
“Bagaimana Oma? Apakah meditasinya memiliki efek?” tanya Shine penasaran dengan meditasi yang sebenarnya tidak ia kuasai.
“Lebih tenang pikiran oma sekarang, rileks dan juga merasa lebih fresh, kita besok lakukan lagi ya Shine, gimana kalau di dekat danau waktu matahari terbit pas sekali, ajak Sand sekalian” ajak oma Hara.
“Baik oma, akan saya ajak tuan muda juga besok pagi” jawab Shine.
“Yaudah, pergilah, oma mau istirahat, sepertinya akan nyenyak tidurku nanti setelah meditasi” kata oma Hara.
Shine keluar dari kamar oma Hara, begitu gagang pintu terdengar, Sand juga langsung keluar. Dia memastikan kalau yang keluar adalah Shine, ditariknya masuk kedalam kamarnya.
“Kenapa lama sekali? Kalian sedang apa sih?” tanya Sand yang sudah lama menunggu.
“Oma mengajak meditasi, dan besok kamu juga harus ikut ke pinggir danau saat sunrise untuk meditasi” jelas Shine.
“Itu nggak penting, sekarang kan pertama kali kita kencan, seharusnya kamu terus bersamaku bukannya bersama oma” kata Sand yang cemburu dengan omanya sendiri.
“Mau gimana lagi, kita juga tidak tahu kalau oma ke sini kan,” ucap Shine.
“Tidak ada cara lain, aku mau mengungkapkan segala pada oma sekarang juga, tidak enak sekali menjalani hubungan backstreet seperti ini Shine” rengek Sand.
“Jangan Sand, oma sedang tidur, dan kurasa juga waktunya belum tepat” kata Shine menghalangi.
“Mau sampai kapan terus begini, jika terus disembunyikan kita tidak akan bisa menikmati waktu bersama secara leluasa” jelas Sand.
“Iya aku tahu, tapi aku juga butuh waktu mempersiapkan diri dengan reaksi oma saat tahu jika cucu semata wayangnya menjalin hubungan dengan psikolognya sendiri” tekan Shine.
“Memangnya ada yang salah tentang itu, statusmu single dan belum pernah menikah, kamu juga berpendidikan, kurang apalagi yang harus dipenuhi untuk menjadi istriku?” tanya Sand yang bertujuan meyakinkan Shine.
“Restu oma sangat penting untuk bisa menikah denganmu, oma sangat menyeleksi wanita
yang kelak akan menjadi istrimu, dari bibit bebet dan bobotnya, dan kurasa di mata oma aku tidak sesuai kriterianya” keluh Shine.
“Yang akan menikah itu aku, bukan oma, jadi percayalah padaku, semua kekuranganmu akan menjadi kelebihanmu di mata oma” puji Sand.
Sand meyakinkan Shine untuk mau menjadi istrinya, walaupun nantinya tidak direstui oleh oma Hara, namun Shine masih terlihat ragu akan hal itu, karena dia tahu kriteria calon menantunya yang sangat diidamkan untuk mendampingi Sand.
“Mau kemana kita?” tanya Shine ditarik oleh Sand.
__ADS_1
“Menjelaskan semuanya pada oma sekarang juga” jawab Sand.
“Aku mohon jangan sekarang, berikan aku waktu sedikit lagi, aku janji akan segera menemanimu untuk bertemu kepada oma sebagai calon istrimu” kekeh Shine.
“Aku berikan waktu sampai besok, tapi ada syaratnya, kamu harus mau membuatkanku masakan” minta Sand.
“Syaratbditerima, kamu mau makan apa?” tanya Shine sambil berjalan menuju dapur.
Mereka berdiskusi makanan apa yang akan di masak, dan melihat bahan yang tersedia di dalam kulkas.
“Sepertinya kita belum punya bahannya, harus ke pasar dulu” kata Shine setelah melihat isi kulkas.
“Berangkat sekarang” jawab Sand bersemangat.
Mereka ke pasar berduaan, tetap saja diikuti Big Two dan Big Three dari kejauhan. Kencan pertama dimulai dari berbelanja bersama di pasar tradisional terdekat
dengan villa.
“Kamu tadi kan mau makan roasted salmon with potato wedges and mushroom sauce kan? Tapi di sini sepertinya tidak ada seperti yang kamu inginkan, gimana kalau gulai ikan saja? Di sana terlihat ikannya segar” kata Shine yang sampai di pasar melihat penjual ikan air tawar yang segar dan besar.
“Apapun yang kamu masak nanti pasti akan aku makan” jawab Sand agar menyenangkan hati Shine.
“Lima puluh” jawab penjual ikan.
“Wah ada udang juga, pasti enak di bakar, kalau begitu aku ambil ikan dan udangnya 2 kilo” minta Shine pada penjual ikan.
Selagi penjual ikan menimbangnya, “Kamu tidak tawar? Biasanya kan ibu-ibu yang belanja di pasar sering kali menawar” bisik Sand.
“Dari mana kamu tahu ibu-ibu sering menawar harga di pasar? Jangan-jangan kamu juga pernah berbelanja di pasar tradisional?” tanya Shine yang mengira orang kaya hanya tahu restoran mewah dan mal.
“Aku lihat saat survei lokasi di pasar” jawan Sand.
“Kirain pernah belanja ke pasar, kalau di sini boleh menawar tapi aku nggak tega sama penjualnya, mereka susah payah menawarkan dagangannya tapi semena-mena di tawar, coba bandingkan di supermarket, harga jualnya yang tinggi tidak bisa kita tawar, hanya menguntungkan pengusaha yang sudah kaya” jelas Shine.
“Kamu menyindirku?” gerutu Sand.
“Tidak, kalau kamu merasa tersindir ya jangan mengambil keutungan lebih dari warga kecil” kata Shine.
__ADS_1
“Ini buangnya ya pak, ayo kita harus beli sayuran untuk lalapan, cabai untuk sambalnya, keburu malam nanti” ajak Shine.
“Pasti oma merestui hubungan kita kalau saja ikut kita saat ini” ungkap Sand.
“Kenapa bisa gitu?” tanya Shine.
“Kamu memang terbaik, membela warga kecil dan bisa berbelanja untuk masakin calon suaminya” puji Sand.
“His, bisa aja, yaudah yuk, itu ada cabai sama tomat” balas Shine.
Mereka sudah berbelanja semua yang diperlukan, sebelum pulang ada penjual mainan yang terlihat sudah tua dan tidak ada yang mendekat untuk beli. Sand mengeluarkan uang dan memberikannya secara cuma-cuma.
“Untuk apa kamu beli itu?” tanya Shine yang menenteng belanjaan.
“Aku tidak beli, hanya kasian sama nenek itu, aku berikan uang lalu ia memberikan sepasang gelang ini” jawab Shine
Sand memakaikannya pada Shine, dan satunya lagi ia pakai.
“Kita seperti kencan sungguhan, walaupun tidak ada kaos couple, gelang ini pun sudah menandakan kalai kita adalah pasangan” kata Sand.
“Memangnya kamu juga ingin memiliki kaos couple seperti anak remaja yang cinta monyet?” tanya Shine bernada ledekan.
“Apa salahnya, aku juga mau ke dufan, ke kebun binatang, ke café yang lagi hits ya seperti yang dilakukan anak remaja itu” jawab Sand tanpa rasa malu.
Shine tertawa terpingkal-pingkal mendengar perkataan Sand dengan polosnya. Karena dari kecil ia kurang menikmati layaknya anak seumurannya setelah kedua orang tuanya meninggal. Sebab itu, ia ingin merasakannya bersama Shine.
“Kasian ya tuan muda, dia ingin sekali menikmati kencannya sampai segitunya” cletuk Big Three yang terharu karena keinginan Sand yang belum terpenuhi.
“Cengeng!” kata Big Two mengusap air matanya.
Bukan Big Three yang cengeng, Big Two lah yang lebih cengeng.
“Aku akan menemanimu mewujudkan semua keinginan yang baru saja kamu sebutkan, kemanapun kamu ingin pergi pasti aku akan selalu bersamamu” janji Shine pada Sand.
“Janji?” tanya Sand memastikan.
“Janji” jawab Shine mengaitkan kelingkingya pada kelingking Sand.
__ADS_1
Karena Shine tidak berpamitan pada oma Hara, ia sudah menunggu di depan villa dengan khawatir. Melihat suara mobil datang, ia merasa lega.