
Emosi Shine mulai memuncak, dia sangat sebel, jengkel pada Sand.
“Apasih maumu?” tanya Shine dengan emosi di ujung kepala.
“Kamu duduk diam, yang cantik, melihat aku makan di meja makan” cakap Sand.
Dengan sangat terpaksa, Shine menuruti perkataan Sand. Dia hanya bisa mengusap air liurnya yang sedikit demi sedikit menetes.
“Ah, kenyang”
“Aku tidak kamu sisihkan makanan sedikitpun? Wah sungguh kejam hati tuan muda sebenarnya, aku tidak bisa melanjutkannya, lebih baik aku pergi, jika kamu masih salah paham padaku, masa bodoh!” emosi Shine sudah tidak bisa terbendung lagi.
“Shine, Shine tunggu, tunggu, jangan emosi dulu, oke oke aku akan mendengarkan penjelasanmu, duduklah di sini, aku akan mendengarkanmu dari awal hingga akhir”
Karena ancaman dari Shine tadi Sand mau mendengarkan penjelasan Shine, dari awal hingga akhir, tapi tetap saja Sand tidak mau memahaminya.
“Sekarang kamu paham kan, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Shine penuh harap.
“NO!, aku tetap akan bersaing dengan mereka!” ucap Sand bangkit meninggalkan Shine.
“Dah gila memang” ucap Shine lirih sambil menggelengkan kepalanya, meninggalkan Sand untuk pergi keluar kamar.
Shine membanting pintu kamar, suaranya terdengar oleh Sand.
“Hey, Shine jangan kabur kamu!” teriak Sand masih dengan jubah mandi dan rambut setengah basahnya.
Sand berlari mengejar Shine yang sudah ada di luar. Dia nekat dengan pakaian seadanya.
“Shine, jangan kabur kamu!” teriak Sand lagi.
“Dia mengejarku” ujar Shine berlari sekencang mungkin.
“Shine berhenti!” teriak Sand hingga terdengar oleh tamu yang lain.
Tergesa-gesa dan panik, menekan tombol lift.
“Kenapa nggak buka-buka sih lift nya, cepetan dong” gumam Shine panik.
Tanganya yang menekan tombol lift, tertangkap oleh Sand.
“Tuan muda, lepaskan, aku tidak mau kembali lagi, aku mau pulang, lepaskan!” dengan sengaja Shine berteriak agar ada orang yang menolongnya.
__ADS_1
Ada tamu hotel datang dari dalam lift melihat Shine meronta saat dipegang oleh Sand.
“Hei, apa yang kamu lakukan padanya?” tanya tamu hotel.
“Kami baru saja menikah, tapi dia ingin kabur, karena pertama kalinya, jadi dia takut, maafkan perbuatan kami” ucap Sand beralasan.
“Bohong, itu bohong, dia hendak melecehkan ku, lihatlah pakaiannya” pembelaan Shine.
“Mana yang benar ini?” ucap tamu hotel.
Ada pelayan hotel yang lewat mendorong troli, mengenali Shine dan Sand.
“Ada apa ini tuan dan nyonya? Apakah ada masalah?” bolehkah saya bantu?” tanya pelayan hotel sedikit panik melihat kegaduhan yang disebabkan Shine dan Sand.
“Pria ini bilang dia istrinya, sedangkan perempuan ini, bilang kalau dia mau dilecehkan sama pria ini, kami bingung mana yang benar” kata tamu hotel.
“Bukankah tuan dan nyonya datang bersama tadi, juga kelihatan akur tidak seperti sekarang” kata pelayan hotel sok tahu.
“Dia takut dengan pengalaman pertama, jadi dia ingin kabur” jawab Sand.
“Tuan, jika istri tuan masih takut jangan dipaksa, dan nyonya harus mematuhi kemauan suaminya, tidak boleh kabur begitu, kalau ada masalah harus diselesaikan dengan baik-baik” ucap pelayan hotel.
“Mmmm mmmm mmmm mmm mmmm” suara Shine terbungkam tangan Sand.
“Anak muda jaman sekarang, mungkin mereka hasil perjodohan, jadi seperti itu” ucap tamu hotel menggelengkan kepala.
*****
Shine menarik tangan Sand dengan kekuatan supernya, di depan kamar.
“Jika kamu masih salah paham denganku, dan melakukan ini padaku, aku akan teriak agar semua tamu di sini mendengarnya, dan menduga kamu yang melecehkan aku” ucap Shine sungguh marah.
“Shine, kita tidak bisa masuk, kuncinya ada di dalam” kata Sand panik teringat kuncinya ada di dalam kamar.
“Hahahaha, itu balasannya yang kamu dapat sekarang, rasakan, bye bye aku pulang tuan muda!” tawa Shine bahagia.
“Shine!, Shine tunggu, kamu tidak boleh meninggalkan aku” ucap Sand menggenggam erat tangan Shine menariknya pergi ke lobi untuk meminta kunci.
Karena kekuatan supernya sudah ia keluarkan, Shine menjadi tidak bertenanga, apalagi dia belum makan, jadi dia tidak bisa melepas genggaman Sand yang super kuat.
“Jangan kencang-kencang jalannya, aku sudah lemes nih” ucap Shine dengan napas terengah-engah di dalam lift yang juga ada tamu lain.
__ADS_1
“Ya ampun, kasian banget perempuannya, sampek lemes gitu” ucap tamu hotel berpikiran negatif.
“Sebentar lagi nyampek nanti, kalau udah kebuka pasti bisa masuk” perkataan Sand menambah prasangka negatis tamu hotel yang ada dalam satu lift dengannya.
“Aku nggak mau kamu paksa-paksa lagi, aku mau pulang sekarang!” rengek Shine yang masih digandeng Sand.
“Kalian jangan mesum di sini dong!” teriak tamu hotel kelepasan.
“Dia yang memaksa saya, tolong bu!” Shine memanfaatkan keadaan.
“Mas, jangan gitu sama istrinya, kalau melakukan itu, harus lembut penuh kasih sayang, jangan paksa-paksa, itu dilarang oleh negara” bela ibu-ibu tamu hotel yang salah paham.
“Tidak usah mengurusi urusan saya!” bentak Sand pada ibu-ibu tamu hotel.
“Jelas ini urusan saya juga, karena istri kamu meminta tolong pada saya, kamu bisa di hukum dengan pasal kekerasan rumah tangga” ucap ibu-ibu tamu hotel yang membela Shine.
“Kekerasan rumah tangga? Memangnya anda melihat dia terluka? Anda salah paham, dia bukan istri saya, dia penipu yang hendak kabur” kata Sand berbohong.
“Hampir saja saya kena tipu perempuan ini, lebih baik segera laporkan ke polisi, mau aku bantu melaporkannya?” tanya ibu-ibu tamu hotel.
“Tidak usah, aku akan mengurusnya sendiri, permisi” Sand keluar karena pintu lift sudah terbuka.
Shine sudah tidak bertenaga, dia akhirnya menyerah pada Sand.
“Oke, oke lepaskan sekarang, aku tidak akan kabur, janji, tapi belikan aku makanan aku sangat lapar!” ucap Shine lesu.
Sand mempercayai Shine, meminta kunci pada resepsionis dan kembali ke kamar hotel, memesankan makanan untuk Shine.
“Udah kenyang?” tanya Sand yang terus memandangi Shine makan.
“Ah, akhirnya perutku terisi makanan mewah dan lezat” pekik Shine bahagia.
“Karena kamu sudah kenyang, aku mau bicara, kalau aku tidak akan menyerah pada mereka” ujar Sand masih memandangi Shine.
“Terserah, aku sudah tidak peduli lagi, sekarang aku mengantuk ingin tidur” secepatnya Shine berlari ke ranjang.
“Hei Shine, pergi kamu dari ranjang mewahku!” teriak Sand hendak memulai pertengkaran lagi.
“Siapa cepat dia dapat!” ejek Shine sambil menikmati ranjang yang sangat besar dan empuk untuk dirinya sendiri.
“Kamu tidak takut kalau nanti aku apa-apakan saat kamu tidur? Aku ini pria dewasa yang normal dan perkasa” ancam Sand yang berdiri melipat lengannya di dada.
__ADS_1
“Memangnya apa yang akan kamu lakukan? Kamu kan tidak suka perempuan lagi, jadi tidak ada yang harus dikhawatirkan” kata Shine kepedean.
“Ku akui aku memang tidak ingin mencintai perempuan lagi, tapi aku tidak bilang tidak bisa berhubungan intim dengan seorang perempuan, aku sudah bilang aku pria dewasa yang normal dan perkasa, bisa saja aku melakukan itu denganmu saat kamu lengah” Sand benar-benar mengancam Shine.