Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Dewi teratai Emas.


__ADS_3

Marcella duduk disebuah batu besar di dekat sebuah gua yang ada sekitar pantai ia bersemedi.


"Marcella bukalah matamu segera batu yang kau inginkan sudah kau dapatkan berdiri dan geser sedikit batu tempatmu duduk terdapat batu merah delima yang dapat menyembuhkan luka dalam serta memberimu kekuatan." ujar sebuah suara gaib jelas terdengar di telinga Marcella.


perlahan Marcella membuka kedua matanya menggeser batu tempatnya bersemedi benar saja di sana terdapat batu berwarna merah delima yang terlihat cantik.


Marcella terasa jumawa ia begitu senang lantas meninggalkan segera tempat itu.


Di tempat lain Putri Arum masuk sedang mondar mandir di kamar Rayana Keylen ia memikirkan cara bagaimana agar ia bisa kembali masuk kedalam tubuh Mawar.


"Sialan anak itu ternyata pintar juga mengambil raga mawar agar aku tak bisa leluasa mengunakan tubuhnya." monolog Putri Arum.


"Aku harus secepatnya meminta Marcella mencari raga Mawar sebelum bulan pertama." lanjutnya.


Devan kau harus jadi milikku. Willem kemarilah Willem telepati Putri Arum.


Willem yang sedang berada di kantor mengantikan putranya Devan menghentikan aktivitasnya.


Jin yang saat di villa merasuk dalam tubuhnya ternyata masih bersemayam dalam dirinya menjadikan tubuh Willem sebagai tempat tinggal baru baginya.


saat sang tuan Putri Arum memanggilnya ia terbangun dan menguasai tubuh Willem.


Dengan bola mata berwana merah Willem keluar dari ruang kerjanya saat sang sekertaris bertanya ia tak menjawab seakan tak mendengar satu kata pun.


"Pak mau kemana? lima belas menit lagi rapat dimulai!" seru sang sekretaris.


Willem tetap melangkah keluar kantor.


"Astaga bagaimana ini, biasa bapak paling antusias jika ada rapat penting seperti ini. semoga saja tidak lama." monalog sang Sekretaris.


sesampainya di rumah Willem masuk ke kamar mendiang istrinya Rayana Keylen.


"salam untukmu Tuan Putri. katakan apa perintahmu?" tanya Willem yang raganya dikuasai oleh seorang jin."


kemari akan kuberitaukan padamu sahut Putri Arum.


putri Arum membisikan ditelinga Willem.


"Aku ingin kau membuat Devan jadi milikku." bisik Putri Arum.


"Baik tuan putri serahkan padaku aku pastikan ia berada dibawah kedalimu." tandas Willem percaya diri.


"jika kau gagal aku akan menghukum berat dirimu." ancam Putri Arum.

__ADS_1


"Aku tidak akan membuatmu kecewa. selama anak itu tidak ikut campur aku pasti bisa membuat Devan menjadi milikmu." kata Willem.


"jika begitu serang keluarganya buat anak itu sibuk mengurus keluarganya dan melupakan Ayah kandungnya." perintah putri Arum.


Willem tersenyum miring lantas ia berucap.


"perintah segera dilaksanakan."


"pergilah." usir putri Arum.


Di dalam kamar Abi baru saja selesai melaksanakan sholat Maghrib.


Risa mengetok pintu kamar sang putra.


Tok......tok....!


"Nak Jika sudah selesai sholat kita Bunda menunggumu di meja makan." ujar Risa dengan suara sedikit keras.


Abi bergegas membuka pintu kamar dan menyapa sang Bunda.


"Bunda, Abi sudah selesai, apa Bunda masak banyak untuk Abi?"


"tentu saja nak, ayo Ayah sudah menunggu di dapur." kata Risa sambil berjalan menuju dapar diikuti Abi.


sesampainya di meja makan Abi tersenyum menyapa Ayahnya Yusuf.


"Malam nak, kamu juga harus makan banyak, lihatlah pipimu begitu tirus wajah terlihat pucat, apa kamu baik-baik saja?" tanya Yusuf sambil menatap sang putra.


Risa melirik sang putra sekilas sambil menuang nasi kedalam piring.


"Hehehe jangan Khawatir Ayah, Bunda, Abi hanya sedikit kurang fit, besok pasti sudah baikan." sahut Abi.


"Benarkah, kamu yakin Nak, Jangan menyembunyikan dari Bunda." Ketus Risa.


"Tentu saja Bunda, aku justru menghawatirkan Bunda, terimakasih Bunda." ucap Abi pelan.


"Itu sudah menjadi tugas ibu Nak, tak perlu memikirkannya. ikatan batin kita begitu kuat saat kau dalam bahaya ibu ikut merasakan gelisah tak tenang." Sahut Risa.


"Apa Bunda dalam keadaan sadar saat menolong aku hingga ia mengerti apa yang Aku ucapkan." Batin Abi


"apa yang Bunda dan Abi bicarakan Ayah tidak mengerti bisa kalian ceritakan jangan menganggap Ayah seperti orang asing di sini?" tanya Yusuf sambil menatap istri dan anaknya bergantian.


"Kepo." cicit Risa sambil mencibir.

__ADS_1


Yusuf cemberut dan berpura-pura merajuk.


"Baiklah jika kalian main rahasia dengan Ayah tak masalah."


"Kemaren malam Bunda membantu Abi keluar dari hutan yang menjabat Abi, Mars, dan juga Zahra. Di sana ada lima raksasa yang ingin melenyapkan Abi." jelas Risa sambil tersenyum menatap sang putra.


"kemaren malam bukankah bunda tertidur nyenyak setelah selesai sholat malam dan mengaji." sahut Yusuf bingung.


"hanya raganya yang disini sedang rohnya besama Abi." ujar Risa kemudian memasukan Senduk berisi nasi serta lauknya kedalam mulut.


Yusuf terkejut mendengar ucapan sang istri ia kemudian bertanya.


"sejak kapan Bunda punya kemampuan seperti ibu?" sembari melirik sang istri dengan ekor matanya.


"Entahlah Aku sendiri tidak mengerti Mas, bahkan jika ditanya bagaimana cara agar roh terpisah dari badan aku tidak tau cara." ucap Risa.


"Hehehehe, Bunda tak perlu dipikirkan semua yang terjadi sudah kehendaknya" ungkap Abi ia juga kaget saat sang ibu menceritakan membantunya melawan lima raksasa di dalam hutan.


"Tapi Bunda rasa hal ini ada hubungannya dengan Adiknya Abi, semenjak ia bertumbuh dalam rahim Bunda begitu sensitif dengan hal-hal gaib." jelas Risa.


Alhamdulillah akhirnya Abi punya Adik. ucap Abi gembira.


"Jika begitu kamu harus hati-hati jika ada yang mengganggumu tidak bisa ku lihat katakan saja jangan menyembunyikannya dariku." Kata Yusuf.


"Dewi teratai emas terimakasih. jagalah Bunda dan Ayah selama aku tidak berada di samping mereka." batin Abi.


"iya Mas aku mengerti." sahut Risa.


"oh iya mas bisakah kamu membuatkan aku nasi kuning dengan ikan gabus masak merah." minta Risa.


"Nasi yang biasa di buat untuk tumpeng?" tanya Yusuf hampir saja ia tersedak makanan mendengar permintaan sang istri.


"Bukan Yah, Maksud Bunda itu, Nasi kuning makanan khas Kalimantan yang di ikannya ikan gabus. biasa kalo di kalimantan banyak jadul di bungkus daun pisang." ujar Abi menjelaskan.


"Abi bunda juga minta kamu mencarikan Bunda durian merah khas Borneo." kata Risa sembari nyengir.


"subhanallah, adikku ini masih didalam perut keinginnya sungguh jauh dan sulit didapat." kau memang langka Dewi teratai gumam Abi.


"Abi apa maksudmu?" tanya Risa.


"Hehehehe, hanya berbicara sendiri Bunda. sahut Abi.


"Ya sudah, jika kalian sudah selesai makan jangan lupa pikirkan cara mendapatkan buah yang bunda mau." kata Risa mengusir.

__ADS_1


"hhhmmm, Ayo Ayah kita ke depan saja bumil sensitif." ledak Abi.


meski beranjak Abi tetap membawa piring kotornya dan mencuci di wastafel diikuti Yusuf.


__ADS_2