
"Apa kau ingin menguji coba racun pada kami?" tanya Ahmad kesal.
"Bisa dibilang begitu kau, akan Aku buatkan lagi untuk kalian semua." ujar Wellem.
Mbok khusus untukmu dosisnya akan Aku turunkan karena kau sudah tua lanjut Willem sambil mengeluarkan botol kaca kecil dan memaksa Mbok jamilah membuka mulutnya menggunakan tangannya.
Mbok jamilah bersikeras tak membuka mulutnya tangan Wellem menampar wajah Si Mbok dengan keras.
plaaaaakkkkkkkk.
"angkat tanganmu jangan bergerak tempat ini sudah kemi kepung." ucap petugas yang sejak tadi sengaja mendengarkan obrolan mereka dengan bersembunyi.
Willem tersenyum miring sambil berucap kalian sengaja bersekongkol untuk menganggap Aku hah" bentaknya.
dua orang petugas yang sudah dihubungi oleh petugas yang menyamar masuk segera meringkus Willem serta membawanya kekantor polisi. saat melewati Ahmad dan Hasan Willem menatap tak suka.
Didalam perjalanan dengan tangan diborgol. Willem mengambil racun berbau, yang apabila dicium akan membuat hilang kesadaran, saat petugas lengah ia segera merogoh saku depan celananya, membuka penutup botol kecil berisi racun. Willem segera menahan napas dalam hitungan detik polisi disampingnya hilang kesadaran sedangkan sang supir lekas menghentikan laju mobilnya karena merasa kepalanya pusing detik berikutnya tak sadarkan diri.
Willem segara menutup botol racunnya ia mencari kunci borgolnya begitu ketemu ia bergegas mengambil dan melarikan diri.
Willem lari dan terus berlari sejauh mungkin sampai akhirnya ia masuk kesebuah rumah kosong.
"Aku rasa ini tempat yang tepat untuk bersembunyi sementara waktu." gumamnya pelan.
Willem menyusuri rumah itu memindai secara detil menilai semua barang di sana. ia masuk kebagian dapur melihat kamar mandi serta kemar kecil.
Willem kembali lagi ke dapur melihat beberapa barang yang masih bisa digunakan untuk memasak.
krukkkk krukkkk
sial perutku lapar ia merogoh saku celana dan mendapati uang keduapuluh ribu.
"Astaga uang segini mana cukup untuk bertahan." ucapnya sambil berpikir.
Willem kembali masuk ke kamar mandi mencuci tangan dan kakinya terasa penuh debu saat berada di rumah kosong ini.
saat mencuci tangan ia mendapati sesuatu yang tak lazim. keramik dikamar mandi itu ada satu yang berbeda warna dan ada sedikit bolong bagian sisinya. jika pecah sediri tak mungkin lubangnya serapi itu batin Willem
"Ada yang tidak beres lebih baik aku periksa segera." ujarnya berbicara dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Willem mengunakan jari kelingkingnya memasukan pada sisi keramik yang berlubang iseng-iseng ia mencoba mengangkat dan tak disangkanya keramik itu terangkat tak hanya satu tapi empat enam keramik lain yang berada di bawah bak mandi juga bisa terangkat.
Willem mengunakan ponselnya untuk melihat apa yang ada dibawah keramik yang sudah ia buka.
matanya melihat sebuah anak tangga. perlahan Willem masuk dengan mengandalkan cahaya senter pada ponselnya.
bau apek tercium bau tahan oleh indra penciumannya.
willem melihat sebuah peti mati berada di sana peti itu berukir emas murni.
Willem semakin mendekati pati tersebut meski dengan perasaan takut dan was- was rasa penasaran lebih mendominasi untuk mengabaikan peti dihadapannya.
dengan tekat menanggung segala resiko yang akan terjadi Willem membuka peti mati didepannya.
"Aaauuuwww, berat juga penutupnya apa karena ukiran emas ini yang membuat berat." gumam Willem.
sekali lagi Willem mengumpulkan tenaganya untuk membuka kembali peti mati itu kali ini ia berusaha mengesirnya kesamping.
saat penutup berhasil digeser mata Willem membulat sempurna melihat Mumi yang terbaring diatasi perhiasan serta emas batangan.
"Nasib mujur sedang berpihak padaku dengan emas dan perta permata ini aku bisa kaya." pekik Willem begitu gembira.
Rasa takutnya menghilang begitu melihat banyak harta.
"Mumi kau jagalah semua harta ini aku pasti kembali." ujar Willem sambil mengambil satu emas batangan dan juga satu batu permata kemudian menutup kembali peti dengan rapi.
Saat sudah berada di atas Willem mencuci emas batangan serta batu permata yang ia bawa. tak lupa ia memeriksa dengan teliti emas ditangannya.
begitu yakin emas serta permata itu asli Willem tertawa penuh arti.
"Aku harus menunggu sampai keadaan aman setelah itu aku bisa pergi dari kota kecil ini." batin Willem.
"Meski harus pergi luar negri untuk menghindari kejaran polisi tetap aku lakukan." monolog Willem.
"Aku harus mencari orang yang bisa membantuku membuat kartu nama palsu dan juga paspor." ujar Willem.
Willem masuk kemar dan melihat masih ada kasur empuk di atas ranjang meski tidak sebagus dirumahnya Willem tak mempermasalahkan hatinya terlalu gembira melihat banyak tumpukan emas di ruang bawah tanah.
Willem bergegas membeli nasi bungkus dengan uang seadanya serta air mineral ukuran besar.
__ADS_1
"Aku tidak bisa terus keluar bagaimana menjual emas ini." kata Willem.
Di sisi lain mobil yang kendarai petugas segera melaju menuju kantor polisi.
"Anak itu tidak bisa di anggap Enteng, Dia orang yang nekat." ucap seorang petugas Wanita.
"benar sekali kita harus secepatnya menyusuri seluruh kota mencari anak muda itu. terlalu berbahaya jika berkeliaran." sahut seorang petugas pria.
begitu sampai di kantor polisi. seorang petugas lekas menceritakan kejadian yang menimpa Hasan serta Ahmad dan dua pembantu di rumah dan Ahmad.
selesai bercerita komandan polisi segera memerintah anak buahnya mencari Willem di manapun ia saat ini.
Willem menyamar menjadi anak jalanan berpura pincang mengamen di pasar sekali melirik orang yang menjual emas serta beberapa berlian.
Aku akan menjual permata milikku ini ujar Willem.
Saat keadaan sepi Willem mendekati toko emas dan merogoh saku mengambil permata yang ia bawa.
Dikira pengemis meminta-minta Willem disuruh pergi setelah memberi willem pemilik toko memberikan uang .
"saya tidak menerima uang bapak saya mau menjual ini." ungkap Willem.
sang pemilik melirik batu ditangan Willem.
"ini milikmu atau kau mencurinya dari suatu tempat saya tidak mau membelinya jika ini hasil curian." ucap Sang pemilik toko emas.
"Pak gendut, saya mohon bantu saya, nenek saya sakit perlu uang untuk berobat benda berharga ini peninggalan kakek. kami tidak bisa menunggu lama. bisa saja penyakit Nenek kambuh dan terjadi hal yang tak diinginkan. tolang lah pak anda memilki hati nurani pak saya benar-benar butuh pak." ujar Willem memelas.
Laki-laki gendut sang pemilik toko merasa iba berpikir sejenak tak lama kemudian mengangguk setuju.
"Anak ini tidak tau harga pasaran permata. aku bisa memanfaatkannya." batin pemilik toko.
"akan aku beli." ujarnya Mantap.
"terimakasih pak." Ujar Wilem senang.
"diluar dugaan Willem tak bisa dimanfaatkan sang pemilik toko." Willem juga mengetahui berapa harga emas dan permata dipasaran.
"Ini uangnya sesuai yang kamu inginkan." kata pemilik toko perhiasan.
__ADS_1
Willem tersenyum gembira lantas berlalu pergi meniggalkan pasar sambil berjalan pincang dan kembali ke rumah kosong yang ia tepati..
"Huhhhhh. hampir saja untung petugas polisi itu tidak mengenaliku saat lewat tadi." ujar Willem sambil tersandar disebuah kursi kayu.