
Anak jenius bernama Abimayu alfarizi itu tersenyum mendegar ucpan Ayah kandungnya.
"Semua karna yang maha kuasa masih memberikan umur yang panjang Abi dan dan Bunda" sahutnya sambil melirik sang Ayah menggunakan ekor matanya.
Defvan menghela nafasnya mendengar jawaban sang putra.
"aku yakin pasti Yusuf yang sudah mencuci otak anakku bagaimana bisa Abi yang masih 8 tahun memberiku syarat sedemikian rupa tanpa ada yang mengajarinya berbicara, semua ini pasti sudah direncanakan." pikir Defvan.
Meliat Ayah kandung diam sambil melamun membuat Abi tak sabar lalu bertanya. "bagaimna penawaran Abi apa Ayah meu memenuhi syaratnya?" tanya Abi dengan wajah polosnya.
Defvan memejamkan mata lalu henghembuskan napasnya perlahan. "baiklah akan Ayah penuhi syaratnya untukmu." sahut Defvan
"terimaksih Ayah, akan Abi beritahukan Bunda agar mengijiinkanku menginap dirumah Ayah." ucap Abi sambil tersenyum penuh Arti.
maaf Ayah akan mengujujimu terlebih dahulu, aku yakin kau takan bisa menjadi seperti ibuku, jika tidak begini kau tidak akan mau mengalah pada Bundaku. Batin Abi.
"Ayah aku ingin pulang sekarang, Abi tak sabar ingin meminta ijin pada Bunda nanti malam selepas isya jemputlah Abi dirumah Ayah Yusuf." ungkap Abi
Defvan menganggukan kepala sebagai jawaban ia lalu berdiri diikuti oleh Abi setelah membayar semua makanan yang mereka pesan Defvan segera mengantar Abi pulang.
malam harinya Abi sedang berada dimeja makan bersama keluarga ia menceritakan obrolan bersama Defvan, tak lupa Abi juga meminta ijin kepada ortuanya serta nenek-neneknya untuk bermalam dirumah Defvan untuk menguji Ayah kadungnya itu.
Mereka semua mengijinkan Abi, Bahkan Umi dan Ratih sangat antusias mendengar penuturan Abi yang mengatakan ingin memberikan pelajaran pada Defvan yang kaya dan sombong itu.
"Aku yakin anak orang kaya itu akan kelelah dan mengeluh saat mengerjakan semua syarat yang diajukan Abi." ucap Umi
"kau tak boleh lengah Abi jagan sampai ia meminta bantuan pada pembantunya nanti." ucap Ratih.
Ratih dan Umi tertawa membayangkan Defvan mencuci baju memasak dan mengerjakan tugas rumah sepeti ibu rumah tangga.
"ya Abi akan menjadi mandornya hehehhe." sahut Abi sambil tertawa.
tit....tit....tit...
suara klapson mobil didepan pagar rumah Umi salamah terdengar.
itu pasti tuan Ceo kaya dikota kecil kita ini ucap Umi tersegut-segut.
Abi melirik jam tangan miliknya yang menunjukan angaka 19.00.
__ADS_1
pembatu rumah tangga umi bergegas membukaan pintu rumah untuk tamu cucu dari majikannya.
selamat malam tuan silahlah masuk dan duduklah saya akan memanggilkan Den Abi ucap bibi sambari belalu menuju dapur memanggil Abi.
"Den Abi tuan Defvan sudah menunggu ruang tamu." ucap Bibi memberi tau
terimakasih Bi sebentar lagi Abi selesai makan Bibi buatkanlah minuman dan juga bawalah puding serta brownis yang ada didalam kulkas ucap Umi salamah.
"Biak nyonya." sahut pembantu rumah tangga itu bergegas melaksanakan perintah majikannya.
Yusuf yang terbih dahulu selesai makan seger manghampiri Defvan diruang tamu.
sesampainya diruang tamu Yusuf segera menyapa Defvan yang terlihat sedang mengetik sesuatu di ponsel mahal miliknya.
"selamat malam pa Defvan, bagaimana kabar anda?" tanya Yusuf sambil menyapa.
" Aku baik-baik saja, anda pasti sudah tau maksud kedatangan saya kemari." sahut Defvan.
tak...tak...
suara lengkah Abi mendekat, ia menemui sang Ayah sambil membawa tas ransel berisi baju-bajunya.
Defvan menatap sejenak sang putra lalu pamit unduf diri pada Risa.
tanpa menunggu pac meninggu waktu lama kini kereka seudah sampai de depan rumah mewah Defvan.
Abi dibuat takjub melijat rumah besar ini bergaya eropa itu membuat Abi tak dapat mengalihkan padangannya.
"kau menyukai rumah ini?" tanya Defvan santai tak lupa bibirnya tersenyum.
"Rumah ini bugus berbeda dari yng lain." sahut Abi matanya masih tak lepas melihat setiap sudaut rauangan di rumah besar milik Defvan ini.
"ayo ikuti Ayah sudah menyiapkan kamar untukmu." ajak Defvan sambil berjalan.
tanpa menjawab kaki Abi bergerak mengikuti langkah kaki Defvan yang lebar.
"Ayah sebelum aku tidur biasanya Bunda membuatkanku segelas susu." ucap Abi.
"Susu apa yang kamu minum?" tanya Defvan.
__ADS_1
"ini ada di dalam tas Abi nanti Ayah tinggal membutkannya saja." sahut Abi.
"ahh shyukurlah jika kamu membawanya sendiri." Di rumah ini tidak ada susu untuk anak seusiamu jelas Defvas bernapas lega.
Defvan membuka sebuah kamar untuk Abi.
Defvan masuk di ikuti oleh Abi dibelakangnya, mata Abi meneliti semua isi kamar tak ada satupun yang terlewatkan oleh mata kecilnya. semua yang ada dalam kamar ini terlihat baru dan mahal.
kamar bernuansa putih biru itu begitu nyaman saat dipandang mata penataan barang yang rapi membuat sedap dipandang mata. sepertinya orang yang menata konsep dari kamar ini adalah orang memiliki jiwa seni yang tinggi uacp Abu dalam minmpi.
Abi melepas tas ransel miliknya lalu mengambil sekotak susu untuk ia berikan pada sang Ayah.
"ini susunya Ayah untuk ukuran susunya ditakar sesuai yang ada di kotak itu." jelas Abi.
"Abi akan mencuci muka dan menggosok gigi dulu." ucapnya lalu beranjak pergi.
"Abi kamar mandi ada dikamar kamu ini juga." tukas Defvan menunjuk sebuah pintu.
Tanpa banyak bicara, Abi berjalan menuju sebuah pintu yang di tunjuk oleh Defvan.
sematra Abi dikamar mandi Defvan menuju dapur untuk membuatkan susu.
setelah selesai membuat susu Defvan kembali kekamar Abi.
malam itu, Abi mendengarkan dongeng pengatar tidur dari ayah kandungnya, untuk yang pertama kalinya.
keesokan harinya Abi benar-benar mengawasi apa saja yang dikerjakan sang Ayah, mulai dari memasak sarapan untuknya, Abi memberikan resep nasi goreng udang kesukaannya walau rasanya masih tak seenak buatan ibunya Abi tetap memakan masakan yang dibuat dengan susah payah oleh Defvan.
mencuci baju-baju kotor dengan mengunakan tangan juga dilakukan oleh Defvan, menyapu dan mengepel yang tidak pernah ia lakukan seumur hidupnya ia lakukan saat ini didepan sang putra, meski leleh Defvan tetap melakukannya agar putranya itu mau tinggal lebih lama dengannya.
setelah selesai dengan pekerjaan rumah. Defvan memandikan Abi mengosok semua badanya sampai bersih.
sesekali Abi mencipratkan air yang sudah bercampur busa itu ke wajah Defvan.
Defvan membalas dengan mengosok bagian badan yang membuat Abi geli.
terlihatlah sebuah pemandangan yang tak pernah ada sebelumnya dirumah itu. seorang Defvan yang sombong dan angkoh menjelma menjadi sosok Ayah yang penyayang ia mngerjakan semua yang putranya minta.
Defvan dan Abi terkadang tertawa bersama membuat para pekerja dirumah tercengang karna untuk pertama kalinya mereka melihat tuannya tertawa lepas dan bahagia.
__ADS_1