
Defvan menatap sang putra meminta penjelasan lebih.
"Apa Ayah percaya dengan hal gaib?"
"Tidak untuk apa mempercayai sesuatu yang tidak kita lihat." sahut Devan mantap.
"Ayah yakin tidak mempercayainya sedikitpun?" tanya Abi memastikan.
"hanya sedikit, itu pun disertai dengan bukti misalahkan cerita tetang sejarah sebuah candi yang dikatakan dibuat dalam satu malam dipikir dengan akal sehat itu tidak mungkin. tapi buktinya adalah berdirinya candi tersebut sampai saat ini masih bisa kita lihat." jelas Devan.
"bagaimana dengan ilmu-ilmu gaib misalkan dukun memiliki sebuah ilmu kesaktian yang mampu membuat seseorang gila atau jatuh cinta?" tanya Abi.
"Ayah tidak terlalu percaya." cibir Devan.
"Tidak terlalu artinya masih ada sedikit percaya." ujar Abi.
"Jika buktinya ada ayah mungkin akan percaya".
"Sulit, membuat Ayah percaya dan mendekatkan diri pada yang maha kuasa." batin Abi.
"Ayah sekarang jam tiga malam, apa Ayah ingin ikut Abi sholat malam?" tanya Abi.
"Sholat, jam segini tak akan fokus Abi, mata Ayah mengantuk." tolak Devan.
"baiklah Abi tidak memaksa. Abi hanya berpesan dengan Ayah. jangan pernah berpaling dari Allah yang selalu memberikan nikmat ingatlah dan luangkanlah Waktu untuk lebih dekat denganNya." Nasehat Abi ia kemudian keluar dari kamar Devan untuk mengambil Wudhu.
Devan kembali berbaring berharap mimpi indah menghampirinya lagi.
Abi masuk dalam kamarnya mengambil sajadah melaksanakan ibadah malam dalam doa Abi meminta dibukakan pintu hidayah untuk Ayah kandungnya.
Selesai berdoa Abi masih duduk di atas sajadah membaca beberapa Ayat suci dengan suara yang begitu merdu dan dapat menggetarkan hati sang pendengar.
Devan dalam kamarnya membuka matanya mendengar sang putra membaca Al-Qur'an kepalanya terasa sakit sambil merintih ia beranjak dari kasur keluar kamar mengatuk pintu kamar Abi.
tok..
tok...
tok....!!
"Abi..!!" teriak Devan.
Devan membuka pintu kamar sang putra "Abi berhenti." pekik Devan.
Abi melirik sekilas mulutnya tetap tidak berhenti membaca Al-Qur'an.
Devan kembali merintih sambil memegang kepalanya.
"Berhenti membaca itu." Teriak Devan lantang.
__ADS_1
Abi terus melanjutkan bacaannya bahkan suaranya ia kencangkan.
Devan merayap dilantai ingin mendekati Abi tetapi badannya terasa panas semakin dekat panasnya semakin terasa.
"Abi kamu tidak dengar berhenti." teriak Devan.
Abi menutup Al-Qur'an setelah menyelesaikan bacaannya.
Ia mendekati Devan yang terkapar di lantai sambil menutup kedua telinganya menggunakan kedua tangannya.
"Keluarlah." perintah Abi.
"Tidak." bentak Devan dengan suara keras.
"Keluar sebelum Aku memaksamu." ujar Abi.
"ini rumahku." sahut Devan dengan mata merah.
"Kau masuk ketempat yang tidak seharusnya, dia Ayahku pergilah." Usir Abi.
"Kau yang pergi bocah." teriak Devan lantang sambil melotot.
"Kau dikirim oleh seseorang untuk mengendalikan Ayahku menjadi bonekanya, sebaiknya pergi dan kembali ke tuan mu." perintah Abi sambil melihat sang Ayah.
"Tidak!!" sahut Devan berkeras.
Abi membaca Ayat kursi sambil memejamkan matanya dengan satu tarikan nafas.
"Kau harus mati di tanganku bocah." ujar Devan sambil tersenyum miring.
Abi membuka matanya sambil meniupkan angin ke Arah Devan akan tatapi Devan berhasil menghindar bersembunyi kegelapan.
Serangan demi serangan diterima Abi dengan senyum mengambang baginya iblis hanyalah kerikil kecil yang menghalangi jalannya.
Abi membuka mata batinnya dalam kegelapan ia melihat tubuh Devan dikuasai oleh Seekor gorila bermata merah den berbulu hitam.
"Jin Kafir." umpat Abi.
"Hahahaha..." tawa Devan terdengar menyeramkan.
"Akan aku bunuh kau tidak akan kubiarkan kau menuntut ilmu agama bocah." teriak Devan.
"Bismillahirrahmanirrahim." dalam hati Abi menyebut dan memohon pertolongan serta perlindungan kepadaNya zat yang maha pemurah.
Samar-samar ia mendengat suara Kyai Hasan memerintah.
"Nak bacalah surat Al-jin fatihah empat dan juga ayat kursi sebagai penutup berserahlah hanya padaNya." ujar Kyai Hasan.
Tak membuang Waktu Abi melakukan semuanya walau harus beberapa kali menerima sarangan dari Devan Abi tatap fokus tak mau membuka matanya.
__ADS_1
selesai membaca semua yang diperintah Kyai Hasan. badan Abi mengeluarkan cahaya terang membuatnya dengan jelas melihat gorila dalam badan Devan. Dengan sekali hentakan kaki Abi Devan terjungkal kebelakang.ba Abi mendekati Devan.
Devan merayap menjauhi Abi merasa panas berdekatan dengan Abi.
Abi meniup kearah Devan membaut Devan tumbang dengan mata tertutup.
Gorila dalam tubuhnya keluar Abi tak membiarkan jin itu kabur. ia mencegat menariknya kembali.
"Kau tidak kubiarkan lari." ujar Abi.
Abi mengeluarkan tasbih pemberian ibunya. melilit di tangan kanan gorila hingga membuat bulu hitam sang gorila terbakar dan berteriak memohon ampun.
"Aku bukan Tuhan yang bisa mengampuni segala kesalahanmu." kata Abi.
"Aku berjanji tidak akan mengganggu Devan lagi aku kapuk." mohon sang Gorila sambil mengiba.
"Aku bukan Tuhan tempat kau memohon Ampun." sahut Abi.
"Lihat luka ini akibat ulahmu." ujar Abi memperlihatkan tangan kirinya tertancap beberapa kaca dari vas bunga yang berterbangan menyerang Abi saat ia membaca beberapa Ayat tadi.
"Aku akan menyembuhkannya asal kau melepaskan ikatan tasbih ini dari tanganku." rayu Gorila.
"Kau bukan Tuhan yang bisa menyembuhkan segala luka." jawab Abi sambil mencibir.
"Aku akan mengabdikan diriku padamu." ujar Gorila tak kehabisan Akal.
"Aku bukan tempat mahluk mengabdi." seru Abi.
"jangan suk suci kau, lihat saja mereka tidak akan membiarkan aku tiada sia-sia bersiaplah!!" kata Sang Gorila.
"Takdir tidak bisa dirubah janji adalah janji mau tidak mau harus ditepati. takdir harus dijalani. aku sudah menerima takdirku menghancurkan iblis wanita itu apapun penghalangnya harus aku lewati bagaimanapun caranya." tukas Abi mantap.
"keras kepala, kau itu tak ada apa-apa dimata putri Arum kau hanya kulit kacang jika di injak olehnya akan remuk." ujar Gorila itu tertawa disela rasa sakit akibat tasbih yang membakar kulitnya.
"Walau aku saat ini hanya kulit kacang tapi aku akan berusaha menjadi cangkang kura-kura." tutur Abi.
"Mimpi saja setinggi langit kau pasti musnah sebelum mencapai tujuanmu itu." Tukas Gorila jumawa.
Abi tersenyum dengan sekali tarikan napas ia mengarahkan ilmu tenaga dalamnya dialiri dengan doa serta Ayat kursi mengarahkan ke tasbih yang masih melilit kedua tangan gorila.
"Aku akan membalasmu berkli-lali lipat." ujar Gorila sebelum ia pergi menjadi asap hitam kemudian lenyap.
Alhamdulillah, ucap Abi sambil berjalan menghampiri Devan lampu yang semula padam kembali menyala.
"Ayah bangunlah." sambil menepuk pelan tangan Devan.
"Abi." ucap Devan membuka matanya mendapati sang putra sambil menatap bingung penuh tanya.
"Bangunlah badan Ayah pasti sakit berbaring dilantai ini." tutur Abi.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?, badan Ayah terasa sakit semua." keluh Devan