
William tersenyum mengingat kedua orangtuanya yang terlah tiada ditangannya. orang tuaku memang sudah tiada aku tidak berbohong ungkapnya.
"Siapa nama orang tuamu?" tanya Andra dengan tatapan penuh selidik.
"Nama orang tua Tuan William adalah Wiraja Orlando dan saudara kembarnya adalah Marcello orlando." ujar Yusuf entah kapan ia masuk Willem tak menyadarinya.
"Maksudmu, dia saudara Seorang ilmuwan terkenal bernama Marcello orlando?" tanya Andra.
"benar sekali Andra, alasan mengapa William memalsukan data dirinya karena kejahatannya tak ingin terungkap." ucap Yusuf melirik William.
"Pak Yusuf, Anda bisa jelaskan maksud ucapan Anda, apa kejahatan Saudara William yang Anda tau?" tanya pak Wisnu selaku komandan polisi.
Angin berhembus kencang. dari pintu Abi masuk dengan membawa beberapa kertas yang terlihat sudah lama.
Abi memberikan untuk Yusuf, dengan senyum Yusuf menerima kemudian menyerahkan pada pak Wisnu selaku komandan polisi.
Pak Wisnu mengerutkan kening membuka lembar demi lembar membaca dengan seksama berkali-kali ia terkejut membaca isi dari berkas lama yang dibawa Abi.
"pak William, Anda harus mempertanggung jawabkan perbuatan Anda." bisakah Anda menjelaskan semua ini tanya Pa Wisnu.
William menatap tajam Yusuf begitupula Abi seakan ingin menelan hidup-hidup keduanya.
"ingat aku akan membuat kalian berdua menyusul Marcello." batinnya.
"Jika saya memang benar melakukan kejahatan itu, Anda bukan orang yang patas memberikan saya hukuman." teriak Willem.
"Aji, Saka cepat bergol William." perintah komandan Wisnu.
William menyeringai hanya dengan sekali hempasan tangannya dua polisi yang ingin menangkapnya terjatuh ke lantai.
Andra yang melihat itu segera bertindak. ia yang memiliki ilmu bela diri mencoba menangkap Willem, naasnya saat tangan Andra ingin memukul pangkal hidung Willem menarik kuat tangannya kemudian memelintir hingga terdengar sebuah suara Krakkkkkk krakkkkkk. diikuti oleh suara pekikan Andra yang kesakitan "aaaaahhhhhhkkkkkkk."
__ADS_1
Husain, Hasan dan semua yang menyaksikan hanya bisa bersimpati dan ikut meringngis seakan mereka merasakan sakit yang diterima oleh Andra.
Hasan Alexander membatu Andra yang terjatuh dilantai begitu selesai dipelintir tangannya, Andra di banting kelantai keramik oleh William.
"itulah akibatnya jika kalian melawan aku." bentak Willem dengan suara tinggi.
Abimanyu tersenyum detik berikutnya ia menggunakan serangan secepat kilat untuk melilit Willem dengan rantai gaibnya.
Srttttttt stttttttttt sttttttttt dalam satu menit tangan Willem sudah berada dibelakang dalam keadaan terikat.
" Anak kurang Ajar!! kau berani sekali mengikat aku." pekik William berbekal ilmu tenaga dalam ia mencoba melepaskan ikatan ditangannya berkat bantuan jin yang bersemayam dalam tubuhnya Willem mampu mutus rantai tak terlihat yang di ikat Abi ditangannya.
"Hanya itukah yang kamu miliki anak manusia?" ucapnya dengan suara berat.
Abi tersenyum tenang, Sementara Yusuf memainkan jemari tangannya dibelakang tubuhnya dalam sekali jentikan jarinya dua kaki William terdorong mundur.
"kurang ajar berani sekali kamu bermain curang." teriak William.
"kalian semua diam, ini kantor polisi. selesaikan masalah ini sesuai hukum yang berlaku. untuk Anda Tuan Willem berhentilah melawan." tegas Wisnu.
"Aku sudah bilang kamu bukan orang yang pantas mengadili kejahatan yang kulakukan. penjara besi disini tidak akan mampu menahan aku dengan mudahnya aku mematahkan besi-besinya. kau akan rugi bila hal itu terjadi tak hanya aku yang lepas tapi juga tahanan yang lain." ujar Willem.
Aji bagun bersama saka meski pantatnya terasa sakit. Wisnu memberi isyarat pada keduanya dengan kedipan mata. Aji mengangguk mengerti.
"Kakek sebaiknya Kakek ikuti saja kata komandan Wisnu, akan lebih baik menyerahkan diri secara baik-baik." kata Abi memberi nasehat.
"William mendengus ia berkata. tidak ada yang bisa menghakimi aku disini!! kalian semua majulah kemari, akan aku buat kalian menyusul Marcello." teriaknya dengan suara melengking.
Abi tak berkata begitu pula Yusuf keduanya menanti polisi untuk bertindak.
"Tidak seorangpun dari kalian yang bisa mengalahkan Aku. Benar kata saudaraku Marcello akulah yang membunuh kedua orang tuaku, aku memberi mereka racun jangka panjang, merasa kerjanya terlalu lama aku bertidak, bukan cuma membunuh keduanya bahkan aku menjahit memotong bagian tubuh mereka hari itu aku senang dan puas." ungkap Marcello.
__ADS_1
"Aku memfitnah saudaraku agar ia mengantikan aku meringkuk didalam penjara itu membuat hatiku berbunga-bunga." lanjutnya.
hehehehe william terkekeh sembari melanjutkan ocehannya. "Sebelum kalian semua menyusul saudara kembarku, aku akan menceritakan kisahku kejahatanku." ujarnya lagi.
"Rayana Keylen, sayang sekali kerena terlalu banyak tau dan banyak bicara aku memberinya racun secara bertahap. untuk menghilangkan jejak aku mempercayakan seorang pembantu untuk mengurusnya dan iyalah yang menjadi kambing hitamku." bukankah aku jenius? tanyanya sambil menatap semua orang.
"tidak sampai disitu, pembantu di rumah kedua orang tuaku yang menjadi saksi saat Marcello mengungkap kebenaran kejahatanku, aku buat terpisah antara kepala dan badannya. menarik bukan?" lagi Willem bertanya di ahir kalimatnya.
"keberuntungan datang saat aku bersembunyi di rumah kosong aku justru mendapat harta karun yang berlimpah membuatku kaya Raya mendadak. dengan uang yang banyak itu aku mengubah wajahku, memalsukan biodataku, setelahnya menikmati hidup bebas." ujarnya sambil mengingat kembali keberuntungannya.
"aku bertanya atas semua kejahatanku hukuman apa yang pantas aku dapatkan hah kuman mati, atau tahanan seumur hidup?"
"Kakek akan dihukum sesuai Undang-undang yang berlaku ikuti saja jangan kabur lagi bertaubatlah segera." nasehat Abi.
William mendelik ia menatap Abi dengan wajah tak bersahabat.
Aji dan juga Saka mendekat selangkah demi selangkah hal itu disadari oleh Willem, ia tetap tenang seakan tak menyadari apa yang akan mereka lakukan.
Raden Mas yang menyatu dalam tubuh Yusuf melirik sekilas memberi isyarat agar dua orang petugas itu berhenti di tempat.
"Saka, Aji tunggu." kata Wisnu mengejutkan keduanya.
"Kakek jangan menyatu dengan jin itu Kakek akan rugi karenanya. Ayah Devan menjadi korbannya. tolonglah Kek, jika sayang dengan anak jangan teruskan semua ini kasihanilah Devan putra Kakek. Kakek mempelajari ilmu hitam bersekutu dengan iblis dan jin hanya untuk kesenangan dunia, tidakkah Kakek ingat semua yang Kakek dapatkan akan Kakek tinggalkan, hidup tidak kekal di dunia. Harta tak akan bisa menolong Kakek. hukum di dunia ini masih bisa ditahan tapi hukuman di neraka tidak akan bisa di hindari. satu-satu jalan bertaubatlah selagi umur masih ada." tukas Abi berharap William mendengarkan lalu merenungkannya.
William tertawa mendengar nasehat cucunya.
"Inikah hasilnya kamu belajar Agama selama bertahun-tahun?" ucapnya meremehkannya.
Saka yang mendengar Willem sendiri tadi banyak bicara serta sombong mengambil tindakan ia menembak Kaki kiri Willem
Dor..........!!!
__ADS_1
Satu peluru itu bukan mengenai Willem melainkan berbalik kearah sang penembak peluru itu masuk ke dada Saka.