Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
menatap Takjub


__ADS_3

Daun-daun melambai tertiup angin Angin yang bertiup membawa serta bau amis darah Abi memejamkan matanya, menghentikan langkahnya sematra waktu. dalam penglihatannya depannya tepat disisi kiri, kanan, serta belakang mereka dikelinggi mahluk tak kasat mata dengan bentuk berlumuran darah dan ada pula yang tanpa kepala.


Abi membuka Auranya seketika suasana menjadi hening. tangan Abi mengepal kuat dengan sekali hendakan kakinya tanah yang ia bijak bergetar. Abi mengunakan jurus angin badai untuk menyikirkan pangalang jalannya saat ini.


"pajemkan mata kalian semua." perintah Abi tegas tak ingin dibantah pada semua peserta pramuka dibelangkangnya.


seperti kerbau dicocok hidungnya mereka semua memejamkan mata masing-masih tidak terkeculi guru dan pembina pramuka.


Abi membuat pusaran Angin membawa daunan dan ranting kering ia kemudian membaca sebuah ayat pendek meniup kesemua daun dan rating yang sedang dalam pusaran Angin. detik berikutnya Abi melepaskan pusaran yang membawa daun dan ranting menjadi sebuah senjata tertuju pada semua penghalang jalannya. membuat Mahluk tak mata itu merasa terbakar dan menghilang dalam sekejap mata.


Usai membersikan jalannya Abi memerintah kembali agar teman guru serta kaka kelasnya membuka membuka mata karena perjalan harus segera dilanjutkan.


tak terasa merka sampai kembali kebawah gunung sebagian memilih duduk beristirat untuk memulihkan tenaga.


Abi memindai sekeliling dan waspada ia meminta Rubah untuk membuat semua orang melupakan kejadian yang mereka alami selama pejalanan turun gunung. dengan tujuan agar tak ada yang trauma saat ingin mendaki kembali.


"Mr Rubah, sepertinya itu mobil Ayah kau ingat kembalikan semua barang milik juru kunci itu. Aku harus segera menolong Oma." perintah Abi


"Anda bisa mengandalkan saya Tuan, pergilah dan selamatkan Umi." sahut Rubah.


Abi berpamitan pada guru, teman, serta kaka kelasnya untuk pulang lebih dulu karna Omanya sedang sakit. untungnya semua teman dan guru serta kaka kelasnya mengarti tak menahannya berlama-lama.


Abi berjalan mendakati mobil sang Ayah tak lupa ia memberikan ikat kepala serta keris milik juru kunci pada Rubah. Lantas meninggalkannya pulang bersama Defvan.


"Nak bagaimana pengalamanmu berkemah. Apa menyenangkan?" tanya Defvan sambil menyetir mobilnya.


"Sangat menyenangkan Ayah, Abi tidak akan melupakannya." sahut Abi antusias.


"Ayah bisakah kita segera pulang kerumah Oma keadaan sedang kritis Abi ingin melihatnya segera." Minta Abi dengan wajah memelas.


Defvan melirik sekilas sang putra kemudian menjawab "Baiklah."

__ADS_1


"Lagi-lagi ada yang menghalangngiku bersama putraku lebih lama." umpat Defvan dalam hatinya.


"Seperti tau apa yang sedang sang Ayah pikirkan abi segerapa berucap. Abi akan tinggal dengan Ayah selama seminggu setalah Oma dijatakan sembuh oleh Dokter." Hibur Abi melihat raut wajah kecewa Defvan.


"Benarkan kau tidak bercanda?" tanya Defvan memastikan.


"tentu saja Abi serius Ayah." sahut Abi sambil menerik sudut bibirnya membentuk bulan matanya menatap datar jalanan yang mereka lewati.


"Apa penyakit yang diderita ibu dari Yusuf itu tanya?" Defvan sambil fokus menyetir.


"Oma terkena Virus yang saat ini sedang menyerang kota." Ungkap Abi


"Apa !!!, Bukankah itu Virus mematikan." pekik Defvan terkejut.


"Banar Ayah, maka dari itu Abi harus cepat melihat Oma keadaanya saat ini kritis." jelas Abi dengan tatapan sendu.


Devfan mengangguk mengerti dan menambah kecepatan mobil yang ia kemudi hingga beberapa menit berikutnya mereka sampai di rumah Umi salamah dengan salamat.


"Nanti sore Ayah akan kemari menjeguk Umi sebetar lagi Ayah ada pertemuan dengan rekan bisnis untuk itu Ayah harus segera kembali kekantor." jelas Defvan.


"Abi mengerti Ayah, terimakasih sudah menyempatkan diri menjemput Abi." ucap Abi sambil mencium punggung tangan Defvan.


Defvan mengacak rambut sang putra sambil tersenyum manis. "jagan lupa memberi Ayah kabar nak." tukas defvan.


"Siap Ayah, Abi masuk dulu, Assalamualaikum." Pamit Abi segera melangkah pergi meninggalkan Defvan.


"Walaikum salam." sahut Defvan pelan. lantas segera masuk kedalam mobil dan membawanya meninggalkan rumah Umi salamah.


"Assalamuaikum bi Irah." ucap Abi setelah pintu terbuka dan wajah bi Irah menyambut Abi dengan senyuman.


"Walaikum salam Den, silahkan Masuk semua sedang berkumpul di ruang perawatan Umi." sahut bi Irah menjelaskan.

__ADS_1


"terimakasih bi, Abi akan kesana segera." jawab Abi lantas berlalu menuju ruang rahasia tempat Umi diberi perawatan.


"Assalamuaikum semua." sapa Abi sesampainya di ruang Rawat Umi ia melihat Sang Ayah sedang berbica serius dengan Dokter Nicolas etah apa yang sedang dibahas.


"Walaikum salam." Sahut Risa dan semua yang ada diruang itu keculi Umi salamah yang terbaring tak berdaya dengan banyak alat medis melekat ditubuhnya.


Abi mendekati ranjang rawat Umi dan melepas segra tas ransel dipunggungnya.


Abi memengang Kaki Umi terasa dingin.


Oma tidak boleh pergi secepat ini Abi akan menolong Oma semampu Abi batinya.


Tanpa menunda waktu Abi mengeluarkan bunga Saloka dari dalam tasnya. mengambil tujuh kelopak bunga melepatakan pada kaki, tangan, dada, wajah, dan yang terahir di masukan dimulut Umi. Sambil memejamkan matanya Abi menarik semua virus yang masuk ketubuh Umi mengunakan media bunga saloka tak disangka ia berhasil melakukannya dengan baik. semua yang melihat Abi bahkan tak berkedip mana kala menyadari wajah Umi berangsur membaik dialiri darah tak lagi pucat seperti sebelumnya.


kopak bunga itu berubah menjadi hitam cahayanya telah masuk kedalam tubuh Umi salamah.


usai mengaluarkan Virus, Abi menjauhkan semua kelopak bunga yang tak lagi memiliki fungsi. gerakan terahir Abi mengambil jarum Akupunturnya lantas menusuk kearea tertentu di badan Umi salamah. selesai melakukan tugasnya Abi melihat Umi membuka matanya lantas ia memerintah untuk duduk karna ia akan membatu Umi kenyembuhkan luka dalam pasca oprasi sebelumnya.


Umi menurut tanpa kata. sumua yang ada disana mendadak menjadi putung tak bisa bergerak dan berucap. akibat tekanan besar yang ada pada kekuatan besar dalam diri Abi ia dapat membuat seseorang menjadi patung dalam wantu bebera menit.


Abi menyalukan tenaga dalamnya sesuai perintah hatinya ia melakukannya seperti seorang ahli padahal ini kali pertamanya namun keyakikanannya begitu kuat ia akan berhasil. Benar saja apa yang dilakukan Abi berhasil menyambukan luka dalam Umi salamah dengan sempurna.


"Umi menatap takjub Abi, kau memang pantas mejadi keturunan Dewi Lasmi." tandasnya sambil tersenyum penuh Arti.


"Dewi Lasmi apa dia seorang dewi penyembuh tingkat dewa?" Tanya Abi polos.


Umi hanya terseyum lantas meninta Abi jangan sembarangan membuka Aura kekuatan yang ia miliki.


"Abi mengerti nek." Ucap Abi segera meminta sang kakek menutup Auranya.


"Abi bagaimana bisa kau melakuakan semua ini Apa aku bermimpi?" tanya Dokter Nicolas menatap tak percaya.

__ADS_1


"Apa yang tak mongkin akan mongkin jika sudah kehendaknya!" sahut Umi salamah sambil berajak dari ranjang rawatnya ia mendekati Risa latas memintanya untuk segera membawanya kekamar miliknya.


__ADS_2