
Devan membawa Abi samping rumah dimana terdapat banyak tanaman hias langka milik Maminya Devan ia sengaja membawa semua tanaman hias milik ibunya kerumahnya untuk ia rawat sendiri.
"Abi kau ini masih belum dewasa tapi sudah pandai mengambil hati seseorang. Ayah yakin jika perusahan berada di tanganmu akan cepat berkembang cepat." ujar Devan sambil menyiram tanaman hias.
"mengambil hati bagaimana Ayah?" tanya Abi lugu.
"jangan berpura-pura Abi, kau sengaja merangkai kata begitu panjang agar Ayah tak kecewa dengan komentarmu saat di meja makan." sahut Devan.
"Hehehehe, maaf Ayah Abi hanya mengunakan kesempatan untuk memberi sedikit nasehat pada Ayah." Tutur Abi santai.
"kau pandai sekali mengunakan kesempatan." kata Devan.
"Ayah, senin ini Abi sudah mulai tinggal di pesantren." ujar Abi sambil menggunting daun-daun kuning pada tanaman.
"Kau yakin nak, apa tekadmu sudah bulat?" tanya Devan.
"Abi yakin Ayah, Abi harus mendalami ilmu agama terlebih dahulu." tukas Abi mantap.
"kau tak ingin menjadi pengusaha muda yang sukses?" ujar Devan kembali bertanya.
"Sukses dan kaya itu tidak menjamin hati tenang dan tentram Ayah." kata Abi.
Devan menelan ludah dengan susah payah mendengar jawaban sang putra ia bahkan terdiam beberapa saat.
"Apa di sana kamu akan tenang, dan nyaman saat belajar mendalami agama kau akan mendapat ketenangan hati?"
"Insyaallah semua bisa didapatkan asal ikhlas melakukan segala macam ibadan bukan semata karena tuntutan tinggal di sebuah pondok pesantren." jelas Abi.
"Apa Yusuf yang merayu kamu agar kamu tinggal dan menuntut ilmu Agama di sana." cetus Devan.
"Jagan berprasangka buruk Ayah. Ayah Yusuf tidak pernah memaksa atau merayu Abi untuk menuruti inginnya." tandas Abi.
"Kamu tidak sedang berbohong?".
"tentu tidak Ayah, Ayah Adalah orang tua Abi, Abi menghormati Ayah tidak akan Abi berdusta pada Ayah." Ujar Abi sembari menatap sang Ayah.
"sebenarnya Ayah berat hati melepasmu tinggal di pesantren, karena tinggal terpisah dari orang tua serta jauh dari pengawasan Ibundamu sedangkan kamu masih dalam proses bertumbuh kembang ." ungkap Devan jujur.
"Di sana ada pa Kyai yang selalu beri banyak ilmu dan mengawasi Abi, Ayah tidak perlu khawatir. jika memang Ayah masih ragu Ayah boleh mengawasiku dengan cara mengirim seseorang ikut serta tinggal di pesantren." tutur Abi.
__ADS_1
"baiklah akan Ayah cari orang yang bersedia menjaga dan mengawasi putraku ini di sana." jawab devan sambil mematikan keran Air karena bunga sudah tersiram semua.
"Jika Abi boleh meminta Abi ingin om Mars saja yang ikut Abi tinggal di pesantren, Om Mars itu sahabat sekaligus orang kepercayaan Ayah. Abi yakin Om Mars akan menjaga dan mengawasi Abi dengan baik." minta Abi.
"Ayah tidak bisa mengambil keputusan tanpa bertanya dengan Mars." tutur Devan
"Abi sebaiknya kita bersiap-siap pergi ke." villa ajak Devan.
"baik Ayah." sahut abi
keduanya segera masuk ke kamar masing-masing menyiapkan semua barang bawaan untuk keperluan di Villa.
Di tempat lain Mawar, Marcella dan Willem sudah sampai di Villa puncak.
Aku kita bergerak cepat masaklah yang enak untuk menyambut cucu dan anak lelakiku itu disini ujar Willem memerintah Marcella.
"Ayo, Mawar kita buat hidangan istimewa untuk Abi dan Devan." Ajak Marcella sambil berlalu menuju dapur di ikuti Mawar dengan raut wajah tidak bersahabat.
"pak Tolong bawa ini semua bahan masakan ini ke dapur ya!". perintah Willem pada penjaga villa.
Tak membuang waktu pak Atok segera mengerjakan perintah Willem.
"Dad kau datang lebih dulu tak memberi kabar padaku, apa yang Daddy sedang rencanakan." ujar Devan.
"DEVAN jangan mencurigai Ayahmu ini, aku hanya meminta ibumu Marcella memasak di sini kita bisa makan di tangah alam terbuka bersama cucu ku tercinta." ungkap Willem sambil merangkul Abi membawanya berjalan masuk kedalam.
"Sudah berapa kali aku mengatakan dia bukan Ibuku." sahut Devan dingin.
"Cobalah menerima kenyataan di hadapan Dev." ujar Willem Datar.
"Berdamailah dengan keadaan massa lalu, jangan biarkan kebencian menguasai hatimu Ayah." Nasehat Abi ikut menimpali.
"Cucuku apa kau katakan benar, Ayahmu itu keras kepala nak, kakek sudah berkali-kali menasehati tapi hanya di anggap angin lalu." Adu Willem sambil mendaratkan pantatnya di sofa.
"Bersabarlah Kak, kadang kita harus memberikan contoh dulu pada anak agar ia mengerti dan menurut." Tukas Abi sambil duduk di sopa ruang tengah.
"Ayahmu itu bukan lagi Anak kecil nak, Kakek yakin dia memahami tanpa harus diberikan contoh". cetus Willem sambil menatap sang putra.
"Tidak semua otak manusia sama dalam berpikir jangan mengukurnya dengan umur dan ukuran badan." Tukas Abi.
__ADS_1
"hahahaha, lihatlah Daddy Anakku sangat pandai bukan setiap ucapanmu dijawab dengan mudah olehnya." Ujar Devan bangga.
"sikap keras kepala Ayah menurun dari Kakek, cobalah untuk saling memperbaiki diri dengan cara masing-masing. belajarlah deri pengalaman. sebagai insan yang hidup puluhan tahun pasti memiliki banyak masalah yang datang silih berganti jadikan ia sabagai guru bagimu." Tutur Abi sambil melirik Devan dan Willem.
"Willem menatap takjub dengan Abi. Abi jika perusahan berada dibawah kendalimu Kakek yakin akan Sukses. Kakek menantimu untuk meneruskan semua usaha kakek." cicit Willem sambil tersenyum.
Devan duduk di samping Abi.
"Kakek, jadilah Kakek yang baik kendalikan nafsu yang menguasai dirimu hal itu hanya akan menumpuk puing-puing kehancuran dikemudian hari." tutur Abi.
"Nak kau masih muda, Kakek ini sudah tua dan banyak yang sudah Kakek lewati. Kakek lebih tau tantang diri Kakek jangan menceramahi Kakek lagi." tegas Willem.
"Maaf kek." kata Abi menunduk.
"Dad tua atau muda jika nasehat yang ia berikan baik apa salahnya menerima dan jika mampu mempraktikannya." Sahut Devan.
"Hormatilah dan hargailah orang tua Dev." tegas Willem tak mau dibantah.
"sudahlah Ayah jangan dibuat jadi masalah." tegur Abi.
Devan menghela napas kecewa sambil berlalu menuju kolam renang di samping rumah.
"Abi belajarlah lebih banyak otakmu gunakan untuk berpikir cerdas jangan hanya bisa menasehati saja." celetok willem.
"Baik Kek." sahut Abi.
"Ayo kek kita ikut berenang bersama Ayah ajak Abi mencairkan suasana didalam ruangan tersebut.
Di dapur Marcella dan Mawar selesai memasak. Marcella megambil botol kecil berisi cairan obat.
"Marcella hentikan itu, jangan membuat masalah bagaimana anakmu menerimaku jika kau sendiri yang merusaknya." ujar Mawar .
"ini bukan Racun." ungkap marcella.
"Apapun itu jangan lakukan. serahkan saja padaku siapa yang ingin kau taklukan?"
"Devan." sahut Marcella.
"biar aku yang melakukannya kau terima hasilnya saja Awasi anaknya saja." ujar Mawar mantap.
__ADS_1