
Willem menggenggam tangannya dengan kuat menahan amarah yang bergejolak dalam dirinya.
"Kau masih kecil tau apa kamu tentang iblis. bicaramu sudah seperti orang yang paling benar. apa kamu tidak mengerti sopan santun." kata Willem memekik tak suka.
Abi tak langsung menjawab ia berjalan mendekati Mawar dan Devan kedua serentak menjauh.
"Kenapa apa salahku padamu tante Mawar kenapa menjauh aku hanya ingin melihat tangan Ayahku." ujar Abi.
"Aku tidak menjauh hanya sedang mengikuti Devan yang takut kau menyakitinya lagi." sahut Mawar datar tanpa Ekspresi.
"Berhenti di sana jangan menyentuh putraku lagi kau hanya membuatnya sakit." teriak Willem.
"Tidakkah Kakek berpikir dengan akal, selama ini Ayah yang mendekatiku dan ingin bersama denganku tapi sekarang ia takut saat aku mendekatinya, dia juga membentak Kakek dengan nada tinggi saat Kakek menegurnya tadi." tandas Abi mencoba menyadarkan Willem.
"kau anak baru kemaren sore, aku ini Ayahnya dia bersamaku puluhan tahun. lebih aku lebih mengenalnya dari kamu jadi jangan mengada-ngada." jawab Willem masih tak percaya.
"Baiklah jika tidak percaya akan ku buktikan ucapan ku." sahut Abi menentang.
"Kau salah dalam didikan Mu orang tuamu ternyata tidak mengajarimu cara bersikap dengan orang yang lebih dewasa." ujar Willem sambil mendelik.
"Tidak ibu mendidik ku dengan benar ia juga mengajariku cara mengendalikan diriku dari syirik dan amarah." kata Abi.
Devan dan Mawar beranjak menjauh dari dapur sedang Marcella masih makan dengan lambat ia masih suka melihat pertengkaran cucu dan Kakek dihadapannya.
"Berhenti di sana." kata Abi sambil mengucap nama yang maha mendengar dan melihat dalam hati Abi meminta pertolongan.
dalam hitungan detik Abi kini berada dibelakang Mawar dalam hatinya Abi berzikir tanpa henti ia menyentuh punggung Mawar tetapi belum sempat mengenai punggungnya Mawar menghindar tangan Abi kini justru menempel di pundak kiri Devan.
Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhkkkkkkk
teriak Devan merasa seluruh tubuhnya terbakar Api.
"Apa yang kamu lakukan Anakku berteriak apa kau tuli??" Teriak Willem marah sambil menarik tangan Abi menjauhi Devan.
"Baiklah jika Kakek tak ingin dibantu aku akan pergi." ujar Abi sambil berdiri karena setelah di tarik tangannya Abi juga didorong Willem.
__ADS_1
Mendengar dan menyaksikan pemandangan yang menyenangkan dihadapannya Mawar tersenyum Simpul.
"Aku tidak melepasmu, Aku pergi bukan karena takut denganmu atau antek-antek mu." tegas Abi tertuju untuk Mawar dan Marcella.
Dengan mata biru lautnya Abi mengambil satu jarum aku punturnya dialiri dengan kekuatan do,a ia melempar dengan cepat tepat mengenai leher Mawar seketika Mawar meraung sepeti singa lapar.
"Anak nakal akan aku hubunggi polisi untuk memenjarakan kamu." ujar Marcella.
Devan mencoba merangkul Mawar itu justru membuat seluruh persendiannya terasa sakit tubuhnya lunglai tak berdaya ikut terkena dampak dari jarum akupuntur Abi
Nenek Marcella bangkit dalam diri Marcella sambil merapalkan sebuah mantra ia mengarahkan tiupan angin melalui mulutnya ke Arah abi membuat Abi bisa bergerak membeku di tempat.
Merasa tuannya dalam Masalah Naga emas dalam cincin ruangnya membuka matanya sambil meluruskan badannya ia melihat keadaan Abi dengan mata illahinya.
Cincin milik Abi bergetar hebat dari batu cincin yang didalam terdapat gambar naga itu mengeluarkan cahaya untuk mematahkan mantra milik Marcella.
"Apa aku perlu keluar membantumu tuan Abi?" tanya Sang naga melalui telepati Abi.
"Tidak perlu terimakasih atas bantuan mu Naga emasku." sahut Abi.
Abi yang menyadari aura yang dipancarkan Mawar berubah membuatnya mendekati Mawar mencabut jarum yang masih menancap di leher Mawar.
" Tuan Abi roh Wanita itu ditahan oleh iblis." jelas Naga Emas.
Abi meminta kakeknya membuka mata batinnya mencari keberadaan Putri Arum.
Devan berdiri dan memukul Abi dengan sapu yang ada entah kapan berada ditangannya.
Willem yang melihat kejadian itu menatap tak percaya. "Aba benar Devan kerasukan roh jahat." Gumam Willem.
Abi terkejut sambil memegang kepalanya pening Akibat pukulan keras Devan.
Lagi-lagi Marcella menyerang Abi dengan mantranya membaut Abi kaku ditempat.
"Nenek tua aku akan membongkar topeng mu itu." nanti batin Abi.
__ADS_1
Abi kembali mampu terbebas dari mantra Marcella karena pertolongan sang Naga.
Willem dekati sang putra Devan beranjak pergi sementara Marcella mendekati tubuh Mawar.
"Lepaskan rohnya ia tak tau apa-apa bebaskanlah." perintah Abi tanpa takut sambil mendekati Marcella.
"Tidak akan Wanita ini orang tepat kecuali kutukannya bisa terpatahkan kami akan melepasnya." sahut Marcella dengan suara ditekan kecil namun Abi dapat dengan jelas mendengarnya.
Abi tanpa berpikir panjang mengumandangkan Azan begitu merdu membaut Devan serta Roh putri Arum merasa gandang telinganya begitu sakit reflek tangan mereka menutup telinga.sedangkan Willem dan Marcella terpaku ditempat tak mampu bergerak sedikitpun.
Marcella berteriak meminta Abi berhenti begitu pula Devan.
Tak tega melihat sang Ayah Abi menghentikan sejenak karena Devan kejang-kejang darah juga mengalir dari kedua lubang hidungnya.
Mak Atok mendengar suara Azan dari dalam Villa penasaran dangan alasan menanyakan adakah lagi pekerjaan yang bisa di bantunya di rumah ini ia masuk dengan langkah pasti.
Sesampainya di dapur Mang Atok terkejut melihat dapur berantakan Istri dari Willem nampak terduduk sambil menutup telinganya yang menetes darah segar. lebih kaget lagi saat tau keadaan putra sang majikan kondisinya justru lebih parah. dalam diri Devan mang Atok yang teryata indigo mampu melihat seseorang menguasai Devan dan membuatnya merasa kesakitan.
Mang Atok mengambil air lantas membaca doa lalu menyemburkan kearah Devan hingga tiga kali berturut-turut.
"aaaakkkkkkkkkkkkkkk" Teriak Devan
Dalam diri Mang Atok Abi melihat seekor harimau besar berbulu putih sedang merasuk dan mengambil alih diri Mang Atok.
"keluarlah baik-baik jangan menyiksa manusia." kata Mang Atok.
Mang Atok memencet jari jempol Devan membaut Devan kembali menjerit sakit.
Abi melanjutkan dengan Surat pendek dengan suara merdu hingga Devan berguling di lantai.
Mawar mudar mandir di sebuah kamar dilantai Atas kenapa anak itu tak juga pergi apa ia segaja berbohong agar jiwa iblis Willem tidak bangkit cukup cerdik batin Putri Arum.
sematara Abi dan mang Atok bekerja sama menguarkan siluman berbulu hitam namun berwajah manusia dalam diri Devan.
Mang Atok mengambil garam yang sudah diberi doa dan menaburkan ke badan Devan membuat Devan kembali berteriak dan meraung-raung ia mencoba melawan namun Abi dan Mang Atok terus menyerangnya dengan doa serta ayat-ayat Al-Qur'an hingga Devan melemah dan Siluman itu memilih keluar kerena merasa begitu tersiksa dalam tubuh Devan.
__ADS_1
Willem yang semula tak percaya tersentak kaget saat siluman itu memperlihatkan dirinya. Abi yang ingin membuktikan ucapannya diam-diam mengikuti instruksi Raden Mas untuk membuka mata batin Willem.