
Defvan memperhatikan ekspresi Gio saat melihat foto massa kecilnya.
"Bagaimana bisa semirip ini." batin Gio
"aku tidak sedang membohongimu foto itu adalah fotoku sewaktu masih seumuran dengan Abi." jelas Defvan sambil menatap pintu ruangan tempat Abi melakuakan perawatan dibuka seorang dokter.
tanpa menunggu jawaban Gio. Defvan mengampiri Dokter.
"Bagaimana dok, apa semua baik-baik saja?" tanya Defvan
"anda tak perlu kuatir pa Defvan, anak itu baik-baik saja,lukanya juga tidak dalam." ucap Dokter menepuk bahu Defvan.
"apa ponakan saya boleh pulang dok?" tanya Gio menyela.
"tentu saja boleh, dia tak perlu melakukan perawatan karana lukanya hanya kecil." sahut sang dokter
"terimakasih dok,apa saya boleh melihatnya?" tanya Gio
"silahkan." sahut dokter Ramah
Gio lalu masuk sebuah ruangan tempat Abi berada.
"Pak Defvan ikutlah dengan saya." ucap dokter yang sudah terlihat tak muda lagi.
sesampainya diruangngannya sang dokter segera mempersilahkan Defvan untuk duduk.
"apa anda benar-benar akan melakukan tes DNA pada anak laki-laki itu." tanya Dokter Sandi.
"Ya, apa anda sudah mengambil simpel darahnya?" tanya Defvan.
"sudah saya lakukan. tinggal giliran anda yang belum." sahut dokter sandi tenang.
"ambillah simpel darah saya sekarang dok, saya ingin semua dilakukan dengan cepat." perintah Defvan tegas.
"baiklah dalam satu jam hasilnya akan keluar." sahut dokter sandi.
setelah mengambil simpel darah milik Defvan dokter segera masuk kesebuah ruang khusus.
semantara Defvan menunggu dengan tak sabar. ia mudar mandur seperti setrikan ruang tunggu pasien
maafkan aku Clarissa jika melukan tes DNA pada putramu tanpa ijin darimu, aku takut kau seperti Yana menghalangiku mengerahui sebuah kebenaran.batin Defvan.
waktu terus saja berjalan hingga seorang dokter masuk kembali keruangannya diikuti oleh Defvan.
Dokter sandi menderatkan pantatnya dikursi kerjanya. ia melirik Defvan yang juga sedang duduk dihadapannya.
"Bagaimna dok?" tanya Defvan tak sabar.
dokter sandi membuka sebuah kertas dan membacanya dalam hati sesaat kemudian tampak terliahat senyum mengembang dibibirnya.
__ADS_1
"selamat pa Defvan, dari hasil tes yang ada lalukukan hasilnya 99 persen tingkat kecocokannya." ucap dokter sandi menatap Defvan
Defvan mencoba mencerna kembali ucapan dokter yang ada didepannya didetik berikutnya ia terlihat terkejut sekaligus senang.
apa itu artinya anak itu darah daging saya.
gumam Defvan perlan berbicara sendiri.
"Anda benar pak, anak laki-laki itu anak anda." sahut Dokter Sandi yang mendengar Defvan bertanya pada dirinya sendiri.
Defvan pelahan bangkit dari tempatnya duduk dan mengucapkan terimaksih pada dokter sandi ia juga meminta agar dokter Sandi merahasiakan masalah ini.
setelah itu Defvan bergegas berlari keruang perawatan tempat Abi tadi ia tinggalkan. sesampainya disana ia mendapati ruangan itu sudah kosong.
"suster dimanan pasien anak yang tadi ada disini?" tanya Defvan sambil mengatur nafasnya sehabis berlari.
"sudah dibawa pulang oleh keluarga pasien pak." sahut suster Nina
"terimakasih." sahut Defva kecewa sambil berlalu pergi dari kadapan suster Nina.
Defvan segera kembali ketoko tempatnya bertemu dengan Abi sesampainya disana ia harus kembali kecewa karna tak menemukan satu orangpun ada disana.
Dengan sedih ahirnya Defvan berjalan menuju mobilnya.
setelah masuk kemobil mewah miliknya Defvan segera menjalankannya menuju rumah orang tuanya.
"Defvan dari mana saja kau." tegur sang Ayah.
"ada apa dad tak bisakah Defvan beristirahat sejenak disini." sahut sang putra.
"daddy kekantormu tapi kau tidak ada disana apa yang sedang kau lakuakan diluar kantor. tanya willem dengan surut mata tajam memandang sang putra.
"aku dari rumah sakit dad." sahut Devfan santai.
Willam mentap bola mata Defvan mencari kebohongan dari sana yang ternyata tak ia temukan.
"Apa yang kau lakukan dirumah sakit?"tanya Willem datar.
Defvan melirik sekilas sang Ayah, lalu memberikan sebuah amplop yang berisi hasil tes DNA nya bersama Abi.
Willam mengerutkan keningnya sedetik kemudian ia mengambil amlop yang dibarikan Defvan.
setelah membuka dan membaca apa yang tertulis disana ia tersenyum tipis.
ceritakan semuanya paduku Defvan perintah Willem tegas.
Devfan menceritan dengan jelas semuanya termasuk kejadian ia dijebak oleh Dimas anggara hingga menyebabkan benihnya tubuh dirahim gadis yang tak ia kenal.
Willem menganguk paham setelah mendengarkan cerita sang putra semata wayangnya.
__ADS_1
"colon pewarismu harus kau ambil dari wanita itu def." perintah sang Ayah.
"bagaimana jika ibunya tak menyerahkannya dad?"
"nikahi dia, dan ceraikan Yana." perintah Willem sambil menatap dalam wajah sang putra.
"aku hanya tinggal menunggu panggilan dari kantor agama semua berkas sudah aku urus." sahut Defvan serius.
"Bagus wanita harus segera disingkirkan jika dia menolak maka berikanlah sebuah Villa milikmu." saran Willem.
"Ibu dari anak yang melakukan tes DNA bersamaku sudah menikah dengan dokter pribadiku." ucap Defvan dengan wajah murung.
melihat wajah sang putra yang layu Willem bertanya. " apa kau menyukai wanita itu?" tanya sang Ayah sambil menatap wajah Defavan.
"Ya dad aku menyukainya sampai saat ini aku masih tak dapat melupakan rasa nikmat yang diberikan oleh wanita itu." ucap Defvan sambil mengenang masaa lalunya.
"maka kerjarlah hadapi semua rintangannya. seprti daddy mengejar cinta MarCella" ucap Wllem memberi semangat.
"tapi ia sudah menikah Dad." sahut Defvan tak bersemangat.
"Apa salahnya jika dia juga menyukaimu maka ia akan pergi meninggalkan suaminya."
"apa tak ada cara lain?" tanya Defvan.
"gunakanlah otakmu untuk berpikir Defvan." herdik sang ayah geram.
Devafan seperti mendapat secercah harapan ia segera bangkit dari tempat duduknya.
"terimakasih Dad." ucapnya kemudian pergi dari kediaman Willem.
astaga kenapa aku mengajari Defvan merusak rumah tangga orang lain, ayah macam apa aku ini. ucap Willem meruntuki kebodohannya sendiri.
aku harap Defvan benar-benar menggunakan otak pintarnya dalam bertindak. gumam Willem sambil menyalakan telivisi.
teryata aku memiliki cucu laki-laki dari darah daging putraku sendiri. aku sangat tidak sabar menemuainya batin Willem.
"sayang apa hari ini kau akan memeriksa bagunan yang belum jadi itu, aku bosan jika kau mengajakku kesana?" tanya Marcella menghapiri sang suami.
"sayang, bagunan itu akan menjadi sebuah rumah sakit besar nanti kau lihatnya saat satu persatu mimpiku menjadi nyata." sahut Willem.
"hemmm, ayo kita jalan-jalan sayang." ajak Marcella manja.
"kau ingin kemana?" tanya Willem.
"ke bali saja aku ingin menikmati suasana indah disana." sahut Marcella.
"Baiklah sesuai kenginanmu sayang tapi sebagai bayarannya kamu harus memuaskanku." minta Willem mengoda istrinya.
"tentu saja dengan senang hati akan kulakukan sampai lutut tuamu tak lagi mempu berdiri." sahut Marcella sambil yersenyum penuh arti.
__ADS_1