
Willem dan istrinya sedang berkunjung kerumah sakit miliknya. Mereka berjalan sambil tersenyum ramah pada para pekerja yang mereka lalui
keduanya lantas pergi menuju ruang khusus yang di sediakan untuk mereka.
"Mas aku perlu perawatan lagi kemis depan aku mau keluar kota." Regek Marsella.
"apa lagi yang kamu cari tak cukup kah kamu melakukan perawatan di kota ini" sahut Willem datar.
"Aku sudah sejak lama melakukan perawatan di sana aku meresa sudah cocok." sahut Marcella dengan tatapan dingin.
"bagaimapun juga kita ini sudah berumur meski perawatan semahal dan bagus apapun tetep saja kita akan tua." nasehat Willem.
"mendengar itu Marcella mendegus kesal. jadi kau tak mengizikankku." segut marcella dengan nada mulai meninggi.
"Aku hanya menesehatimu saja Marcella kenapa kau marah padaku." Sahut Willem dengan tatapan nyelang.
"kau tau kan, aku tidak suka kulit keriput dan tua bagaimanapun caranya aku akan menengkalnya." Ungkap Marcella kesal.
"Lakukan saja, tapi jangan menyesalinya jika usahamu itu tak membuahkan hasil." Jawab Willem sambil mencibir.
Melihat cara suaminya menanggapi ucapannya membuat Jiwa Psiko Marcella bengkit ia berdiri dari tempatnya duduk dengan kilatan marah nampak jelas di matanya.
"Willem ingat aku sudah membatumu saat dalam kesuliatan, aku bisa saja menyikirkanmu dan keturunanmu tanpa sisa." serigai Marsella
"Apa maksudmu?" ucap Willem
"Marcella mengitari tempat Willem sedang duduk lalu berbisik. "semua Rahasiamu ada di tanganku sebaiknya jangan mengaturku, Lakukan saja tugasmu." ucap Marsella tersenyum miring.
"Aku harap kau sudah memulainya saat aku kembali nanti." lanjut Marsella.
"Itu terlalu beresiko Marsella, aku hanya punya satu putra dan satu Cucu." ucap Willem.
"bukankah kau menginginkan kedudukan yang tinggi dan di kenal oleh seluruh dunia. untuk mencapai itu kau harus sedikit berkorban." Rayu Marscella.
"Apa yang yang harus kulakuan." ucap Willem sambil menatap mata merah sang istri.
"kau seorang psikopat sama pertiku bangkitkan kembali jiwa psikopatmu itu tuan Willem." ucap Marsella menyerigai.
"Aku takut taklagi bisa mengendalikan jika hal itu terjadi, sudah cukup massa lalu penuh darah yang dibuat oleh kedua tanganku." sahut Willem menolak.
"hahahhahahha, kau berusaha menjadi lelaki normal tapi setiap jiwamu terusik kau harus mengurung dirimu di ruang bawah tanah dengan seekor sapi yang menjadi tempat melempisanmu menyedihkan." ucap Marcella talak.
__ADS_1
"Aku melakukan agar Aku tak menyakiti keluargaku." sahut Willem sambil menatap kosong.
"Aku harus memastikan jiwa iblis dalam dirinya kembali setelah kepergianku, dengan begitu tujuanku akan lebih medah untuk ku gapai." batin Marcella licik
"kau begitu menyayangi keluargamu ternyata. meski putramu itu tak pernah menerimaku, kau tau Willem bagaimana rasanya tak dinggap itulah yang kurasakan saat berada di depan Defvan." ungkap Marcella.
"kau berjanji padaku untuk memberikannya sedikit pelajaran agar ia menerimaku, Mengapa tak kau lakukan sampai saat ini?" tanya Marcella dangan raut kekecwean.
"baiklah akan kulakukan itu nanti agar dia bisa menghargaimu." ucap Willem memilih mengelah pada istrinya.
"Bagus, aku menunggu hari itu tiba." ucap Marcella kemudian berlalu pergi menuju sofa.
"Aku ikut denganmu keluar kota aku juga perlu berlibur untuk menjernikan fikiran." tukas Willem.
ucpan Willem itu membuat Mercella mendelik tak suka.
"Aku akan pergi sendiri mas, aku takut kau bosan menungguku melakuan perawatan" sahut Marsella sambil membuka ponselnya
aku tidak akan bosan, aku bisa berjalan-jalan sambil menunggumu melakukan perawatan di sana sahut Willem.
Bodoh kamu pikir aku di sana pergi kesalon tau kedokter kecntikan melakukan perawatan diri seperti nona-nona kaya.batin Marsella.
"puasa kenapa harus puasa juga?" sahut Willem bertanya penasaran.
"tentu saja Mas untuk membersihkan segala macam makanan yang masuk kedalam tubuhku, hal itu baik di lakukan" ucap Marscella.
Marcella bernjak dari tempatnya duduk menuju pintu keluar. Willem yang melihat itu hanya diam ia membiarkan istri mudanya itu pergi tanpa pamit.
Willem mengusap kasar wajahnya ia menatap kosong kedepan antah apa yang ia pikirkan seat itu.
"aku sudah bertahan sejauh ini dari penyakit gila itu, aku bahkan tak pernah menunjukannya di depan Marcella bagaimana ia tau? apa selama dia mengukutiku?." fikir Willem.
"Dan dia bilang aku sama dengannya, apa dia juga melakukan melakukan apa yang kulakuan? batin Wellem." sambil menyergit penuh tanya.
sematara Marcella sedang duduk di sebuah cafe sambil menikmati kopi Amiricano pesannya.
"Aku segaja melakukan itu padamu Willam. aku mau kau tunduk padaku tak usah banyak tanya ikuti saja arahanku hidupmu akan tenang tanpa terusik karna aku akan melindungimu dari musuh-musuh yang iri mereka padamu." Batinya
"Dan untukmu Defvan aku akan membuatmu menerimaku suatu hari nanti kau lihat saja apa yang bisa ibu tirimu ini lakukan." ucapnya dalam hati.
"kau ingin mendapatkan wanita itu dan anak laki-lakimu bukan aku akan membatumu liat saja nanti." lajut Marcella sambil meliahat jalan melalui kaca.
__ADS_1
setelah dirasa cukup lama Marcella segera membayar kopi pesanannya dan pergi kerumah sakit kembali menemui sang suami.
Willem masih saja belum keluar dari tempatnya duduk. ia bener-benar di buat binggung dan perubahan sikap sang istri.
"Apa dia memiliki dua kepribadian ganda?"
"tapi kenapa baru sekarang terlihat?"
"semua rahasiaku ada di tangannya apa maksud perkataannya?"
Batin Willem terus membarikan pertayaan pada otaknya. namun seprtinya otaknya masih belum mampu memberikan jawaban.
clik, pintu terbuka membuat Willem yang melamun tersentak kaget.
"Mas kau masih memikirkan ucapanku. santai saja nikmatilah tak perlu terburu-buru."seru Marcella
"Marcella siapa kau sebenarnya?" tanya Willem.
Marcella tesenyum miring dan berkata.
"Aku Marcella." jawabnya santai.
"aku tau namamu Marcella maksudku jati dirimu." ucap Willem.
"kenpa baru sekarang kau membertanyakan itu mas." sahut Marsella bertele-tele.
"jawab saja." ucap Willem dengan tatapan tajam
"Aku wanita malam yang dulunya hanya bekerja di Klub malam memuaskan para lelaki menuntaskan hajatnya." sahut Marcella santai.
"lanjutkan." ucap Willem datar.
"orang tuaku membuangku aku tinggal disini sebatang kara untuk memenuhi kebutuhanku aku aku meminjam pada rentener. anakku tinggal dikampung saat sudah ku rasa tak berguna aku meleyapkannya ungkap." Masella datar.
"kau membunuhnya?"? tanya Willem terkejut, ia tak menyangka Marcella yang ia kenal pendiam dan polos mampu membunuh darah dangingnya sendiri.
"Ya aku melalukan tanpa obat bius, itu sangat menyenangkan Willem kau tau rasanya aku bahagia sekali menrobek-robek dangingnya saat itu."
hahhahhahhahaha, tawa Marcelle mengelegar di dalam ruangan kadap suara itu.
Wanita ini sepertinya berbahaya jika aku terus bersamanya batin Willem bergidik ngeri.
__ADS_1