
Tengah hutan rimbun dengan bermacam-macam jenis tanaman besar hingga cahaya bulan tak dapat meneranggi tertutupn oleh daun-daun dari pepohonan.
Suara jengrik, binatang hutan malam serta suara tawa-tawa yang bersahut-sahutan semakin menghilang berganti dengan suara Mars yang nampak khusuk menggema takbir.
dengan suara lirih Abi mengikuti setip Adzan yang dikumandangkan oleh Mars dalam hati ada setitik harapan untuknya bisa keluar dari hutan yang terlihat begitu mencekam.
Mars serta Zahra masih bersembunyi dibalik pohon.
"Kurang ajar cari dimana manusia itu cepat habisi dia telingaku sakit mendengar suarnya." perintah salah satu Raksasa.
Dua orang mendengar perintah sang pangeran Rasasa berjalan mencari suamber suara.
Abi yang merasa diabaikan dengan sisa tenaganya beringsut mundur.
"Abuya, Kai Ahmad tolong. jika mendengar suara Zahra baca lebih keras kitab sucinya Zahra minta di tuntun jalan pulang." ucap Zahra berharap orang tuanya tau Kai mendengar ucapannya.
Mars terus berlari menjauhi dua raksasa yang sudah hampir mendekatinya.
Den penuh perhitungan Mars berlari kesalh satu pohon menyembunyikan badannya di balik kegelapan.
Zahra sudah berharil membawa Abi menjahi raksasa yang tadi menjadikannya sebagai mainan namun kedua sempat terlihat oleh salah seorang raksasa yang lebih bendek dari raksasa lainnya.
"Kejar mereka." perintahnya pada tiga rakssa lain yang berada tak jauh darinya.
"Baik Pangeran." sahut ketiga rakssa yang diperintah Panegeran Raksasa.
"Cepat sebelum ibuku dijadikan budak oleh dukun sialan itu." seru Pangeran Raksasa berteriak.
Ketiga raksasa berjalan cepat tak peduli kakinya terinjak ranting-ranting pohon atau binatang kelabang serta cacing di atas tanah.
"Ayo kak Abi cepat sedikit mereka hampir sampai." ujar Zahra sambil menuntun langkah Abi.
"Zahra kau lari saja tinggalkan aku." ujar Abi.
"Hei Ka jangan menyerah Aku dan Om Mars datang untuk membantu Ka Abi jangan sia-siakan itu. jika tidak untuk kami setidaknya Ka Abi ingat diluar sana banyak yang menyanggi Kaka terutama keluarga Kaka berjuanglah untuk lepas dari raksasa itu bersama kami Ka. jika Kaka tertangkap tidak menutup kemungkinan kami juga akan ikut tertangkap. ingat kita bersama menjadi satu bukan sendiri pasti ada jalan untuk mengalahkan tau melarikan diri." Tukas Zahra.
Dua tangan besar hampir menangkap Abi bersama Zahra tetapi keduanya dapat menghindari dengan cara berayap ditanah dan bersembunyi dibalik pohon.
Ayo Abi cari pohon yang ada durinya setidaknya mahluk besar itu berfikir mengkap kita tempat tersebut.
__ADS_1
Zahra melihat sekeliling dangan teliti hingga ia menemukan sebuah tempat berlubang disebuah pohon besar.
"Ka Disana ada lubangnya ayo kita masuk dan bersembunyi." Ajak Zahra sambil terus memapah Abi.
Abi mengikuti langkah Zahra sambil terseok-seok. "Aneh sakali kenapa badanku di tempat ini seakan tak memiliki tenaga, Aku begitu lemah." lirih Abi.
sesampainya mereka di tempat itu Zahra dan segara masuk tanpa fikir panjang Karna terdesak dengan keadaan.
"Kak Abi bertahanlah, Aku akan memangil kyai Ahmad guna meminta pertolongan." ujar Zahra.
Abi hanya bisa mengangguk badannya terasa sekit semua.
Di sisi lain Mars menutupi badannya dangan daun-daun hidup yang berukuran besar. dalam hatinya tanpa henti membaca Ayat Al-Qur'an.
Di tempat lain Risa terbagun dari tidurnya hatinya tiba-tiba gelisah tak menentu ia seperti mendengar suara sang putra meminta pertolongan.
"Sayang kenapa? Ayo tidur lagi." tegur Yusuf yang juga ikut terbagun.
"Mas hatiku tak tenang, Apa Abi baik-baik saja?" cicit Risa bertanya sambil menahan tanggis.
Yusuf merangkul pundak sang istri dan membawa kepalanya untuk segera bersandar dida bidangnya.
"Tidak Mas, Aku memiliki firasat beruk tentang Abi." jawab Risa berkaca-kaca.
"ikatan ibu dan anak itu begitu kuat entah apa yang terjadi aku berharap semoga kamu dalam keadaan baik-baik saja Nak." batin Yusuf.
Risa tak lagi kuasa menahan air matanya ia terisak di dada sang suami.
"Keluarkanlah rasa sesak didadamu setelah itu kita sholat bersama." kata Yusuf lembut.
lima menit berlalu Risa tak lagi menanggis Yusuf tersenyum sembari terus membelai rambut sang istri.
"Sayang ayo sholat bersama memintalah pada Allah mengadulah padanya." ujar Yusuf menenangkangkan
Risa mengangguk setuju.
Keduanya segera beranjak dari tempat tidur untuk berwudhu.
Tak perlu waktu lama Yusuf dan Risa kini melaksankan sholat malam bersama selasai sholat yusuf kembali mengak dang istri membaca kalam illahi.
__ADS_1
Di dalam hutan Abi, Zahra dan Mars masih berusaha meminta bantuan pada yang maha kuasa.
Mars di tangkap oleh salah seorang tangan raksasa sambil tertawa ia membawa Mars pada sang pangeran raksasa.
badan Mars yang di gengang oleh Raksasa terasa sesak dan pengap.
Di rumah Kyai Ahmad selesai sholat malam ia sayup- sayup mendengar suara anak bungsu Ustazd Akbar meminta pertolongan.
Dengan rasa penasan Kyai Ahmad bangkit dari sajadah berniat mendatanggi rumah Ustadz Akbar.
langakah demi langkah ia tapaki hingga tak lama ia sampai dijalan yang dapat melihat jelas Rumah Ustazd Akbar.
"Atagfirullahalazim." ucapnya ketika matanya tertuju pada Zahra dan juga Mars yang sedang berdiri di halaman rumah di kelilingi oleh Api banaspati.
Tak menunggu lama Kyai Ahmad memanggil beberapa orang santri via telpon untuk membantunya.
Dalam maktu singkat lima Orang santri berada dihadapan kyai Ahmad sambil mengucap salam sermpak.
"Assalmualaikum pa kyai"
"Waalaikum salam."
"kengalilingi Zahra dan Mars." perintah Kyai Hasan setelah menjawab salam dari lima santrinya.
sebelum santrinya datang Kyai Ahmad sempat mencari keadaan Zahra dan Mars yang tanpa Roh atau hanya raganya yang berada dihapannya.
"Kalian bantu Memadamkan Api banaspati yang mengelilingi mereka. jika tidak sanggup atau ada serangan lain yang datang. mintalah bantuan yang lain tau panggil kyai Hasan. saya harus melihat dan membatu Ustadz Akbar." ujar Kyai Ahmad.
"Kami mengarti pak Kyai." sahut lima orang santri serentak.
Kyai Ahmad segera berlalu setelah mengucapkan salam dan meminta santrinya berhati-hati.
Kyai Ahmad mengetok dan mengucap salam namun tak ada sahutan membuatnya semakin yakin ada yang tidak beres didalam ruamah Ustadz Akbar.
Kyai Ahmad membuka pintu rumah Ustadz Akbar yang tidak terkunci lantas ia mencari keberadaan sang sahabat. telinganya mendengar suara lantuan ayat suci dari dua orang.
"Assalamualaikum." ucap Kyai Ahmad sesampainya di kamar tamu rumah Ustadz Akbar.
"Walaikum salam." sahut Ustadz Akbar menghentikan sejenak.
__ADS_1
Mata kyai Ahmad melihat Keadaan Abi yang dalam keadaan tidak baik-baik saja ia lantas duduk bersila di samping Abi sambil meletakan tanganya di kening Abi untuk mengatahui apa yang dialami oleh Abi.