
dua insan berbeda jenis masih terlihat mengobrol di sebuah kursi taman.
Andai kau datang aku pasti akan membatalkan acara pernikahanku dan memilihmu, jujur aku tak pernah bisa melupakan bayang-bayang wajahmu sejak malam itu. aku bahkan tak pernah terlarik lagi dengan wanita sejak kejadian itu.
"aku menikah dengan Yana karna Ayah yang menjodohkanku dengan Yana. ia hanya memberiku waktu tiga bulan untuk mencarimu jika tak dapat maka aku harus menikah dengan pilihannya." cerita Defvan sambil mengenang massa lalunya.
Risa hanya mendengarkan saja tanpa berniat menanggapinya.
"mongkin itu karma berlaku untukku saat ini, aku menikahi seorang penipu dan yang membuka kedoknya justru orang yang aku cari-cari. sialnya lagi orang itu sudah menikah." ucap Defvan tertunduk.
Risa masih terdiam melihat lampu jalanan sebagian sudah menyala.
"Kenapa kamu tidak menemuiku sediaknya untuk mengatakan bahwa Abi adalah darah dagingku?" tanya Defvan.
"karna aku masih mampu berdiri sendiri membesarkan buah hatiku walau tanpamu.
tuan Defvan." sahut Risa ia melirik sekilas ekspresi wajah Defvan.
"Clarissa tak kusangka harga diri dan egomu cukup tinggi hingga kau tak mau merendahkannya walau itu demi putramu."
Risa tersenyum miring menanggapi ucapan Defvan.
"cukup kau memperlakukanku dan merendahkanku saat itu seperti binatang, tanpa perasaan meski aku berkali-kali memohon dan merintih teligamu seperti tuli." ucap Risa dengan tangan bergetar.
"maaf saat itu aku dalam pengaruh obat aku tak bisa mengendalikan diriku sendri." sahut Defvan menunduk.
"sudahlah aku tak ingin membahas itu semua sudah berlalu." ucap Risa sambil berdiri dari tempatnya duduk.
"apa dokter Yusuf tau aku Ayah dari Abi tanya?" Defvan sambil kenatap punggung Risa.
"Ya aku sudah menceritakan semuanya padanya tanpa menutupi apapun." sahut Risa.
Defvan menarik nafasnya perlahan lalu menghembuskannya kesar.
"jika begiku bolehkan aku membawa Abi untuk menginap dirumah?" tanya Defvan penuh harap.
"tanya saja sendiri padanya." sahut Risa sambil melihat sang putra sedang nermain bersama yusuf.
"Abi!!" panggil Risa.
"Iya Bun apa?4" ucap Abi emngahentikan aktivitasnya
"kemari nak." ucap Risa .
Abi berjalan mendekati Risa dan Defavan
"Ada apa Bun?"ucap mulut Abi.
kamu sudah mengenal Bapa ini'kan tanya Risa.
"ia kami sudah saling bekenlan Bun" sahut Abi
__ADS_1
"hemmmm, dia ini Ayah kandungmu Abi." ungkap Risa berbicara sambil melihat sang putra.
Abi melihat wajah Defvan dengan seksama meneliti setiap inci pahatan tampat wajah sang Ayah.
"apa kamu tidak senang bertemu dengan Ayahmu Abi?" tanya Defvan yang melihat Abi hanya diam tak memberi tanggapan.
"Abi sudah tau semuanya termasuk saat diruamah sakit anda mengambil simpel darah saya untuk di periksa." ucap Abi.
"Abi, daddy mau kamu menginap dirumah Daddy" minta Defvan.
"Maaf malam ini Abi tidak bisa." jawabnya pelan namun masih bisa didengar oleh Defvan.
"jika begitu ini smpanlah nanti jika kamu bisa maka hubunggilah." ucapn Defvan sambil menyerahkan sebuah kartu nama.
"maaf, pa defvan saya sudah berkata sebelumnya tak bisa lama mengobrol dengan anda terlalu lama, hari sudah mulai gelap kami harus segera kembali untuk mengerjakan kewajiban kami sebagai umat muslim." ucap Risa.
"baiklah." sahut defvan.
Risa dan Abi segera undur diri berjalan menemui Yusuf yang sudah menunggu mereka.
"sesampai didekat Yusuf membarikan senyuaman manisnya menyambut kedatangan mereka."
"Mas kita pulang sudah hampir mangrib nanti tak sempat sholat berjamaah ajak." Risa.
Malam harinya Risa sudah siap dengan gaun tidurnya ia bertekad akan memberiakn hak Yusuf malam ini. Risa bahkan memules sedikit wajahnya dengan make up.
Risa menunggu suami dikamar mereka.
yusuf perlahan merabahkan dirinya dikasur.
Risa sengera menggakat kepala lalu merebahkannya di dada bidang Yusuf.
Yusuf mengelus lembut kepala sang istri.
"Ayu mas lakukan kewajibanmu Aku sudah siap." batin Risa.
saat Risa ingin memindahkan kepalanya tiba-tiba tanpa aba-aba Yusuf mencium bibirnya dengan lembut, awalnya Risa hanya diam sepersekian setik berikutnya ia kembalas ciuman Yusuf kedua terbuai dalam manis cinta hingga Ciuman itu semakin menuntut hal yang lebih.
Dengan doa dan tekad yang kuat Risa berhasil mengalahkan rasa traumanya. ia melakuan tugasnya sebagai seorang istri malam ini.
Aku mencintaimu ucap Yusuf diteliga Risa dengan nafas yang masih belum stabil karana olah raga malam mereka.
Risa hanya menganggukan kepala ia merasa malu karna terlalu agresif saat mereka melakukan penyatuan.
sematra ditempat lain Yana sedang duduk di tepi ranjang rumah milik orang tuanya. ia merasa sepi karna ibu dan Ayahnya sudah resmi menjadi tahanan.
mulai besok Yana harus menggatikan Ayahnya untuk menjadi Ceo dikantor milik orang tuanya.
setelah kesepakatan dibuat Yana dan Defvan tak lagi tinggal bersama.
Aku harus menemui David nanti. ucap Yana dalam hatinya.
__ADS_1
entah seperti apa reaksinya setelah tau Amira dalah anaknya. guamam yana pelan.
Devid yana segera mencari di kolam pencarian Intagam miliknya.
tak memunggu lama pecarian ditemuakan.
Yana melihat dengan teliti foto frofilnya agar tak salah saat kembukanya.
setelah Yakin disalah satu nama
Yana membuka foton IG dan melihat beberapa foto lama ada pula foto dirinya.
Yana tersenyum senang entah apa yang sedang ia pikirkan.
Disisi lain Defvan sibuk meneliti laporan dari karyawannya maklum ahir bulan kerjaannya menumpuk.
Defvan ucap suara seorang laki-laki sambil membuka pintu ruang kerja tempat Defvan sedang melakukan pekerjaannya.
"Daddy ada apa?"
"Defvan mana cucuku?"
"maaf Ded aku belum.berhasil mengajaknya ikut denganku." sambil melirik sekilas wajah tua sang Ayah.
wajah Willem terlihat kecewa.
"nanti aku akan membujuknya kemabali agar mau menginap disini." ucap Defvan sambil melihat leptopnya.
"bagaimana dengan para penipu itu?" tanya Willem.
"aku sudah mengurusnya Dad." sahut Defvan padangannya masih tertuju pada leptop di depannya.
"Bagus, biar merasakan si tua bangka itu akibat bermain dengan keluarga Willem."
Defvan menatap sang Ayah lalu bertanya sesuatu yang mengganjal selama ini dikepalanya.
"Dad tak mongkin ada asap tanpa ada api, Apa Daddy dan Rajenra punya masalah?"
"hahahahahahha aku dan dia itu dipertemukan sebagai patner bisnis, namun keberuntungan selalu memihak padaku aku selalu jauh lebih unggul darinya karna otak pintarku." cerita Willem sombong.
jadi maksud Daddy? Rajenra itu iri karna daddy jauh lebih sukses sahut Defvan.
"ya, itu dugaan pertama." sahut Willem
"apa yang kedua?" tanya Defvan
"aku masih menyelikinya." sahut Willem.
"apa mongkin Rajenra itu memiliki motif lain karna dendam massa lalunya mongkin Deddy pernah menyakiti hatinya karna ucapan Deddy?" tanya Defvan.
Willem terdiam memikirkan ucapan sang putra semata wayangnya.
__ADS_1
Defvan melirik sekilas sang Ayah