
"Abi ayo cepatlah waktu terus berjalan." terdengar kembali suara Mbah Kasiman memberi peringatan.
"Iya Mbah" sahut Abi bergegas melanjutkan langkahnya semakin masuk kedalam hutan.
"Abi.... Abi kemiri nak.....!!!" terdengar suara wanita memanggil hingga Abi menghentikan langkahnya.
"Bunda!!." gumam Abi
"Abi....!! terdengar kembali suara laki-laki memanggil Abi.
"Ayah." ucap Abi ingin berbalik mencari asal suara.
tuppkkkkkktttttt.....
"Ahhhkkkkkk!!!" jerit Abi seekor ular menggigit kaki kirinya saat Abi mengarahkan lentera kebawah kakinya ia tl tak lagi menemukan hewan yang menggigitnya.
Abi memeriksa kakinya yang terasa berdenyut nyeri ia duduk di ditengah jalan menghisap segera kakinya yang terluka meludah wisa bercampur darah ketahan ia membuka segera jaket yang memberikannya kehangatan untuk badannya. melepas baju kaos yang ia pakai untuk mengikat segera kakinya guna menekan Wisa ular yang masuk ke dalam aliran darah du kakinya.
"marilah nak ibu akan mengobati lukamu." ucap seorang wanita berdister putih sambil tersenyum.
Abi melihat keasal suara ia mendapati wajah yang tak asing baginya yaitu wajah Risa yang di hiasi senyum.
"Bunda." Ucap Abi lirih sambil melangkah ingin mendekati sosok yang dilihatnya.
"Ayo nak kemarilah ibu akan mengobatimu." Tukas Suara itu terdenger lembut ditelinga Abi.
langkah Abi semakin mendaket hanya tinggal tiga langkah lagi ia sampai. dari Arah berlawanan datang Angin kencang menyeret Abi kembali ketempat semuala.
"Nak itu hanya ilusi coba kamu berdoa dan telelah itu lihatlah ke arah wanita yang memanggilmu." ucap suara Mbah Kasiman menggingatkan.
Abi mengikuti ia berdo'a sambil memejamkan matanya setelah selesai ia membuka dan melihat ke arah wanita yang terus menerus memanggilnya.
Astagfillah pekik Abi spontan melangkah mundur. wanita dengan wajah hancur rambut kusut mata merah dan senyum menyerigai kearahnya.
"ikutlah denganku anak manusia. hihhhhiiiiiiiii" ucapnya sembari terbang mendekati Abi, tiba-tiba ia terpental seperti sebuah kekuatan mendorongnya menjauhi Abi.
"tidak akan kubiarkan kau lolos begitu saja, dasar kakek tua tak bisa melihatku senang." ucap Wanita berdester putih itu segera terbang mencari Mbah Kasiman.
__ADS_1
"Tuan kenapa berhenti disini jalan kita masih panjang." Tegur Rubah putih
"Kakiku sepertinya digigit ular." jelas Abi
"Ular diamana ular itu?, akan ku gigit sampai mati." tanya Rubah sambil mengawasi sekeliling.
"dia sudah pergi, Ayo kita lanjutkan perjalan sebelum kakiku mati rasa." tukas Abi.
"Tenanglah Tuan kalau tidak salah disini ada mata air yang bisa menawar racun termasuk bisa ular." ungkap Rubah Putih penuh keyakinan.
"bawa aku kesana." perintah Abi.
"siap Tuan ikuti saya." sahut si Rubah memimpin.
Disisi lain seorng wanita berbaju putih terbang mendakati Mbah Kasiman yang sedang bersemedi dibawah sebuah pohon beringin besar.
"Kakek Tua kenapa kau mencampuri urusanku.?" teriak Wanita itu lantang.
"Putih anak itu bukan anak sembarangan dia memang sudah ditakdirkan masuk kehutan ini jangan menganggu jika kau tak ingin musnah." ucap Mbah kasiman tanpa membuka matanya.
"Apa maksudmu tua bangka?, dia hanya anak manusia bisa tak memiliki ilmu apapun. Auranya saja tak terlihat." tukas Wanita yang dipanggil Putih oleh Mbah kasiman.
"'benarkah aku tak percaya, aku menyukai anak itu harus menjadi milikku." ucap putih sambil tertawa.
Hiiiihiiihiiiiiiihiiiiiiiiiiiiihiiiii.!!
"kau tidak akan bisa menyentuhnya". sahut Mbah kasiman masih dengan memejamkan matanya.
"asal kau tak ikut campur aku akan mendapatkannya." ucap Putih sambil tertawa kemudian terbang menjauh memasuki hutan larangan.
"Mbah kasiman menghela napasnya perlahan.
tidak hantu tidak manusia semua akan terposona jikalau melihat pemuda Tampan." gerutu Mbah kasiman.
wanita berdester putih itu kembali menemui Abi mengajaknya ikut bersama.
"Hey anak mausia sebaiknya ikut dengaku aku akan merawat luka dikakimu memberimu benyak makan dan buah." Ajak Putih
__ADS_1
"Aku tidak tertarik' Ketus Abi
"kau menolakku nak, akan kubuat kau tak bisa menemukan danau yang kau cari." ucap si Putih dengan kaki mengambang dipermukaan tanah.
"Ambil 3 jarum akupunturmu bacakan ayat kursi tanpa nernapas lalu tiupkan ketiga jarum itu letekan di sela sela jarimu lempar kewanita buruk rupa itu." perintah Raden Mas melalui telepatinya.
"Baik kekek terimakasih selalu mengawasiku." sahut Abi.
Abi mengeluarkan jarum akupunturnya dari dalam saku jaket melukan perintah kakek buyutnya kemudian melempar jarum tersebut tepat ke arah wanita berdester putih.
tiga jarum itu terbang secea terpisah menuju titik-titik tertentu jantung, leher, serta perut.
Ahhhhhkkkkkkkkkkkkkkk panas teriak si wanita berdester putih beberpa detik berikutnya menjedi abu dan lenyap terbawa angin.
Jarum akupuntur kembali ketangan Abi tanpa ada noda sedikitpun.
"Aku tak tau jika jarum ini juga bisa menjadi senjata saat aku membutuhkan." batin Abi menarik sedikit sudut bibirnya menjadi senyum tipis.
Itu bagus Tuan, suatu saat kau akan tau apa saja kegunaan jarum emas itu, jagalah dengan baik jarum itu jangan sampai jatuh ketangan yang salah. Ungkap Rubah sambil terus melanjutkan langkahnya.
penghuni hutan larangan mengintip dari tempat persembunyiannya masing-masing ada pula yang diam-diam mengikuti ingin tau bagaimana anak manusia itu merenggang jawa akibat wisa ular yang mematikan.
meraka bergidik ngeri saat tau dengan mudahnya Abi melenyapkan Wanita berdester putih salah satu penghuni hutan larangan sejak lama.
Abi dan Rubah bukannya tidak tau ada yang mengikuti tapi mereka hanya pura-pura tidak asal hewan-hewan itu tak menyarangnya terlebih dahulu ia akan menhormatinya.
"Disana tuan Disana air yang bisa menarik wisa ular yang ada dikaki Anda." ucap Rubah mendengar suara gemercek air. sambil mempercepat langkahnya.
Abi mengikuti dari belakang hingga sampai pada sebuah telaga dengan air yang bersih.
"masukan kedua kakimu kedalam telaga pelangi nak cepatlah." perintah Raden Mars.
"masukan kaki Anda Tuan serta lepaslah kain yang mengingat kaki Anda." perintah Si Rubah putih.
Abi segera melakukan perintah rubah Dan kakek buyutnya. Saat kakinya menyentuh air didelam telaga seperti ada sengatan listrik mengaliri kakinya. Abi ingin mengangkat kakinya tapi Rubah segera menahannya.
"Biarkan saja tuan lihatlah ikan pelanggi yang menyedot racun dan wisa ular yang ada didalam tubuh Anda. percayalah setelah semua racun dalam tubuh Anda habis semua akan baik-baik saja. jika Anda beruntung maka Anda akan diberikan kakuatan fisik serta kulit sehalus sutra." ungkap Rubah menceritakan kelebihan dari telaga pelangi.
__ADS_1
Abi melihat dalam air matanya manangkap sebuah pemandangan yang menakjubkan ribuan ikan pelanggi sedang mengelilingi kakinya mereka berlomba-lomba menghisap racun didalam tubuhnya.
"Apa mereka akan mati setelah mengambil racun didalam tubuhku." gumam Abi.