
seorang laki-laki keluar dari dalam restoran dengan wajah tersenyum. ia berjalan menuju tempat mobilnya terparkir.
Mars masuk kedalam mobilnya tak lama kemudian mobil itu sudah melaju dijalan raya.
ternyata istri Yusuf itu anak dari Hermawan, salah seorang pembisnis di bidang industri. ucap Mars berbicara sendiri dalam mobilnya.
Mars sudah banyak bertanya pada Maya tentang Risa, dengan sedikit memberikan uang Mars sudah dapat semua informasi Risa.
menurut Maya, Hermawan hanya punya dua orang anak dan Risa adalah anak sulungnya, adiknya seorang laki-laki.
jika ia hanya punya satu anak perempuan, artinya yang dijebak oleh Dimas tidur dengan pengusaha muda itu adalah Risa. Dimas bilang pengusaha itu menghianati anaknya.
Mars terus berpikir, memutar otaknya untuk menyatukan kepingan fazel yang ia temukan.
didalam mobil yang terus melaju membelah jalanan raya Mars mengingat kembali apa yang diucapkan oleh Dimas dan asistennya.
dratt....drattt ponsel milik Mars bergetar didalam sakunya.
Mars menepikan mobilnya, kemudian mengambil ponselnya dan menerima panggilan di ponselnya.
"Hallo Bos, apa ada masalah hingga kau menelponku ?"tanya Mars
"Mars dimana kau?" tanya Devan melalui sambungan ponsel.
"Aku sedang berada dijalan." sahut Mars.
"cepat kembali kekantor, temui aku diruang kerjaku." ucap Devan lalu mematikan sambungan ponselnya.
tut...tut...tut
"oh astaga lagi-lagi dia mematikan telponnya sebelum aku bertanya." garuntu Mars.
apa semua bos besar sikapnya seperti dia, memerintah sesuka hati, tanpa memikirkan orang yang ia perintah itu masih ada pekerjaan atau tidak. mars mengeruntu kesal dengan sikap Devan.
Mars segera memutar mobilnya menuju kantor Devan.
dalam waktu sepuluh menit Mars sudah sampai didepan ruang kerja Devan.
tok...tok....tok..
"masuklah!" Mars ucap Devan dari dalam.
Mars segera membuka pintu, melangkahkan kakinya menuju sofa tempat Devan sedang menunggunya.
"Mars lihat ini ucap Devan memperlihat fotonya sewaktu berumur 8 tahu wajahnya sangat mirip dengan Abi."sambil menunjuk sebuah foto di atas meja.
__ADS_1
Mars melihat foto itu sebentar lalu menatap Devan bingung.
"Mars itu fotoku sewaktu masih berumur 8 tahun, kau tau Mars wajah anak istri Yusuf itu sama persis seperti wajahku,d sewaktu kecil." ucap Devan.
Mars terdiam ia kembali memikirkan seorang pengusaha muda yang dijebak oleh Dimas delapan tahun yang lalu.
Mars kemudian bertanya "berapa usia anak dari istri Yusuf itu?"
"mungkin sekitar tujuh atau delapan tahun." sahut Devan.
"apa mungkin anak itu adalah anak tuan Devan." tanya Mars berbicara dalam hatinya.
"kenapa?" tanya Devan yang melihat Mars terdiam.
"anda memanggil saya kemari hanya ingin menunjukan foto itu?" tanya Mars.
ya hanya untuk itu saja, Mars aku tak mengerti dengan perasaanku saat ini, ketika tau wajah anak itu mirip dengan wajahku sewaktu kecil aku merasa Bahagia, sama halnya seperti saat aku menolong anak itu terjatuh karena di durung oleh Amaira.
"tuan Devan apa anda kenal dengan seorang pengusaha bernama Dimas Anggara?" tanya Mars.
"Dimas anggara itu adalah Ayah dari Talia putri Anggara, ada apa kau menanyakannya?" tanya Devan penasaran.
bukan menjawab pertanyaan Devan, Mars kembali mengajukan pertanyaan.
"Talia anda mengenal putri dari Dimas Anggara?" tanya Mars semakin penasaran.
"anda menerimanya dan beberapa waktu kemudian anda memutuskannya secara sepihak." ucap Devan.
"Ya aku menerimanya hanya karena tak ingin membuatnya malu didepan umum, lagi pula dia masih sekolah kau tau kan gaya pacaran anak SMA seperti apa !! aku tak tahan dengan itu Mars." cerita Devan.
"Aku tak tau bagaimana anda memutuskan hubungan dengan anak Dimas itu yang jelas setelah kejadian itu anak dari Dimas itu depresi." sahut Mars.
"Depresi?" tanya Devan terkejut.
"Bagaimana kau mengetahui beritanya?" tanya Devan.
"berita itu pernah ditayangkan di telivisi. beberapa tahun silam" sahu Mars sambil menatap Devan.
"8 tahun yang lalu kau mengatakan jika kau dijebak dan tidur bersama seorang wanita disebuah hotel benar?" tanya Mars.
"Ya, massa lalu yang tak pernah melupakan hingga saat ini?" sahut Devan.
"saya rasa orang yang menjebak anda saat itu adalah tuan Demas anggara, ayah dari Talia putri Anggara ia tak menerima anda menyakiti putri tercintanya." jelas Mars.
"Bagaimana kau bisa berpikir demikian?" tanya Devan.
__ADS_1
"baiklah dengarkan saya baik-baik tuan Devan, akan saya ceritakan apa yang saya sudah dapatkan dari hasil pencarian saya." ucap Mars dengan wajah serius
Devan memasang telinganya baik-baik untuk mendengarkan setiap ucapan Mars.
"Nona Clarissa oktaviani itu adalah anak dari tuan Hermawan salah seorang pembisnis yang bergerak di bidang industri, karana suatu kejadian yang dianggap mencoreng nama baik keluarga ia diusir oleh Ayahnya."
Mars melihat sekilas ekspresi wajah Devan sebelum melanjutkan kembali ucapannya.
"tuan Dimas memiliki dendam masa lalu dengan tuan Hermawan, hingga ia menjebak anak Hermawan tidur bersama seorang yang menghianati putri tercintanya."
"ia berharap aib keluarga itu bisa menghancurkan perusahan Hermawan, nyatanya ia gagal." ucap Mars.
"Aku menghianati putri dari Dimas dan putri Hermawan itu dijebak karena Dimas ingin menghancurkan perusahan milik Hermawan." gumam Defvan sambil menatap lurus ke depan.
"apa itu artinya aku dan putri Hermawan itu sama-sama dijebak. dan apa mungkin aku adalah orang yang tidur dengan putri Hermawan itu?" tanya Devan.
"itulah yang Saya pikirkan sejak tadi tuan." sahut Mars.
"kau bilang nama putri Hermawan itu Clarissa oktaviani, itu adalah nama istri dokter Yusuf." ucap Devan
"Istri Yusuf diusir karena hamil tanpa suami." ucap Devan.
"Apa tanpa suami." tanya Mars dengan ekspresi terkejut.
"Maksud anda kejadian yang menimpa putri dari Hermawan itu membuatnya Hamil dan terusir dari rumah?" tanya Mars.
"ya itulah yang kudengar saat ia menceritakan massa lalunya." sahut Devan.
"jika anda adalah orang yang dijebak bersama putri Hermawan itu artinya." Devan menarik nafas sejenak lalu melanjutkan ucapannya.
"anak dari clarisa itu adalah anakku." ucap Devan.
"sebaiknya anda melakukan tes DNA dengan anak dari nona clarissa tuan." saran Mars.
"Ya anak itu sangat mirip denganku besar kemungkinan anak itu memang anakku." ucap Devan sambil memejamkan matanya membayangkan wajah kecil Abi.
"jika begitu kau atur segalanya untukku bisa bertemu dengan istri dari dokter Yusuf." ucap Devan.
"aku rasa tugasku selalu bertambah setiap bertemu denganmu tuan Devan." ucap Mars.
"ayolah Mars, aku tak akan menambahnya lagi." ucap Devan
"tidak anda harus melakukannya dan memintanya sendiri pada nona Clarissa." sahut Mars.
"alasannya?" tanya Devan yang merasa aneh karena baru kali ini Mars menolak permintaanya.
__ADS_1
"anda harus mempertanggung jawabkan perbuatan anda sendiri." sahut Mars.
"Mars aku hanya memintamu membuat janji bertemu saja, setelahnya aku akan mengurusnya sendiri." ucap Devan.