Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Kesedihan Abi


__ADS_3

Kesediah Abi tidak berhenti terlebih setelah mendengar perkataan sang Ayah yang menyatakan Umi salamah sedang kritis.


Yusuf dan keluarga membawa Umi salamah kesebuah rumah sakit terbaik dikota nya mengumpulkan keluarga untuk memberi semangat kepada sang Ibu.


"Aku benar-benar tidak berguna, bila dulu aku bisa menolong Oma dengan jarum akupunktur milik Kakek buyut sekarang jangankan menolong orang lain menolong diri sendiri saja aku tidak bisa dari jebelenggu wanita iblis itu." monalog Abi


"Maafkan Abi Oma, jujur saja wawasanku yang luas pemikiranku yang dewasa dan penuh perhitungan semua menghilang aku menjadi orang yang bodoh benar-benar bodoh." batin Abi sambil tertunduk di kursi tunggu.


"semoga Dewi dan yang lain baik-baik saja jika sampai mereka terluka apa lagi sampai menghilangkan nyawa aku tidak pernah memaafkan orang yang melakukan itu termasuk diriku sendiri ." tandas Abi sambar memejamkan matanya.


"Abi bila kamu ingin sholat maka pergilah ke mesjid terdekat, Bunda tidak papa sendiri Gio dan nenek dalam perjalanan kemari sebentar lagi pasti sampai." ujar Risa sambil pengelus pundak  putra sulungnya.


Abi sempat terkejut saat Risa mengelus punggungnya." Iya Bunda Abi pergi dulu. "ujarnya pamit karena memang sudah memasuki waktu sholat zuhur.


Abi beranjak pergi mencari mesjid yang berada dekat rumah sakit tempat Umi dirawat.


Sesampainya di mesjid Abi bergagas mengambil wudhu dan melaksanakan sholat begitu selesai salam ia larut dalam zikir sambil memejamkan matanya Abi melihat Umi sangatlah cantik memakai baju serba putih wajahnya terlihat bercaya perlahan Umi mendekati Abi duduk dihadapannya sambil tersenyum ia berucap.


"Abimanyu cucu Oma, jangan sedih nak, meskipun kamu tidak bisa menolong, Oma tidak menyalahkan kamu atas apa yang terjadi dengan Oma. Abi kamu anak kuat berjalanlah dijalan yang benar, hormatilah sesama mahluk, tidak hanya orang terdekat. Ingat Nak kita hanya manusia biasa tidak ada daya upaya kecuali atas kehendakNya. Besar kecilnya pemberian orang lain padamu terimalah, meski kamu sudah memiliki penghasilan sendiri jangan sombong apalagi merendahkan orang lain nak, Di atas langit masih ada langit, tetaplah menjadi Abi yang ramah, rendah hati, dan sopan. Kita tidak tau apa yang akan terjadi besok masihkah kita diberi waktu untuk bernapas menikmati hidup, atau justru pergi menghadap kepadanya. sampaikan salam Oma pada Ayahmu, buatlah mereka bangga padamu nak, Oma sangat sayang dangan kalian. Jadilah setiap masalah pelajaran, kembalilah menjadi Abi yang dulu Omi kenal. Oma pamit Abi ingat jangan sedih." ucap Umi kemudian ia berjalan mundur sambil melambaikan tangannya lalu menghilang. Abi tersentak ia berusaha memanggil Umi salamah namun tidak juga ada tanda-tanda Umi akan kembali.


"Nak ada apa?" tanya seorang lelaki yang baru selesai melaksanakan sholat mendengar Abi berteriak memanggil Umi.

__ADS_1


"I-iya pak ada apa? " Abi balik bertanya gagap.


"Seharusnya saya yang tanya Ade kenapa berteriak seperti memanggil nama seseorang?" Lelaki itu kembali bertanya.


Abi melihat sekeliling mendapati diri di mesjid lantas ia menjawab.


"Tidak papa pak, mungkin tadi saya ketiduran dan bermimpi." Sahut Abi sekenanya sambil tersenyum.


"Baiklah bila tidak apa apa saya pergi dulu." pamit Lalaki itu kemudian mengucapkan salam dan pergi.


Tidak berselang lama ponsel Abi bergetar


Abi mengambil ponsel yang ia latekan di samping sajadah miliknya, lantas melihat sebuah pesan masuk dari Gio memintanya segera kembali ke rumah sakit.


selama Dewi menghancurkan dinding pembatas Dewi sekar dan Wijaya membuat benteng pertahanan, agar Putri Arum bersama suami gaibnya tidak masuk dan merusak konsentrasi Dewi teratai Zahra dan Mars. Semtara lelaki paruh hanya menghadapi Putri Arum dan Suami gaibnya di bantu oleh Naga putih milik Mars. Lalaki paruh baya itu mengobarkan dirinya karena tau apa yang ia lakukan adalah hal benar, maka ia tidak pernah ragu hingga di napas terakhirnya ia mengucap dua kalimat syahadat dan tersenyum mana kala melihat pengorbanannya tidaklah sia-sia.


bersamaan dengan hancur nya dinding pembatas itu Lalaki paruh baya menghembuskan napas terakhirnya. "Kakek Ahmad Halim, Umi salamah semoga amal ibadah kalian diterima olah Allah. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un ." ucap Dewi teratai sambil menarik napasnya dan mengusap wajahnya kasar. matanya menatap lelaki paruh baya tergelak di lantai dengan darah seger mengalir dari kepalanya yang terhempas dengan kuat hingga berkali-kali oleh Raja jin dan putri Arum.


"Zahra, Mars, dan Dewi Sekar terkejut kemudian mengikuti Abi mengucapkan" Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" bersamaan sambil mengikuti arah pandangan Dewi teratai.


"Dewi apa kita sebaiknya pergi saja dari sini keluargamu sedang berduka? " tanya Zahra sambil melihat Dewi teratai.

__ADS_1


"Tidak jangan sia-sia kan orang yang rela berkorban untuk kita. Ayo cepat hancurkan altar persembahan didalam beserta patung iblisnya." tandas Dewi Teratai tegas jiwa kepemimpinannya begitu terasa hingga membuat siapa saja yang mendengar mau tidak mau melaksanakan titah nya.


" Pergilah aku dan Wijaya akan berjaga disini." kata Mars.


" Tidak kamu ikut saja dengan mereka aku yang akan menjaga disini, Putri Arum adalah saudaraku sedikit banyak aku tau tentangnya." Tolak Dewi Sekar sembari melihat Dewi teratai dan anak kecil itu menganggukkan kepala setuju.


Wijaya masuk lebih dulu di ikuti oleh Dewi teratai Zahra dan Mars di urutan terakhir.


Sesampainya didepan Altar persembah udara di sana begitu lembab bau anyir darah menyeruak masuk ke indra penciuman mereka Zahra bahkan sampai merasa mual menciumnya. Tepat di depan Altar ada patung sebesar lelaki Dewasa dengan mata berwarna Merah menyala dan mulut menyerigai senang, di keplanya terdapat satu tanduk, kedua tangan disatukan membantuk lambang segitiga di dadanya.


Wijaya bersama Mars menghancurkan meja tempat pemujaan dengan kekuatan yang mereka miliki. Sedang Zahra membantu Dewi menjatuhkan patung yang berdiri kokoh di tempatnya.


"Patung ini begitu berat, Dewi apa kamu yakin bisa menghancurkannya?" tanya Zahra.


"Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha Ka yang maha kuasalah yang menentukannya, Mari kita coba." ajak Dewi sambil berdoa terlebih dalu kemudian menendang kuat kaki dari patung dihadapannya ikuti oleh Zahra


Kaki patung yang di tendang Dewi ratak walau hanya sedikit. Sedangkan kaki yang di tendang Zahra tidak terjadi apapun justru kakinya yang terasa sakit.


"KA, Zahra pasrahkan hanya padanya jangan ada keraguan di hati Kaka lalukan lagi Ka, Ayo" nasehat Abi sambil mengajak.


Zahra memejamkan matanya berdoa dengan khusyuk tak lupa menggenggam erat tasbih milik sang Kakek. Melihat Itu Dewi tersenyum. kemudian ia berseru "Lemparkan Tasbih itu tepat di wajah patung nya Ka Zahra." teriaknya.

__ADS_1


Zahra benar-benar memohon pertolongan merendahkan dirinya sambil mengucap Bismillah ia melempar Tasbih tepat di wajah patung hingga terjadi__


BERSAMBUNG


__ADS_2