Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
William


__ADS_3

sebaiknya aku biarkan dulu si tua merasakan tidur di dalam kandang. gumam Putri Arum sembari berjalan menuju dapur.


"Bu apa nona kecil baik-baik saja?" tanya pengasuh Putri Lasmi.


"Dia harus istirahat total dahulu. jika kamu ingin berlibur silahkan saja tapi ingat harus kembali lagi bekerja saat saya meminta." ujar Putri Arum.


"Baik Bu, terimakasih." sahut sang pengasuh kemudian pamit undur diri.


Di istana Raja Jin Putri Lasmi berlatih. Raja jin sendiri yang menjadi pelatihnya.


Di kepala putri Lasmi ada dua tanduk kecil, satu telinganya runcing keatas, ada pula taring di giginya, matanya berwarna merah menyala.


begitu segel dibuka oleh Raja jin terlihatlah bentuk asli Putri Lasmi.


Putriku Lasmi kamu harus terus berlatih lawanmu sudah menantimu. ujar Raja Jin lantang.


Putri Lasmi mengerucutkan bibirnya sembari melepas anak panah kearah Raja Jin.


Raja Jin tersenyum menangkap lima anak panah dari sang putri dengan mudah.


"istttt lagi lagi aku gagal melukaimu." cicit putri Lasmi sembari mengambil langkah seribu untuk melakukan penyerangan untuk raja Jin.


"Tenanglah, putri Lasmi kamu tidak akan bisa mengalahkan aku, kekuatanmu jauh dibawah aku. aku punya tugas untukmu." lanjut Raja Jin.


"Ayo ikut aku bebaskan Kakekmu Willem." ajak Raja Jin.


"kenapa harus membebaskan Kakek? biarkan saja." Ujar Putri Lasmi.


"Anggap saja kita sedang berterimakasih Karena dia kamu terlahir menjadi putriku." sahut Raja Jin.


"jika aku putrimu Willem bukanlah kakekku untuk apa menolong dia." kata Putri Lasmi.


"Ya dia memang bukan Kakek bagimu, tapi dia salah satu orang yang mengabdikan dirinya padaku. kita wajib menolong dia agar dia tidak berpaling dari kita, dan ingatlah kita bisa menuntut balas jasa atas apa yang sudah kita lakukan untuknya." ujar Raja Jin.


Bibir putri Lasmi dihiasi senyum mendengar penuturan sang Ayah. "Ayo cepat kita menolongnya." ajak Putri Lasmi.


Raja jin segera mengubah putri Lasmi menjadi remaja yang begitu cantik senyum puas tersungging di bibirnya mana kala menatap sang putri.


"Ayah kenapa aku menjadi remaja?"

__ADS_1


"kau harus memiliki daya pikat yang tak semua orang memilikinya dengan itu aku yakin kau bisa membebaskan Kakekmu tanpa bantuan dariku." tukas Raja Jin.


Benar saja saat putri Lasmi masuk semua mata tak berkedip menatap parasnya yang cantik ditambah pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.


"Selamat siang pak Polisi, saya ingin bertemu dengan Tuan Willem Alexander." ucap Putri Lasmi.


Dua orang petugas yang dihampiri putri Lasmi tak menjawab. matanya tak lepas menetap wajah cantik, putih, dan mulus milik Putri Lasmi.


"Aku adalah putri dari walikota di kota ini, yang aku mau kamu membebaskan Willem Alexander sekarang juga." kata Putri Lasmi sambil menatap tajam komandan Polisi yang duduk di kursi kerjanya.


"Dia hanya melakukan percobaan pembunuhan, baru percobaan- bukan pembunuhan. manusia wajar melakukan kesalahan. bara api tidak mungkin menyala tanpa adanya Angin." kata Putri Lasmi lebih lanjut.


"cepat bebaskan sekarang juga " kata Putri Lasmi lembut memerintah tanpa mau dibantah.


"jika tidak ada yang bergerak dalam hitungan tiga bersiaplah kalian melepaskan baju yang kalian pakai untuk selamanya." Ancam Putri Lasmi wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi.


mendengar ancam itu seorang petugas yang berada diruang tersebut berlari mengambil kunci dan membebaskan Willem segera.


"bagus." seru Putri Lasmi tersenyum senang.


William berjalan santai keluar dari penjara yang menahannya wajahnya dihiasi senyum.


"Bagus kerja bagus." puji Raja jin.


"Tentu saja darahmu mengalir didalam diriku." sahut sang putri Bangga.


Disisi lain.hati Willem begitu senang hal itu terlihat dari bibirnya yang selalu menebar senyum.


Baru beberapa langkah kakinya menginjak tanah suara seorang laki-laki menyapanya.


"Tunggu Tuan Willem!! aku tidak mencabut laporannya hendak kemana kamu?" Tanya Andra.


William melihat Andra bersama dua laki-laki lainnya disisi kiri dan kanannya sedang menatapnya tajam.


astaga Husain Alexander dan juga Hasan Alexander bagaimana meraka ada disini pikir Willem.


"William mari kita bicara di dalam." Ajak Husain Alexander datar.


"aku tidak ada urusan dengan kalian minggir jangan halangi jalanku." ucap Willem sambil berjalan maju.

__ADS_1


Hasan Alexander segara mendekat menarik tangan Willem bersama Andra.


"Ikutlah kami ingin bicara masalah kita harus disesuaikan disini." kata Andra membawa Willem masuk kembali ke kantor polisi.


"Aku tidak memiliki masalah dengan kalian aku tidak kenal." sahut Willem cepat.


"Adapun apa ini?" tanya seorang petugas melihat Willem diseret masuk.


"Pertama saya ingin bertanya apa alasan kalian membebaskan tahanan ini?" Andra balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan dari polisi sebelumnya.


"seorang anak dari walikota memerintah kami untuk segera membebaskan dia dari tuntutan, Alasan karena tersangka hanya melakukan percobaan bukan pembunuhan." Kata petugas menjelaskan.


"Lucu sekali kalian ini, apa kalian takut dengan anak walikota?" Andra kembali bertanya.


"Tentu saja mereka takut Ka Andra, Walikota adalah orang yang berpengaruh, mereka bisa kehilangan pekerjaan bila tak menurut." jawab Hasan.


"Bukankah polisi seharusnya adil dengan siapapun bila bersalah tatap wajib dihukum." ujar Andra.


Sudahlah Ka biarkan mereka yang mempertanggung jawabkan perbuatannya masing-masing kelak. Kita selesaikan saja secepatnya urusan kita disini. Tandas Hasan Alexander.


"Aku ingin melaporkan kejahatan yang dilakukan Willem. beberapa tahun silam aku sudah pernah melaporkan dia tapi aku kekurangan bukti hingga tidak dapat menjebloskan dia kedalam penjara." tutur Hasan Alexander sambil melihat petugas yang duduk di kursi kerjanya.


"apa kejahatan yang ia lakukan?" tanya petugas tersebut.


"Ia memalsukan data dirinya Dengan mencantumkan nama kedua orang tuaku sebagai orang tuanya di kartu keluarga miliknya." Ungkap Hasan Alexander di anggukki Husain Alexander.


"Pak Willem apa benar yang dikatakan saudara Hasan Alexander?" tanya pak Wisnu komandan polisi.


"itu tidak benar pak, Hanya kebutuhan sama dengan nama orang tua saya." jawab Willem mengelak.


"Aku sudah mencari tau nama kedua orang tuaku hanya satu di negaraku, kecuali yang berbeda nama belakang itu tidak bisa dikatakan sama." Jelas Hasan sambil menatap Willem.


"Apa kedua orang tua Andara berkebangsaan Arab tuan Willem?" tanya Andara.


wajah Willem terlihat datar namun dalam hatinya ia takut, takut salah menjawab pertanyaan dari komandan polisi.


"iya orang tua saya meninggalkan saat usia saya 18 tahun." jawab Willem dengan ekspresi sedih.


Andra tersenyum miring sembari menarik napas pelan.

__ADS_1


"William kamu lebih baik mengakui kesalahanmu selagi aku baik hati." ucap Husain menimpali.


__ADS_2