
setelah berbicara dengan mbuk Asih Vania melajukan mobilnya menuju ke sebuah salon.
tak sia-sia semua yang kau lakukan Vania. kamu berhasil mendapakan satu sertipakat Rumah Hermawan. batin vania menyemangati.
tuan Dimas pasti akan senang, mendapatkan kembali rumah lamanya. gumam Vania sambil menyetir mobilnya.
satu dami satu misiku akan kujalankan tuan Dimas, kau tenang saja asal kau menepati janjimu ketika aku sudah menyelesaikan semua misiku nanti, jika tidak kau akan tau sendiri akibatnya. batin Vania menyerigai licik.
tak terasa waktu terus bejalan kini Vania sudah berada di sebuah parkiran salon ternama di kota jogjakarta.
baru saja Vania mematikan mesin mobilnya, seorang laki-laki menggunakan jas dan kata mata hitam mengetok kaca mobilnya.
tok...tok....!!!
Vania membuka kaca mobilnya sambil menyapa.
"jack."
"buka pintu mobilnya?" ucap Jack
tanpa menunggu lama Vania segera membuka pintu mobil disebelah kursi tempatnya mengemudi.
"ada perlu apa kau mengajakku bertemu ditempat seperti ini?" tanya Jeck setelah mendaratkan pantatnya kekursi di dalam mobil.
"aku tau kau tak menyukai tempat perawatan wanita ini jeck, tenang saja aku hanya menemuimu sebentar disini." Vania berbicara sambil melirik dengan ekor matanya pemuda yang duduk disampingnya.
"cepatlah katakan apa perlumu menemuiku?" tanya Jeck mulai bosan karna basa basi Vania yang menurutnya tak penting.
"tenangkanlah dirimu Jeck aku hanya sedikit bercanda, kau seperti wanita datang bulan saja." ucap Vania sambil membuka tas yang ia bawa dan mengambil sertipikat rumah milik Hermawan.
jeck tak menanggapi ucapan Vania ia lebih tertarik mengawasi gerak gerik Vania.
"ini, serahkanlah pada Dimas." minta Vania serius.
Jeck segera mengambil sebuah map yang ada ditangan Vania.
"itu sertipikat milik Dimas yang sudah dibalik namakan oleh tua bangka itu." jelas Vania sambil melirik jeck
"kau Yakin ini sertipikat Asli?" tanya jeck setelah membuka dan melihat isinya.
"tentu saja aku mendapatkannya ditempat tersembunyi. untung saja otakku pintar hingga dapat menemukannya." ucap Vania memuji diri sendiri.
"Baiklah aku akan memastikannya terlebih dalu keasliannya baru menyerahkannya pada Dimas." ucap Jeck santai.
"terserah padamu saja Jack, jika kau meragukan keaslianya lakukan sesuai keinginanmu." ucap Vania ketus.
"sebaiknya cepat kau selesaikan tugasmu bersama Hermawan agar kau bisa terbebas darinya." saran Jack dengan nada santai melirik wanita yang ada disampingnya.
"heyyyy jeck apa kau cemburu, atau kau tak rela tubuhku terus saja dijamah oleh lelaki tua itu?" tanya Vania dengan wajah menghadap jeck
jeck mendengus kesal.
"untuk apa aku cemburu padanya. aku hanya memberimu saran tak ada maksud lain." sahut jeck."
__ADS_1
jeck kemudian membuka pintu mobil Vania dan beranjak pergi menuju mobil miliknya.
"jack apa kau menutup pintu hatimu untuk wanita." gumam Vania. sambil membuka pintu mobil keluar dan berjalan menuju salon dan masuk melalui pintu utama salon untuk melakukan perawatan.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Di sebuah hotel dikota paris.
takdiragukan lagi keindahan malam di kota paris, membuat mata tak berheti takjub melihat maha karya buatan tangan manusia.
kamar hotel tempat Risa dan Yusuf menginap sudah di hias dengan begitu romantis
Abi, dan Gio memeng meminta kepada seseorang untuk membuat kamar itu menjadi kamar romantis untuk pasangan yang berbulan madu.
Kini Risa dan Yusuf sedang duduk diatas kasur yang berhias kelopak bunga mawar di susun berbentuk hati.
"Sayang apa kamu yakin ingin memberikan hakku?" tanya Yusuf memulai obrolan mereka.
Risa tak menyejawab ucapan sang suami ia menarik napasnya dan menghembuskannya pelan.
Yusuf melihat apa yang dilakukan sang istri lalu tersenyum tipis.
"kamu tak perlu memaksakannya sayang, aku akan sabar menunggumu siap." ucap Yusuf membelai rambut sang istri.
"Aku hanya gugup mas." sahut Risa sambil bersandar pada kepala ranjang.
"tak perlu terburu- buru sanyang sesuatu yang dilakukan dengan terburu- buru itu tidak akan baik." nasehat Yusuf.
Yusuf melirik sang istri. "kamu akan bisa melakukannya nanti sayang." ucap Yusuf lembut sambil menarik kepala istrinya agar bersandar dida bidangnya.
"tapi mas bukankah tujuan berbulan madu kemari untuk melakuan hubungan suami istri, lalu apa gunanya berbulan madu jika kita tak melakukannya." sangkal Risa sambil mendengarkan detak jantung suaminya.
"sudahlah sayang anggap saja kita sedang berlibur bersama." sahut Yusuf yang menangkap nada sedih dari setiap kalimat yang diluntarkan sang istri tersayangnya.
"apa seperti ini membuatmu takut dan tak nyaman sayang?" tanya Yusuf pada istrinya
"ti-dak mas." jawab Risa gagu.
Yusuf tau sang istri berbohong.ia kemudian memeluk mesra tubuh Risa.
deg... deg....
detang jantung Risa mulai tak beraturan napasnya pun mulai memburu hingga terdengar di telinga Yusuf
"tanangkan dirimu aku tak akan menyakitimu sayang." Yusuf berbicara didekat telinga Risa dengan penuh kelembutan.
tarikan napas Risa semakin memburu. kejadian massa lalu kembali berputar dikepala Risa seperti kaset rusak.
Yusuf dengan cepat melepas pelukannya, dan menangkap wajah sang istri dengan pelahan wajahnya mendekat sampai tak ada jarak atara keduanya hingga bibir mereka saling menempel satu sama lain. ciuman rakus penuh ***** dimassa lalu yang selalu mengahatui Risa tidaklah terjadi. Yusuf memberikan ciuman dengan penuh kelembutan semabri memberikan pasukon oksegen pada sang istri.
sepersekian detik berikutnya Yusuf mengakhiri tautan bibirnya.
"maafkan aku, aku melakukan karna melihatmu kesulitan bernafas." ucap Yusuf sambil melihat ekspresi sang istri.
__ADS_1
"tid-ak apa mas." sahut Risa terbata sambil menggendalikan detak jantungnya.
Risa segera berbaring dikasur.
"apa kamu ngantuk?" tanya Yusuf.
"ada yang ingin kutakan!" ucap Yusuf melirik sekilas sang istri.
"katakanlah mas." sahut Risa.
"sebagai seorang istri kamu perlu tau. aku mengajar di Tk Al-Qur'an tempat Abi belajar agama hanya sebagai guru pembatu, gajihku disana tidak banyak dan itupun tidak pernah kupakai, gajih itu aku berikan pada anak- anak yang tak mampu membayar biaya sekolah mereka" jelas Yusuf.
"Aku harap kamu tidak mempermasalahkan itu dikemudian hari." lanjut Yusuf.
"tentu saja aku tidak akan merangmu melakukan kebaikan menolong sesama selagi kita mampu." sahut Risa
Yusuf ternyum mendengar jawaban sang istri. pilihanku memeng tak salah batin Yusuf senang.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Sementra dirumah milik Umi salamah.
Gio, Abi, Ratih serta Umi sedang makan dimeja makan.
meraka semua berhasil menyakinkan Risa dan Yusuf untuk pulang lebih awal.
"Bagaimana apa kita akan ke roko itu setelah ini?" tanya Gio
"Ya kita harus membersihkannya dulu setelah itu kita akan membeli beberapa peralatan membuat kue dan Bahan-bahan yang di perlukan." sahut mulut kecil Abi.
"bagaimana jika kita berbagi tugas agar lebih cepat selesai." sela Ratih memberi saran
"baiklah Om Gio dan Abi akan pergi membeli semua alat dan bahan yang diperlukan, sementara Oma dan Grandma membersihkan toko." ucap Abi
aku setuju ucap Gio yang diangguki oleh Ratih dan Umi.
setelah selesai makan mereka megerjakan tugas masing-masing sesuai kesepakatan. ada yang di toko untuk membersihkannya
sedang Abi dan Gio berada dipusat perbalanjaan mencari alat dan bahan yang mereka butuhkan.
tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu kini merka sudah kembali kerumah Umi salamah.
mereka berempat megobrol diruang keluarga.
"Abi ingin menunjukan sesuatau untuk kalian tunggulah disini." ucap Abi sambil berlari kekamarnya
beberapa menit kemudian ia sudah kembali membawa beberapa gulungan kertas stiker.
"lihatlah ini abi ingin menempel ini di toko ibu bagaimana pendapat kalian apa bagus?" tanya Abi antusias
Ratih meraba stiker itu dan bergumam, "ini sebuah lukisan." ucapnya
(maaf ya semuanya!!!! ini epesode 48 yang tanpa sengaja terhapus. epesode 49 nya ada pada 48)
__ADS_1