Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Ganguan


__ADS_3

Melihat keberadaan Kyai Dewi dangan tidak sabar mengutarakan maksudnya mencari beliau.


"Kyai aku ingin mengambil mustika milikku." ujar Dewi terus terang.


Kyai Ahmad tersenyum tipis seraya bertanya. "untuk apa dua mustika itu? "


"Tidak perlu banyak tanya dua Mustika itu milikku terserah padaku untuk apa." ketus Dewi sambil. Mengulurkan tangannya meminta.


"Benda seperti itu tidak boleh ada didalam tubuhmu Nak, Dua Mustika itu akan kembali dengan sendirinya bila sudah tepat waktunya. sekarang lebih baik kamu bersiap untuk melakukan tirakat di mulai dari malam ini." jelas Kyai Ahmad membuat kedua mata Dewi layu karena kacewa.


"Tidak aku tidak mau terjadi kekacauan di dunia fana ini hanya karena aura yang dimiliki dua mustika itu. kau tau Kyai dua Mustika sakti ini banyak di buru paru dukun dan penganut ilmu hitam." terang Dewi mencoba memberi pengertian berharap Kyai mau memberikan Dua mustika sakti miliknya.


"Aku tau, untuk itulah aku menyimpan ditampat khusus yang tidak mudah dimasuki oleh sembarang orang, Karena kuncinya harus melewati aku terlebih dahulu." jawab Kyai Ahmad santai.


"Benarkan dia menyimpan di tempat aman bagaimana bila Lasmi dan Putri Arum menemukannya." batin Dewi ragu dan itu terlihat jales dari raut wajah kecilnya.


"Tidak aku tidak percaya padamu, kau sudah tidak lagi muda dengan mudah Lasmi dan Ibunya mengalahkan lalu mengambil dua mustika milikku. Kau tau istana para Dewi pun akan hancur bila mustika itu berada ditangan yang salah." Cicit Dewi.


"Aku akan bertanggung jawab kamu lanjutkan saja tugasmu. pergilah persiapkan dirimu sebaik mungkin." ucap Kyai Ahmad.


"Awas saja bila selesai melakukan puasa mustika milikku tidak kamu kembalikan." Ancam Dewi teratai seraya pergi meninggalkan Kyai Ahmad yang larut dalam pikirannya.


"Tidak semua masalah harus kamu selesai dengan caramu nak, aku melakukan ini selain untuk membari pelajaran untukmu juga mengingat pada diriku sendiri." monalognya sambil menatap langit sore itu


"Sebagaimana pun kita menyusun skenario belum tentu skenario tersebut mendapat Restu darinya. Percayalah skenario Allah yang terbaik." gumamnya.


"Abimanyu, Dewi bila nanti semua ilmu kalian menghilang sesuai menjalani puasa aku berharap kalian ikhlas, mungkin dengan cara yang lain kalian akan mengalahkan dua iblis itu." batin Kyai Ahamd.


Tidak terasa sekarang sudah jam sembilan Malam Kyai Ahmad mengajak berkumpul kembali Abi, Mars, Dewi, dan Zahra.


Saya hanya ingin mengingatkan kalian kekali lagi ucapnya sambil menatap wajah-wajah muda mudi yang berbeda dihapannya.


" Didalam masing-masing pondok bambu yang saya sediakan, saya minta kalian mengunci pintu jangan membukanya apapun yang terjadi, entah suara apapun yang kalian dengar dengar jangan terganggu tetap fokus dengan bacaan kalian." ujar Kyai Ahmad kembali mengingatkan sambil menyerahkan lembaran fotokopi kepada Abi dan kawan-kawan sesuai janjinya.


" Insyaallah Kyai kami selalu ingat pesan Kyai. "jawab Abi sedang Dewi terlihat Acuh.

__ADS_1


" Dewi kamu harus mengingat ini baik-baik bila kamu ingin barang milikmu kembali." tegas Kyai Ahmad bernada santai namun sorot matanya terlihat tajam menatap Dewi.


"Ya aku mengingatnya." jawab Dewi acuh.


"Ya sudah sekarang pergilah kepondok kalian masing-masing." perintah Kyai Ahmad sambil berdiri di ikuti Abi dan Yang lain semua berpisah menuju tempat masing-masing sedang Kyai Ahmad masuk kedalam kamar khusus miliknya.


Di hari pertama dan kedua merasa bisa lewati meski ada gangguan kecil sekarang malam terakhir tepat jam duabelas malam suara-suara aneh mulai terdengar sesekali memanggil nama Mareka.


"Dewi, buka pintunya nak, ini Ibu Ayahmu sakit, tolong ibu nak ibu tidak tau harus bagaimana lagi ayahmu sedang sekarat ia terus menaggil namamu ibu mohon temui Ayahmu sebentar saja tetalah itu kamu boleh melanjutkan ini kembali." ucap suara yang terus menerus mengetok gobok milik Dewi.


Deg......


Dewi tertegun Mendengar suara ibunya yang mengatakan Ayahnya sakit. "benar itu suara ibu." batinnya.


"Biasanya bunda selalu menggil dirinya Bunda bukan ibu." lanjut Batinnya.


Tok.... Tok....!!! Ketokan belum juga berhenti.


"Dewi Bunda mohon nak, Bunda sudah ijin dengan Kyai kamu boleh meninggalkan pondok sementara waktu." Suara diluar kali ini menyebut dirinya dengan nama Bunda sambil menangis.


" Bunda. "Jawab Dewi lirih.


"Bunda pergilah Dewi akan menyusul sebentar lagi." Sahut Dewi.


"Tidak, kita harus kerumah sakit bersama-sama. Ayo buka pintunya Nak." suara itu kembali memaksa Dewi membuka pintu terlebih dahulu.


"Biasanya Bunda akan pergi bila Dewi bilang akan menyusul." batin Dewi sambil mundar madir ingin membuka pintu tapi sedikit ragu.


Sementara di tempat Berdebada Abi juga mendapatkan ketokan dan sebuah suara yang memintanya membuka pintu.


tok...tok....tok!!


" Abi, ini Om Gio buka pintunya ibu kamu masuk rumah sakit kecelakaan." ucap suara diluar gobok Abi.


Deng......

__ADS_1


Abi terkejut menghentikan bacaannya.


"Bunda." lirihnya.


"Abi cepat, Om takut kamu tidak sempat lagi bertemu ibu kamu lukanya parah sekali Abi." ujar suara itu kembali membuat Abi merasa sesak mengingat sosok ibu yang ia cintai.


"Abi buka pintunya Abi Om datang jemput kamu." suara itu terus meminta membuka pintu.


"Bagaimana ini, pesan Kyai aku tidak boleh meninggalkan tempat ini sebelum selasai" gumam Abi.


"Abi, ayo Abi kita tidak punya banyak Waktu." suara itu terus mendesak Abi.


Tidak jauh berbeda Mars juga di ganggu oleh suara kedua orang tuanya yang sudah lama meninggal.


"Mars Ayah dan Ibu ingin bertemu walau cuma sebentar, kami di ijinkan menengok kamu hanya malam ini kita tidak lagi punya kesempatan untuk bertemu nak." ujar suara wanita yang Mars kenal suara ibunya sambil Mengetok pintu.


"Mars ada yang ingin Ayah sampaikan nak bukalah pintunya." regek suara Peria yang di panggil Mars sebagai Ayah semasa hidupnya.


Dalam kebingungannya Mars mencoba berdiri tapi suara hatinya memintanya untuk tetap di tempat dan tidak menghiraukan suara itu sebagai mana pesan Kyai Ahmad padanya.


Zahra terdiam kala mendengar suara seseorang meminta tolong, jelas sekali yang ia dengar itu suara almarhum ibunya.


"Tolong-tolong jangan siksa saya jangan pukul saya." ujar suara itu sambil menangis pilu.


"Ibu." lirih Zahra.


"Zahra tolong ibu, nak tolong ibu." ratap suara itu memohon.


"Tidak itu tidak mungkin ibu ia susah tenang di alam yang berbeda, tidak mungkin kembali lagi." batin Zahra mencoba meyakinkan dirinya bila itu hanya ulah iblis yang ingin menggagalkan puasanya.


Zahra kembali melanjutkan bacaannya. ia memasukan ujung kerudung yang ia pakai ke dalam dua lubang telinganya mencoba fokus dengan bacaannya lagi.


Sementara Dewi sudah barjalan hampir mendekati pintu.


Tangan sudah memegang kunci namun belum memutarnya.

__ADS_1


Angin tiba-tiba berhembus kencang menembus celah-celah kecil pada pondok bambu membuat Dewi terkejut ia mundur memundurkan langkahnya.


"Jagan Dewi, jangan membuka bila kamu membukanya maka kamu tidak akan mendapatkan mustika milikmu yang di simpan Kyai. Tinggal sedikit lagi kamu selesai kamu sudah melewati dua malam sebelumnya jangan sia-siakan itu." Hatinya berbicara sendiri.


__ADS_2