
seorang laki-laki berdiri dari tempatnya duduk, wajahnya tampak kusut karna kurang istirahat.
Mars mengangkat bahunya acuh aku harus pergi dulu. "anda selalu menambahkan tugas setiap bertemu badanku sangat letih aku perlu istirahat bos." ucap Mars
Mars menupuk bahu Defvan. "Kau bisa melalukannya tanpa bantuanku Defvan, buktikanlah jika anak kecil itu adalah darah dangingmu dengan usahamu sendiri." ucap Mars kemudian berlalu pergi.
Defvan menyandarkan punggungya kesofa tempatnya duduk sambil bergumam. "baiklah Mars akan aku lakukan sendiri tanpa bantuanmu."
bepindah ke kota paris.
Risa dan Yusuf sedang makan berdua disebuah restoran terkanal dikota itu.
"Mas aku mohon maaf padamu, karna sampai saat ini aku belum bisa memberikan hakmu padaku" ucap Risa tertunduk sedih.
"Sudahlah Risa tak perlu meminta maaf seperti itu aku memakluminya." sahut Yusuf.
"tapi Mas, aku merasa itu tak adil bagimu." ucap Risa dengan raut wajah bersalah.
"Risa saat ini yang Mas perlukan adalah kamu dan Abi berada disisi Mas melihatmu tersenyum bahgia saja Mas sudah merasa senang." sahut Yusuf.
"sebagai seorang istri bukan kewajibanku melayanimu, tapi sampai saat ini aku masih belum bisa memberikannya padamu." Risa berbicara dengan nada sedih.
"sayang Mas menikahimu bukan karna mengingikan tubuhmu saja, Mas menikahimu karna ingin melihatmu bahagia bersama Abi, sudah cukup massa sulit yang kamu lewati bersama Abi Mas ingin melihat kalian semua tersenyum bahagia." Yusuf menjelaskan pada Risa agar ia tak lagi merasa bersalah.
"ta-pi Mas." ucap Risa terpotong karna Yusuf memintanya diam.
"suttttttt..... sudah Risa tak ada tapi dan tapi lagi, aku akan baik-baik saja meski tak dapat jatahku." ucap Yusuf sambil tersenyum manis.
"Bisakah Mas membantuku untuk menghilangkan rasa trauma yang kualami hingga saat ini?" tanya Risa dengan penuh hati-hati.
Yusuf yang mendengar permintaan sang istri tersenyum simpul.
"Baiklah kita akan melakukannya mulai malam ini." sahut Yusuf.
"melakukan apa?" tanya Risa gugup.
Yusuf mengedipkan sebelah matanya untuk mengoda sang istri.
keringat dingin mulai keluar dari badan Risa, ketakutan akan kejadian massa lalu kembali menghantuinya.
Yusuf mengeser kursinya agar dapat duduk disamping istrinya.
"Risa tenangkan dirimu, jangan membayangkan kejadian massa lalumu yang buruk. lihatlah aku!" sambil memengang wajah Risa yang dingin, dengan kedua tangannya.
"aku adalah suamimu Yusuf bukan orang yang merenggut mahkotamu." Yusuf berbicara dengan menatap sng istri lembut
"kau dalah wanita yang kuat, aku yakin kau bisa menyembuhkan dirimu sendiri. jangan biarkan rasa traumamu itu menguasai dirimu, jika kamu tak bisa melakukannya untuk dirimu, maka lakukanlah untuk orang yang kau sayangi untukku dan untuk Abi." ucap Yusuf sambil menatap bula mata indah Risa.
mendengar nama sang putra disebut entah kekuatan dari mana Risa berani membalas tatapan Yusuf dan menganguk mantap.
Yusuf tersenyum kemudian mengenggam tangan Risa.
__ADS_1
Risa membalas senyuman yang yusuf berikan padanya.
"ayo kita makan, setelah selesain aku akan mengajak kesuatu tempat." ucap Yusuf.
Risa mengangukan kepalanya dan mulai memakan makanan yang ada demeja.
setelah selesai makan Yusuf menepati janjinya ia membawa kesuatu tempat.
Risa dan Yusuf bejalan menyusuri sungai pada saat matahari akan terbenam sambil berpengangan tangan.
"Risa kamu suka tempat ini?" tanya Yusuf.
"ya aku memyukainya." sahut Risa
"bagimana jika besok kita ke tempat-temat wisata dikota ini bersama Abi." ajak Yusuf.
"baiklah tapi bagaimana dengan ibu Gio dan Umi kita akan mengajak mereka juga?" tanya Risa sambil terus berjalan mengikuti langkah Yusuf.
"tentu saja kita akan pergi bersama keluarga besar kita." sahut Yusuf sambil tersenyum.
"bagaimana sekarang, apa masih takut saatku sentuh." tanya Yusuf.
"sudah lebih baik." sahut Risa.
"itu bagus, Risa satu hal yang perlu kamu ingat aku tidak akan memperlakukanmu dengan kasar, jika dalam banyanganmu orang itu memaksa melalukannya dengan membabi buta, maka aku tidak akan melakukan itu padamu." jelas Yusuf
"jangan menganggap semua laki-laki sama dengan peria yang menodaimu." ucap Yusuf.
"dia hadir diresepsi pernikahan kita mas." ucap Risa.
Yusuf, terkejut mendangar ucapan sang istri.
"Apa aku mengenalnya?" tanya Yusuf.
"ia mas dia adalah salah satu pasienmu Defvan." ucap Risa sambil menatap lurus kedepan.
setelah mempertimbang beberapa kali, Risa akhirnya membuka mulutnya untuk mengatakan siapa orang yang menodaiya malam itu pada Yusuf.
Apa? "jadi Defvan yang mengambill
mahkota berhargamu?" ucap Yusuf menghentikan langkahnya, nada suara bahkan naik satu oktap.
"Ya aku begitu mengingat wajah laleki yang membuat hidupku berubah setelahnya." sahut Risa dengan ekspresi sulit dibaca.
"Defvan nenjadi pasienku juga karna ia tak bisa melupakan kejadian yang menimpanya delapan tahun lalu." ungkap Yusuf.
Risa bingung dengan ucpan sang suami.
"apa maksudmu Mas?" tanya Risa.
"Defvan mengatakan jika ia dijebak oleh seseorang tidur dengan gadis yang tak dikenalnya." sahut Yusuf.
__ADS_1
"dijebak? tanya Risa, aku rasa dia berbohong mas, jika ia dijebak tentu ia akan merasa kasihan padaku saat aku merintih dan memohon padanya." ucap Risa sambil mengingat massa lalu kelam itu.
"dia melakukannya berulang-ulang seperti orang yang kesetanan." ingatan itu kembali masuk berputar dikepala Risa.
"dia dalam pengaruh obat perangsang dengan dosis tinggi" sahut Yusuf.
"dari mana mas mengatahuinya?"
"karna siang harinya seseorang memintaku memeriksa Defvan yang lemah karna terlalu banyak mengeluarkan tenaga." sahut Yusuf.
hmmmm Risa menganggukan kepalanya mengeti.
"jadi Defvan ayah kandung Abi?" tanya Yusuf.
"iya." jawab Risa singkat.
"apa kamu tak perniat memberitahunya?" tanya.
"tidak biarkan waktu yang meri tau semuanya." sahut Risa.
"apa kamu takut jika Defvan mengambil Abi?" tanya Yusuf.
"tentu saja, aku tak ingin berpisah dari Abi." sahut Risa.
"itu tidak akan terjadi sebagai seorang ibu kamu lebih berhak atas Abi" yusuf berbicara sambil mengusap punggung tangan sang istri.
"sebaiknya kita pulang membersihkan diri dan sholat berjama'ah." ajak Yusuf.
sematara Abi dan Gio sedang bersantai di balkon hotel.
"Abi apa kau bosan?" tanya Gio.
"tidak om Abi merasa senang kita berkumpul dan berlibur bersama?" jawab Abi.
"Om juga senang dan bahagia memiliki keponakan yang pintar sepertimu." sahut Gio.
"Benarkah?" tanya Abi.
Gio mengangkat Abi dan membawanya masuk kedalam.
"sudah senja sebaiknya kita masuk" ucap Gio.
"apa grandma dan Umi ada dikamar sebelah?" tanya Abi.
"Ya ada apa?" tanya Gio
"mau mengajak mereka jalan-jalan nanti setelah ayah dan Bunda datang." sahut Abi.
"kemana?" tanya Gio.
"berburu kuliner." sahut Abi sambil berjalan menuju kulkas mini yang ada dikamar hotel tersebut.
__ADS_1