Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Kisah saudara kembar 2


__ADS_3

Willem menatap kedua sahabat sang Adik dengan penuh selidik." jika aku menolak mereka bisa saja mencurigaiku." batin Willem.


"Kalian baik sekali padaku? apa kalian benar-benar serius ingin menemaniku dirumah ini? aku pernah mendengar cerita jika orang mati dengan tak aruwahnya akan penasaran." ujar Willem sambil menatap kedua orang sahabat Marcello.


"Tidak masalah Will, kita akan hadapi bersama bukankah bersama labih baik dari pada sendiri." sahut Hasan.


"Kita liat saja sampai dimana kalian mampu hidup berdampingan denganku." batin Willem sambil berbalik.


"Ayo masuklah..!!." Ajak Willem sambil menyerigai penuh Arti.


"berhati-hatilah Hasan ia sepertinya merancanakan sesuatu." bisik Ahmad pelan.


keduanya mangkah masuk kerumah Milik Willem bau Anyir darah menyeruak tercium di indra menciuman keduanya.


Hasan serta Ahmad melihat garis pulisi di kamar Wiraja dan Istrinya masih terbantang pertada penyelidikan masih belum usai.


"Ayo kita kekamar Marcello." ajak Willem sambil membuka pintu kamar sang Adik.


Hasan dan Ahmad mengikuti tanpa protes.


"Liatlah kamar ini disini polisi menemukan sebuah racun yang jika dikunsumsi maka dalam jangka panjang akan menyebabkan kelumpumpuhan." kata Willem sambil membuka sebuah laci di kamar Marcello.


"Maksudmu Marcello memberikan racun itu pada orang tuamu Will?" Tanya Hasan penuh selidik.


"Aku tidak tau pasti, yang aku tau ibu dan Ayah tak memiliki riwayat penyakit serius. Setelah Ayah memberikan kitab untukku pelajari kesehatan Ayah dan Ibu perlahan menurut hingga lumpuh." Ungkap Willem dengan raut sedih yang dibuat-buat.


"Jika memeng benar itu ulah Marcello sungguh sangat tercela perbuataanya itu." sahut Ahmad.


"Ya mongkin hatinya sudah dikuasai iblis hanya karna tak mendapatkan kitab leluhurnya ia berbuat demikian aku bahkan malu menjadi sahabatnya." Ucap Hasan ikut menimpali.


"Will boleh aku minta minum air? aku belum sampat masuk rumah saat mendengar kabar yang menimpa keluargamu." tanya Ahmad.


"Sangat mudah membuat kalian berbalik membenci Marcello. aku pastikan persahatan kalian hancur." monalog Willem


"Ya tentu saja, ambillah sendiri di kulkas dapur jika mau minta minuman lain mintalah dengan Art." jelas Willem.


"Hmmmm." jawab Ahmad segera melangkah meninggalkan Willem dan Hasan.

__ADS_1


sesampainya di dapur Ahmad melihat Art sedang mencuci piring kotor.


"Mbuk apa dikulkas ada jeruk peras?" tanya Ahmad ramah.


"Ehhh den Ahmad mengagetkan saja." sahut Art dirumah Willem tersentak.


"Ia Mbuk, saya haus mau minum jus jeruk ada tidak jeruk peras? kalo tidak ada air putih dingin juga gak papa." sahut Ahmad sambil tersenyum.


"Ada den sebentar biar saya buatkan" jawab Art rumah Willem cepat.


"Terimaksih Mbuk, besok akan ada tahlilan lagi disini. bagaimana jika saya dan Hasan membatu Mbuk dan Mamang (tukang kebun) belanja kepasar belanjaannyakan banyak." ucap Ahmad.


"Wahhhhh terimaksih Den Ahmad, Mamang pasti senang ini ada yang bantu bawain belajaan." sahut Si Mbuk Antusias.


"Ini Den jusnya sudah selesai." ucap si Mbuk.


"Aduh ke-asikan gobrol saya Mbuk malah Mbuk yang membuatkan, biar saya buat dua lagi buat Willem dan Hasan." Sahut Ahmad sambil berjalan mengambil buah jeruk di kuslas.


"Oh Den Hasan ada disini juga to kok nggak di ajak kedapur?" tanya Mbuk tampak jelas raut wajah khwatir meski berusaha ia tutupi.


"Hati-hati Den?" pesan Si Mbuk sambil berbisik.


"iya Mbuk, makasih lo jusnya, ini saya udah selesai saya balik kekamar Marcello lagi." ucap Ahmad sambil berlalu meninggalkan Art di dapur.


"semoga aku bisa menggali banyak informasi dari Pembantu dan tukang kebun. mudah-mudahan keduanya mau menjadi saksi agar Marcello bisa terbebas." batin Ahmad.


"Asyik benar ngobrolnya, ini aku bawain munum buat kalian berdua pasti pada haus kan." tutur Ahmad.


"Makasih Ahmad tau aja kalo tenggorokan kering." sahut Hasan.


"Will besok acara tahlilan malam apa siag?" tanya Ahmad.


"kenapa emang lho berdua mau bantu emangnya." ketus Willem.


"tentu saja kita bantu Will, kapan perlu dari belanja bahan kita bantu. jujur kita kasihan sama kamu tidak ada sanak saudara cuman ada pembantu dan tukang kebun merekakan sudah tua." ujar Ahmad.


"Shyukur dah kalo kalian berdua mau membantuku. semoga saja kebaikan kalian tulus tak memiliki niat lain." sindir Willem sambil menatap kedunya.

__ADS_1


"haahhh tentu saja Will, setelah tau Marcello memiliki hati iblis kita berdua sudah tak ingin memgenalnya, aku dan Ahmad berniat menjadikanmu teman baik." ungkap Hasan


"baguslah, ya sudah kalian tidurlah aku mau mandi dulu." ucap Willem meninggalkan Hasan dan Ahmad.


"terimakasih Will. apa kamu akan tidur dikamarmu?" tanya Hasan dengan setengah berteriak.


"Ia pintu kamarmu tidak perlu dikunci, jika aku tak bisa tidur atau ada yang mengangguku aku akan masuk kamar kalian." teriak Willem menyahut.


Willem masuk kamarnya. didalam kamar ia sesekali kenirukan seorang menanggis,.ia yakin kedua sahabat adiknya belum tidur dan mendenagar suara tangisannya. Akan tetapi Hasan dan Ahmad tak menghiraukan.


tak kehabisan akal Willem memakai baju putih terusan panjang serta rambut palsu guna menakuti Ahmad dan Hasan melalui jendela menakut- nakuti Hasan dan Ahmad mengetok pintu jedela sesekali terkikik dengan tawa menyeramkan.


lagi lagi keduanya tak menghiraukan mereka malah tertidur pulas.


"Dasar kebo." umpat Willem lantas kembali kekamarnya.


ke esokan paginya Ahmad dan Hasan membantu Pembatu dan tuakang kebun kepasar untuk membawakan barang belanjaan keduanya.


Hasan dan Ahmad berhasil mendapatkan informasi kejadian sebenarnya yang menimpa kedua ornag tua Marcello.


"Saya mohon Mamang, Mbuk mau bersaksi di kantor polisi untuk membebaskan Marcello, bahaya jika orang seperti Willem dibiarkan tanpa kurungan bisa-bisa banyak orang yang menjadi korbannya." Tutur Hasan di angguki Ahmad.


"tapi saya takut Den." ucap Mamang jelas.


"jangan takut Mamang kejahatan harus diungkap jika tak tidak Mbuk dan Mamang serta tetangga dan saudara menjadi korban." jelas Abmad memberi prngertian.


"Aku takut sekali Den." ucap Mbuk.


"Mbuk dan Mamang harus berani demi Marcello tidakkah kalian kasiahan dengan Marcello yang tidak tau apa-apa harus tidur dibalik jeruji besi." Tukas Ahmad.


"Tentu kami kasihan Den, Ayo Mbuk kita bantu Den Marcello dia anak baik Mbuk."


"setelah Marcello keluar Mbuk dan Mamang bawa pergi kekampung saja. mualailah kehidupan baru disana aku akan minta bantuan Ayah untuk memberikan dana modal usaha kalian disana." ujar Hasan.


Sebelum pulang mereka mampir kekantor polisi menemani Si Mbuk dan Mamang memberikan kesaksian dangan berkeringat dingin serta tubuh gemetar Mamang menceritakan kejadian sebenarnya yang menimpa kuarga Marcello.


tentu saja petugas mendengarkan dengan saksama cerita si Mbuk dan Mamang. mereka juga meminta Petugas merahasikan nama mereka sebagai saksi karna menyangkut keselamatan keduanya.

__ADS_1


__ADS_2