AKU AKAN MENYEMBUHKANMU

AKU AKAN MENYEMBUHKANMU
PART 73


__ADS_3

“Tuan muda, tuan muda, Sand, Sand kamu di mana sih, jangan menakut-nakuti aku ya, nggak lucu” teriak Shine terus mencari Sand dengan rasa takut yang menghantuinya.


Tidak ada respon dari Sand.


“Sand, Sand, Sand!” teriak Shine masih mencarinya.


Hujan semakin lebat, suara guruh juga lebih sering terdengar dengan kilat-kilat menyambar.


“Sand, tidak lucu ya, aku hitung sampai tiga, awas kamu tidak muncul” teriak Shine dengan cahaya senter dari HP nya.


Saat Shine naik ke atas, dia melihat Sand meringkuk di pojokan dekat tangga.


“Tuan muda, anda tidak papa?” tanya Shine khawatir.


Saat Shine mendekati Sand, ternyata dia sudah tidak sadarkan diri. Badannya dingin dan banyak keluar keringat di dahinya.


“Sand, bangun, bangun, Sand jangan sadarlah, aku di sini menemanimu” beberapa kali Shine meneriaki Sand, tapi tak kunjung ada respon dari Sand.


Shine yang panik, mulai menanngis dan mencoba memapah Sand ke dalam


kamarnya.


“Aku mohon, bangunlah, Sand, sadarlah” isak Shine menangis.


Shine membaringkan Sand di ranjang, menyelimutinya, mengusap keringat dan menggosok-nggosok badannya agar lebih hangat, masih dengan air mata yang berlinang.


Suasana yang mencekam membuat Shine menangis melihat Sand yang tidak sadarkan diri dengan keadaan yang mengkhawatirkan.


Hujan semakin reda, walaupun masih dengan guruh yang kadang kala datang mengangetkan Shine.


“Aku mohon bangunlah, aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian di sini untuk meminta bantuan, sedangkan listriknya padam, ayolah bangun” teriak Shine sambil menggosok lengan Sand yang mulai hangat.


“Bangunlah! ayo bangun!” teriak Shine di dekat telinga Sand.

__ADS_1


“Aku tidak budeg, jangan teriak dekat telingaku” suara serak yang melegakan Shine.


Spontan saja, Shine langsung memeluk Sand yang ada di depannya, sambil terus menangis. Shine merasa sedikit shock, dengan suasana yang seperti itu dan keadaan Sand tidak sadarkan diri, membuat Shine sangat khawatir.


“Sudah, sudah, aku tidak papa, pelukanmu sangat kuat sekali” rintihan Sand.


Shine melepaskan pelukannya pada Sand dan menghapus air matanya. Diterangi cahaya senter mereka di kamar yang sama menunggu listrik menyala, atau hingga matahari bersinar di pagi hari.


“Ada yang ingin aku sampaikan padamu, bolehkan kita berbicara sambil menunggu listriknya nyala ?” tanya Sand dengan pelan.


Shine tidak merespon permintaan Sand.


“Jika masih marah padaku, dengarkan saja apa yang aku ucapkan” kata Sand ingin mendinginkan hati Shine.


“Aku sengaja membawa paksa kamu kesini, dan itu perbuatan menyimpang, aku minta maaf, aku hanya ingin mengajakmu berbicara, aku tidak bisa terus-terusan kamu diamkan dan kamu acuhkan seperti itu, aku ingin hubungan kita baik seperti dulu …” ucapan Sand di potong Shine.


“Baik, sejak kapan kita memiliki hubungan yang baik, maaf tuan muda, kita hanya sebatas atasan dan bawahan hanya itu, tidak lebih, anda tidak boleh melupakan jodoh yang telah ditentukan oleh oma anda, aku rasa itu yang terbaik untuk anda…” ucapan Shine dipotong Sand.


“Shine! kenapa kamu selalu tidak ingin mengerti bagaimana perasaanku dengan perjodohan ini, apakah aku suka, apakah aku nantinya bahagia, setiap orang berhak menentukan rasa cinta nya pada seseorang tidak terkecuali aku sendiri,” teriak Sand mulai emosi.


“Karena aku tidak ingin menyakiti perasaan wanita yang nantinya kunikahi dan sama sekali tidak kucintai, aku akan lebih merasa bersalah akan hal itu, aku sudah berulang kali menyampaikannya padamu Shine, mengertilah, seseorang yang pernah terlukan karena cinta itu tidak mudah untuk disembuhkan” jawab Sand.


“Itulah tugasku tuan muda, aku akan mendampingi anda untuk menyembuhkan luka lama anda agar anda mau membuka lembaran baru dengan hidup anda,” eyel Shine.


Sand bangkit dari tidurnya, memegangi lengan Shine yang ada di sampingnya.


“Shine, apakah selama ini kamu tidak menyadarinya, luka ku ini sedikit demi sedikit sudah tersembuhkan oleh mu, hari demi hari rasa cinta itu datang untukmu, dan luka hati yang teramat parah ini mulai terobati berkat dirimu” ucap Sand meyakinkan.


“Tuan muda jangan bilang seperti itu, mungkin karena anda selalu menganggap saya psikolog dan itu akan membuat anda nyaman berada di dekat saya, tolong lepaskan, cengkraman anda sangat kuat hingga menyakiti lengan saya” melepaskan tangan Sand di lengannya.


“Aku sudah menyimpulkan dari perkataanmu tadi, aku tidak bisa memaksakan perasaan seseorang terhadapku, tapi satu hal ingin aku lakukan karena kamu, aku akan mewujudkan semua keinginanmu untuk menerima perjodohan dengan Sarah, semua kulakukan demi kamu Shine” kata Sand melepaskan cengkramannya.


Sand menyerah untuk mendapatkan hati Shine adalah sebuah taktik, jika Shine merasa cemburu saat Sand selalu berada di dekat Sarah, berarti dia juga memiliki perasaan terhadapnya, good luck Sand, semoga kamu memperoleh cinta Shine yang terus kamu kejar.

__ADS_1


*****


Setelah diskusi tegang, listrik menyala kembali karena pak Londo menghidupkan genset setelah hujan reda.


“Tuan muda, saya sudah menyalakan genset, maaf agak terlambat, karena hujan sangat deras” teriak pak Londo lantas pergi lagi.


Shine meninggalkan Sand kembali ke kamarnya, tanpa menghiraukan ungkapan perasaan dari Sand tadi.


Matahari terbit dengan sangat cerah, Sand dan Shine kembali ke kota sesuai janjinya.


Laning masih saja menghindari Shine sesuai kesepakatannya dengan Sand, dia hanya mengantar kepulangan Shine di depan villa tanpa menyapanya.


“Laning aku pulang dulu, kapan-kapan main lagi ke sini” pamit Shine.


“Hati-hati Star” hanya kalimat itu yang terucap mengantarkan kepergianShine dan Sand.


Laning aneh sekali, dia tidak seperti pas aku datang kemari, dalam hati Shine.


“Aku akan mengantarmu sampai depan rumah” ucap Sand sambil menyetir mobil.


Shine hanya diam tanpa berkata iya atau tidak, hingga sampai di depan rumah Shine.


“Besok masuklah ke kantor seperti biasa, aku akan menuruti semua kemauanmu” ucap Sand langsung pergi mengendarai mobilnya.


Shine tidak bisa berkata apapun, dia bingung merasakan perasaannya, dia seharusnya senang saat mendengar Sand mau menuruti kemauan perjodohan seperti yang oma Hara inginkan, tapi justru dia merasakan perasaan sedih yang campur aduk, dia sangat bingung hingga menangis saat di dalam kamar.


“Aku kenapa? Aku harusnya bahagia saat dia menerima perjodohan yang selama ini aku harapkan seperti oma Hara, tapi … hatiku berkata tidak rela jika dia benar-benar menjalani perjodohan itu,” curhat Shine sendirian sambil menangis.


“Shine, boleh aku masuk?” tanya Danira di depan pintu.


“Masuk mom” mengusap air matanya, mengubah ekspresi seakan tidak terjadi apa-apa.


“Darimana kamu weekend ini? Apakah benar kamu tugas ke luar kota? Ku lihat tadi, kamu berdua saja dengan bosmu ke sini” tanya Danira curiga.

__ADS_1


“Benar, aku melakukan tugas ke luar kota, dan memang hanya berdua saja dengan bosku, bolehkah aku istirahat mom, aku capek sekali” minta Shine.


“Yakin nggak mau cerita sama mommy Walaupun aku bukan ibu kandungmu, aku memiliki insting perempuan Shine, pasti terjadi sesuatu padamu, jika nanti membutuhkanku cari saja aku, aku siap mendengarkan curhatanmu, istirahatlah, aku tidak akan mengganggu.” Ucap Danira meninggalkan Shine.


__ADS_2