
Defvan terlihat duduk di kursi kebebesaran dengan angkoh.
"Mars besok kau gantikan aku memimpin rapat karna aku harus menghadiri persidangan." perintah Defvan datar
"baik tuan." sahut Mars.
Aku sudah melakukan tes DNA pada anak itu dan hasilnya mengejutkanku ungkap Defvan pada asesten sekaligus sahabatnya tersebut.
"katakanlah dengan lengkap jangan hanya sepotong" sahut Mars janggah.
"anak itu memang anak kandungku darahku mengalir dalam tubuhnya." lanjut Defvan sambil menatap sekilas raut wajah datar Mars.
"baguslah jika dia anakmu maka keinginan dari Ayahmu memiliki cucu laki-laki telah terpenuhi." sahut Mars datar.
"kenapa kau terlihat biasa saja Mars kau tak terkejut apa kau sudah tau sebelumnya?" tanya Defvan menatap ke bola mata Mars.
"Hanya logika saja kemiripan anda dengan anak itu hampir mencapai 99 persen." sahut Mars.
"kau tak sedangan menyembunyikan sesuatu dariku?" selidik Defvan.
"hal apa, yang bisa saya sembunyikan dari anda tuan Defvan?" tanya balik Mars serius.
Defvan menatap Mars mencari kebohongan dimata sang asisten namun ia tak menemukannya.
"Bagaimana menurutmu jika aku mengambil hak asuh anakku?" tanya Defvan serius.
"seorang ibu lebih berhak atas hak asuh anak." sahut Mars sambil berjalan menuju sofa lalu duduk dengan santai.
"tapi ia sudah lama merawatnya sendari bayi aku hanya memintanya tinggal denganku selama delapan tahun juga, sama seperti dia yang merawat selama delapan tahun." sahut Defvan ketus.
haahahhahaa....
Mars tertawa mendengar ucapan Defvan yang iri karna Risa bisa merawat dan melihat tumbuh kembang sang putra sedang ia tidak.
kenapa kau tertawa tanya Defvan binggung.
"kau pikiran anak itu piala bergilir." sahut Mars masih diselinggi tawa kecil.
"Mars aku juga ingin melihat tumbung kembang anakku sendiri, bercada tawa dengannya layaknya hubungan Ayah dan Anak." jelas Defvan dengan ekspresi wajah sedih.
Mars yang menyadari raut wajah sedih Defvan segera meminta maaf.
"Maaf Defvan aku tidak bermasud membutmu sedih."
sebagai seorang sahabat aku akan memberikanmu sedikit nasehat" ucap Mars memulai.
__ADS_1
Defvan segera menghampiri Mars, duduk di Sofa bergabung dengan Mars yang lebih dulu berada disana.
Nona Clarissa dan Dokter Yusuf baru saja menikah beberapa minggu, jangan kamu buat nona Clarissa bersedih karna terpisah dari putra semata wayangnya. kau bisa memulai dengan hal kecil terlebih dahulu untuk meng-akrabkan diri dari pada putramu itu. setelah ia akrab denganmu kau bisa bertanya dengannya apa ia mau ikut tinggal bersamamu!!.
dan jika anak itu tidak mau jangan memaksanya kau harus tahan egomu demi kebagian anakmu tukas Mars.
Defvan mencerna dengan baik setiap kata yang di ucapkan sahabatnya. lalu menghembuskan napas kasar.
"Aku ingin massa depan anakku terjamin Mars, aku memiliki segalanya, aku yakin ia akan bahagia tinggal bersamaku. ia bebas memilih pendidikan dimana saja yang ia mau, dan membeli apapun yang ia inginkan." tukas Defvan sombong.
"Inilah sisi burukmu aku tidak sukai Defvan kau menganggap segalanya bisa dibeli dengan uang termasuk kebahagian seseorang."
"ingatlah diatas langit masih ada langit. jangan kau sombongkan harta kekayaan yang kamu miliki karna masih ada orang lain yang jauh lebih kaya darimu. nasehat Mars.
Defvan terdiam mendengar nasehat Mars.
"Roda kehidupan itu berputar Defvan bisa jadi orang yang kau rendahkan, akan lebih kaya darimu beberapa tahun yang akan datang." ucap Mars.
"Setidaknya untuk saat ini saja aku ingin anakku tinggal bersamaku." ucap Defvan bersikeras dengan keinginannya
"Dasar keras kepala." sahut Mars.
"Sebaiknya jagan mengambil keputusan sediri bicarakan terlebih dahulu pada nona Clarissa." saran Mars.
"aku akan berbicara padanya nanti, jika ia tak mau aku akan mengajaknya menikah, dengan menikah anak itu pasti mengikuti ibunya dan tinggal bersama." ucap Defvan sambil tersenyum membayangakan ucapannya.
"Aku hanya mengambil hakku sebagai seorang Ayah." sahut Defavan santai.
"jawaban macam apa itu, hakmu sebagai seorang Ayah menyayanggi, mencintai dan memberi nafkah pada anakmu bukan menikahi ibunya yang sudah bersuami." jelas Mars.
jagan melakukan hal bodoh Defvan, aku tidak akan membantumu jika terjadi masalah kau tanggung sendiri akibat dari perbuatanmu." ancam Mars kemudian beranjak pergi.
sebelum Mars membuka ganggang pintu Defvan menghentikannya.
"tunggu Mars!!" penggil Defvan
Mars berbalik menatap sekilas Defvan yang masih duduk di sofa.
"ada yang ingin kutanyakan padamu ini terkait dengan kematian ibuku." ucap Defvan dengan wajah serius.
Mars hanya diam menunggu Defvan melanjutkan ucapannya.
kita berdua sama-sama melihat kundisi terahir mommy. apa kau percaya dengan ucapan dokter yang menyatakan Mommy meninggal karna digigit oleh binatang beracun.
Mars menggingat kembali kejadian duapuluh tahun yang lalu.
__ADS_1
Reyana keylen diyatakan meninggal karna digigit oleh seekor binatang berbisa.
"apa maksudmu menayakan hal itu?"tanya Mars sambil mentap bosnya
"aku ingin kau membantuku menyelidiki kembali kematian ibuku." jelas Defvan serius.
Mars mengeryitkan dahinya tak mengerti mengapa atasanya tiba-tiba Defvan ingin membuka kembali kasus kematian yang menimpa Reyana keylen.
Defvan kamu serius ingin membuka kasus lama." tanya Mars.
"iya aku sangat yakin" sahut Defvan.
"sebaiknya anda selesaikan dulu urusan anak laki-laki anda." sahut Mars kemudian membuka ganggang pintu dan pergi.
Defvan menarik napasnya cepat lalu membuangnya kasar.
Di Rumah Hermawan.
Vania sedang masuk kedalam ruang kerja milik Hermawan dan mencari sertipikat kepemilikan perusahaan milik Hermawan.
sudah hampir setengah jam aku menggeledah ruag kerja ini tapi tak menemukan apapun disini ucap Vania berbicara sendiri.
dikamar juga tidak ada. apa rumah ini ada ruang rahasia yang aku tidak tau?. tanya Vania pada diri sendiri.
"satu-satunya cara aku harus membuatnya mabuk berat dan menayakan dimama ia menyimpannya?" gumam Vania seorang diri.
setelah membereskan semua yang ia buat berantakan Vania kembali kemarnya.
Vania mengambil ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan pada Hermawan.
Mas pulanglah sebentar saja aku menginginkanmu. Vania menulis pesan whatsap pada Hermawan.
sabarlah sayang aku akan pulang setelah selesai rapat. balas Hermawan
aku tunggu 30 menit jibaiklahka kamu tidak palang maka aku tidak akan memberikanmu jatah ancam Vania melalui pesan whatshap.
hermawan menghela napas lalu memnghembuskan kasar.setelah membaca pesan balasan dari Vania.
"sial dia mengancamku, aku harus memajukan rapatnya." ucap Hermawan.
sematara Vania tersenyum sendiri dikamarnya.
aku harus segera memesan minuman yang mengandung banyak alkuhol ucap Vania berbicara sendiri.
Vania menuju dapur dan mengambil air didalam kulkas untuk minumannya .
__ADS_1
"dasar laki-laki tua kau pikir aku melakuannya tanpa maksud apa-apa, benernya aku sudah muak denganmu maka dari itu semua harus kuselesaikan segera. batin Vania