
Hari demi hari berlalu, Abi masih setia berada di dalam Ruang Demensi miliknya bersama Dewi teratai kecil yang selalu mengawasi sang Kaka.
Dewi teratai tidak pernah lupa tugasnya. Ia juga sudah mengetahui semua penyebab kekecaukan di pondok akibat ulah Putri Arum yang ingin mengulur Waktu hingga wanita itu berhasil mendapatkan kesaktiannya kembali.
virus yang meneyebar dan menelan korban juga sudah di bereskan oleh Dewi teratai kecil. Saat mendapatkan laporan dari Baiyura bila air yang di gunakan para santri untuk keperluan mereka sehari hari-hari terdapat virus berbahaya Dewi segera meminta Baiyura menyempaikan pada Kyai Hasan. Ia juga membuat beberapa obat yang bisa melawan virus yang sudah terlanjur menggerogoti korbannya.
Di rumah Devan ia memasukan beberapa lembar pakaian kedalam koper kecil miliknya. Seperti permintaan Mars lebih baik Devan meninggalkan dulu rumahnya dan tinggal di pondok biar semua masalah di rumahnya dan di perusahaan di serahkan pada pihak yang berwajib.
Sebelumnya Devan sudah melaporkan pada polisi masalah penemuan dua mayat dan perampokan di rumahnya termasuk hilangnya seorang pengasuh putri Lasmi dan juga masalah di perusahaannya.
Devan tidak membawa mobil, ia di jemput oleh Mars mengunakan motor milik Zahra yaitu motor bebek dalam perjalanan tidak ada yang berbicara Keduanya larut dalam pikirannya masing-masing.
Risa dan Ratu teratai masih saja melakukan latihan dan latihan tanpa lelah.
"Bunda ayo panah ke sana." minta Ratu teratai menunjuk ke arah sebuah pohon mangga liar yang berada di hutan tempat markas Abi.
Risa mengangguk ia mengarahkan busur panahnya ke arah salah satu tangkai buah mangga yang terlihat sudah matang.
Sttttttt........
Dari jarak sejauh tiga meter Risa bisa memanah tepat sasaran dan buah itu terjatuh
"Mata Bunda benar-benar tajam." cicit ratu Teratai tersenyum.
"Kamulah yang mengajari Bunda Nak." Risa menyahut santai ia membuka tutup botol air meneral dingin kemudi meminumnya hingha tandas.
"Aku ambilnya bunda buahnya sepertinya enak di buat jus!!." Ratu teratai kemudian berlari cepat hanya dalam hitungan menit ia sudah kembali membawa sebuah buah mangga yang luman basar dan tidak hanya satu ada lima buah mangga yang terlihat enak di tangan Ratu teratai.
"Sebaiknya bunda istirahat, ingat kesehatan Bunda lebih penting" Nasehat Ratu teratai sembari menatap Risa.
"Terimakasih Nak." sambil mendekati Ratu teratai dan membelai rambut panjang sang putri.
"Ayo kita masuk Bunda buatkan kamu jus Mangga." ajak Risa.
Ratu teratai mengangguk ia mengikuti Risa berjalan menuju Dapur.
"Betapa beruntungnya Abi memiliki Ibu seperti Bunda Risa." batin Ratu teratai sembari berjalan.
"Sayang jalanan jangan sambil melamun." tegur Risa melihat Dewi terus tanpa melihat Risa yang sudah berbelok.
Ratu teratai tersadar ia pun nyengir kemudian menyusul Risa untuk mencuci buah mangga di wastafel.
Risa tersenyum seraya berucap.
__ADS_1
"Jangan bersedih Nak, kamu Abi dan Dewi sama-sama Anak Bunda tidak ada bedanya." Cetus Risa sembari mengupas buah yang sudah di cuci bersih.
"Bagaimana Bunda tau kalau aku bukan Dewi teratai." kata Ratu Teratai penuh selidik.
"Aku tidak tau yang jelas indra pendengarku semakin tajam begitu pula mataku hingga dapat melihat dirimu yang berada di dalam raga putri kecilku." jelas Risa memasukan buah kedalam blender.
Ratu teratai tersenyum getir menyadari waktu tidak akan lama lagi. Akankah ia sanggup meninggalkan mereka semua yang tanpa ikatan darah memberikan kasih sayang sedang orang tuanya sendiri tidak pernah menginginkan kehadirannya hingga tega membunuhnya.
"Ini jusnya sudah jadi sayang." Panggil Risa.
"Terimakasih Bunda terimasih untuk segala sesuatu yang Bunda berikan padaku selama aku disini jujur aku bahagia Bunda" kata Dewi berkaca-kaca.
"Sanyang jangan sedih, Bukan orang tua kamu tidak menyanggimu Nak, hanya saja mereka tidak tau betapa beruntungnya mereka memiliki putri hebat seperti dirimu. Bunda yakin mereka menyesal sudah membuang kamu." Ujar Risa merapikan rambut Ratu teratai dengan penuh kasih.
Ratu teratai menitikkan air matanya. Ia menghirup udara disekitarnya sambil memejamkan kedua matanya. Dalam hati ia berjanji akan menjaga keluarga Risa dengan caranya nanti.
"Mungkin lewat Bunda Dewi Lasmini membantu kita mengalahkan putri Arum." Batin Ratu teratai membuka kembali matanya.
Risa dan Dewi kini duduk di kursi meja makan saling menatap penuh kasih.
"Ratu teratai Tenanglah kita pas mampu melawan iblis betina itu bersamaan sekuat apapun dia."
"Iya Bunda." sahut Dewi kemudian menyedot jus mangga di atas meja depannya.
Rasanya berat meninggalkan kalian Aku terlanjur sayang batin Dewi.
"Bunda juga berat melepasmu, namun takdir sudah digariskan kamu memiliki tempat tersendiri di dalam hati kami." ucap Risa.
"Bunda bagaimana Bunda mengarnya aku yakin tidak membuka mulutku ...?"
"Sudah Bunda bilang telinga Bunda tajam sekarang."
Ratu teratai mengutupkan bibirnya sambil menatap Risa yang juga sedang menatalnya.
"Terimakasih kamu menolong suamiku..!!" kata Risa tiba-tiba membuat Ratu teratai terkejut ia tidak pernah bercerita pada siapapun tapi kenapa Risa tau semuanya.
"Bunda bagaimana Bunda tau?"
"Entahlah Bunda bicara asal." jawab Risa membuat Ratu teratai bingung.
"Apa bunda tau Dewi kecil Dimana?"
"Iya Dewi menemani kakaknya." sahut Risa santai.
__ADS_1
Apa Dewi memberi tau ibunya?" batin Ratu teratai.
"Tidak sayang"
"Sudahlah tidak perlu di bahas Bunda juga kadang gak sadar apa yang keluar dari mulut bunda spontan." tukas Risa sambil bangkit berdiri ia ingin melanjutkan kembali latihannya.
"Cenayang." gumam ratu teratai tanpa Sadar.
Sayang Bunda bisa dengar teriak Risa sambil melanjutkan langkah-langkahnya.
"Up.....maaf." Dewi menutup mulutnya mengingat Risa yang sekarang bukanlah Risa yang dulu lagi.
"Wow pasti ka Abi terkejut dengan kemampuan Bunda nanti." Ratu teratai berlari menyusul Risa untuk kembali berlatih bersama.
Sesampainya ia di kejutkan dengan serangan Risa padanya.
Ratu teratai menghidar dengan cara melompat tinggi.
"Waspadamu bagus Nak." puji Risa.
Keduanya saling serang untuk menguji kemampuan latihan mereka selama beberapa hari.
Di istana Raja iblis.
Putri Arum berulang kali menjerit menahan rasa sakit di perutnya.
Raja Jin mendekatinya.
"Nikmatilah mereka sedang tubuh dirahimmu sayang." ucap Raja Jin.
"Kenapa sesakit ini." Rintih Putri Arum.
"Aku sudah katakan sebelumnya apa kamu lupa?"
"Sampai kapan anak-anakmu menyiksa aku?"
"Sampai mereka lahir" Raja iblis menyahut santai.
"Apa kau gila ini sakit sekali." keluh putri Arum .
"Maka dari itu sebagai imbalannya kau akan mendapatkan Kasakhstan dari Anak-anak itu nanti."
"Tanang putri Arum besok akan kusediakan minuman yang bisa membatuat anak-anakku senang dan berhenti menyiksa kamu"
__ADS_1
"Aku mau sekarang...!!" kembali Putri Arum menjerit marasakan sakit luar biasa di perutnya.
Tidak bisa Tunggu saja sampai besok Raja iblis keluar meninggalkan putri Arum yang masih berbaring lemah di kasur.