Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Pertolongan


__ADS_3

Dewi berada dirumah kosong ia terlihat bingung kenapa berada disini tempat yang sama sekali belum pernah ia kunjungi.


"Kyai Ahmad kenapa lagi orang tua itu mengirimkan aku kemari, awas saja bila ini membahayakan aku." batin Dewi matanya menindai sekeliling.


"Nak apa yang kamu lakukan di situ?" tanya seorang lelaki berambut gondrong.


Dewi menoleh seraya menjawab. "Saya tadi nyari teman kelinci saya pak tadi lari kesini, bapak lihat tidak?" sambil tengok kanan kiri mencari sesuatu.


"Aduh saya tidak lihat nak, sebaiknya kamu pulang saja disini bukan tempat bermain." sahutnya.


"Tapi saya akan dimarahi kakak saya kalo senpai pulang tidak bawa kelinci itu." kilah Dewi sambil mengerucutkan bibirnya.


Pranggggggg.....!!!


Dewi terkejut mendengar seperti benda Aluminium jatuh kelantai.


"Suara apa itu." batinnya.


"Gawat bila sampai gadis kecil ini tau dibawah bangunan ini ada laboratorium bisa-bisa ia akan menceritakan pada warga disini aku harus segera membuatnya pergi dari sini." batin Lalaki berambut gondrong yang ternyata salah seorang anak buah William.


Lelaki berambut Gondrong mendekati Dewi menakuti Dewi agar ia mau pergi, meskipun tidak membawa kelincinya yang hilang namun Dewi tetap bersikeras ingin mencari kelinci itu.


Melihat kegigihan Lelaki gondrong di depannya membuat Dewi yakin bila ada yang Lalaki itu sembunyikan di tempat ini.


"Aku harus mencari tau sendiri." batin Dewi bertepatan dengan itu seekor ular kubra tiba-tiba menggigit kaki lelaki berambut gondrong.


Lelaki itu sempat menjerit sakit


"Oh terimakasih ular kau menolong aku." gumam Dewi.


Ular itu menatap dalam mata Dewi begitu pula sebaliknya keduanya seakan saling bicara melalui mata.


Tidak lama ular itu merayap dan entah karena apa Dewi melangkah mengikutinya hingga sampai kesebuah kamar kosong dirumah terbengkalai itu. sang Ular berhenti tepat diantara lantai keramik yang terlihat sudah patah dua.


"Apa yang dia maksud." batin Dewi melihat ulah itu menatapnya lalu mengerak-gerakan ekornya ke kramik lantai.


Dewi mendekat tangan kecilnya mengangkat pelan keramik yang berada di lantai, alangkah terkejutnya ia mendapati lubang besar yang ada di bawah kramik dengan rasa penasaran Dewi terus mengangkat kramik lain dan mendapati jalan menuju ruang bawah tanah.

__ADS_1


Semantra Lelaki berambut gondrong sudah pingsan beberapa menit usai di gigit SANG ular.


Ular lebih dulu masuk diikuti oleh Dewi, sang ular menjadi penunjuk jalan sesekali ia mendesis agar Dewi berhati-hati.


Mentara Risa masih berada dikamar mandi ia masih berpura-pura membersihkan diri sampai sebuah ketukan mengagetkannya.


"Cepatlah selesaikan mandimu" Seru William dari balik pintu setengah berteriak.


Risa terkejut ia berpikir keras mencari alasan agar bisa mengulur waktu kembali.


Dewi sudah masuk kedalam laboratorium Ular itu membawanya bersembunyi dan melihat apa yang dilakukan oleh William saat ini.


Di tempat berbeda Devan sudah mendapatkan telpon dari orang kepercayaannya memberi taukan bahwa Tuannya bisa masuk kedalam laboratorium milik William segera.


Dengan hati berdebar Devan menuju ketempat tersebut namun ditengah-tengah perjalanan putri Arum menghalanginya wanita itu meminta Devan segera pulang tanpa mau dibantah.


"Sial kau benar-benar membuat aku kesal Arum." Umpet devan ia tetap melanjutkan perjalanan menuju laboratorium milik sang Ayah tanpa peduli dengan perintah Putri Arum.


Begitu sampai di tempat tujuan orang kepercayaannya sudah menyambutnya dan menunjukkan jalan agar Sang tuan segera masuk kedalam ruang bawah tanah.


Devan memaki baju serba Hitam mengunakan penutup wajah berupa topeng hitam yang sudah di sediakan Sebelumnya oleh orang kepercayaannya ada pula sebuah pitol ditangan kanannya.


Badan Devan panas dingin ia tau itu pasti perbuatan perbuatan putri Arum namun ia tidak memperdulikan hal itu.


Tanpa Devan tau Mars bersama Abi melihatnya mengganti pakaiannya. Seakan tau bila sang Ayah akan menyelamatkan ibundanya Abi bergerak cepat mengikuti langkah demi langkah Devan begitu pula Mars.


Di dalam laboratorium itu William mempekerjakan beberapa orang mereka berduri di tempat masing-masing beberapa diantaranya terkapar tak sadarkan diri akibatkan gigitan ular.


Risa keluar dari kamar mandi ia berusaha tenang dan berjalan angkuh tanpa rasa takut. Meski sebenarnya ia sangat takut mengingat dia hanya sendiri walau sang suami sudah membarinya beberapa obat untuk menangkal racun tetap saja Risa merasa gelisah.


Sebelum Risa ikut orang suruhan William Yusuf menyelipkan beberapa kapsul obat kedalam kantong celana sang istri saat berusaha membantunya berdiri akibat terjatuh atau segeja berpura-pura jatuh untuk mengelabui musuh.


Prang.............!!!


Suara benda terjatuh menghentikan William dari Aktivitasnya yang ingin mengambil body lation untuk mengoles permukaan kulit Risa.


Devan segeja menjatuhkan sesuatu untuk mengalihkan perhatian Sang Ayah.

__ADS_1


Dua anak buah William sudah di hajar oleh orang kepercayaan Devan sedangkan sisinya masih setia menutup matanya keren gigitan ular.


William berjalan melihat benda apa yang jatuh dan dimana anak buahnya kenapa tidak satupun diantara mereka datang untuk melihat kenapa benda yang seharusnya tidak jatuh bisa jatuh sendiri.


Karang......


Orang kepercayaan Devan mengalihkan kembali pergantian William.


Sepertinya ada yang tidak beres Gumam William.


Sementara Risa memperlihatkan body lation milik William ke depan kemera kecil yang tersembunyi di bros hijab yang pakai tidak lupa Risa mengambil sedikit body lation untuk di teliti oleh sang suami nanti ada pula beberapa pemula racun lain yang di ambil Risa.


"Bunda." bisik Dewi anak berhasil mendekati Risa tanpa sepengatahun William.


Dewi ujar Risa terkejut.


Ayo pergi Bunda ikuti aku ajak Dewi.


Sedangkan Devan melihat Risa berbicara sendiri tanpa melihat sosok Dewi menjadi bingung ia ingin berlari membawa Risa pergi namun belum mendapat kode dari orang kepercayaannya.


"Ayah." ujar Abi menepuk pundak Devan pelan.


"Devan terkejut ia begitu hapal suara yang memanggilnya mungkinkah ini nyata atau hanya hayalanku saja." batin Devan melamun.


Devan sentak Mars menginjak kaki Devan


Devan terkejut berteriak kecil.


William sedang berkelahi dangan orang kepercayaan Devan


" Ayah pergilah biar kami yang menolong Bunda bila Kakek tau ia pasti akan sangat marah dengan Ayah." kata Abi.


"Benar Dev pergilah urusan Risa serahkan pada kami cepat bawa orang kepercayaanmu pergi aku akan mengalihkan perhatian William kau dan orang kepercayaanmu larilah keluar." ujar Mars ikut menimpali.


Devan begitu ingin memeluk putranya tidak dapat ia pungkiri bahwa ia merindukan sosok sang putra. Ia masih terkejut bisa bertemu dengan putranya dalam waktu yang tidak tepat seperti saat ini.


Dewi dan Risa sudah menyelinap keluar sedangkan Abi segeja keluar dari persembunyiannya bersama Mars agar William melepaskan orang kepercayaan Devan yang sudah terluka pada beberapa bagian maskipun tidak parah.

__ADS_1


__ADS_2