
seorang wanita cantik sedang berada di kebun bunga yang sangat indah bersama seorang anak laki-laki yang sangat tampan.
anak itu tampak sangat bahagia melihat banyaknya bunga bermacam warna dan bentuk yang sangat cantik.
"bunda lihatlah, ada bunga cantik diseberang sana." ucap anak laki-laki itu sambil menunjuk sebuah bunga yang berada di antara anak sungai disisi kirinya dan danau di sisi kanannya.
"sungguh mengagumkan, Abi akan kesana mengambilkan bunga ungu yang besar itu untuk bunda." ucap Abi.
"tidak perlu nak, bunda takut kamu kenapa-napa." sahut Risa
namun Abi tidak menghiraukan perkataan bundanya, karena rasa penasaran terhadap bunga yang dilihatnya itu.
bunga itu hanya tumbuh satu disana, sangat memikat mata bagi yang memandangnya.
"ayolah bunda biarkan abi mengambilnya sebagai hadiah untuk bunda." ucap Abi.
"tidak usah sayang, ibu sangat takut kamu tidak kembali lagi ke samping bunda, lebih baik tidak mendapatkan bunga itu dari pada kehilangan kamu nak." ungkap Risa sambil membelai rambut Abi.
Risa menatap sang anak, lalu ia mengerutkan keningnya tak kala menyadari baju yang di gunakan Abi belum pernah ia lihat sebelumnya.
"nak apa ustad Yusuf yang membelikanmu baju koko berwana putih ini? kau sangat terlihat berbeda menakai baju ini, wajahmu tampak bersih bercahaya." jelas Risa.
Abi melihat ke arah baju, dia nampak bingung sendiri, seingatnya ustad Yusuf tidak pernah membelikan baju yang sedang dipakai Abi.
"tidak bunda, Abi tidak tidak tahu!" ucap Abi
mata Abi masih memandang ke arah bunga yang diseberang sana, ia benar-benar penasaran ingin memetik bunga indah itu.
"bunda, Abi akan kembali setelah mendapatkan bunga itu." ucap Abi sambil berlari ke arah sebuah jembatan kecil yang terbuat dari kayu.
Abi terus berlari tanpa menghiraukan apapun dia berlari sangat kencang, kemudian tidak membutuhkan waktu lama Abi berada diatas jembatan kayu itu, yang dibawah jembatan tersebut mengalir air sungai yang cukup deras.
"Abi..." teriak Risa.
"kamu jangan kesana nak, bunda takut kamu menghilang." tambah Risa yang sedang panik.
"tidak akan terjadi apa-apa sama Abi, percayalah." sahut Abi yang berteriak jauh diseberang.
"Abi kembalilah nak, dimana kamu saat ini berada?" suara ustad Yusuf yang menggema tiba-tiba namun sosoknya tidak terlihat.
"ustad mohon kembalilah demi ibumu, dia akan sangat sedih jika kau pergi kembalilah nak!" tambah suara tanpa sosok tersebut.
__ADS_1
langkah Abi terhenti, ia kaget mendengar suara ustad Yusuf yang meneriakinya.
"pa ustad dimana?" gumam Abi.
"kembalilah Abi!" suara ustad Yusuf terdengar kembali ditelinga Abi.
Abi menajamkan pendengarannya dan mencari asal suara ustad Yusuf.
Abi berjalan terus menyusuri asal suara tersebut, ia berjalan melewati Risa tanpa menoleh sedikitpun, dia terus berfokus mencari asal suara ustad Yusuf yang terus memanggilnya.
hingga sampai pada sebuah cahaya berwarna putih yang menyilaukan, Abi jelas mendengar asal suara itu berada dibalik cahaya tersebut.
kemudian Abi tanpa ragu menerobos masuk kedalam cahaya itu.
Risa yang menyaksikan itu kaget melihat Abi yang menghilang ditelan cahaya tersebut, Risa bergegas menghampiri cahaya itu, sambil berlari dia berteriak memanggil sang putra, namun sayang dia tidak sempat mengejarnya karena cahaya itu segera memudar dan menghilang.
"Abi......!" ucap Risa yang terbagun dari mimpinya dengan napas tersegel layaknya orang yang baru selesai berlari sangat jauh.
"ada apa ini? kenapa aku bernimpi seperti itu?" gumam Risa berbicara sendiri.
Risa melihat jam dinding yang menunjukan jam setengah satu malam, kemudian dia segera mengambil air putih yang ada disamping tempat tidur lalu meminumnya hingga tak tersisa.
Risa masih termenung memikirkan mimpinya itu, tiba-tiba suara ketukan pintu membuatnya kembali tersadar.
"Risa, Risa bukalah pintunya nak!" suara Umi Salamah terdengar dari balik pintu.
Risa bangkit dari tempat tidur disebuah kamar dirumah Umi Salamah, ia berjalan dan membukakan pintu kamar.
"ada apa Umi tengah malam begini?" ucap Risa.
"ini Yusuf ingin berbicara padamu nak?" ucap Umi Salamah sambil menyerahkan ponselnya kepada Risa.
"emang ada apa Umi?" tanya Risa.
"bicaralah dengan Yusuf Umi juga belum mengetahuinya, namun tampaknya penting." ucap Umi Salamah.
Risa mengambil ponsel yang di berikan Umi Salamah lalu meletakan ditelinganya.
"asalamualaikum halo mas Yusuf ada apa?" ucap Risa.
"iya halo, Risa ada hal penting yang saya ingin sampaikan padamu dan Umi aktifkanlan speaker ponsel agar Umi juga mendengar hal yang akan ku sampaikan." ucap ustad Yusuf disambungan ponsel mereka.
__ADS_1
"baiklah mas." ucap Risa mengaktifkan speaker ponsel.
lalu Risa dan Umi Salamah duduk di sebuah sofa.
"Risa kuharap kamu tidak kaget mendengar ini." ucap ustad Yusuf dengan nada dan tempo yang pelan.
"ada apa mas?" sahut Risa yang masih penasaran.
"saat ini Abi sedang berada dirumah sakit, karena dia tertembak sebuah peluru yang masih belum diketahui dari mana asal dan pelakunya, aku sudah melakukan oprasi untuk mengeluarkan peluru yang ada di bahu kiri Abi." ucap ustad Yusuf.
"kondisi Abi sempat kritis karena tertembus peluru tersebut, untungnya aku berhasil membawanya kerumah sakit dan mengobatinya tepat pada waktunya, sekarang keadannya sudah stabil, akan tetapi Abi masih dalam keadaan koma." jelas ustad Yusuf mengakhiri ceritanya.
Risa tidak bisa berkata-kata, kepalanya tiba-tiba pusing, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, begitu pula dengan jantungnya berdetak sangat kencang lalu air matanya tak terbendung keluar mendengar kabar buruk yang menimpa putranya.
Bruk!
tiba-tiba Risa jatuh pingsan.
"Risa!" teriak Umi Salamah yang melihat Risa tidak sadarkan diri.
"ada apa Umi?" ucap ustad Yusuf dari sambungan ponsel.
"Risa pingsan nak, mungkin dia kaget mendengar berita buruk yang menimpa Abi" ucap Umi Salamah.
"Umi oleskanlah Risa minyak kayu putih, itu akan membuatnya segera baikan, ambilah didalam tas obat Yusuf." ucap Yusuf.
"baiklah nak, Yusuf kamu tetaplah jaga Abi, jangan sampai terjadi apa-apa lagi kepada Abi." ucap Umi Salamah.
"iya Umi baiklah, Yusuf tidak akan meninggalkan Abi sendiri." ucap Yusuf meyakinkan ibunya.
"ya sudah Yusuf kamu hati-hati disana, siapapun pelakunya semoga cepat tertangkap." ucap Umi Salamah lalu menutup sambungan telponnya.
Umi Salamah mendekati Risa lalu memberikan bantal sebagai penyangga kepala Risa, kemudian Umi Salamah membuka tutup minyak kayu putih dan menciumkannya pada hidung Risa dan mengoleskannya dibagian kepala, pundak, leher, serta perut Risa.
selama 30 menit Risa pingsan dan kini dia sudah sadar namun tatapannya kosong seperti orang linglung.
Umi Salamah yang melihat itu mencoba mengajak Risa bicara secara lembut penuh kasih.
Umi Salamah memegang sambil memijat pudak Risa.
"bicaralah nak, apapun yang kamu pikirkan saat ini, Umi siap mendengarkanmu." ucap Umi Salamah dengan nada lembut untuk membuat Risa sabar.
__ADS_1
kemudian tubuh Risa memeluk Umi Salamah sambil menangis tanpa tahu harus mengatakan apa.
Risa menangis dan terus menangis disisi Umi Salamah sepanjang malam itu.