
Dewi sekar memberi isyarat pada Putri larasati yang di balas anggukan oleh sang putri.
"Aku sudah menyiapkan tempat untuk kita di hutan ini sebagai tuan rumah saya, Abi dan Dewi tentu tidak ingin membuat kecewa kalian yang membuang waktu dan tenaga kalian untuk pergi kejutan larangan ini." ungkap Dewi sekar.
"Ayo semua ikut aku pertarungan selanjutkan akan di adakan disana." ajak Dewi Seker membuka portal gaib dan masuk kedalamnya.
Devan dibuat terpana akan kemampuan Dewi sekar yang mampu membuka portal gaib dan berpindah tempat dengan waktu hitungan detik.
Begitu semua masuk termasuk juga Devan yang di seret masuk oleh ular putih menganga melihat keindahan di depan mata.
Liahtlah ini ada lembah api ada gunung es ada istana dan hamparan bunga lengkap dengan istana menegah dan hutan bambu, ada pula air terjentun yang begitu indah dangan air yang begitu jernih.
"Aku tau yang kau kuasi adalah Api dan tanah Putri Arum untuk itulah aku menyediakan tempat ini." tutur dewi sekar.
"Aku akui kau tau diri membuat orang lain merasa dihargai, Haruskan aku mengucapkan terimakasih karena kau terlalu repot, tempat ini lumayan bagus dan sedap bila di pandang mata." ujar Putri Arum.
Kekaguman Devan Risa dan Yusuf tidak dapat di gambarkan dengan kata-kata mereka begitu takjub akan adanya tempat indah seperti ini di tengah-tengah hutan.
Ilmu ilusi milik Putri Larasati dan Dewi sekar ternyata bukan hanya isapan jempol keduanya mampu membuat tempat menakjubkan itu dengan ilmu yang mereka miliki semua terlihat benar-benar nyata para musuhpun tidak menyadari bila itu hanyalah ilusi semata.
Putri Arum dan pengikutnya memilih gunung api yang di bawahnya terdapat lembah Api dengan lahar yang terlihat begitu panas.
Sedang para silimuman yang ingin mengikuti di cegat oleh Larasati ia mengiring makhluk makhluk siluman itu ikut bersamanya di temani oleh Kyai Hasan menuju air terjun.
WIlliam tidak mau mengikuti Putri Arum ia memilih istana yang terlihat mengah dengan berbagai bunga di tanaman menambah indah istana tersebut.
"Ini kah surga? ah rasanya aku tidak ingin lagi kembali, aku akan menjadi raja disini." kata WIlliam membatin.
"Apa kau menyukai tempat ini Tuan WIlliam?" tanya Yusuf yang di dampingi oleh Dewi di sampingnya.
"Apa Anda ingin tempat ini menjadi milik Anda maka kalahkan dulu pemilik tempat ini." Ujar Dewi ikut menimpali.
"Ah aku pasti bisa mengalahkan pemiliknya siapa orangnya tunjukan padaku." sahut WIlliam.
"Hehehe, tidak perlu terburu-buru William bersenang-sanaglah dulu dengan penjaga tempat ini." kata Dewi lalu memberi isyarat agar ular-ular yang bersembunyi sepat keluar dan menyerang WIlliam.
__ADS_1
Ular ular itu mendesis siap menyerang William dengan sigap mundur namun ia tidak tau bila dibelangkangnya juga ada ular kubra berwarna emas.
Tuppppppppppp..
"AKKKKKKHHHHH." jerit William begitu kakinya di gigit oleh ular kubra emas.
"Aku punya penawarnya tuan Willim, tapi kau harus membayar mahal untuk mendapatkannya." kata Yusuf menyeringai.
"Apa maumu katakan saja." desak William sambil meringis.
"Dewi bagaimana menurutmu haruskah Ayah menolong orang yang sudah membunuh Kakek?" Tanya Yusuf pada sang putri.
"Tidak jangan Ayah dia saja tidak memiliki balas kasih saat menghabisi kakek Marcello dan kedua orang tua Kakek." jawab Dewi.
"Sayangnya Ayah ini seorang dokter menolong orang adalah pekerjaan Ayah, bagaimanapun juga Dia saudara dari Kekemu, ayah akan menolongnya." sahut Yusuf
Wajah Dewi cemberut tidak suka.
Yusuf mendekati William lalu memberikan botol obat kecil memintanya segera meminum karena racun itu sudah mulai bekerja di tubuh William.
"Bagaimana apa tubuh Anda merasa lebih baik Tuan William?" tanya Dewi teratai.
William bangkit berdiri setelah sebelumnya terduduk akibat sakit di kakinya kerena gigitan Ular.
"Oh tentu saja Ayahmu memang orang baik, aku salut padanya tidak menaruh dendam padaku meski aku sudah membunuh Ayah dan juga Kakek neneknya." Tandas William.
"Benerkah begitu lalu kenapa kaki Anda Membiru?" kembali Dewi bertanya sambil melihat Kaki William yang sempat di gigit oleh ular tadi.
"Kau... Kau ingin menipuku Yusuf." suara William tercekat menahan sakit di area kakinya.
"Apa anda tidak bisa membedakan rasa racun dan Obat?" tanya Yusuf dengan Wajah datarnya.
"Kurang ajar, kau tau siapa aku, kau akan menyesal kerena berurusan denganku." pekik William dengan suara semakin tercekat.
"Hahahahhahaha, bagaimana anda membuat Ayah saya menyesal Tuan WILLIAM yang terhormat, bahkan anda tidak tau jalan untuk kembali pulang." ejek Dewi.
__ADS_1
"Kalian menjebak kami licik sekali." cicit William.
"Kami hanya membuat perangkap dan mengiring mangsa masuk apa yang salah." ujar Dewi dengan wajah polos.
"Bagaimana dengan kamu yang memberikan racun untuk Kakek dan Nenekku setiap hari di makanan yang mereka makan mana yang licik." Yusuf bertanya dengan Nada dingin.
William tidak lagi sepat menjawab seluruh organ tubuhnya melemah di terduduk lemas di atas rumput dekat dengan hamparan bunga mawar.
" Hati-hati tuan William kulitmu akan terluka bila tertusuk duri mawar di samping kiri kananmu itu." kata Dewi penuh perhatian.
William berusaha mengumpulkan tenanganya untuk melakukan semedi dan membaca mantra, sementara Dewi tetap menguceh untuk menganggu konsentrasi William.
" Kau memiliki ajian Rawa rontek membuatmu sulit untuk di kalahkan namun bukan berarti kau tidak bisa dikalahkan." kata Dewi.
Mendengar itu wajah William yang tadinya bagai bunga layu seketika berubah ia seakan mendapatkan secercah cahaya kehidupan.
"Kenapa aku melupakan itu, bahkan meski tidak meminum penawarpun aku akan tetap hidup." batin Willem.
"Hehehe kau yang mengira kami bodoh Tuan William, yang aku beri padamu adalah untuk melumpuhkan organ tubuhmu dan juga mempercepat proses tekanan darahmu naik. Bila kamu butuh waktu berbulan-bulan untuk membuat Kakek nenekku lumpuh aku hanya perlu waktu kurang lebih Lima belas menit bunusnya adalah racun ular itu akan membuat darahmu mendidih kau kan merasa terbakar dari dalam Willim itulah yang aku katakan kau harus membayar dengan mahal. "jelas Yusuf sembari memberi seulas senyum manis di bibirnya.
" Aku tidak akan mati maski kau menyiksaku aku tetap akan hidup." teriak Willim.
" Benarkah. Coba kau lawan aku." tantang Dewi sambil maju selangkah demi selangkah mendekati Willim.
"Biar aku bantu berdiri." kata Yusuf menarik salah satu tangan Willim
Willim ingin menolak namun tarikan Yusuf begitu terasa kuat hingga ia dapat berdiri tegak. Namun sialnya saat sudah dapat berdiri yusuf melepaskannya akibatnya ia kembali terjatuh karena tidak mampu berhan dangan satu kaki saja salah satu kakinya yang terluka semakin menyiksanya ditambah semua organ tubuhnya yang melemah.
"Kenapa kau tidak mampu mengendalikan ajian rawarontek milikmu Tuan Willim harusnya kau akan baik-baik saja." Ejak Dewi..
"Dewi untuk membuat ajian rawarontek bekerja dengan baik Kekek Willim memerlukan tenaga yang cukup sedang saat ini Pisiknya sedang melemah bagaimana mungkin tenaga dalam terisi penuh bila keadaannya demikian." sela Abi yang tiba-tiba datang ia terlihat baru saja keluar dari istana lengah yang berada di hapan mereka.
Dewi teratai
__ADS_1