Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Perkumpulan sakte


__ADS_3

rumah perkumpulan sakte sesat


seorang wanita kepercayaan marcella bejalan menuju pintu masuk.


matanya tertuju pada sebuah kotak berukuran lumayan besar terletak di depan pintu.


"apa ini?" tanya pada diri sendiri.


"Hay Leni apa itu?" tanya temannya yang berjalan mendekati Leni.


"entahlah aku juga bertanya ini apa?" memperhatian kotak yang berada didapannya.


"coba baca tulisan diatasnya siapa tau ada petunjuk."


"ini untuk pemimpin kita, isinya kue dan ada ucapan selamat ulang tahun juga terlulis disana." sahut teman Leni.


"Ayo kita bawa masuk. mungkin pemimpin akan datang hari ini." ajak Leni


"semoga saja suaminya sudah menemukannya, jika tidak kita harus membakar toko kue milik anak laki-laki itu." ujar Lani di angguki oleh Dasi temannya.


"tidak hanya itu kita harus membuatnya mengakui semua kejahatannya." lanjut Desi


"Dan membuatnya mendekam didalam penjara." hahahahahahaha, tawa keduanya mengema diruangan tersebut.


setengah jam berlalu semua anggota sakte telah berkompul semua, mereka berharap Marcella datang dan merayakan ulang tahunnya bersama mereka.


Dewi teratai sudah kembali bersama Yusuf keduanya kini sedang beristirahat.


"Dewi ada apa kenapa kau tidak tidur? tidurlah pasti leleh" ujar Abi yang berdiri di depan meja belajarnya melirik Dewi sekilas sambil mengeluarkan alat lukis


Dewi masih saja melihat kearah dinding seakan ada yang dilihatnya dari dinding dikamar Abi, sesakali ia bedecak seperti menonton sebuah drama di televisi.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Abi sekali lagi.


"aku harus memastikan mereka memakan kue buatan Kaka." batin Dewi tersenyum simpul.


"Dewi kenapa tidak menjawab kaka?" tanya Abi dengan suara naik satu oktap kerena kesal.


"Aku harus pergi sebentar, tunggulah hasilnya Ka Abi." ujar Dewi teratai lantas menyentuh dinding membuka portal gaib kemudian segera memasukinya.


"Dewi, apa lagi yang akan anak itu lakukan." batin Abi.


sempainya di rumah berkumpulnya Anggota Sakte, Dewi segara mengubah bentunya menjadi seorang wanita beumur sekitar Dua puluh tahun ia mengukan baju yang sama dengan anggota sakti ditangannya ada sebuah ampop berisi surat.


Dewi masuk kerumah pura-pura ikut berdoa dibarisan paling belakang.


"Manda kenapa beru datang?" tanya seseorang disampingnya berbisik.

__ADS_1


"Aku mengambil surat dari pemimpin di rumah sakit." sahutnya ikut berbisik


Lani yang pedengannya sangat tanjam mendengar ada yang berbisik-bisik segera mengacungkan tanganya meminta doa dihentikan segera.


"kalian yang ada dibelang Manda dan kau Ama kemarilah." bentak Leni.


"kenapa mereka memanggilku dengan sebutan Manda apa wajahku mirip dengan wanita yang bernama Manda." batin Dewi.


"Manda jelaskan kenapa kamu terlambat? apa yang kamu bicarana dengan Ama." intogasi Leni.


"Aku terlambat karena baru dari ruamah sakit mengambil surat dari pemimpin, tenggoranku juga sakit sekali jadi aku memeriksanya sekalian, Maaf." ujar Manda tertunduk dengan suara serak.


"apa yang kalian bicarakan?" tanya Lani lagi.


"Ama bertanya apa yang aku bawa setelah melihat aku memasukan surat kedalam tas kecil milikku ini, Aku menjawab aku baru saja mengambil surat dari rumah pemimpin katanya ia tidak datang karena harus menjaga suaminya dirumah sakit." jelas Dewi yang dipanggil Manda oleh mereka.


"ini." ujar manda menyerahkan sebuah Amplop berisi surat.


Dewi melihat dari atas sampai bawah Leni, matanya membulat senpurna kala melihat nama Lani terukir di baju yang di pakai oleh Lani ukiran itu terbuat dari benang hitam sama dengan warna bajunya hingga tidak terlalu jelas bila tidak dekat.


"oh mungkin baju yang ku pakai ini atas nama Manda. maafkan Dewi tante Manda terpaksa membuat Tente pingsan tadi." batin Dewi.


"jadi kamu bertemu Pemimpin apa dia baik-baik saja?" tanya Leni Antusias.


"wajahnya terlihat pucat, dia bilang karna terlalu lelah menjaga suaminya dirumah sakit. oh ia dia meminta Ka Leni membaca surat itu didepan semua anggota." jelas Dewi masih dengan suara serak.


"Ka Lani perutku sakit bisakah aku ijin kekamar kecil sebentar" ucap Dewi


Dewi segara pergi kemar kecil membuka portal menembus dinding ia kembali ketempatnya menyembunyikan Manda.


Dewi melepas bajunya lalu menjadi anak kecil melepaskan totok di badan Manda tak lupa ia membuat Manda melupakan kejadian yang baru saja menimpanya.


Manda mengeliat membuka perlahan Matanya.


"Tante sudah baikan?" tanya Dewi.


"siapa kamu, kenapa saya disini?" Manda bertanya dengan Nada ketus.


"Tente jatuh tadi saat jalan, jadi aku membantu menunggu dan membagunkan tante takut ada orang jahat." sahut Dewi yang badannya sudah berubah manjadi anak berumur tujuh tahun.


Manda melihat jam tangannya terkejut segera meninggalkan Dewi tanpa mengucapkan terimakasih.


Melihat Amanda pergi Dewi segera bertepati dengan seseorang untuk mengawasi Perkumpulan Sakte tersebut ia tidak mau usahanya dan Kakak nya gagal.


tidak menunggu lama seekor ular mendakati Dewi.


Dewi segera mengelus pelan kepala ular berbicara dengan pelan.

__ADS_1


Ular itu segera melakukan tugasnya masuk kedalam rumah tempat pertemuan para anggota Sakte itu.


Dewi segera mencari tempat untuknya membuka portal gaib menuju kamar Abi.


Kakak pekik Dewi begitu kembali di Kamar Abi.


"Kau hampir saja membuat jantungku lepas, datang seperti jailangkung." segut Abi.


"Dari mana?" tanya Abi datar.


"Mengusir serangga kecil." sahut Dewi santai.


Abi mengerutkan keningnya mencoba berpikir apa yang dimaksud Dewi.


"Tidak perlu dipikirkan Ka, kita tunggu saja hasilnya." ujar Dewi sambil melihat lukisan yang sedang Abi buat.


"Hmmmmmm, lumayan juga hasilnya Ka, kapan-kapan jika ada waktu lukislah wajahku bersama naga emas milikmu, Kaka pasti akan merindukan kami jika nanti kami sudah jauh darimu." celetuk Dewi.


" Dewi jangan berbicara begitu, Kaka tidak akan membiarkan kamu pergi lebih dulu dari Kaka." sahut Abi dengan nada tidak suka.


"hehehehehe, muka Kaka lucu sekali jika sedang Khawatir." canda Dewi.


"Tenanglah Ka, aku tidak akan pergi bila iblis manusia itu belum musnah." tukas Dewi sambil tersenyum manis.


"Nanti Kaka akan membuatkan lukisan kamu untuk menghiasi dinding kamarmu." ungkap Abi.


"Terimakasih Kaka semoga saja hasilnya akan bagus." sahut Dewi sambil beranjak meninggalkan Abi kembali ke atas kasur.


"KA abi bila ada ular kibra bermahkota perak dikepalanya bangunlah aku." minta Dewi membuat Abi melirik sekilas sang Adik.


"Ular bermahkota, apa sebenarnya yang kamu lakukan tadi Dewi kenapa Kaka tidak lagi dapat melihat dari mata mu apa saja yang kamu lakukan hari ini." bingung Abi bertanya.


"maaf ka itu privasiku tolong hargailah." jawab Dewi terdengar bercanda.


"kamu sengaja menyembunyikannya dari Kaka?"


"YA meski Ka Abi adalah Kakak ku tetap saja risih bila bertemu dengan mudahnya Kaka melihat semua yang Dewi lakukan." Ungkap dewi.


tidak lama datanglah seekor ular keluar dari samping ranjang Abi. Ia mendesis membuat Abi segera menoleh.


Dewi yang baru saja terlelap segera dibangunkan Abi.


" Dewi bangunlah yang kamu tunggu sudah datang." teriak Abi dari tempatnya duduk.


Dewi dengan Malas membuka matanya ia melihat sekeliling dan mendapati ular kobra naik keatas kasur berada dekat dengan tangannya.


"Apa yang kamu dapat perlihatkan rekaman dari mataku padaku." ujar Dewi.

__ADS_1



DEWI TERATAI EMAS


__ADS_2