
Lima orang Raksasa masih saja di serang para lebah namun di antara itu rupanya sang pangeran Raksasa begitu Murka hingga ia berteriak kencang sambil menghentikan kakinya membuat tanah tempat mereka berpijak berguncang.
Suaranya yang kencang hingga menyebabkan telinga Abi, zahra, Mars, serta Risa sakit.
Raksasa itu berjalan ingin kembali menangkap Abi namun Risa menjadi garda depan untuk melindungi sang putra.
Risa menajamkan pandangannya ia mengambil ranting kayu yang permukaannya agak runcing.
"Abi bawa temanmu bersembunyi tau lari ibu akan menghalanginya." perintah Risa.
"Tidak Bunda kita akan melawan bersama." sahut Abi.
"Ya Abi benar jika hidup harus berakhir disini setidaknya kita sudah berusaha melawan tidak menyalahkan satu sama lain." ujar Mars ikut menimpali.
"Benar tante Kami tidak ingin menjadi orang yang tak berguna sementara Allah mengirim kami kemari bukan tanpa Alasan." cetus Zahra bijak.
"Baiklah Mari kita bersama membantuk farmasi." kata Risa.
"Abi kau serang matanya sementara Bunda dan teman wanita mu menusuk bagian telinga dan untukmu Mars kau bisa memilih bagian leher atau kakinya." Ungkap Risa Ambil posisi masing-masing bersiaplah terget hampir sampai." lanjutnya.
Zahra Abi dan Mars mengambil senjata masing-masing berupa ranting pohon yang ada di sekitar mereka.
Abi, Mars, Zahra dan Risa sudah siap di posisi masing-masing.
Suara langkah sang Raksasa terdengar semakin dekat dalam hitungan Menit sampai ketempat Risa, Abi, Zahra dan Mars berada. belum sempat rombongan Abi menyerang Angin ****** beliung datang dari arah belakang membawa Abi,Risa dan kawan-kawan kesuatu tempat seperti lorong bercahaya putih.
"Masuklah kalian kedalam lorong itu akan mengantar kalian kembali." ujar lelaki berjubah putih membawa sebuah tongkat.
"Siapa Anda, Bagaimana kami percaya pada Anda sedang kita tidak saling mengenal." kata Risa.
"Aku adalah Kakek Zahra. lihatlah tongkat ini nak Zahra kau pasti mengenal milik kakek." Ucapnya.
"Tidak, jangan mudah percaya Zahra bisa jadi ia jin yang sengaja dikirim untuk membuat tipu daya." ketus Risa Waspada.
"Kakek berjubah itu tersenyum, kenalilah cincin ini Nak Zahra." kata Sang Kakek.
Mars mengintip lorong yang dimaksud Kakek Zahra.
"Itu benar tongkat dan Cincin itu sama persis dengan milik Kakek." ujar Zahra.
__ADS_1
"jangan terperdaya nak, orang yang tiada tempatnya bukan lagi disini, rohnya menunggu di tempat khusus yang disediakan oleh yang maha kuasa." seru Risa.
"Masuklah ke lorong itu jika tidak masuk mana tau ucapan ku benar atau hanya ingin menipu kalian." Kata Kakek Zahra.
"baik kek Aku percaya padamu." kata Zahra.
"Tidak zahra jangan percaya." pekik Risa.
"Jika seperti ini maaf jika caraku sedikit memaksa." gumam Kakek Zahra sembari berjalan kiri.
Mata Risa terus mengawasi hingga ia melihat Kakek Zahra melempar tongkatnya ke sebelah kanan ingin tau apa yang terjadi dengan tongkat itu. mata Risa, Abi, Zahra, Serta Mars melihat ke arah tongkat milik Kakek Zahra. pada saat itulah Kakek Zahra mendorong dangan kuat Risa yang menggenggam tangan Abi Zahra hingga mereka masuk kedalam lorong.
sementara Mars ingin menolong sudah terlambat hingga ia meneriaki Kakek Zahra.
"Apa yang Kakek lakukan!" seru Mars dengan pandangan tajam.
"Kau lihat di sana tiga orang raksasa." sambil menunjuk. "sebaiknya masuk saja ikuti teman-temanmu sebelum raksasa itu menangkap dan melahap habis daging Mu." kata Sang Kakek tua.
"Aku tidak tau kau berada di pihak mana." sahut Mars dengan tatapan menyelidik.
"kamu akan tau jawaban setelah masuk kedalam lorong itu mengikuti temanmu atau aku melemparmu kepada tiga Raksasa yang terlihat marah dan garang itu." tukas Kakek Zahra mengajukan dua pilihan.
Kakek Zahra tersenyum menang ia bersiul sambil membelai jenggot putihnya.
Masuklah sekarang perintah Kakek Zahra.
Meski dengan langkah Ragu Mars memasuki terowongan yang yang di belakangnya.
"lebih baik aku terkurung bersama Abi dari pada harus menjadi makanan Raksasa itu." batin Mars bergidik ngeri.
Saat kelompok Abi semua masuk ternyata terowongan itu adalah portal gaib. Kakek Zahra berdoa sesat kemudian portal itu menghilang.
rupanya engkau tak ingin para raksasa ini musnah entah untuk tujuan apa hanya engkau yang tau ya Rabb gumam Kakek Zahra detik berikutnya ia mendekati pangeran raksasa.
tenanglah ibumu pasti akan kembali. kau dan anak manusia itu hanya korban seseorang yang bersekutu pada Tuhan.
"jangan ikut campur Kakek tua kau tak tau apa-apa." sahut Pangeran Raksasa.
"jika kau tak percaya tunggu saja ibumu akan kembali." ujar Kakek Zahra ia kemudian berjalan menjauh.
__ADS_1
Di sisi lain Ki Maung dan juga Ustadz Akbar mengikuti asal dari banaspati yang datang menyerang Abi. Ustadz Akbar meninggalkan raganya di ruang tamu.
setibanya disebuah rumah berwana biru, Ustadz Akbar dan Ki Maung melihat dari jendela yang setengah terbuka Bola Api itu masuk kedalam.
"Ayo kita ikuti masuk kedalam!" ajak Ustadz Akbar, Ki maung mengangguk terbang mengikuti masuk kedalam kamar tersebut.
didalam kamar tersebut terlihat seorang laki-laki berpakaian serba hitam, duduk di atas karpet merah. didepannya lengkap sesajen dan perlengkapan dukun serta ada pula foto Abi. mulutnya kumat kamit membaca mantra dengan mata terpejam. hingga tak menyadari kehadiran Ki Maung bersama Ustadz Akbar mengambang di dekat depannya.
"Ki sanak berhentilah berbuat Musyrik." ujar Ustadz Akbar menyeru.
"Ada tamu rupanya" sahutnya sambil membuka mata.
"Hentikan perbuatanmu menyerang santri ku." kata Ustadz Akbar.
"oh jadi ini santri mu, tidak bisa sudah menyanggupi permintaan klienku untuk menyakitinya." sahut sang dukun.
"sekali lagi aku meminta dengan rendah hati berhentilah,apa yang kamu lakukan tidaklah baik hanya akan membuatmu terpuruk dalam dosa besar." ujar Ustadz Akbar.
"Sayang sekali, aku sudah menerima bayaran yang amat besar hingga aku harus menyelesaikan pekerjaanku." sahut sang Dukun meyeringai.
"berapapun yang kau terima, dan sebesar apapun itu tidak bisa menjamin kamu hidup selamanya. pikirkan azab yang akan kau terima di akhirat." Nasehat Ustadz Akbar.
"Tidak ada gunanya berbicara padanya Ustadz biar aku bereskan saja." kata Ki Maung bersiap menyerang.
'Tidak jangan Ki Maung percayakan pada yang maha melihat, dialah yang berhak atas semua mahluk dimuka bumi ini."
tiba-tiba suara petir terdengar menggelegar menyambar kaca jendela hingga pecah.
secara bersamaan kalung yang di gunakan sang dukun putus.
Dalam hitungan detik puluhan Api banaspati yang ia kirim berbalik menyerangnya, begitu pula teloh yang awalnya ingin kirim ke Abi berbalik padanya. membuatnya berkali kali menyemburkan darah segar. bakan hanya dari mulut darah juga keluar dari telinga serta hidungnya.
"kau lihat Ki maung Allah menunjukan kuasanya pada orang-orang yang menyekutukannya."
"Maksudmu Dia meyembah Selain Allah?"
"Benar untuk mendapatkan kesaktian dia mempertaruhkan Agama hanya demi kesenangan dunia, demi Uang ia menjadi musyrik." kata Ustadz Akbar.
belum selesai sampai disitu petir menyambar hingga tiga kali tubuh sang dukun yang sudah tak berdaya hingga seluruh badannya tak lagi berbentuk.
__ADS_1