Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Zahra


__ADS_3

"Abuya (orang tua laki), apa yang Abu pikirkan?" tanya Zahra anak Bungsu ustadz Akbar


"Ayah sedang Memikirkan seseorang yang akan datang kemari tapi sapi saat ini belum juga sampai." ucap Ustad Akbar.


"tunggu disini sebentar." Abuya ujar Zahra.


Zahra berwudhu setelah selesai ia kembali menemui Ayahnya yang duduk di teras depan sambil membawa tasbih kecil peninggalan Kakeknya untuknya.


"Siapa nama orang yang Abuya tunggu?".


Abimanyu Alfarizi sahut Ustad Akbar sembari menatap kejalan.


Zahra mengikuti arah pandangan Ayahnya tangannya aktif menggerakkan biji-biji tasbih mengikuti mulutnya yang terus berzikir memuji kebesaran Allah.


Seberapa menit berlalu Zahra berucap.


"Sabarlah Abuya, lima menit lagi tamu Abuya akan sampai obati lukanya dan biarkan beristirahat disini malam ini."


"Zahra bagaimana kamu sangat yakin dengan ucapan mu itu nak?" tanya Ustad Akbar.


"Kita liat saja buktinya Abuya apa benar ucapan Zahra tunggulah beberapa menit lagi." Jawab Zahra sambil tersenyum manis.


Lima menit berlalu Zahra melihat sebuah mobil putih dari kejauhan dan ia mengatakan pada Ayah jika didalam mobil tersebut adalah tamu yang di tunggu sejak tadi.


"Maaf Abuya, Zahra harus segera kemabli ke kamar." pamit Zahra berlalu.


Abi Mang antok dan juga Mars segera menemui Ustadz Akbar tak lupa Mars mengangkat Mawar.


"Assalamualaikum!!" Ustadz sapa Abi dan Mang Antok.


"Alaikum salam. Ayo masuk!" Ajak Ustadz Akbar.


ayo bawa raga wanita ini ke kamar putri saya saja ujar Ustadz Akbar sambil mengajak Mars menuju kamar putrinya


Mars mengikuti langkah Ustadz Akbar dengan mengandung Mawar.


Tok...tok!!!


"Zahra buka pintunya nak?" ujar Ustadz Akbar.


"Sebentar Abunya." sahut Zahra sambil menutup Al-Qur'an yang hendak ia baca.


Zahra membuka pintu kamarnya masih dengan mengunakan mongkena ia tersenyum sambil bertanya.


"Ada Apa Abunya?"

__ADS_1


"Zahra bolehkah Wanita ini beristirahat di kamarmu nak ia sedang terluka?" tanya Ustad Akbar.


"Silahkan Abuya baringkan ia tempat tidur." sahut Zahra Ramah.


"Ayo Nak Mars masuklah dan baringkan ditempat tidur." ajak Ustadz Akbar.


Tanpa menjawab Mars bergerak masuk diikuti olah Ustadz Akbar. Dengan pelan Mars membaringkan Mawar di atas ranjang.


"Zahra tolong bersihkan lukanya nak." perintah Ustadz Akbar pada sang putri.


"Siap Abuya." sahut Zahra yang dari tadi hanya memperhatikan saja.


"Ayo nak Mars kita temui Abi." ajak Ustadz Akbar.


"Iya Pak Ustadz." sahut Mars sambil mengikuti Ustadz Akbar yang berjalan keluar kamar.


Zahra segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


Perlahan Zahra membuka mongkena yang ia gunakan ia mengambil kerudung berwana pink senada dengan baju yang ia kenakan saat ini.


Zahra selesai meletakan Al-Qur'an dan juga mengkena. Zahra mengambil kotak P3k di dalam laci meja belajarnya. tak lupa Zahra mengambil air bersih untuk membersihan terlebih dahulu luka Mawar baru mengobatinya.


Sambil bersalawat Zahra menggerakkan tangannya membersihkan luka di leher Mawar. sesekali ia memperhatikan luka yang tidak terlalu besar dileher Mawar.


"Hanya luka kecil begini tante tak sadarkan diri." gumam Zahra pelan."


Hingga tanpa sadar tangan Zahra menyentuh tepat mengenai luka di leher Mawar sebuah bayangan dimana ia melihat Roh Mawar sedang di siksa di buah kerajaan milik Iblis.


Zahra bergerak ingin menyelamatkan Mawar tiba-tiba seseorang menariknya menjauh.


"Siapa kamu kenapa menghalangi aku ingin membantunya?" tanya Zahra


"kamu masih kecil nak iblis itu jahat ia tak kenal ampun saya takut kamu terluka." Sahut lelaki tua yang menarik Zahra.


"Tempat ini adalah wilayah kekuasan miliknya, dia tak sediri banyak para abdinya yang siap menjalankan segala perintah. sedang kita tak memiliki kekuatan untuk menyerangnya." Ujar Lelaki itu menasihati Zahra.


"Siapa Anda kenapa berada disini seakan terus mengawasi semua kegiatan mereka?".


"Aku adalah Ayah mawar. meski aku sudah tiada. Aku belum bisa tenang karena melihat putriku yang di tahan oleh Iblis-iblis di sana." jelas lelaki tua dibelakang Zahra.


Zahra segera dibawa bersembunyi dari penjaga istana yang sedang patroli.


"Datang kembali bersama seseorang yang bisa membantumu membebaskan putri aku akan sangat berterimakasih padamu." Ujar lelaki tua itu masih dalam posisi bersembunyi.


Zahra tersadar sabil mengusap keringat dingin di wajahnya

__ADS_1


"Kamu tenang saja ka Aku pasti bisa membantumu." batin Zahra sambil menutup luka Zahra dengan kapas.


sementara di ruang tamu Abi menceritakan apa yang yang terjadi hari ini hingga membuat Ustadz Akbar mengerti.


"Baiklah besok kita akan bantu Mawar. malam ini istirahatlah kalian nampak lelah" tegas Ustadz Akbar.


"Mang Antok menginap saja sebaiknya hubungi keluarga Mang Antok di rumah." Kata Mars.


"Bagaimana dengan motor saya? saya pulang saja Den." ujar Mang Antok.


"jangan Mang, istirahatlah Mang Antok yang paling leleh di antara kami jangan menolak ini semua dami kebaikan Mang Antok." tegas Abi tanpa mau dibantah.


"Jika motor itu hilang Abi bersedia menggantinya dengan yang baru." Lanjut Abi.


"Lebih baik begitu Mang. jangan memaksakan diri diluar masih hujan tidurlah disini. sebaiknya bersihkan dulu diri sebelum tidur." kata Ustad Akbar ikut menimpali.


"Nak Abi, Mars dan mang Antok bisa tidur dikamar tidur anak laki-laki saya. orangnya sudah berkeluarga hanya sesekali datang kemari." Jelas Ustadz Akbar.


"Siap pa Ustadz terimakasih sudah diizinkan menginap." sahut Abi di anggukki Mars dan juga Mang Antok.


"Ayo bergegas bersihkan diri siapa duluan." kata Mars.


"Mang Antok saja." ujar Abi.


Baik Den saya mandi dulu jawab Mang Antok di antar Oleh Ustad Akbar memberi tau letak kamar mandi di rumahnya.


selesai mengantar Mang Antok. Ustadz Akbar membuat teh hangat membawanya menemui tamunya. Ustad kembali bergabung bersama Abi dan Mars duduk di Sofa ruang tamu dirumahnya.


"ini teh hangatnya diminum. maaf tak ada cemilannya kebetulan stoknya sedang habis." kata Ustadz Akbar sambil tersenyum.


"tidak masalah pa ini sudah cukup." sahut Mars dan Abi.


"Abi, Mars di belakang ada satu lagi kamar Mandi jika kalian tidak punya baju ganti pakai saja punya anak saya di lemari."


"Tidak perlu saya bawa di mobil.kecuali Abi sepertinya ia tak membawa baju." cicit Mars.


"Ya, baju Abi masih tertinggal di Villa Abi tak sempat mengambilnya." Ungkap Abi sambil tersenyum kecut.


satu jam berlalu Abi, Mars serta mang Antok sudah berada didalam kamar Abi berbaring di kasur bersama mang Antok sedang Mars di kasur lantai menatap langit-langit kamar.


Tanpa menunggu Waktu lama semua terlelap mungkin karena kelelahan.


tepat jam 12 Malam Zahra terbangun dari dan merasa haus.


Zahra keluar dari kamarnya menuju dapur dengan mata yang masih mengantuk ia berjalan mengambil air minum.

__ADS_1


Zahra terperanjat hampir saja terduduk mendengar suara keras seperti benda keras yang dijatuhkan di atas atap rumahnya.


__ADS_2