Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Bisikan tanpa wujud.


__ADS_3

Dalam diam Devan menyaksikan sendiri bagaimana sang Ayah merengang nyawa hingga terbakar tanpa sisa abu dari pembakaran nya terbang terbawa angin seakan tidak ingin ada yang mengabadiakannya.


"Sungguh sakit siksaan sebelum kematian yang harus kamu terima Ayah, dan aku bersyukur bisa melihat dengan mataku sendri mungkin yang maha kuasa ingin semua menjadi pelajaran untukku." batin Willim


Abi menepuk sedikit lengan sang Ayah sambil berkata.


"Tenanglah Ayah, aku ada untukmu jangan bersedih, mulailah menata hidup menjadi lebih baik !! "


"Kau membuat Ayah malu Nak, selama ini aku bukan Ayah kandung yang baik untukmu" ujar Devan sambil menatap dalam mata sang Putra.


"Maaf Devan sebaiknya lanjutkan mengobrol nanti, saat ini sang pemimpin masih hidup, sebaiknya cepat kita membatu yang lain !!" seru Yusuf menyela sambil melihat Ayah dan Anak yang saling mengobrol mengungkap segala rasa rindu yang terpendam.


Abi dan Devan mengerti keduanya segera mengikuti kyai Ahmad menuju tempat putri Arum berada.


Di tempat berbeda Dewi teratai beranjang dari tempatnya duduk.


"Aku harus membantu Mereka apapun yang terjadi sesuai janji aku harus menolong Abi." batin Dewi.


"Semoga aku bisa membuka portal gaibku untuk menuju kesana bila tidak bisa mau tidak mau aku harus meminjam kuda di kerajaan ini." lanjutnya.


Saat ini Dewi, Risa, Zahra dan Sinta berada di istana milik Dewi sekar untuk mengobati luka dalam yang mereka alami.


Dewi berjalan dengan sangat hati-hati serta perlahan takut membanggakan Risa yang sedang terlelap. begitu sampai di pintu Dewi melihat ada beberapa penjaga dengan lincah ia mengelabui dua penjaga hingga berhasil kabur begitu pula saat di depan pintu keluar istana ia juga mengelabui ya hingga berhasil keluar. tanpa Dewi tau Zahra sudah berada diluar istana menuju kandang kuda.


Dengan langkah pasti Dewi mencari kandang kuda sesampainya disana ia bertemu zahra yang sedang melepas tali kuda sementara penjaga kandang tersebut sedang tertidur dan Dewi yakin itu pasti ulah zahra yang mengunakan ilmu serep yang sudah di ajarkan kakeknya.


"Ka Zahra !" Seru Dewi sambil menepuk pundak Zahra membuat wanita yang sedang melepas tali kuda itu terkejut.


"Astagfirullah." pekik Zahra sambil mengelus dada dan menoleh Dewi yang nyengir kuda.


"Hayo Ka Zahra mau kemana?"


"Sutttttt jangan berisik nanti penjaganya bangun." ujar Zahra setengah berbisik.

__ADS_1


"Hehehehehe Dewi lupa." sahut Dewi ia lalu berjalan mencari salah satu kuda yang cocok untuk ia tungganggi.


Tidak menunggu waktu lama Dewi dan zahra sudah berada di luar istana semua menjadi mudah berkat ajian serep milik Zahra.


Zahra menaiki kudanya begitu pula Dewi, dua anak manusia itu berhasil kabur dari istana dengan tujuan yang sama yaitu menolong Abi.


Dengan pertolongan sang pencipta tanpa mengalami kesulitan zahra bersama Dewi tiba di tempat Abi dan yang lain sedang melawan anak buah putri Arum yang di pimpin langsung oleh wanita tersebut.


Dewi turun dari kudanya lalu mengikat kuda pada sebuah pohon kemudian berjalan menghampiri Zahra.


"Tidak ku sangka ternyata seorang wanita bercadar yang di besarkan di pondok sangat mahir menaiki kuda." cetus Dewi.


"Jangan menilai seseorang hanya dengan melihatnya saja." jawab Zahra ia segera melempar tasbihnya untuk membuka dinding pemisahan yang diciptakan oleh Abi.


"Ka Zahra bagaimana kemampuan Kaka kembali?" tanya Dewi yang sejak tadi dibuat penasaran.


"Kamu ingin masuk tidak?" Bukan menjawab Zahra justru bertanya balik melihat Dewi masih diam ditempat sementara ia sudah melangkah masuk.


Dewi nyengir sambil melangkah cepat takut ia tidak memiliki kesempatan untuk masuk membantu sang Kaka.


" Aku tidak mampu mencerna maksudnya ka Zahra otakku mendadak kecil setelah berhasil membunuh Willim." sahut Dewi beralasan.


" Bilang saja kamu tidak mau banyak berpikir." cicit Zahra sambil memungut tasbih peninggalan kakeknya.


"Hehehehe, anggap saja begitu." jawab Dewi.


"Gunakan otak kecilmu dengan baik." ucap Zahra sembari melangkah meninggalkan Dewi.


Dewi masih diam di tempat dengan mata menatap Zahra sambil menirukan suara Zahra yang memintanya mengukan otaknya untuk berfikir.


"Apa susahnya sih tinggal bilang saja." cicitnya kesal.


Dewi yang berada dibalik sebuah bukit tidak terlihat dari musuh sedang Zahra kini sudah mulai mencari jalan untuk mendakati Ayahnya serta yang lain sedang melawan pasukan siluman.

__ADS_1


Bukannya menyusul Dewi malah duduk sambil mengawasi dari kejauhan namun otaknya masih berjalan ia memikirkan cara untuk bisa melawan pasukan Putri Arum. Saat ini kemenangan yang mereka impikan semakin tipis pasalnya jumlah dari siluman serta mahluk gaib yang di pimpin putri Arum ribuan belum lagi kekuatan dan kelemahan mereka yang berbeda-beda membuat peluang kemenangan sangat tipis.


"Bagaimana pun caranya hidupku di dunia fana ini haruslah berguna." batin Dewi.


"Kami harus mengatur strategi kembali." gumam Dewi.


Di sisi lain. Zahra yang berjalan menuju tempat Ayahnya dikagetkan dengan sosok seorang wanita bebaju serba merah wanita itu menarik dan membawanya berlari secepat kilat.


Hanya dalam hitungan detik saja Wanita itu berhasil membawa Zahra ketempat pertempuran sedang berlangsung ia kemudian mendurung maju tubuh Zahra ke arah siluman kera ber bulu emas tentu saja Zahra yang tanpa persiapan langsung tersungkur untung saja ia tidak terjatuh kedawah lahar panas.


Saats ini Zahra sedang berdiri di atas jembatan gantung yang bila mana saat bertarung sedikit saja tidak hati-hati akan jatuh kebawah di sanalah sang Ayah berada melawan siluman monyet.


Zahra masih di buat bingung dan penuh tanya siapa wanita berjubah merah yang sudah mengatakan dia untuk membantu sang Ayah.


"Zahra." teriak Ustadz Akbar saat sebuah serangan dari siluman monyet ingin mencelakai nya.


Zahra yang masih melamun tersentak replik ia menghindar.


"Perhatikan sekitarmu Zahra." sang Ayah kembali memberi peringatan untuk putri tercinta.


"Maaf Abuya." lirih Zahra sembari mengenyam tasbih ditangannya


Zahra berdoa meminta petunjuk kelemahan para siluman monyet yang jumlahnya begitu banyak.


"Kelemahannya pada ekornya." Suara seorang tanpa wujud membuat Zahra terkejut pasalnya orang tersebut memberi tau kelemahan siluman monyet yang menjadi lawannya saat ini.


"Siapa pun dan dimana pun kamu terimakasih." gumam Zahra.


Tidak hanya Zahra Abi juga mendapat petunjuk kelemahan musuh yang ia hadapi saat ini.


"Kalajengking hitam itu kelemahannya ada pada ekor sedangkan sang ratu ada pada mata kirinya." Ujar suara misterius yang jelas di dengar oleh Abi.


"Terimakasih." gumam Abi sambil meringis menahan sakit akibat terkena racun kalajengking.

__ADS_1


Dalam hati Abi bersyukur karena ia dan juga dua ayahnya memiliki sedikit harapan untuk bisa mengalahkan kalajengking hitam yang kehebatan racun mematikannya bukan hanya mitos.


__ADS_2