Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
curiga


__ADS_3

Drattttt....dratttt ponsel milik ibu tiri Defvan bergetar.


Marcella segera menerima panggilan dari Willem


"hallo mas, ada apa?" tanya Marcella.


"kau temui saja Defvan di kantor polisi aku tak perlu menjelaskan tugasmu." sahut Willem dari sebrang telpon.


"terimakasih atas kerjasamanya Mas." ucap Marcella tersenyum miring lalu mematikan sambungan telpon secara sepihak.


"bagus Willem, ini belum seberapa aku akan membuatmu tunduk dibawah perintahku." batin Marella lantas pergi kekantor polisi untuk menyelesaikan masalah anak tirinya.


sesampainya di kantor polisi ia melihat jangkah pada Risa yang masih kekeh menuntut Defvan.


Mars dan Defvan yang melihat kedatangan Marcella memutar bola matanya malas meliahat ke arah Mercella yang sedang tersenyum pada mereka.


"Bulu kudukku merinding melihat senyuman itu Def." bisik Mars di telinga Defvan.


Defvan menanggapi dengan senyum kecut.


"silahkan duduk Bu, apa anda orang tua dari bapak Defvan." ucap seorang polisi bertanya Ramah.


"Ya, saya ibunya Ayahnya sedang berhalangan hadir untuk itu saya mengantikannya." ucap Marcella lembut sambil mendaratkan pantatnya di kursi.


"Anak ibu melakukan penembakan terhadap Dr Yusuf?" jelas polisi di depan Marcella.


"Anak saya tidak mongkin melakukan itu pak, saya merawatnya sejak ia ditinggal pergi ibunya, dia tak pernah berani melakukan tidakan yang membahayakan nyawa orang lain." cerita Marcella.


"anak ibu mengaku jika tembakan itu salah sasaran ia ingin menembak seorang pengemis yang hendak menikam seorang anak laki-laki di depan sekolah."


"saya percaya apa yang di katakan oleh putra saya pak, Dia terpaksa melakukan penembakan karna jaraknya yang mongkin saat itu jauh dari anak laki-laki itu." jelas Marcella sambil menatap sekilas Defvan.


polisi di depan Marcella menganguk mengerti.


"Maaf pa, apa boleh saya bawa pulang Putra saya? mengingat semua ini adalah unsur ketidak sengajaan?" tanya Marcella.

__ADS_1


"Ibu Marcella, pihak keluarga korban menuntut Anak anda, jadi untuk saat ini putra anda Defvan harus berada disini, kami tidak ingin menanggung Resiko jika putra Anda melarikan diri." sahut polisi didepan Marcella.


"Apa saya bisa bertemu dan berbicara langsung dengan keluarga korban?" tanya Marcella.


"Ibu tunggu dulu istri dari Korban sedang berada di dalam. jika nanti sudah keluar ibu bisa berbicara baik-baik padanya. ingat jangan melakukan tidak kekerasan." nasehat pa Roy.


"saya nengerti pak." Sahut Marcella lembut.


Mars berpamitan ke pada Devfan ia tak bisa meninggalkan perusahan tanapa pengawasan terlalu lama. Defvan memintanya mengawasi semua gerak gerik Marcella karna Defvan mencurigai ibu tirinya atas masalah yang menimpanya saat ini, dan Mars menyetujui itu.


Risa sedang berbicara pada Polisi bersama dengan Bara tentang masalah Umi.


Risa sudah bertanya pada pelaku siapa yang membayarnya, melakukan kejahatan. lelaki peruh baya itu menjawab jika orang yang menyuruhnya tidak pernah mengajaknya betemu bertatap muka hanya suara melalui ponsel suara laki-laki Jelasnya Yakin. saat Risa kembali bertanya kenapa bapak mau dibayar melakukan itu, pelaku mengatkan ia perlu uang untuk biaya berobat putrinya.


Risa terdiam mendengar jawaban pelaku pengantar makanan untuk Umi itu, di satu sisi ia merasa iba dan disisi lain pelaku juga bersalah dan harus medapatkan hukuman.


"baiklah pak pihak kepolisian akan terus mencari orang yang membayar bapak itu, saya harap bapak tidak menyembunyian apapun dari mereka." tukas Risa tegas.


setelah dirasa cukup Risa mempersilahkan peria paruh baya itu kembali kedalam Sel.


Risa menceritakan pada Bara kenapa dia yang datang kemari bukan Yusuf.


bunggggggg


Defvan merigis sudut bubirnya mengeluarkan sedikit darah akibat terkena megam mentah secara tiba-tiba dari Bara.


Dua orang anggota polisi segera menarik Bara menjahi Defvan.


"tenangkan diri anda pak, jagan membuat kekacawan disini, Anda taukan saat ini Anda berada di kantor polisi, jaga sikap anda!!" ucap Pak Roy menesihati sambil menatap Bara.


"Defvan kau sudah berani menembak sahabat baikku!! aku tau kau orang kaya dan anak yang bersama Yusuf itu adalah anak kandungmu, bukan berarti kau bisa bertidak sesuka hatimu hanya karna anak kandungmu memilih ikut ibunya dan Yusuf. tak semua orang gila akan harta Defvan kau ingat itu, kau harusnya tau diri setelah bertahun-tahun membuat ibu dan anak itu sengsara lantas saat ada orang yang mau menerima dan mengangakat derajat mereka kau ingin mengambilnya kembali, benar -benar memalukan" ucap Bara sambil menatap jijik.


"Jaga mulutmu jika kau tak tau apapun jagan asal bicara." bentak Defvan takterima.


"jika aku ingin melenyapakannya kenapa tak dari dulu aku melakukannya." ucap Defvan.

__ADS_1


"itu karna kau tak lagi punya pilihan untuk mewujudkan mimpimu itu." ungkap Bara tajam.


"sudah pak Bara, sekali lagi saya ingatkan jagan membuat keributan, masalah ini biar kami tanganani." ucap pa Roy tegas.


Risa segera menarik baju Bara dan membawa pergi dari kantor polisi.


"jagan bertidak gegabah itu bisa jadi masalah baru untuk kita." nasehat Risa.


"maaf aku terbawa emosi." sahut Bara.


sematara Defvan mengusap bibirnya yang terasa perih.


dengan santai Marcella mendekati Defvan dan berucap kamu tidak apa nak?" tanya Marcella ramah.


Defvan hanya menatap malas ia muak mendengar basi basi ibu tirinya.


"kamu tidak perlu khwatir Def aku akan membebaskanmu dari sini." ucap Marcella sambil tersenyum.


"aku tak butuh bantuanmu." sahut Defvan dingin.


"kau hanya korban pelakunya masih berkeliaran diluar sana sedang kau menerima hukuman atas perbuatannya. aku tak akan membiarkan putraku menerimanya begitu saja." segut Marcella.


"jika tidak menemukannya aku akan menemui dokter Yusuf untuk memintanya mencabut gugatan padamu. Aku yakin dia tau apa yang kau katakan itu benar untuk itulah ia menarik putramu dedalam dekapannya." ucap Marcella.


Defvan mengangakat Wajahnya memandang sekilas ibu tirinya lantas tersenyum kecut.


"kau ingin mengambil simpati dariku Marcella?" tanya Defvan malas.


"tidak sama sekali, sabagai seorng ibu tentu aku akan melalukan apapan untukmu Def, aku menyangimu." Sahut Marcella dengan Ekspresin sedih.


"tak udah bersandiwara di hadapanku rubah, aku tau akal licikmu." tukas Defvan .


"aku akan membuktikan padamu nak jika aku begitu menyangngimu." sahut Marsella lantas berlalu pergi dengan wajah sedih.


Defvan masuk kembali ketempatnya ditahan semantara waktu.

__ADS_1


"Apa yang dikatakan Wanita tua itu benar jika tidak bisa menemukan Pelakunya maka aku bisa meminta Dokter Yusuf mencabut tuntutannya." gumam Defvan.


"aku akan meminta bantuan Mars menemui dokter Yusuf dan berbicara emapat mata padanya." Batin Defvan segera memanggil seseorang untuk membatunya melakukan penggilan telpon.


__ADS_2