, berterimakasih sudah melahirkan jagoan untuknya.


Danira dipindahkan ke ruang observasi, papa Drake menemui Shine di ruang tunggu.


“Gimana pa? operasinya lancar? dedek bayinya?” tanya Shine khawatir.


“Bayinya sehat sempurna, ibunya juga baik-baik saja, masih di ruang observasi” kata papa Drake.


Shine memeluk papanya, kini keluarganya sudah lengkap dengan kehadiran adik laki-laki yang tampan.


“Selamat ya tuan atas kelahiran tuan muda, semoga menjadi insan yang beguna bagi nusa dan bangsa” ucap pak Kodir berlagak.


Semuanya tertawa mendengar perkataan pak Kodir.


“Siapa nama adikku?” tanya Shine.


“Sebenarnya papa belum memutuskan, tapi sudah terpikirkan menamainya Diamond Angelo, gimana? Bagus nggak ?” tanya papa Drake.


“Panggilannya siapa tuan?” tanya mbok Janem.


“Gimana kalau DD? Inisial dari Drake dan Danira?” ucap Shine memberikan ide.


“Bagus, bagus, panggilnya DD ya” ucap papa Drake senang.


*****


Dua hari berlalu, Danira sudah boleh pulang, dua hari itu juga Shine tidak pergi bekerja, dia beralasan kepada Danira untuk cuti sementara.


Sand sudah tidak bisa menunggu lagi, dia memutuskan untuk mencari Shine, karena tak kunjung kembali ke kantor.


“Rei, carikan CV Shine Angelo, sekarang!” perintah Sand pada Reihan.


Reihan tidak berani tanya untuk apa CV itu, yang pasti dia menuruti perintah Sand,


“Ini” menyodorkan berkas pada Sand.


“Alamat, alamat, alamat, ketemu” ucap Sand membuka berkas dan memindainya secara cepat.

__ADS_1


“Rei, aku pergi dulu” ucap Sand bergegas.


Sand menuju alamat yang tertera di CV Shine, dia mengendarai mobil sendiri tanpa sopir.


“Benar, seperti yang di tulis di sini” kata Sand bergeming.


Terlihat Shine menggendong bayi di teras depan, sedang menjemur DD.


“Dia sudah punya anak? Apakah yang waktu itu suaminya? Apakah karena itu dia sudah tidak mau berdekatan lagi denganku? Apakah aku merebut istri orang lain lagi?” dalam pikiran Sand.


Sand seakan tidak percaya dengan asumsinya sendiri, keluar dari mobil mendekat ke rumah Shine.


“My baby? Waktunya mandi honey” teriak Danira dari dalam rumah ke luar menghampiri Shine yang menggendong DD.


“Oke mommy, DD akan mandi sekarang” ucap Shine, seolah DD yang mengucapkan.


“Dia bukan anakmu kan?” tanya Sand yang berlari mendekati Shine lalu memegang tangannya.


“Tuan muda, kenapa anda bisa di sini?” ucap Shine yang terkejut akan kehadiran Sand di rumahnya.


“Dia siapa Shine?” tanya Danira.


“Apakah anda ibunya anak ini?” tanya Sand memastikan kalau bayi itu bukan anak Shine.


“Iya, ini bayi saya, kamu siapa sih datang- datang tidak sopan” ucap Danira agak kesal.


“Mom, dia bosku di kantor” ucap Shine pelan.


Sand duduk di ruang tamu, Danira menarik Shine ke dapur membuatkan minuman untuk Sand.


“Apakah karena dia, lamaran Ben belum kamu jawab?” tanya Danira serius.


“Nggak, bukan itu, ada alasan lain, sampai sekarang lamaran Ben belum kujawab” jawab Shine.


“Dia lumayan oke lah, ganteng, tubuhnya bagus, satu lagi dia pasti kaya” ucap Danira bukan sebagai ibu sambungnya, malah seperti temannya.


“Apaan sih, udah sana, katanya mau memandikan DD” ucap Shine mengusir Danira.


“Kalau kamu suka, ungkapkan saja, laki-laki seperti dia pasti banyak disukai wanita, kalau nggak cepat gak bakalan dapet” kata Danira bercanda.


“Udah sana, nanti airnya keburu dingin, DD nggak jadi mandi” kata Shine mendorong Danira pergi.


*****


“Tuan muda kenapa anda bisa kesini? Saya sudah resign, jadi kita tidak usah berhubungan lagi” kata Shine menegaskan.


“Benar dia bukan bayimu kan?” tanya Sand masih belum percaya.

__ADS_1


“Terserah pemikiran anda seperti apa, tapi saya sudah menegaskan kalau saya sudah resign dari kantor anda jadi silahkan anda pergi dari sini” ucap Shine mengusir Sand.


“Bolehkah aku melihat bayi itu lagi?” ucap Sand yang tertarik pada DD.


“Hei tuan muda anda mau kemana? Anda saya sudah persilahkan pergi! Hei berhenti tuan muda” teriak Shine pada Sand yang naik mencari DD.


Sand merasa senang ketika melihat bayi, makanya dia ingin melihat DD lagi.


“Apakah aku boleh melihat bayimu?” tanya Sand di pintu yang melihat DD dimandikan.


“Masuklah” kata Danira mengijinkan.


“Berapa usia bayimu, dia terlihat sangat kecil” tanya Sand melihat DD dipakaikan baju.


“Baru empat hari, apakah kamu mau menggendonya?” tanya Danira.


“Memangnya boleh?” tanya Sand balik.


“Stop!, jangan berikan pada dia mom, tuan muda jangan pegang adikku, pergilah dari sini sekarang!” ucap Shine menghentikan dan mengusir Sand lagi.


“Sudahlah Shine, tidak apa-apa” kata Danira mengehntikan Shine.


“Mom, come on!, dia tamu yang tidak diharapkan” ucap Shine mengotot.


Sand tidak menghiraukan perkataan Shine dan fokus pada DD, perlahan-lahan DD digendongkan ke Sand yang sudah siap menerima.


“Lihaltlah Shine, sudah kebapak-an, tancap gaslah, kurang apa lagi coba?” ucap Danira pelan meledek Shine.


“Mommy nggak tahu dia siapa, jangan meledek lagi, dia harus pergi sekarang juga, gendong DD lagi mom, aku akan bicara dengannya” minta Shine.


Danira mengambil DD lagi, dan Shine menarik Sand pergi kekamarnya untuk bicara empat mata.


“Kita bicara di sini!” ucap Shine tegas.


“Ini kamarmu ya, Aahh, nikmat” ucap Sand merebahkan diri di ranjang Shine.


“Tuan muda jaga sikap anda, ini di rumah saya, jangan bersikap seenaknya!” kata Shine menarik Sand dari ranjang.


Bukannya Shine yang berhasil menarik Shine, justru Shine tertarik Sand ke pelukannya.


“Tuan muda!” teriak Shine bangkit dari badan Sand yang tertindih olehnya.


Mereka berdua merasa canggung satu sama lain karena kejadian itu.


“Sebaiknya anda pergi sekarang” ucap Shine mengusir lagi.


“Shine, boleh aku bicara sebentar, ini serius!, beri aku waktu 10 menit saaaja?” ucap Sand memohon.

__ADS_1


“Duduklah, silahkan anda bicara” kata Shine mengijinkan.


“Shine, aku minta maaf, atas apa yang terjadi saat pernikahanku dengan Rara waktu itu, aku tidak mendengarkanmu, yang sudah terbukti benar, aku benar-benar tidak mau kehilangan dia, dia cinta pertamaku, setelah kehilangan ibuku saat masih kecil, aku merasa cinta dan sayang yang ada di dalam dirinya bisa menggantikan sayang dan cinta ibuku yang telah meninggal, aku menjadi buta akan cinta, dan tidak bisa menerima kenyataan, setelah kamu meneriakiku bahwa keluarganya membutuhkan Rara, aku tersadar, jika aku menikah dengan Rara, aku akan menghancurkan keluarganya, apalagi hati seorang anak kecil yang masih sangat membutuhkan ibunya. Sekarang aku mulai mencoba mengendalikan pikiranku agar tidak mudah tertekan, karena itu aku tidak ingin dijodohkan oleh oma, aku tidak ingin  menyakiti perempuan karena cintanya terus kutolak. Aku masih belum bisa move on dari Rara, aku belum bisa menemukan seorang wanita spesial yang bisa menggerakkan hatiku lagi. Tetapi aku merasa nyaman di dekatmu, aku merasa senang, hidupku tidak monoton, hari-hariku lebih terasa bermakna jika kamu ada di sampingku. Aku minta satu hal darimu, maukah kamu …”


__ADS_2