
"Tidak mungkin kau pasti bermain drama karena diperintah oleh mereka. " tuduh Willim sambil menunjuk Abi dan Yusuf.
"Tidak ada yang tidak mungkin bila sudah kehendaknya Willim aku adalah leluhurmu." sekali lagi Raden mas menjelaskan.
"Aku selama ini diam bukan berarti tidak melihatmu melakukan semua tidak kejahatan tapi aku memberimu kesempatan untuk bertaubat, Tapi sekarang tidak lagi aku tidak akan membiarkan aku membunuh Abi sepertimu kamu membunuh Marcello dan kedua orang tuamu." ucap Reden mas dengan auranya terlihat seperti seorang pemimpin saja.
" Hahahahhaha, tidak ada yang bisa menghalinggiku bila aku sudah bertindak, seperti halnya Marcello meski berkali-kali selamat namun pada akhirnya tetap binasa ditanganku "sahut Willim sombong.
Raden Mas tersenyum kecut ia mengambil salah satu daun mawar dengan gerakan cepat daun itu sudah terbang dan menggores lehir Willim entah bagaimana daun itu menjadi tajam bak pisau yang baru saja di asah.
Dasar segar menetes dari leher Willim yang ternyata bukan hanya tergores luka itu cukup dalam dan terasa sakit.
" Apa kau masih ingin membunuh Abi dan Yusuf? " sebuah pertanyaan diajukan Rades mas.
"Hanya luka segini tidak membuatku takut, Aku sudah mempelajari ilmu keabadian tidak ada yang bisa membunuhku meski itu kamu sekalipun." Ujar Willim penuh percaya diri.
"Ilmu itu tidak baik untukmu Willim kau menentang takdirmu. Bertaubatlah selagi ada kesempatan kembalilah." Raden Mas berusaha menyadarkan dan membujuk Willim.
"Taubat kau bilang, heyyyyyy hidupku adalah pilihanku jangan mencampuri urusanku. Toh kamu tidak dapat memberikan apapun untukku seperti yang aku dapatkan selama ini."sahut Willim mengingat semua kejayaannya yang ia peroleh setelah menjadi abdi dari Raja jin.
" Semua itu harus kau bayar Willim nanti kau akan menyesal di alam kuburmu. "nasehat Raden Mas.
" Kubur kau bilang! aku saja hidup Abadi bagaimana aku punya kubur. Kau dan Dua orang manusia sok alim itu yang akan aku kuburkan hidup-hidup." tandas Willim sambil tertawa membayangkan Abi Yusuf dan Raden Mas terkubur oleh ulahnya.
" Kami tidak akan binasa ditangan iblis sepertimu Willim." tutur Yusuf.
" Kita lihat saja nanti siapa yang akan menyesal kerena berani membangunkan singa yang sedang lapar." sahut Willim.
Willam berusaha mengingat semua ketidak adilan yang ia alami hingga mampu membangkitkan jiwa iblis yang berada didalam tubuhnya.
Devan masih mendengarkan cerita dari Ular putih yang menjaganya telinga juga mendengar dengan jelas obrolan antara sang Ayah dan putranya.
Raden Mas diam tidak terkejut sama sekali wajahnya terlihat sangat tenang.
__ADS_1
"Kau ingin menyakiti mereka maka langkahi dulu aku." cicitnya.
"Sudah tua masih saja berlagak kuat dan hebat. Kau pastikan badanmu yang tua itu akan menjadi potongan kecil." balas Willim sembari menyeringai.
Willam berlari kearah Raden Mas dengan ilmu beladiri yang sudah ia pelajari sebelumnya ia menyerang Raden Mas yang menghindari serangan Willim dengan satu tangan saja yang bergerak.
Abi dan juga Yusuf diam memperhatikan sembari mencari peluang untuk menikam Willim mengunakan keris khusus yang sudah di siapkan.
Devan begitu marah setelah mendengar cerita keseluruhan tentang prilaku dan perbuatan sang Ayah.
"Bisakah kau membuatku menjadi normal seperti semula?" tanya Devan pada sang Ular.
"Tunggulah bila waktunya sudah tepat kau akan kembali seperti sebelumnya." Jelas ular putih sesekali menjulurkan lidah bercabang miliknya.
Willim terus menyerang Raden Mas namun tetap saja lelaki yang terlihat tua itu masih berdiri tegak bahkan lukanya tidak ada sama sekali hal itu membuat gelisah hati Willim.
"Seberapa sakti sebenarnya lelaki tua ini." batinya.
"Aku harus mengunakan cara lain bila seperti ini tenagaku yang akan terkuras." pikir Willim.
Dengan licik ia mengunakan kekuatannya untuk menyerang Abi dari jarak jauh mata iblis Willim berwarna merah gelap membidik dengan tepat.
Namun hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya terjadi Abi masih berdiri tegak yang terluka seorang laki-laki lain yang terjatuh kengkurap keatas tanah.
Kau memiliki tameng pelingdung rupanya seringai Willim.
"Tentu saja Willim lihatlah dengan jelas siapa yang kau lukai itu." ujar Raden Mas acuh tak acuh.
"Tidak penting begiku siapa itu yang jelas lelakiĀ itu juga musuhku keren melindungi anak itu." sahut Willim sambil menunjuk Abi.
Abi dan Yusuf sama-sama bergegas menolong lelaki bertopeng dan pakaian serba hitam itu untuk bangun.
"Setelah bisa duduk lelaki itu berucap Dokter Yusuf maafkan saya, Abi maaf Ayahmu ini nak." Ujarnya lemah.
__ADS_1
"Devan suara itu milik anakku. tidak itu tidak mungkin Devan tidak mungkin bisa masuk kemari." ujar Willim yang juga mendengar suara lemah sang putra.
"Daddy aku kecewa padamu." ungkap Devan masih dengan suara lemah sambil meringis menahan sakit di bagian dada kirinya yang Terkena api banaspati Willim.
"Ini pasti hanya ilusi mereka aku tidak boleh tertipu." batin Willim.
"Lihatlah baik-baik Willim putramu itu Dia darah dagingmu, kami tidak menipumu sama sekali putramu memang terseret kedalam masah ini karena kau membawanya." perkataan Raden Mas membuat wajah William berubah tidak senang mendengar itu.
"Apa maksudmu?"
"Kau yang membawanya masuk dalam masalahmu kau yang menjebak nya masuk dalam perangkapmu lingkaran dunia hitammu." jelas Raden Mas.
"Deddy aku sangat kecewa padamu, sekarang aku tau! kenapa leherku terus tercekik saat aku mencoba melawan perintahmu dan Putri Arum, itu semua karena kau mengadaikan nyawaku pada makhluk yang kau sembah itu." Ucap Devan terdengar jelas ditelinga Willim kerena saat ini pertarungnya dan redan mas sudah berhenti.
Amarah Willim menghilang mata iblisnya perlahan normal kembali.
Devan yang kini sudah berdiri diberikan oleh Abi air yang sudah bercampur dengan obat herbal.
Dengen pelan Abi membantu meminumkan air itu kemulut Devan.
"Ayah aku sengaja tidak menghindari serangan Kekek dan memasang tubuhku. Kenapa Ayah melindungi aku?"
"Abi maafkan Ayahmu ini nak selama ini aku tidak sedikitpun membencimu apapun yang diakatakan orang lain tentangmu tetap tidak Bisa membuatku membenci kamu darah dangingku nak, aku memiliki alasan sendiri kenapa bersikap acuh terhapmu." ucap Devan setengah berbisik ditelinga Abi.
"Aku tau Ayah kamu diam-diam mengawasi aku. Aku tau kau melindungi aku dengan caramu yang kau bisa agar belanggu dilehirmu tidak terlalu membuatmu tersiksa." Sahut Abi ikut berbisik.
"Terimakasih Abi kamu selalu menjaga Ayah selama ini. Terimasih Nak."
Kedua orang itu saling menjaga dalam diamnya tentu dengan cara mereka masing-masing tanpa ada yang tau.
Beberapa saat telah minum obat verbal yang diberikan Abi keadaan Devan semakin membaik.
" Tuan Willim yang terhormat kau tidak pantas menjadi seorang ayah, apalagi seorang Kakek sifat dan kelakuanmu sangat tidak baik untuk di contoh oleh anak dan cucu. Mulai saat ini aku memutuskan hubungan antara aku dan Kamu. Lebih baik aku tidak memiliki ayah dari pada memiliki Ayah tetapi menyembah makhluk yang tidak sepantasnya di sembah. Memiliki Ayah yang memiliki ilmu aliran hitam hanya akan membuatku ikut celaka lebih baik aku pergi biar pun aku menjadi pengemen tidak masalah bagiku." Ungkap Devan dengan rasa kecewa yang begitu dalam.
__ADS_1