
Secepat kilat Shine turun dari ranjang pindah ke sofa.
“Aku sudah pergi dari ranjangmu, awas saja kalau kamu berani melakukan sesuatu padaku, aku jago silat, akan ku tendang adik kecilmu tepat sasaran.” Ancam Shine meringkuk di sofa.
“Karena kamu sudah pergi, aku tidak akan melakukannya, aku janji, janji pria dewasa sangat bisa dipertanggung jawabkan” kata Sand mematikan lampu.
“Jangan kamu matikan lampunya, biarkan hidup semalaman, aku tidak percaya padamu!” teriak Shine.
“Aku akan tetap menyalakan lampunya untuk membuktikan janjiku tadi” sahut Sand yang sudah berbaring di ranjang.
“Jangan, jangan! Lepaskan aku!” teriak Shine dalam tidurnya.
Teriakan Shine membuat Sand terbangun, dia mengahmpiri Shine dan menatapnya dengan duduk di meja.
Sand sesekali ingin membangunkan Shine.
“AAAA!” Shine terbangun dari mimpi buruknya.
Sand hendak memegang wajah Shine, tapi ditangkis oleh Shine.
“Apa yang kamu lakukan!” masih terbawa mimpi.
“Bangun, ini sudah pagi, kamu tidak ke kantor memangnya?” tanya Sand.
“Heh, kantor? Ah iya benar kantor” masih setengah mengigau berjalan keluar kamar.
“Kamu mau kemana? Kita akan ke kantor bersama! Tunggu dulu” ucap Sand menghentikan Shine.
Sand bergegas memakai baju, dan mengurus chek out dari hotel langsung pergi ke kantor bersama Shine masih dengan pakaian yang sama.
“Kalian tidak pulang semalam?” tanya Reihan yang sudah ada di ruangan Sand.
Sand merangkul Shine dengan pedenya menjawab, “Kita semalam menginap di hotel bersama."
“Apa sih, jangan bicara ngawur” sahut Shine melepas rangkulan Sand.
“Aku berkata yang sebenarnya, kalau kita memang menginap di hotel bersamaan” ucap Sand dengan senyum nakal.
“Hari ini aku minta cuti, kalau tidak boleh, potong gajiku saja” minta Shine tanpa memperdulikan Sand dan Reihan di ruangan itu.
Sand tidak menghalangi Shine karena dia dalam keadaan senang.
“Kamu mengijinkannya begitu saja mengambil cuti tidak sesuai prosedur?” tanya Reihan pada Sand yang selalu mematuhi peraturan di kantornya.
“Kali ini biarkan saja” jawab Sand sambil senyum-senyum sendiri.
Setelah dari hotel gelagat Sand menjadi sedikit aneh, sering senyum-senyum sendiri tidak jelas. Sampai Reihan pun yang ada di sebelahnya tidak ia anggap.
*****
__ADS_1
Shine pulang ke rumah pagi-pagi, dia sedikit khwatir jika Danira bertanya macam-macam. Oleh karena itu dia mencari alasan yang paling masuk logika saat pulang pagi, saat masih jam kantor.
“Shine, kenapa kamu sudah pulang jam segini?” tanya Danira sambil meggendong DD.
Firasat Shine benar, tapi dia bisa mengontrol ekpresinya saat pertanyaan semacam itu datang padanya.
“Kemarin aku sama bos di suruh lembur, jadi sebagai gantinya hari ini diperbolehkan untuk istirahat” jawab Shine tenang.
“Oh, bosmu namanya Sand itu ya? Benar kan kalian lembur? Tidak main-main dan menginap ke hotel kan?” tanya Danira sedikit menginterogasi.
Kenapa mommy bisa tahu, aku harus bisa tetap tenang, tidak boleh menampakkan rasa cemas, kata Shine dalam hati.
“Tidaklah, tidak mungkin kita ini berhubungan secara profesional, tidak mungkin melakukan hal semacam itu” jawab Shine bergegas masuk ke kamarnya untuk mandi.
“Shine, Shine kamu memang belum mengerti cinta, yang bisa membuatmu nyaman, selalu ada di sampingmu, mendukungmu setiap saat, aku harap kamu menemukan orang yang kamu cintai kelak” ucap Danira sambil memandang wajah DD yang tertidur pulas.
*****
“Permisi!” teriak Ben datang membawa kado untuk DD.
“Mas Ben, mau bertemu non Shine?” tanya mbok Janem yang membukakan pintu.
“Tidak juga sih, aku kesini untuk melihat putranya kak Danira” jawab Ben.
“Masuk lah mas, saya panggilkan nyonya dulu” ucap mbok Janem mempersilahkan Ben.
Saat mbok Janem hendak memanggil Danira ke atas, ada Shine yang turun mau ke dapur.
“Mbok panggil mommy aku akan menemui Ben dulu” ucap Shine.
“Ben!” teriak Shine dari kejauhan meyapa.
“Shine, kok jam segini udah ada di rumah? Ini kan baru jam 3, bukannya kalau jam pulang kantor tepat pukul 5 ya?” tanya Ben yang tidak mengira kalau Shine sudah ada di rumah.
“Iya, kemarin habis lembur jadi hari ini dapat jatah santai” jawab Shine.
“Halo om Ben, aku habis mandi nih, udah ganteng” ucap Danira menggendong DD.
“Wah gantengnya, ini ada sesuatu untuk …” ucapan Ben terhenti karena belum perkenalan dengan DD.
“DD, Diamond Angelo” kata Shine menyambung ucapan Ben yang terputus.
“Ah… untuk baby DD” Ben memberikan kotak terbungkus kertas kado.
“Maaf ya kak, baru sempat nengok DD sekarang” kata Ben pada Danira.
“Gak papa, kamu udah nyempetin aja aku seneng, ini malah bawa kado segala” kata Danira memaklumi.
Ben di rumah Shine agak lama karena ngobrol panjang lebar sampai papa Drake pulang.
__ADS_1
“Papa udah pulang, DD lagi makan ini pa” ucap Danira melambaikan tangan DD menyapa papa Drake.
“Jagoan papa, makan apa?” tanya papa Drake menimang DD.
“Masih makan ASI pa, DD belum boleh makan nasi” canda Danira.
“Ben, sudah lama?” tanya papa Drake.
“Lumayan om, dari jam 3 tadi” jawab Ben.
“Jangan pulang dulu, sekalian kita makan malam bersama gimana? Kamu nggak lagi sibuk kan?” tanya papa Drake yang lagi baik terhadap Ben.
Mbok Janem menyiapkan makan malam untuk keluarga papa Drake dan Ben.
“Tuan, nyonya, makan malam sudah siap!” kata mbok Janem memberitahu.
“Ayo kita makan sekarang, pasti sudah pada lapar” ucap Danira.
Papa Drake, Danira, Shine dan Ben, makan bersama di meja makan. Tiba-tiba, ada seseorang yang bertamu.
“Mbok, tolong lihat siapa yang mengetuk pintu itu!” teriak papa Drake pada mbok Janem.
“Aku saja pa” minta Shine.
Shine pergi membukakan pintu untuk melihat yang bertamu mengganggu makan malam keluarga.
“Tuan muda, ngapain kamu kesini jam segini?” tanya Shine kaget.
“Memberikan ini!” jawab Sand pulang kantor memberikan bungkusan.
“Kalau memberikan sesuatu padaku bisa besok di kantor tidak usah ke rumahku!” teriakan Shine berbisik.
“Hatiku saat ini sedang senang, saat di jalan melihat toko perlengkapan bayi, jadi teringat adik bayimu yang menggemaskan, jadi aku ke sini membawakan ini untuk adikmu” jelas Sand tersenyum bahagia.
“Ini aku terima dan sekarang pergilah, kita bertemu besok di kantor!” usir Shine.
“Shine siapa tamunya?” teriak papa Drake.
“Kurir nganter paket pa!” jawab Shine berbohong.
“Kamu bilang aku kurir? Aku bos kamu, berani sekali tidak menghormatiku” kata Sand senyumamnya telah hilang.
“Kalau di kantor memang bos, tapi di sini, kamu bukan siapa-siapa ku, sekarang pergilah!” usir Shine lagi.
“Kenapa mengusirku? Pasti ada yang kamu sembunyikan, aku mau masuk!” ucap Sand menerobos masuk hingga ke meja makan.
“Shine dia bos kamu kan? Kenapa kamu tadi bilang kurir, silahkan duduklah ikut makan bersama kami” ucap Danira meminta maaf.
“Ternyata ini yang kamu sembunyikan sampai mengusirku?” kata Sand pada Shine meng- kode, kalau Ben juga ikut makan malam.
__ADS_1
“Kamu bosnya Shine, berarti cucu dari nyonya Hara?” tanya papa Drake.