
Dewi tersenyum kala sudah sampai diluar laboratorium milik William bersama Risa.
"Bunda tidak apa-apa?" tanya Dewi.
"Tentu saja tidak papa nak, bagaimana dengan kakakmu." jawab Risa terlihat khawatir.
"Tenang saja Bunda, Ka Abi bukan anak kecil lagi pula kakak tidak sendirian." jawab Dewi santai.
Apa benar Abi bisa mengelakkan William yang licik itu apalagi tempat ini adalah miliknya batin Risa.
Melihat Bundanya masih saja cemas Dewi berusaha lagi meyakinkan sang Bunda.
Sementara di dalam laboratorium Abi dan Mars masih berusaha melawan William.
Walau sudah tua ilmu bela diri William tidaklah buruk pantas saja orang kepercayaan Devan sampai terluka walaupun tidak terlalu parah namun dapat membuatnya melemah.
Orang kepercayaan William itu salah seorang yang pandai bela diri, William tidak tau bila sang putra memiliki orang kepercayaan yang pandai ilmu bela diri karena Devan sengaja tidak menceritakan pada sang Ayah.
Abi tidak lagi banyak bicara ia menagkis setiap serangan yang diberikan William bahkan ekspresi yang begitu datar hal itu membuat tanda tanya untuk William.
"Anak ini biasanya akan menceramahiku dengan nasehat-nasehat tidak bermutu kenapa hari tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya." ucap William dalam hatinya sembari meluncurkan serangan untuk Abi.
Abi menatap sekilas ia memberi kode untuk Mars, Mars yang sudah mengerti segera melompat dan menendang kuat bagian pinggang William dari belakang. Sementara Abi menghindari serangan William.
Bersamaan dengan William ingin mengunakan pukulan mautnya untuk Abi Mars menyerang dari belakang. Tentu saja William tidak bisa menghindarinya hasilnya ia dorong maju dan tersungkur karena tak hanya sekali Mars menendang Mars mendeng punggung William juga.
William menjerit, ia meremehkan Mars karena setaunya Mars tidak bisa bela diri maka dari itu dia tidak memperhatikannya. Ternyata Mars sudah banyak berubah dan William menyesali karena tadi begitu menganggap remeh Mars.
Abi tetap tidak bicara saat William tersungkur di bawah kakinya ia tak bergeming tidak sama sekali.
William terbatuk ada darah segar yang ikut keluar saat ia batuk.
Mulut William kumat kamit membaca Matra dan menit berikutnya ia kambali bangun tanpa ada rasa sakit lagi.
Ajian Rawarontekku bekerja dengan baik batin William.
Abimanyu melirik sekilas mendapati sang Kakek kembali bugas membuatnya menghembuskan napas kasar.
"Ajian Rawarontek itu ternyata benar-benar bisa membuatnya kuat dan tidak mudah untuk dikalahkan, bila begini maka aku dan Abi yang akan kalah." batin Mars resah.
__ADS_1
Menangkap keresahan di hati Mars Abi tersenyum kecut.
Keduanya kembali melawan William.
Sementara Dewi masih berusaha meyakinkan Risa bila Abi dan Mars akan baik-baik saja namun Risa tetap berkeras hati ingin menunggu sang putra barulah akan pulang.
Entah kapan datangnya tiba-tiba suara seseorang menyapa.
Dewi Teratai jangan memaksakan ibumu bila ia bulum ingin pulang? Ujar sebuah suara wanita mengagetkan Dewi.
Dewi segera menoleh begitu pula dengan Risa.
"LASMI." gumam Dewi teratai. sedang Risa menatap sang putri keren tidak mengenali wanita yang baru menyapa Mereka.
"Kau punya ulusan denganku Dewi. Kau dulu membuatku tidak sadarkan diri berhari-hari kerena Wisa kalajengking yang kau perintah menggigit aku." Ungkap Lasmi sembari tersenyum penuh Arti.
"Ahhhhhkkkk apes sekali nasibku baru saja kehilangan kekuatan sekarang wanita ini ingin menuntut balas atas perbuatanku di massa Lallu." batin Dewi.
Apa yang kamu pikirkan Dewi. Sekarang sebaiknya hadapi aku, jangan jadi pengecut. tantang Lasmi.
Risa terkejut mendengar anak seusia tujuh tahun itu ingin mengajak Dewi berkalahi.
Dewi menelan silvanya dengan susah, ia tidak menyangka musuh menuntut balas di waktu yang tidak tepat.
"Tidak." kilah Dewi sejujurnya ia takut karena lawannya tidaklah imbang.
Lasmi sudah banyak memakan korban yang artinya kekuatan supranaturalnya meningkat pesat.
Pergilah Bun, cari tempat aman untukmu ujar Dewi sambil mendorong pelan Risa.
"Jangan memaksanya bila tidak mau mungkin ia juga ingin menjajal kemampuanku Lamsi berucap dengan nada angkuhnya.
" Bunda pergilah." usir Dewi tegas dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya.
" Tidak kita hadapi bersama." Sahut Risa yakin.
Mendengar itu Lasmi tertawa dalam hati. "kau korbanku selanjutnya." batinnya.
Dewi menatap tak suka dengan keputusan sang Bunda namun ia tidak pula bisa memaksa terlebih dengan dirinya yang tidak memiliki kekuatan lagi saat ini.
__ADS_1
Lasmi sudah tersenyum lebar ia tanpa Aba-aba menyerang Risa. Risa menagkis setiap serangan yang diberikan Lasmi dibantu Dewi serangan yang cepat dan beruntun membuat keduanya kewalahan.
Sang ular yang melihat Lasmi menyenangkan terus-menerus segera pergi "aku harus memberitahu sang Ratu Dewi membutuhkan bantuan." ujarnya menghilang di antara rerumputan.
Tanpa Dewi tau ular itu adalah salah satu ular yang dulu ia minta wisanya.
DI tempat lain Yusuf merasa tidak tenang terlebih lagi sang istri tidak memberinya kabar sedangkan Kyai Ahmad memberi tau bila Abi, Dewi dan Mars sudah ketempat William menyembunyikan Risa.
"Aku harus kesana." batinnya ia membuka gps di ponselnya untuk mengetahui dimana sang putra berada.
Kembali ke laboratorium milik William.
"Abimanyu aku dengar kau itu hebat berbagai ilmu kamu kuasai, ayo perlihatkan padaku." teriak William.
"Jangan dengarkan ucapan lelaki tua ini Abi." sela Mars.
"Mana kekuatanmu Abi ayo tunjukan padaku." ujar William bernada mengejek.
"Apa semua hanya omong kosong." sambung William.
Abi memejamkan matanya berusaha menengkan dirinya, William sepertnya sengaja membangkitkan Amarahnya agar dapat dengan mudah mengalahkannya.
Apa yang kau tunggu apa harus bertapa dulu baru bisa menyerang apa kau menunggu wangsit tandasnya sambil tertawa
"Tutup mulutmu yang tidak berahlak itu." pekik Mars.
"Kau membentak ku Mars kau lupa siapa orang yang menolongmu saat tidak ada lagi kedua orang tuamu kau lupa siapa yang menyekolahkanmu Mars." tukas William dengan nada dan wajah dibuat sedih.
"Pahlawan yang berhati baik yang menolong aku sudah mati jangan mencarinya lagi." jawab Mars.
"Kau mengatai hatiku mati." seru William tidak suka dengan wajah yang merah menahan Amarah.
"Oh tidak terima Tuan William. apa dulu anda menolong saya karena khilaf hingga melakukan kebaikan, karena menurut cerita William orlando adalah lelaki hati yang kejam bahkan tega membunuh orang tua dan saudaranya sendiri demi kesenangannya sendri.
"Jaga bicaramu Mars." bentak William tak terima.
"Kenapa bukankah sudah Anda akui semua itu bahkan dihadapan petugas polisi." lanjut Mars.
William semakin tidak suka Mars mengungkit massa lalunya. Namun Mars terus-menerus memprovokasinya.
__ADS_1
Sementara Dewi dan Risa kita sudah di kepung oleh lima orang dukun sakti yang berada di bawah kepemimpinan Putri Arum.
Lasmi dan putri Arum mendapatkan kabar dari sang Ayah bila Abi dan kawan-kawannya kehilangan kekuatan, maka dari itu mereka berniat menghabisi Abi dan kawan-kawannya.