Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Putri Lasmi


__ADS_3

Putri arum meminta bantuan Willem untuk mencari tujuh wanita perawan di rumah sakitnya hanya di sana ia bisa mendapatkan apa yang di minta Raja jin tanpa dicurigai oleh orang lain termasuk Devan.


Willem yang tumbuhnya dikuasi oleh seorang Jin segera mengikuti perintah istri dari Rajanya.


wajah dari putri Devan itu semakin pucat kulitnya putih seakan tak ada darah lagi yang mengaliri. Hal itu tentu saja membuat Putri arum cemas ia ingin memberitahukan Devan namun kembali ia urungkan mengingat Devan tak dapat membantu apapun.


"Aku pikir tidak apa-apa karena masih kecil Lasmi tak perlu baginya membuka segel kekuatan ternyata aku salah, aku harus membuka segelnya tak peduli putriku masih kecil." monolog putri Arum sembari menatap wajah sang putri.


"aku harus menyiapkan segala keperluan untuk membuka segel di badan putriku, untuk melakukannya aku perlu tenaga Ekstra." ia kemudian tersenyum kecil, makanan kesukaannya sop sum-sum tulang manusia itu akan menambah tenaga pikir putri Arum sambil membayangkan rasa dari makanan kesukaannya tersebut.


Putri Arum bergegas meminta Marcella membuatkannya sop kesukaannya itu.


Marcella yang mendengar keinginan putri Arum beranjak dari kursi kebesarannya di kelinik kecantikan miliknya memenuhi permintaan sang putri.


ia pergi ke rumah sakit milik sang suami mencari manusia seorang gadis yang bisa ia ambil sum-sum tulangnya.


Di tempat yang sama Willem sedang melihat data pasien baik yang sedang dirawat inap, atau hanya sekedar berobat biasa. matanya begitu jeli mencari- cari tujuh orang wanita muda yang bisa ia berikan pada sang Ratu.


setelah menentukan pilihan, Willem berjalan memeriksa pasien yang ditargetkan, mencium Aroma wangi darah wanita perawan. tak sampai satu jam ia sudah mampu menyelesaikan tugasnya memberi tanda pada orang yang akan diserahkan untuk sang Raja.


Willem memberikan laporan pada Putri Arum, dangan senang hati putri Arum menerima, Putri Arum memanggil Raja untuk menukar tujuh wanita itu dengan Bunga di lembah kematian demi kesembuhan sang putri.


Raja Jin tertawa senang ia segera menghilang dari hadapan putri Arum muncul kembali di rumah sakit sakit.


Begitu selesai menghisap darah tujuh perawan, Raja Jin menemui putri Arum untuk memberikan sebuah bunga dari lembah kematian sesuai janjinya.


Putri Arum segera meminta bunga dari raja Jin begitu selesai makan sop sum-sum, auranya terasa lebih kuat kulitnya menjadi lebih bersinar begitu pula dengan bibirnya yang lembab berwana pink natural.


"Kau terlihat cantik istriku, ini untukmu." puji raja Jin sembari memberikan bunga berwana hitam ke tangan sang istri.


"terimakasih, pergilah aku tau kamu akan melakukan pertapaan untuk menyempurnakan kekuatanmu." ujar Putri Arum mengusir.


"kau yakin bisa melakukannya sendiri? tanpa bantuan dariku." sahut Raja Jin.


"jangan meremehkan aku." kata Putri Arum dengan mata menyala.

__ADS_1


"aku hanya bertanya bagaimanapun juga Aku turut adil dalam pembuatan anak itu." hahahaha, tawa raja Jin menggelegar didalam kamar pemujaan tersebut.


"Apa maksudmu? Anak ini anakku dengan Devan." bentak Putri Arum.


"Hahahahaha, kau tak sepintar dan sepicik aku jadi jagan berdebat dengan aku!" seru puja Jin.


"katakan Apa maksud kau turut dalam pembuatannya?"


Lagi-lagi Raja Jin tertawa terbahak-bahak.


"jawab Aku!!." teriak Putri Arum marah.


mana bisa suami manusiamu menggauli kamu hingga sampai puluhan kali kecuali aku yang mengendalikan tubuhnya tawa raja Jin kembali menggema di ruangan tersebut


belum sempat putri Arum menjawab Raja Jin tersebut kembali kekerajaan miliknya.


Selagi putri Arum menyembuhkan putrinya tak seorangpun boleh mengganggu termasuk para abdinya.


Mars berjalan masuk kesebuah listoran berbintang duduk di meja pojok sambil menikmati secangkir kopi. Matanya tak sengaja menangkap sosok yang ia kenal selama puluhan tahun. "Devan." gumamnya pelan.


lebih baik aku biarkan ia selesai bicara dengan orang itu, setelahnya aku akan menemuinya. batin Mars.


beberapa menit berlalu Devan selesai berbicara dengan laki-laki tersebut. keduanya berjabat tangan hangat kemudian berpisah.


Devan yang berniat ingin beranjak dan membayar minuman yang ia pesan segera menuju kasir.


belum sampai ia di kasir Mars berjalan ke arah yang sama. Mars, berjalan sambil menunduk memainkan ponsel hingga tubuhnya menabrak Devan.


keduanya tersentak mundur detik berikutnya saling tatap, "Mars kau kah itu?" tanya Devan dengan begitu mengenali wajah Mars.


"Ya Dev, aku tidak menyangka kita dipertemukan lagi disini. Maaf aku tidak menepati janjiku padamu."' sahut Devan.


"kebetulan sekali, ayo kita mengobrol sebentar


ajak Devan.

__ADS_1


"Apa tidak menganggu waktumu?" tanya Mars.


"tidak sama sekali, ayo duduk di sana saja." jawab Devan menunjuk salah satu kursi.


begitu duduk saling berhadapan Devan menanyakan kabar Mars. ia juga memohon maaf atas perbuatan Ayahnya.


"Aku benar-benar merasa kadang Daddy itu orang lain. Sikapnya dapat berubah hanya dalam hitungan menit. Wajahnya terkadang begitu membuatku takut hingga apapun perintahnya aku hanya bisa menurut." keluh Devan.


"Mungkin karena faktor usia Dev." jawab Mars tak ingin memberi tau jika sang Ayah berada dibawah kendali putri Arum.


"Entahlah, yang aku tau Ayah sangat membenci Abi ia menghasut aku dengan bermacam cara agar aku juga membenci putraku tersebut." ungkap Devan.


"Lalu apa kamu membenci putramu sendiri saat ini?" tanya Mars sambil melihat seorang pelayan mendekati meja mereka.


"Aku tak dapat berbuat apa-apa, meski rasanya ingin sekali memberontak, namun mulutku tidak dapat mengatakannya. Gerak tubuhku seakan serempak menurut padanya. namun hatiku tak bisa membenci puntraku sendiri." ujar Devan menjelaskan keadaannya.


"kau dibelenggu olehnya." cicit Mars pelan.


"Mars kau ingin memesan makan? kita sudah lama tidak makan bersama." Kata Devan begitu waiters menghampiri meja mereka.


"baiklah akan aku temani kamu makan saat ini." kata Mars kemudian memesan beberapa menu andalan di restoran tersebut.


Begitu Waiters pergi Mars kembali bertanya pada Devan.


"Apa kau yakin tak membenci Abi?"


"Ya aku yakin sekali bahkan aku sangat merindukannya." ujar Devan tertunduk sedih.


"Dev jika kamu ingin lepas, maka pergilah saat ini juga, selagi kamu bisa melakukannya." tukas Mars menatap Devan serius.


"bagaimana kau tau aku dibelenggu oleh mereka?"


"jangan tanyakan itu saat ini Dev, ikutlah denganku kita harus melepas belenggu di lehirmu itu." kata Mars membuat Devan terkejut bagaimana Mars bisa melihat belenggu iblis dilehernya.


"Tidak Mars, jika aku lepas maka Deddy akan mengantikan aku. Dia akan disiksa bagaikan binatang karena aku begitu pula istri dan putriku." ungkap Devan.

__ADS_1


"Dev percayalah padaku, Aku pasti akan memikirkan cara untuk menolong Ayahmu." ucap Mars dengan nada sedikit tinggi.


__ADS_2