
Raden Mas mentap Abi yang masih setia duduk di atas sajadahnya tanpa makam dan minum bibirnya tanpa putus memuji kebesaran sang pencifta.
"Kenapa kamu menolak jasa yang ku tawarkan Nak." gumam Reden Mas.
Beberapa waktu lalu Raden Mas menawarkan bantuan namun Abi tetap tidak bergeming.
"sudah sepantasnya aku berkorban semua ini terkadi karana sumpahku di massa lalu, andai aku tidak mengucap sumapah itu mungkin kamu akan hidup tanang." batin Raden Mas sembari duduk menatap nanar ke arah Abi.
"Assalamuikum." sapa Kyai Ahmad sambari membuka pintu kamar Abi.
"Walaikum salam." jawab Raden mlihat Kyai Ahmad.
"Ahmad kamu sendiri...?"
"Iya saya sendiri Kek.." sahut Kyai Ahmad.
"Abi menolak bantuan ku." Adu Raden Mas tanpa basa basi.
"Sudah saya duka, Abi tidak mungkin mau bila jalannya seperti itu." jawab Kyai Ahmad seraya duduk di atas dipan samping Raden Mas
"Tapi itu jalan tercepat untuknya bahkan ia bisa membawa raga juga bila ia mau menerima bantuan dariku." jelas Raden Mas seraya berdiri dari tempatnya duduk.
" apa Kakek yakin setelah Kakek berkorban Abi akan selamat dan dapat kembali ke kehidupannya saat ini....?" tanya Kyai Ahmad.
"Kalau itu aku tidak bisa menjamin kekuatanku hanya bisa mengantarnya sampai ke istana Raja iblis waktunya hanya tiga bila dalam tiga lebih dari itu aku tidak aku tidak mampu menahannya." ungkap Raden Mas.
"Jadi dalam tiga hari Abi harus menang melawan putri Arum dan raja iblis yang melindungginya saat ....?
"untuk melawan dua orang itu Abi harus melawan ribuan anak buahnya terlebih dahulu ." sambung Kyai Ahmad.
"itu tidak perlu bila Abi pandai mencari celah." sahut Raden Mas.
"Apa kita hanya akan menunggu sampai Abi menemukan jalannya tanpa melakukan sesuatu ....?" kembali Kyai Ahmad bertanya.
"anak ini keras kepala ia pasti tidak akan berhati sampai berhasil merayu Allah" lanjut Kyai Ahmad.
__ADS_1
bertepatan dengan itu suara bel berbunyi.
Larasati bejalan menuju pintu untuk membuka pintu.
"Assalamualaikum ...!! seru Zahra di balik pintu.
"Walaikum salam." Larasati menjawab salam sebari membuka pintu.
"walaikum salam." sahut putri Larasati.
mata kedua wanita itu saling bertemu kemudian keduanya sama-sama melempar sanyum.
Ayo masuk Zahra ajak Laras.
namun langkah keduanya terhenti saat mendengar suara Dewi berteriak.
"Assalamuaikum...!! teriak Dewi ia datang bersama Risa dan ada Mars juga di belakang mereka.
"waalaikum salam." Larasati dan Zahra menjawab kompak.
mereka masuk bersama-sama Risa dan Zahra segera menemui Kyai Ahmad di Kamar Abi sedangkan Mars duduk di sofa bersama Dewi.
"bulum Om Mars, Ka Abi masih merayu sang pencifta untuk menunjukan jalan menuju istana tersebut." jawab Dewi jujur.
"hmmmm, kenapa harus mencari jalanya sendiri kalau Kakek moyang kalian bisa mengantar sampai pada tujuan dengan cepat....??" Mars betanya binggung sambil menautkan kedua alisanya.
"entalah tapi Dewi rasa Kaka tidak ingin Kakek berkorban yang belum pasti kemenangan akan ia raih." sahut Dewi sembari memindah tayangan televisi.
"benar juga, yang Abi lawan adalah sebuah kerajaan memiliki ribuan pasukan Mars mengguk-manguk mengerti apa yang mungkin di pikirkan oleh Abi.
Di kamar Abi kyai Ahmad mengajak Semua. keluar agar tidak menganggu Abi namun Raden Mas menolak dengan alasan ingin manjaga darah keturunannya dan hal-hal yang tidak di inginkan.
Kini mereka semua berkumpul di ruang tamu rumah yang di biasa di sebut Abi markas.
Zahra memulai obrolan.
__ADS_1
"senenarnya kedatangan Zahra kemari adalah ingin mengajak Abi ke suatu tempat." Ungkapnya sembari menatap lurus ke arah Kyai Ahmad
mata semua orang kini menatap mata Zahra wajah mereka di liputi rasa penasaran. Ada apa..? kenapa...? dangapa..? begitulah pertayaan yang berserang di kelala mereka saat ini
melihat tatapan menuntut dari semua orang Zahra terkekeh. "Aku akan membawanya ke hutan Kematian untuk menemui Raja Iblis dan putri Arum." Jelas Zahra dengan seius.
angin berhembus tiba-tiba di tempat mereka semua duduk mendengar pejelasan Zahra padahal pintu di tutup Zahra dan Mars sudah bersiap bila terjadi serangan mendadak
Dewi sekar muncul di hadapan mereka dengan bibir tersersentum yang di balas dengan senyuman manis pula namun Dewi justru cemberut.
silahkan lanjutkan penjelasannya Zahra aku juga ingin mendengar...!! minta Risa yang melihat Zahra tidak meneruskan ucapannya.
"Mereka ada di hutan kematian itulah petunjuk yang Zahra dapatkan dan Zahra akan mengajak Abi kesana." tukas Zahra dengan satu tarikam napas.
"kau benar Zahra istana Raja iblis ada di hutan kematian namun perjalananmu untuk sampai pada istananya pasti akan penuh rintangan. sampai saat ini semua yang masuk ke hutan itu tidak ada yang bisa kembali. sahut Dewi sekar dengan Wajah serius.
"Aku dengar di hutan kematian ada sugai darah dan bukit merah tempat kesukaan para iblis bersembunyi, namun aku tidak tau pasti istananya di bagian mana..!!" ungkap Raden Mas ikut bicara.
"Zahra aku tidak bisa ikut kesana namun aku ingin memberikan sedikit bekal untukmu semoga itu bisa bermanfaat." sela Dewi sekar.
Zahra mengangguk menaggapi ucapan Dewi sekar.
"Aku akan melihat ka Abi dulu." ijin Dewi teratai sambari berdiri ia kemudian berlalu setalah mendapatkan anggukan dari sang Bunda.
Ayo Zahra bisakah kau ikut denganku kita harus bergerak cepat ajak Dewi sekar semabri tersenyum
baiklah Zahra akan ikut sahut Zahra bagun ia berjalan mendekati Dewi sekar bagitu sampai di samping Dewi sekar segera berpamitan pada semua orang. ia kemudian membawa Zahra menghilanh dalam sekejab mata.
Kyai Ahamad merasakan ada yang berbeda sejak Zahra berada disana dan saat Zahra pergi semua kembali seperti semula ia melirik ke Arah Mars berharap Mars juga merasakan yang ia rasakan.
"Zahra seperti memiliki kekuatan besar dalam tubuhnya." celetuk Risa tiba-tiba membuat mata Mars membulat mendengar itu begitu pula dengan Kyai Ahmad.
"Apa kamu juga merasakannya Risa?" Mard bertanya untuk memastikan.
"Ia sejak aku bertemu tadi aura terasa berbeda dari sebulumnya dan setalah kulhat dengan lebih teliti ternyata Aura itu berada di dalam tubuh Zahra dalam dirinya dialiri oleh energi berwana putih." jelas Risa yang lagi-lagi membuat Mars tercengang karena Risa bisa mengatahui seditel itu.
__ADS_1
"Aku merasa tenang bila Zahra dapat mengandalikan inergi dalam tubuhnya dan aku yakin Dewi sekar mengajari agar Zahra bisa mengunakan energi itu untuk melawan Arum dan pengikutnya ." ujar Kyai Ahamad.
Mars masih melihat Risa ia nampak tak percaya dengan apa yang di dengarnya dari mulut wanita tersebut.