Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Tertarik.


__ADS_3

Zahra tersenyum menanggapi candaan umi dengan pelan ia membuka cadar dan bersiap makan.


Ibu panti dan beberapa anak perempuan dari panti asuhan tempat Abi dulu di besarkan menatap wajah cantik yang dimiliki oleh Zahra.


Tak dipungkiri ada diantara mereka yang merasa iri selain cantik Zahra juga memiliki wajah putih dan mulus bahkan urat-urat pipinya terlihat.


Selesai berdoa Zahra memakan makanan yang sudah tersedia di meja makan.


"Non Zahra Ibunya Abi minta ditemani makan dikamar kamu bawa sekalian makanmu kekamar Abi." ucap Bibi yang biasa bekerja di rumah Umi.


Zahra menghentikan aktivitas makannya menutup kembali cadarnya dan menjawab ."iya Zahra akan ke sana."


"Biar Bibi yang bawakan minum dan buah cuci mulutnya Non Zahra."


"terimakasih Bi." sahut Zahra.


Tia dan Marni( teman massa kecil Abi di Panti) menatap iri pada Zahra.


"Kenapa dia sih yang harus nemenin Bu Risa makan kita ini berteman dengan Abi sejak kecil."bisik Marni


"tau toh Bu Risa kenapa bisa suka sama anak sok alim itu sih padahal kita juga bisa tampil cantik jika modalnya ada." sahut Tia ikut berbisik.


"Jangan ngerap kalian Ya pastilah Bu Risa milih Zahra diakan bukan anak panti seperti kita yang gak jelas anak dari siapa dimana orang tua kita." ujar Rena ikut menimpali dua sahabatnya.


"eh kalian berdua suka sama Abi sejak kapan?" tanya Rena ingin tau.


"sejak dia masih jadi anak panti seperti kita." jawab Tia di anggukki oleh Marni.


"Suka sama apanya?" tanya Rena penasaran."


"sama semuanya wajahnya senyumnya kepribadiannya dan satu lagi ia cerdas yang paling penting dia itu sayang dan berbakti pada ibunya tipe cowok idaman." kata Tia sambil tersenyum sok manis.


"Gue gak mau munafik ya jujur gue juga menyukai Abi bisa dibilang gue pengagum rahasianya. untuk mencapai tujuan sejauh ini aku sudah berusaha mendekatinya tapi semua sia-sia kalian ingat saat masih di panti bagaimanapun kita berusaha mengajaknya bermain ia selalu punya alasan menolak." ungkap Rena.


"Ya aku masih ingat saat memaksanya ikut bermain ia menjawab apa. Hidup cuma sekali, gunakan dengan baik hidup bukan untuk bermain ataupun bersenang senang." tukas Tia mengingat kembali saat Abi menolaknya ikut bermain di panti.

__ADS_1


"Ya dia itu sibuk membatu ibunya kalau tidak membatu ibunya membantu ibu panti atau membaca buku-buku tebal yang aku sendiri pusing melihat benyaknya tulisan di buku itu." ungkap Marni.


hal itu justru membuat gue semakin tertarik padanya dia berbeda dari anak-anak lain. jawab Rena di anggukki oleh Tia dan Marni.


"Marni,Tia, Rena cepat selesaikan makanan kalian jangan ngobrol terus." tegur ibu panti.


"iya Bu." jawab semua kompak.


"tahun ini Abi lulus SMP begitu pula dengan gue. Ayo kita bersaing secara terbuka siapapun yang nanti mendapatkan Abi diantara kita yang lain harus ikhlas menerima kelelahan. Dalam waktu tiga tahun kita harus berusaha membuatnya tertarik." ujar Rena.


"Oke siap takut." jawab Marni dan Tia hampir bersamaan.


"satu lagi buktikan pada wanita bercadar itu walau kita anak panti kita tak takut bersaing dangannya."


"pasti dia akan kalah dengan kita lihat saja nanti, untuk mencapai tujuan kita harus mandiri kita harus memiliki uang sendiri aku rasa mulai besok akan mencoba keberuntungan mencari kerja paruh waktu guna mendapatkan uang agar memliki baju yang bagus penampilan yang menarik." lanjut Rena.


"Astaghfirullah Tia, Rena Marni disuruh cepat makannya masih saja mengobrol. Ayo selasaikan." ujar Bu panti mengomel.


"Maaf Bu ini sudah mampir selesai." sahut Tia di anggukki oleh Rena dan Marni.


Di tempat lain Zahra sedang mengobrol bersama Risa.


Tidak usah Zahra nanti bisa yang lain mengerjakan sahut Risa.


tidak papa Tante, sekalian Zahra bawa piring kotor ini kedapur tukas Zahra sembari berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Risa dikamar Abi.


Dua puluh menit berlalu para tamu undangan tahlil sudah meninggalkan rumah Yusuf. yang tertinggal Kyai Ahmad, Kyai Hasan, Zahra dan juga Mars semua berkumpul di ruang tamu mengobrol saling bertukar Cerita.


Om Mars apa Ayah Devan benar-benar sudah pulih? tanya Abi disela obrolan mereka.


Iya Besok jika hasil pemeriksaan Dokter baik maka Ayahmu di perbolehkan pulang sahut Mars.


Apa yang terjadi dengan Devan tanya Yusuf.


Abi menceritakan apa yang dialaminya saat berada di villa pucak bersama Devan dan Willem.

__ADS_1


Risa yang awalnya mengutarakan minum merasa tertarik ikut duduk di samping Zahra mendengarkan cerita yang putra diam-diam memendam amarah pada Willem.


manusia tidak tau terima kasih. bukannya bersyukur dan berterima kasih justru menyalahkan Abi komentar Risa.


Yusuf yang melihat sang istri menggenggam tangan menahan amarah memberikan senyum manis untuk sang istri.


"Sabar, Bunda Allah sedang menguji kesabaran dan keikhlasan kita. sebagai manusia kita tidak perlu marah. Bunda semua yang terjadi atas kehendak Allah." nasehat Yusuf.


"Yusuf benar Nak Risa ikhlaskan ambil hikmahnya, dan syukuri Nikmatnya. Abi dapat pulang dan masih dalam keadaan sehat bisa berkumpul bersama kita disini." kata Kyai Ahmad.


"jangan terbedaya dengan tipu daya iblis. iblis itu memang tugasnya menyesatkan umat. tukas Kyai Hasan ikut menimpali."


"Bunda ingatlah apa yang selalu Bunda ingatkan pada Abi sewaktu Abi kecewa putus asa dan menyerah. Bunda selalu bilang Allah tidak akan memberikan cobaan pada umatnya diluar batas mampunya." tutur Abi.


"Zahra tersenyum manis dibalik cadarnya. Bundamu adalah wanita yang hebat Abi, begitu pula kamu." batin Zahra.


Ayo Tante tidak perlu banyak pikiran kasihan dede bayi stress nanti. Tenga Tante sudah terkuras saat menyelamatkan Tante Mawar. biar Zahra antar istirahat tutur Zahra sambil berdiri mengajak Risa meninggalkan Ruang tamu.


"Menyelamatkan mawar maksud kamu?." tanya Mars.


"Tante Risa menolong Rohnya Tante Mawar lepas dari belenggu iblis yang menahannya." jelas Zahra.


Sumua mata tertuju pada Risa yang sudah berdiri dan berniat meninggalkan ruang tamu bersama Zahra.


"Jangan tanya bagaimana caranya aku tidak tau." cicit Risa merasa tatapan itu menuntut penjelasan darinya.


"ini pasti kerjaan Dewi teratai emas. terima kasih sebagai hadiahnya besok akan datang durian merah untukmu." batin Abi.


"Ya sudah Bunda istirahat saja dengan Zahra." ujar Yusuf sambil tersenyum.


Drattttt.... dratttt


telpon Gio bergetar ia segera pamit untuk menerima panggilan.


"Kyai bala bantuan kita bertambah Mang Antok bersedia membatu kita mengalahkan dua manusia berhati iblis itu." kata Abi.

__ADS_1


"Alhamdulillah." sahut semua yang mendengar ucapan Abi diruang tamu.


"Bagaimana dengan om Mars. apa Ayah Devan mengijinkan om menjadi pengawasku selama berada di pesantren?" tanya


__ADS_2