Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Kisah saudara kembar.


__ADS_3

"Untuk menjadi kaya kau mendekatiku, apa kau bersandiwara saat di kejar rentener waktu itu?" tanya Willem penuh selidik.


"Tidak, itu nyata aku memang memiliki hutang lumayan banyak pada rentener hingga untuk menghindarinya aku menjadi dukun, tak aku sangka propesiku itu mengantarkan aku menjadi istri orang kaya." hehehehe ucap Marcella.


"Dulu kau mengatakan jika pekerjaan sebagai seorang penghibur bagi pria kesepian apa itu benar?" tanya Willem sambil menatap wajah sang istri.


"Ya itu sewaktu aku tinggal di kota kecil tempat kelahiranku, Aku memutuskan merantau ke kota tetangga berharap nasib mujur, Aku menetap di kota ini setelah memanipolasi anak tidak berguna itu" ujar Marcella.


"Demi menghindari kejaran polisi?".


"Bukan, aku pergi karena tak ingin mengingat anak itu lagi, rumah dan kota itu memiliki banyak kenangan tentangnya." cerita Marcella.


"Benarkah, kau menjadi dukun saat itu, bukankah dukun harus bisa melihat hal yang gaib terutama harus bisa memenuhi keinginan pelanggan. apa kau mempelajari sihir atau ilmu hitam?" tanya Willem.


"Aku tak perlu menjawab itu Will kau sudah tau jawabannya!!" sahut Marcella bergegas meninggalkan Willem


"Oya, jangan lupakan undang Devan besok pastikan ia datang oke." Minta Marcella dengan suara agak keras karena jaraknya dengan Willem agak jauh.


"Hmmmmmmm." sahut Willem sambil menghela napasnya.


"Devan, aku tidak yakin dia mau datang ke pesta ulang tahunmu Marcella, meski Aku sudah membantumu mendekati dan meluluhkan hatinya tetaplah Devan membencimu." batin Willem.


"Sudah lama aku tidak berkunjung, sebaiknya aku menemui anakku lelakiku itu." gumam Willem.


"Hello Dad bagaimana kabarmu?" sapa Devan sambil berjalan menghampiri sang Ayah.


"Devan, aku beru saja berpikir akan mengunjungi kamu, kau sudah lebih dulu datang menemui aku." sahut Willem.


Devan mengerutkan keningnya penuh tanya.


"Besok Marcella akan mengadakan pesta ulang tahun bisakah kau datang?" tanya Willem.


"Tidak besok aku akan ada pertemuan penting dengan rekan bisnisku. Sudahlah Dad jangan menungguku dan berharap padaku aku tidak menyukainya jadi tak mungkin datang meski aku memiliki waktu luang." jelas Devan.


"Dev, dia sudah membebaskan kamu, dia yang membantumu mencari pelaku yang sebenarnya, tak bisakah kau mengucapkan rasa terimakasih dengan hadir di pesta ulang tahunnya." bujuk Willem.


"Aku tidak memintanya membantuku!" jawab Devan santai.

__ADS_1


"Dev cobalah menerimanya dengan lapang." bujuk Willem.


"Berhentilah merayuku Dad, aku tidak akan mengubah keputusanku." ujar Devan Mantap sambil berdiri dan berjalan meninggalkan Willem.


"Anak keras kepala." batin Willem.


Devan mencoba membuka kamar sang ibu sewaktu masih hidup tetapi tidak bisa di buka ia mendorong sekali lagi tetap saja pintu itu tidak terbuka. "apa ada orang didalam sana." gumam Devan.


mawar membuka pintu melihat Devan berdiri didepannya.


"heyyyyyy siapa kau, berani sekali masuk kamar milik ibuku!!" bentak Devan


Marcella yang mendengar suara ribut segera menghampiri begitu pula dengan Willem.


"Dia saudara jauh ibumu Marcella Dev, ia hanya sedang berlibur disini Ayah sudah mengijinkannya sementara menepati kamar itu." jelas Willem.


"Aku tidak mengijinkannya, lihatlah ia mengubah banyak hal di sana." tunjuk Devan sembari meneliti setiap tempat di kamar Ibundanya.


"Dev kita bisa mengembalikannya setelah Mawar pulang, biarkan ia tidur tinggal disini hanya tiga sampai empat hari saja ia baru ke kota ini tidak ada salahnya memberinya tempat bernaung." ungkap Willem.


"Carilah tempat lain, aku tidak menyukai kamar ibuku ditepati wanita selain ibuku." sahut Devan sambil menetap Mawar.


"Maaf tuan Aku akan pergi mencari penginapan jika memang tuan tidak mengijinkan saya." ucap lembut Putri Arum sambil tersenyum manis.


"Wanita ini mengapa begitu cantik apalagi saat tersenyum." batin Devan mengagumi kecantikan Putri Arum.


"Sebaiknya kamu tidur dikamar tamu." tukas Devan saat kesadarannya kembali.


"Terimakasih Tuan, nanti saya akan cari tempat penginapan." ujar Putri Arum.


"Kau anak dari si tua Willem rupanya akan aku buat kau menyukaiku dan berada dibawah kendaliku." batin Putri Arum.


"Bawa semua pakaianmu ke kamar tamu, ku beri waktu 5 menit."Seru Devan memerintah.


"Hari ini hari peringatan kematian ibu aku akan istirahat disini, Apa Ayah melupakan itu !!". tegas Devan sambil menatap sang Ayah.


"Ahhh maaf nak Ayah ini sudah tua hingga melupakan itu. Apa kau mau Ayah menemani dikamar ibumu untuk mendo'akan ibumu." Ujar Willem.

__ADS_1


"Tidak perlu, kau urus saja istri keduamu dan juga keluarga itu pastikan ia tidak menyentuh barang-barang milik ibuku.". Minta Devan tegas. sambil berlalu menuju taman di belakang rumah Willem.


Di lain tempat keluarga Yusuf sudah berkumpul di ruang rahasia milik Marcello.


Kyai Hasan dan Kyai Ahmad juga ikut serta mendengarkan Kisah massa lalu Willem dan Marcello.


"Baiklah karena semua sudah berkumpul sebaiknya cerita Marcello sewaktu masih remaja dikisahkan oleh Kyai Ahmad dan Kyai Hasan mereka berdua adalah sahabat Marcello dari kecil." ungkap Umi sambil menetap kedua sahabat almarhum suami tercinta.


"Baiklah saya akan melanjutkan cerita yang sempat terputus di rumah sakit saat itu." sahut Kyai Ahmad.


flashback on.


setelah mendapat penjelasan dari Raden Mas saya dan Hasan bergegas mencari membantu dan tukang kebun di rumah Marcello.


"Semoga saja Willem tidak menghabisi kedua orang yang bisa menjadi saksi untuk membebaskan Marcello diri kantor polisi." ucap Ahmad sambil mempercepat langkahnya.


"Kita harus waspada dan berhati-hati jangan sampai Willem menyadari niat kita kerumahnya." tutur Hasan.


"kau benar Hasan, lihatlah Willem sedang berada di teras rumah, ayo kita temui" ajak Ahmad sambil berjalan masuk ke pekarangan rumah Marcello.


"Assalamualaikum Will, maaf saya baru datang dari kota dan mendapatkan kabar duka dari Hasan. maksud kedatangan saya ingin mengucapkan turut berduka saya tidak menyangka Orang tuamu pergi secepat ini." ungkap Ahmad sambil menunjukan raut sedih.


"ini semua karena ulah Marcello, semua tidak akan terjadi jika ia tidak ada. ibu dan Ayah pasti akan baik-baik saja andai aku memberikan kitab yang Ayah berikan padaku." ujar Willem.


"Apa Marcello iri padamu Will?" tanya Hasan.


"Ya ia mau menjadi orang yang hebat hingga serakah ingin mempelajari berbagai ilmu termasuk kitab yang Ayah berikan padaku." ucap Willem sengaja memutar balikan Fakta.


"Tak aku sangka ternyata hatinya memiliki sifat iri ia bahkan bisa menyembunyikannya dari kita." jawab Ahmad sambil melirik Hasan dan berkedip.


"Will apa kau baik-baik saja apa ada luka yang disebabkan saudara kembar itu?" tanya Hasan dengan Wajah di buat Khawatir.


"Hanya tanganku saja tergores Arit yang Marcello gunakan untuk melenyapkan Kedua orang tua kami." sahut Willem.


"Kau melihat semua yang dilakukan Marcello?" tanya Hasan.


"iyaaaa ia mengikatku dengan seutas tali. lalu memotong-motong badan ibu dan Ayah seperti memotong ikan sambil bersenandung dan tertawa." cerita Willem.

__ADS_1


"Willem kau pasti mengalami rasa takut saat melihat dan menyaksikan apa yang yang dilakukan seudaramu di rumah ini bagaimana jika kami menemanimu." ucap Ahmad.


__ADS_2