
Suasana di hutan larangan ramai oleh pasukan Putri Arum sedangkan pasukan Abi yang di pimpin wijaya kusuma dan juga Dewi sekar sengaja bersembunyi karena sengaja membuat lawan merasa menang dalam jumlah pasukan.
Abi dan semua kawan-kawannya sudah menyusun rencana Sebelumnya mereka tinggal menjalankan sesuai rencana.
Wajah-wajah para pemuka agama yang berdiri di samping Abi pun tenang tanpa ada rasa khawatir sedikitpun begitu pula dengan Dewi, Abi, zahra dan juga Mars mereka begitu santai seakan akan terjadi apapun nanti.
"Wah..... Wahhhhhh kalian pandai sekali menyembunyikan raut wajah tegang kalian." ejak William.
"Tentu saja Tuan William, Setelah menghabiskan waktu bersama cucumu aku banyak belajar termasuk tentang ekspresi datar kami." sahut Mars dengan menatap wajah William.
"Benarkah rasanya kuku-kuku ku ini sudah tidak sabar ingin segera menancapkan di dadamu." ujar William tajam.
"Kau sudah tua tuan William sebaiknya jangan mudah terbawa emosi itu berdampak buruk untuk kesehanmu, bagaimanapun kau pernah merawatku untuk itu aku mengingatkan Mu." jawab Mars.
" Aku tidak butuh perhatian darimu, ayo maju hadapi Aku! " teriak William dengan suara lantang.
"Bagaimana jika pita suaramu rusak bila kamu terus berteriak, aku tidak bodek aku bisa mendengar meski dengan nada rendah." tandas Mars sambil berjalan dua langkah maju kedepannya.
Baiyura segera masuk kedalam kris milik Mars tanpa diperintah.
"Kenapa hanya dua langkah ayo maju apa kamu takut?"
"Tidak aku sama sekali tidak takut hanya saja aku kasihan padamu bila kau tiada bagaimana dengan putra tercintamu dia pasti akan sedih bila kamu tiada." Tutur Mars.
"Tunggu terdengarlah dulu peraturan dalam pertarungan ini." seru Dewi.
"Apa maksudmu? tidak ada peraturannya." sahut William.
"Jika kamu punya Aturan maka aku juga punya peraturan." sela Putri Arum cepat.
"Silahkan katakan lebih dahulu peraturan apa yang kau mau." minta Dewi.
"Aku mau pertarungan ini di lakukan seperti pertandingan. Misal kau melawan aku lalu kamu kalah maka lanjut aku boleh memilih lawanku selanjutnya, begitu pula sebaliknya bahkan diperbolehkan melawan beberapa orang sekaligus dalam satu kali pertandingan." Jelas Putri Arum.
"Ada lagi?" Dewi kembali bertanya.
__ADS_1
"Bila pada akhirnya hanya tertinggal kau dan Kakamu maka kamu harus merelakan dan melihat kami menyantap daging serta meminum darah Kakamu." ujar Putri Lasmi sambil menatap sang Ibu.
"Peraturan pertama aku setuju. Tapi aku perlu sedikit menambahkan. Maksimal lima orang yang di perbolehkan saat memilih lawan. Pertandingan ini juga akan di adakan siang hari lalu istrhat bila langit sudah mulai gelap." Kata Abi di angguki oleh Dewi.
"Itu tidak adil kau lihat pasukanku banyak yang tidak bisa muncul di siang hari." bantah Putri Arum.
"Untuk masalah itu serahkan padaku di hutan ini ada yang namanya goa mati disana makhluk tak kasat mata dan arwah penasaran bisa bebas melakukan aktivitas mereka termasuk bertarung." kata Dewi sekar selaku ratu hutan Larangan ini.
"Aku tidak percaya padamu, kau pasti ingin menipuku." sahut Putri Arum dengan nada tak suka.
"Aku tidak menipumu gua itu memang ada dan aku tidak akan bermain curang dasana sudah menunggu prajurit penguasa hutan larangan ini, mari aku perlihatkan padamu." kata Dewi sekar.
"Pergilah ibu aku akan baik-baik saja disini." kata Lasmi mengusirnya.
Dewi sekar mendekat membawa Putri Arum menghilang hanya dalam hitungan detik dengan ilmu yang ia miliki.
Naga emas milik Abi dan juga baiyura naga Putih hanya memperhatikan dari atas pohon namun keduanya tetap waspada dan siap menjalankan perintah kapanpun.
"Ki Seno kau pilih saja siapa lawan yang ingin segara kau bantai?" kata Lasmi pada seorang dukun salah seorang pengikut putri Arum.
"Baigaimana Nona apa kamu bersedia menjadi kawanku?" lanjut Ki Seno tersenyum penuh makna.
"Tentu saja Ki aku bersedia dan bahkan sangat siap saat ini." sahut Sinta entah dari mana kepercayaan dirinya meningkat drastis bahkan tidak ada rasa takut sedikitpun saat ini dalam hatinya.
Enam dukun lain menertawakan Ki seno. Mereka semua tau bila di antara musuh hanya Sinta yang paling lemah dan Sono memilihnya terlebih dahulu jelas sekali bila seno pasti akan menang.
"KI Seno pilihanmu buruk sekali, hanya dengan mengacaukan satu jariku aku dapat mematahkan leher wanita itu kau ingin menjadi bahan tawarkan." ejek salah satu Dukun.
KI Seno tidak menjawab ia berjalan maju untuk menghampiri Sinta.
"Nona aku punya penawaran bagus untukmu?" ujarnya sambil menatap wajah ayu Sinta.
"Katakan." ketus Sknta.
"Aku akan membiarkan kamu hidup tanpa lecet sedikitpun bila kamu mau menjadi pengikutku dan kau juga bisa menjadi istri kelimaku." tawarnya dengan suara dibuat rendah.
__ADS_1
"Aku tidak tertarik dengan penawaranmu." Sentak Sinta.
"Kau lebih memilih binasa dari pada menerima kenikmatan yang aku tawarkan!!" Seru Ki seno.
Sinta tersenyum miring lalu dengan cepat ia bergerak hingga tiba-tiba sudah berada di belakang Ki seno dengan satu tangannya sudah berada di leher Seno menusukan bulu landak beracun.
Dewi tersenyum bangga sembari melirik Risa yang juga tersenyum padanya.
"Jangan suka meremehkan seseorang Ki." bisik sinta tepat di telinga Ki seno.
Seluruh tubuh Ki Seno berkeringat dingin mencoba melawan racun landak di lehernya namun sia-sia ia bahkan tidak dapat lagi bersuara saat ini
"Seno lawan gadis itu kenapa kau membeku seperti patung?" teriak salah satu dukun.
Wajah Seno berubah menjadi biru Bibirnya bergetar meski sudah mencoba menahan dengan ilmu tanaga dalam miliknya namun racun itu tetap menyebar melalui darahnya.
"Astga Ki Seno apa kau akan mati oleh gadis lemah itu." lagi-lagi teriakan mengejek itu datang dari orang-orang memiliki pekerjaan yang sama yaitu sebagai dukun.
Lima dukun lain tertawa menertawakan kesialan yang menimpa Ki Seno.
Sinta sudah menjauh dan mencabut bulu landak kecil yang awalnya ia tancakpan di leher Seno hanya dalam waktu lima detik. gerakan yang cepat membuatnya terlihat hanya memukul leher Ki seno saja.
Dalam hitungan menit Seno jatuh ketanah tidak bernyawa membuat kawan-kawannya menganga tidak percaya bahkan ada yang mengira Seno hanya bersandiwara saja.
"Dia mati karena racun berhati-hatilah sepertinya wanita yang kita lihat lemah itu memiliki tangan beracun." kata Lasmi memperingatkan.
"Apa kau masih ingin melanjutkan Nona Sinta?" tanya William.
"Oh tentu Saja aku mau dua orang dukun itu maju sekaligus." sahut Sinta.
"Sombong sekali kamu nona Kamu pikir menghabisi dua dukun seperti kami akan mudah." Cicit seorang diantra dua dukun tersebut.
" Tentu saja aku tidak meremehkan kalian." sahut Sinta.
Dewi sekar sudah kembali bersama Putri Arum melihat Seorang dukun tewas senyum Dewi sekar mengambang.
__ADS_1