
Abi menatap pada mata sang Ayah seolah mencari kebohongan dimata Devan.
"Apa Ayah tak mengingat apapun?"
"Tidak Ayah hanya tau Ayah tidur dikamar Ayah saat terbangun kenapa ada dikamar ini dan tiduran di lantai." tukas Devan.
"Apa Ayah bermimpi lagi?" tanya Abi.
"Tidak, kenapa jelaskan dengan Ayah apa yang terjadi." desak Devan.
"Sebaiknya kita mencari tempat duduk yang yang nyaman untuk bercerita." kata Abi.
Ayo Ayah, biar Abi bantu lanjut Abi sembari membantu Devan bangun dan memapahnya kasur.
Devan merasa senang senyum mengambang dari bibirnya,
"Aku senang kau begitu perhatian padaku. momen ini tak akan Ayah lupakan nak, sungguh Ayah berharap kamu berada disisi Ayah. Rumah ini terasa hidup saat kau berada disini hati ini terasa tenang." batin Devan.
sungguh lengkap jika Ibumu saat ini berada disini ucap Devan dalam hati.
Abi menceritakan ada seekor gorila ingin mengendalikan badan Devan namun ia berhasil mengusir pergi.
"gorila masuk kedalam tubuh Ayah, maksudmu Ayah kerasukan seperti cerita-cerita dalam novel begitu?"
"Iya bisa dibilang seperti itu." sahut Abi.
"itu tidak mungkin Abi, Ayah tidak merasakan apapun selain lelah dan sakit badan." tutur Devan sambil tertawa.
"sudahlah Ayah sebaiknya Ayah tidur saja dikamar ini bersama Abi." ujar Abi.
"kau sudah besar masih saja ingin tidur ditemani orang tua." ledak Devan.
"Aku hanya tak ingin hal yang sama terjadi lagi lebih baik Aku waspada." batin Abi.
"Hehehehe, apa Ayah keberatan?"
"tentu tidak nak, ayo berbaringlah." ajak Devan.
Di lain tempat Mawar kesal karena Abi berhasil memusnahkan jin kirimannya.
"Anak itu boleh juga, liat apa yang akan kulakukan karena kamu mencampuri urusanku." gumam Mawar.
"Aku harus bisa mendapatkan perhatian anak Willem itu bagaimanapun caranya aku harus mendapatkannya untuk mencapai tujuanku." lanjutnya sambil menghela napas kasar.
malam gerhana sebentar lagi aku harus menemui raja jin untuk meminta bantuannya kata Mawar sambil mengunci pintu kamar ia kemudian berbaring di atas kasur melepas raga.
Di rumah Yusuf dan Risa terbangun saat mendengar suara azan subuh berkumandang.
"Mas kamu mandi saja di dulu aku akan mandi di bawah." ujar Risa..
"Biar kamu yang mandi di sini sayang." Sahut Yusuf sambil bergegas keluar kamar untuk mandi.
Risa segera masuk kedalam kamar mandi pandangan kabur kepalanya terasa pusing ia mencoba berpegangan di dinding sambil memijat pelipisnya.
__ADS_1
perutnya terasa mual beberapa saat setelahnya ia mengeluarkan isi perutnya
Uwwwwweeeekkkk..
Uweeeeekkkk
selesai muntah Risa mencuci mulutnya dan berkumur-kumur ia berjalan kembali ke kasur sambil berpegangan pada dinding.
Yusuf kembali ke kamar melihat wajah sang istri pucat lantas bertanya.
"Sayang ada apa wajahmu terlihat pucat?"
"kepalaku pusing, perutku mual." sahut Risa lemah.
"Istirahatlah sayang, ini air putihnya kamu minum dulu." tutur yusuf sambil menyerahkan segelas air putih.
Tanpa menjawab Risa mengambil air putih ditangan suaminya dan meminumnya separuh menyerahkan kembali ke Yusuf.
Yusuf memegang kening sang istri untuk mengetahui suhu badannya.
"tidak panas." gumam Yusuf
"Berbaringlah Sayang, bagaimana dengan haid mu bulan ini, sudahkah?" tanya Yusuf.
"belum Mas harusnya tanggal lima belas kemaren!" ujar Risa sambil berbaring.
Yusuf tersenyum kecurigaannya terbukti.
"Mas sholat dulu nanti kita periksa." ujar Yusuf sambil menyelimuti Risa.
Risa mengangguk.
saat Yusuf sedang sholat Risa beranjak dari kasur menuju kamar mandi ia kembali memuntahkan isi perutnya berkali kali.
selesai sholat Yusuf menyusul sang istri di kamar mandi memapahnya kembali ke kasur.
Yusuf mengambil tas yang berisi alat-alat kedokterannya memeriksa yang istri.
beberapa saat selesai memeriksa istrinya Yusuf tersenyum manis sambil memasukkan kembali alat yang ia gunakan untuk memeriksa istrinya.
"Kamu baik-baik sayang hanya perlu istirahat yang cukup untuk memastikan dugaan akan ku akan ku telpon doktor kandungan." ujar Yusuf.
"Apa mas memikirkan kembali mimpi itu dan menyakini bayi perempuan itu tumbuh di rahimku?" tanya Risa.
"Bukan karena itu Sayang, biar Doktor Ageta menjelaskan padamu nanti." ucap Yusuf.
Yusuf mengambil ponsel menelpon Dokter Ageta memintanya datang kerumahnya pagi ini.
jam 7 pagi dokter Ageta sampai di rumah Yusuf memeriksa keadaan Risa.
Dokter Ageta mengunakan alat testpack untuk memastikan kecurigaannya.
Sambil menunggu hasilnya ia sesekali bertanya keluhan pasien.
__ADS_1
Beberapa saat berlalu hasilnya bisa ia lihat dari testpack.
"selamat ya dokter Yusuf, istri anda positif hamil." ujar Dokter Ageta sembari tersenyum ramah.
"Alhamdullilah terimakasih Ageta." sahut Yusuf membalas senyum tamannya.
"jadi saya hamil Dok?" tanya Risa memastikan.
"Iya Bu, selamat ya. usia kandungannya Masuk minggu kelima." jelas Dokter Ageta.
"Dokter Yusuf usia kandungan istri anda masih lemah, sebagai seorang dokter anda tentu tau bagaimana menjaga kesehatan, pola makan, serta menjaga emosi istri Anda." ucap Dokter Ageta.
"Akan saya jaga dengan baik kepercayaan yang dititipkan dalam rahim istri saya." sahut Yusuf mantap.
"tak hanya sampai disitu Dokter Yusuf anda juga harus menahan diri, bersabarlah menghadapi istri yang sedang mengidam." Tutur Dokter Ageta.
"Ya terimakasih sudah mengingatkanku Ageta" sahut Yusuf.
"Ini ada resep obat untuk mengurangi mual, pusingnya serta vitamin." ujar Dokter Ageta ramah sambil menatap sekilas yusuf dan memberikan resep obat.
Yusuf menerima resep obat dan membacanya.
"jika begitu saya permisi Dok." pamit Ageta.
"oh iya jika anda masih ragu dari hasil testpack anda bisa membawa istri Anda ke rumah sakit." kata Dokter Ageta sembari berjalan.
"saya percaya, Ageta." kata Yusuf. sambil mengikuti dokter Ageta berjalan meninggalkan kamar Risa.
"terimakasih untuk kepercayaan mu padaku sampai bertemu di rumah sakit Dok saya buru-buru ada jadwal operasi pagi ini." ujar Dokter Ageta.
Dokter Ageta meninggalkan kediaman Yusuf dengan mengendarai mobil.
Di rumah Devan Abi sedang sarapan bersama Devan.
"bagaimana tidurmu di samping Ayah apa kamu nyenyak?" tanya Devan membuka percakapan sambil meminum teh.
"iya Abi merasa nyaman dan nyenyak ." kata Abi sambil menyendok nasi goreng.
"Apa Ayah memasak ini?"
"iya, apa rasanya tak enak?"
"hemmmm, kurang garam Ayah." komentar Abi.
"kamu makan yang lain, biar itu tak usah dimakan." kata Devan.
"mubazir Ayah, ini sudah dibuat dengan susah. Ayah juga meluangkan waktu untuk membuatnya Abi menghargainya, untuk itu akan Abi habiskan ini." tukas Abi.
"Jangan memaksanya, jika tidak enak." cicit Devan.
Abi tersenyum simpul sambil terus menyendok nasi goreng di piring memasukan kedalam mulutnya.
"Abi sudah bilang ini hanya kurang garam untuk bumbu yang lain sudah pas, tidak masalah Ayah ini kemajuan yang baik Abi berkomentar begitu bukan untuk membuat Ayah kecewa, Abi tak mau berbohong untuk mendapatkan hasil yang sesuai kadang kita berkali-kali gagal dan mendapat komentar pedas. pesan Abi jangan pernah menyerah, hanya karena satu komentar yang membuat Ayah mundur." jelas Abi.
__ADS_1