
“Dari mana saja kalian? Kenapa tidak bilang, aku khawatir kalian pergi meninggalkanku di sini sendirian” kata oma Hara yang merasa bingung setelah bangun tidur tidak ada siapapun.
“Dari pasar oma, dan tuan muda ingin ikut jadi kita bersama berbelanja” jawab Shine.
Sand merasa kebahagiaannya telah direnggut oleh oma Hara karena sudah terbangun dari tidurnya yang pasti akan mengganggu waktu berduaan saat masak nanti.
“Oma tidak perlu khawatir, pasti Sand akan meminta ijin sebelum pergi untuk berikutnya, sekarang oma ke kamar saja menunggu masakannya jadi, biarkan yang
muda-muda ini menyelesaikannya” kata Sand mendorong oma Hara ke kamarnya.
“Sand, jangan mendorong oma seperti ini, bagaimana kalau nanti jatuh, Aaa!” teriak oma karena kakinya tersandung.
“Apa Sand bilang oma, oma istirahat saja di kamar, nggak usah pergi-pergi lagi, Sand masih di sini tenang saja, jika masakannya sudah jadi akan aku panggil, oke?” tekan Sand.
“Iya, iiya, iya” jawab oma Hara yang hanya bisa menuruti kemauan cucunya.
Secepat kilat, Sand menghampiri Shine yang ada di dapur mempersiapkan masakan yang di buat khusus untuknya.
“Apa yang bisa kau bantu? Pasti adalah yang di potong-potong” tanya Sand yang membayangkan bisa memeluk Shine dari belakang sambil memegang pisau bersamaan seperti adegan romantis di film.
Sand kecewa, bukannya adegan romantis, ia malah di suruh membersihkan ikan dan udang, hanya bau amis yang menyelimuti hidungnya.
“Aku nyerah, kamu saja yang bersihkan ini banyak sekali Shine” ucap Sand meninggalkan seember udang dan seekor ikan yang besar dengan sisik berceceran.
“Kalau begitu kupas bawang itu” kata Shine.
“Yang mana bawangnya? Yang ini?” tanya Sand memang tidak tahu bumbu dapur.
“Bukan, yang itu di dalam plastik kresek hitam dekat lengkuas itu” tunjuk Shine yang masih membereskan barang belanjaan yang lain.
“Mana aku tahu lengkuas, bawang saja aku tidak tahu, sudahlah aku melihatmu saja” ucap Sand menyerah begitu saja.
Sand duduk di meja makan sambil memandangi Shine yang terlihat cantik saat memasak.
“Aaach!” teriak Shine menghisap jarinya yang berdarah.
Dengan cepat, Sand menghampiri Shine yang jarinya teriris. Tanpa berkata, ia mencarikan kotak P3K untuk mengobati Shine.
“Mana jarimu” minta Sand meneteskan antiseptic dan membalutnya dengan plester.
__ADS_1
Sand memanfaatkan keadaan, melakukan adegan romantis yang di bayangkan sebelumnya, ia sangat senang hingga ada lagi gangguan.
“Star! Kamu di mana? Aku baru tahu kalau kamu kesini tadi, Star! Oh Star!” teriak Laning yang senang atas kedatang Shine ke villa.
Laning yang melihat Shine dan Sand berduaan, dengan polosnya ia justru mendekat dan memastikan dengan matanya, apa yang sedang dilakukan mereka berduaan di dapur.
“Astaga! Laning!” seru Shine.
Dalam hati Sand, “Kenapa dia datang di waktu yang tidak tepat sih” gerundel Sand.
“Kamu teruskan masaknya, aku akan bicara dengan Laning sebentar” minta Sand pada Shine agar melanjutkan masakannya.
Sand menarik Laning menjauhi dapur, “Kenapa kamu kesini, kamu tidak ingat apa yang aku ucapkan terakhir kali dari sini?” tanya Sand yang meluapkan emosinya.
“Ingat tuan muda, tapi anda menyuruhku untuk menjauhi Star hanya untuk hari minggu, sekarang sudah berlalu, jadi aku bolehkan menghabiskan waktuku bersamanya” tanya Laning polos.
“Tidak boleh, namanya Shine bukan Star dan dia hanya milikku” bentak Sand.
Laning menangis karena bentakan Sand yang keras padanya. Mendengar tangisan Laning ia merasa khawatir terjadi sesuatu dengan mereka, akhirnya Shine meninggalkan dapur untuk menyusul mereka.
“Ssstt, jangan menangis seperti itu, nanti ada yang dengar dan salah sangka aku melakukan sesuatu padamu, diam lah” bujuk Sand pada Laning yang terlanjur menangis dengan keras.
“Nggak papa, dia hanya sudah sangat kangen denganmu, dan aku bilangin untuk tidak merecokimu saat memasak” jelas Sand berpura-pura.
Shine memeluk Laning yang sudah dianggapnya adik,
“Sudah, sudah, tuan muda berniat baik, takut kamu mengangguku, kamu buktikan kalau justru kamu akan membantuku menyelesaikan semua masakan hari ini” bujuk Shine dengan nada menyindir Sand.
“Bolehkan tuan muda?” tanya Laning sambil mewek.
Dengan sangat terpaksa, Sand mengijinkan Laning membantu Shine untuk melanjutkan memasak.
Laning mengusap air matanya, dan merangkul Shine ke dapur, sedangkan Sand di lupakan sementara oleh Shine.
“Dasar bocah cengeng, gak tahu apa kita sedang bersama, sangat menggangguku, awas saja nanti, kamu tidak akan bisa menemui Shine lagi” ancam Sand dalam hati.
“Kamu masak apa Star? Aku harus ngapain?” tanya Laning yang senang bisa memasak bersama Shine lagi.
“Kupas bawangnya, cuci cabai sama sayur sekalian, aku bersihkan ikan dan udangnya dulu” jawab Shine yang super sibuk.
__ADS_1
Sand terus memantau Laning dari kejauhan, sorot mata cemburu bagaikan pedang yang siap menguhunus dada Laning.
“Seharusnya aku yang di sana, bocah cengeng sialan” gumam Sand dengan mata yang pandangannya terus pada Laning karena sebal.
Hingga makanan mereka telah siap disajikan.
“Sand, kenapa kamu duduk di sini sendirian? Sudah lapar ya? Oma juga, nunggu kamu memanggilku terlalu lama, apalagi bau harum ini kecium sampai kamar, tambah lapar oma ini” kata Oma Hara yang mengagetkan Sand.
“Iya oma, Sand juga SUDAH SANGAT LAPAR!!!!!!” teriak Sand dengan sengaja.
Di dapur, “Apa-apaan tuan muda teriak seperti itu, memangnya kita nggak lapar juga, capek tahu masak itu” keluh Laning yang merasa kesal dengan Sand yang
terus menghalanginya bersama dengan Shine.
“Sudahlah Laning, sudah siap semua kan masakannya, taruh semua di meja makan” perintah Shine.
“Nyonya juga ada di sini, kami membuat ikan dan udang bakar, sambal dan juga lalapan” kata Laning yang membawa sepiring udang bakar.
“Wah, sepertinya enak, makin lapar aku” sahut oma Hara.
Terlihat Shine membawa ikan dan lalapan di kedua tangannya nampak kesusahan, dengan sigap Sand membantunya di depan oma Hara.
Tapi oma Hara belum juga paham dengan hubungan mereka berdua, ia malah menyanjung cucunya.
“Baik sekali cucu oma, sudah semua Shine? Kita makan bersama ya” minta oma Hara.
Laning yang merasa tidak diajak, dia pergi menjauh.
“Kamu mau kemana? Sekalian panggilkan Big Two dan Big Three di luar suruh makan di sini bersama- sama” perintah Sand.
Semakin sakit hati Laning, dia berharap dipanggil untuk makan bersama, malah disuruh memanggil Big Two dan Big Three. Wajahnya semakin kusut dan gerak-geriknya menggambarkan kalau dia sangat kecewa dan kesal.
“Kenapa gitu badanmu, kamu juga makan di sini, tapi panggil dulu mereka” kata Sand cuek pada Laning karena masih kesal dengannya tapi tidak tega.
“Boleh? Benar tuan muda? Saya boleh makan bersama dengan kalian?” tanya Laning yang merubah ekspresinya menjadi gembira.
“Hmm” dehem Sand sambil mempersiapkan alat makannya.
Saking gembiranya Laning, ia berlari dengan cepat untuk memanggil Big Two dan Three di luar.
__ADS_1